🦋Mimpi buruk

2079 Kata
Gema masuk ke dalam kamar Alexia, membawa secangkir teh hangat, kemudian membuka tirai jendela kamar Alexia. Meskipun di tatap sinis Gema tidak melunturkan senyum di wajahnya sama sekali, padahal tiap menatap Gema mata Alexia seperti hampir keluar dari tempatnya. Merasa tidak nyaman Alexia semakin meringkuk dan meninggikan selimutnya, Gema melirik sekilas lalu kembali membersihkan kamar Alexia, sudah menjadi kebiasaan karena dari dulu yang membersihkan kamar Alexia memang Gema. "H-hahh." Alexia menguap lebar, dia masih mengumpulkan nyawa, menatap langit langit yang sedikit terlihat bergoyang karena efek Alexia kekurangan darah. "Tehmu ada di meja." Gema bersuara sembari membersihkan sofa. "Terimakasih." jawab Alexia singkat. Alexia tak bergerak sama sekali, dia hanya memandangi Gema yang mondar mandir membersihkan kamarnya, sesekali Gema melirik dan melempar senyum. Kadang Alexia merasa bersalah pada pengasuhnya di masa kecil itu, karena memperlakukannya dengan sangat buruk, namun kembali lagi pada permasalahan masa kini, dia begitu karena ayahnya yang terlalu egois. Seharusnya Leon bisa mengambil keputusan yang tepat sebelum menikah, Alexia mungkin saja mengizinkan Leon namun tidak dengan waktu sesingkat itu. Alexia masih butuh waktu atas kepergian sang ibu, dia masih sangat emosional terlebih kematian ibunya masih meninggalkan banyak tanda tanya, siapa? Mengapa? Dan untuk apa? Banyak yang mengira bahwa Hellen bunuh diri kala itu, namun dari hasil penyelidikan bekas luka dan tikaman di sekujur tubuh Hellen jelas karena pembunuhan. Untuk siapa pelakunya, entahlah sampai saat ini masih belum jelas, kasusnya bak benda lama yang di lupakan. "Apa kau tidak bekerja?." tanya Gema sedikit penasaran, biasanya Alexia sudah siap dengan stelan baju kerjanya yang rapih, tapi kali ini gadis berambut panjang itu masih mendayu dayu di atas ranjang. "Aku meliburkan diri." jawab Xia jujur, dia lelah, dia butuh waktu untuk istirahat. Sejujurnya Gema senang karena Alexia mau memikirkan dirinya sendiri, tidak memfosir tubuhnya terus menerus untuk bekerja. "Istirahat memang sangat pelu." sambung Gema lagi. Alexia tertawa pelan. "Aku hanya sudah terlalu banyak uang, jadi aku memutuskan untuk libur, demi Tuhan mungkin bank tidak akan muat menampung uang milikku jika aku terus berkerja sepanjang hari." Lagi lagi dia menyombong. Gema ikut tertawa, bukan menetertawakan kesombongan Alexia tapi membenarkan ucapan putri sambungnya itu. Xia turun dari ranjangnya, berjalan gontai menuju sofa, dia kembali menjatuhkan dirinya ke sofa lemah, tangannya terulur mengambil segelas teh hangat yang tadi di bawakan Gema. Sebenarnya kalau mereka akur, tampak sangat serasi seperti ibu dan anak sungguhan, namun Alexia selalu berkata tidak sudi menjadi anak seorang Gema. Sangat pendendam sekali. "Kau ingat Gema, dulu setiap pagi kau selalu membangunkanku, memandikanku, menyiapkan segala keperluanku, tapi sekarang lihatlah." Xia menjeda ucapannya, kemudian menyeruput tehnya lagi. "Kau menjadi nyonya di rumah ini." suasana berubah canggung, Gema memasang telinga, mendengar tiap kata yang di ucapkan putri sambungnya, takut takut kalau dia akan di hina lagi. Meskipun sudah terbiasa namun hati Gema seakan tercubit ketika mendengar Alexia bicara kasar dengannya. "Tak ada yang istimewa dari posisimu saat ini, kau hanya mengambil kedudukan namun tidak dengan harga diri, kau tetap pelayan bagiku." Gema diam, bibirnya mengukit senyum tipis. Tidak ada yang bisa mengubah pendirian Alexia, sampai mati pun dia tidak akan pernah mau menganggap Gema sebagai ibu sambungnya. "Aku sering bertanya tanya, siapa pembunuh ibuku sebenarnya, kenapa dia membunuh ibuku dengan sangat kejam?." Alexia diam sejenak. "Apa kau tau apa alasannya Gema?." wajah Gema memerah dia tidak tahu harus menjawab apa. "Tentu saja aku tidak tau." Gema mendudukan dirinya di sofa, saling berhadapan dengan Alexia. "Kalau saja aku tau siapa orangnya, sudah pasti aku akan membuatnya mati dengan perlahan, lebih sakit dan lebih menyiksa. Tenang saja akan ku pastikan menemukan b******n tidak waras itu." Gema mengangguk setuju, meskipun sedikit berpeluh Gema tetap terlihat tenang. "Keluarlah Gema." usir Alexia tanpa basa basi. "Aku muak melihat wajahmu." jujurnya dengan kasar, Gema hanya tersenyum kecil kemudian pamit untuk keluar dari kamar Alexia. ~~~ Untuk menghibur hatinya, malam ini Savana memutuskan untuk mencari angin bersama Zio, tentu saja dengan senang hati Zio bersedia menemai nonanya. Sudah sekitar setengah jam mereka menyusuri jalanan kota yang semakin malam tampak semakin sepi, Savana melamun, diam saat tangannya di genggam erat oleh Zio takut takut kalau saja gadis itu menabrak sesuatu karena terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Sepanjang perjalanan Zio menatap wajah nonanya dengan seksama, gadis yang kini dia genggam adalah gadis yang sudah mencuri hatinya beberapa tahun belakangan. Dengan kesadaran diri yang amat besar Zio hanya mampu menatap tanpa menyentuh, mencintai tanpa memiliki, dan melihat tawanya tanpa ikut andil dalam membuat gadis itu bahagia. Cinta terkadang lebih rumit dari yang kita bayangkan, sedetik merasa bahagia sedetik kemudian menangisi sebuah luka. Banyak hal istimewa dari cinta, contoh besarnya adalah kepedulian, mereka yang jatuh cinta cenderung akan melakukan apapun bagi orang yang mereka cintai, bahkan siap bertaruh nyawa untuk menjaga sang pujaan hati. Tampak begitu tulus namun juga bodoh dalam waktu bersamaan, tak sedikit dari mereka merasa baik baik saja meskipun telah di manfaatkan oleh orang yang mereka cintai. Buta, kejam, dan mematikan, begitulah cinta atas dasar hati bukan logika. Zio mengajak Savana duduk di salah satu kursj yang ada di pinggiran jalan kota, tak dilepasnya tangan Savana meskipun mereka sudah tidak lagi berjalan. Wajah savana tampak begitu galau, surai hitamnya tertiup angin yang lumayan dingin, masih tak bergeming. Zio mengusap punggung tangan nonanya pelan, melempar senyum sayu menenangkan. "Bukankah di sini terasa dingin?." tanya Zio sembari terus mengelus punggung tangan Savana. Gadis itu bergeming, mengangguk pelan. "Hm." Zio merapatkan duduknya, merangkul bahu Savana hangat. Bisa di katakan Zio ini mirip tipikal buaya buaya di luaran sana, mencari celah pada gadis gadis yang sedang patah hati. "Kali ini siapa lagi? Katakan nona, aku akan mengajak mereka adu pukul, berani sekali mereka membuat nonaku murung." ucap Zio bersemangat dengan nada dibuat buat seperti anak kecil. Savana mengulas senyum kecil, lalu menggeleng. "Kau tidak akan bisa mengjaknya adu tinju, karena dia tidak bersalah, hanya... Savana menjeda ucapannya, membuang nafas pelan. ....hanya saja aku yang terlalu membiarkan hatiku berharap banyak." Oh. Sudah jelas siapa pelakunya, Zio mengedip satu sisi hatinya sakit melihat gadis pujaannya begitu murung, satu sisi lain dia bersyukur karena Daniel tidak merebut gadisnya. "Kecewa oleh harapan sendiri, mempercayai omong kosong yang bahkan tak terlihat, begitulah dengan kebodohanku." Zio menggeleng tidak terima, dia duduk menghadap ke arah Savana, di tatapnya mata gelap yang hampir mengeluarkan air mata. "Kau tak salah nona, wanita memiliki hati lembut dan sifat yang perasa, jatuh cinta bukan sebuah kesalahan, berharap pun bukan sebuah kesalahan.Takdir memang memintamu untuk berhenti sejenak menyukai dirinya, kalau memang kalian berjodoh, dia tetap akan kembali padamu." Cih, Zio berkata sekan akan tidak ada yang dia rasakan pada Savana. Savana mengangguk, dia membalas tatapan iris coklat tua milik Zio kemudian tersenyum lebar. "Kau benar." Zio terkekeh, dia mengeratkan genggamannya pada tangan Savana. "Kau tau mengapa manusia di lahirkan?." Savana menggeleng. "Untuk memberi pelajaran dan di beri pelajaran, mungkin saja kau terpilih untuk di beri pelajaran oleh Tuhan, sebaliknya mungkin Daniel adalah orang yang di pilih Tuhan untuk memberi pelajaran." Savana tertegun, mereka terjebak hening beberapa saat. Baru kali ini dia melihat sisi ternyaman dari Zio, biasanya dia hanya mengatakan 'iya, tidak' dan sejenisnya. Zio menatap Savana lekat, memberanikan diri untuk mengusap pipi nonanya lembut. "Jangan memaksakan diri untuk melupakan, mulailah pelan pelan dengan cara berdamai dengan keadaan, setelah itu biar Tuhan yang mengarahkan." Zio kembali melempar senyuman manis, bibir Savana ikut melengkung seperti bulan sabit. "Kau mirip pakar cinta." keduanya tetawa, Zio menggeleng gelengkan kepalanya tidak setuju. "Aku bahkan belum pernah berpacaran, bagaimana menungkin aku bisa menjadi pakar cinta?." jujurnya membuat Savana berkedip tidak percaya. "Benarkah?." tanya Savana memastikan. Zio kembali mengangguk. "Uwahh." ucap Savana tidak percaya, bagaimana mungkin pria yang dapat di katakan tampan dan juga sangat humble ini tidak pernah berpacaran. "Aku sedang berfikir untuk memacari seorang gadis." aku Zio membuat Savana melempar senyum mengejek. "Siapa hm? Siapa dia?." tanya Savana kepo. "Rahasia." jawab Zio sembari tergelak. Savana memasang wajah cemberut kesal, suasana hatinya kini lebih membaik tidak seperti sebelumnya, benar kata Zio, dia harus mencoba berdamai dengan keadaan sebelum masuk ke tahap melupakan. ~~~ Alexia merasakan adanya radar amoeba dari arah kolam renang rumahnya, dia buru buru berjalan ke arah kolam renang, dan benar saja, di lihatnya ada seonggok beban negara yang tengah bersantai menikamati secangkir kopi. Dia melenggang ke arah kakak tirinya, siapa lagi kalau bukan Galen. "Apa ada yang anda butuhkan lagi tuan?." ucap Savana dengan nada di buat buat layaknya pelayan hotel bintang lima. Galen tertawa hambar, dia mengangkat tangan pertanda tidak membutuhkan apapun. "Kau sangat cocok menjadi pelayan hotel." ejek Galen pada adik tirinya. Xia mendengus kesal, dia ikut duduk di salah satu kursi. "Kau lebih cocok menjadi gembel." balas Xia tak berperasaan. Galen mengusap wajah menyesal, harusnya dia tidak memulai karena Alexia akan mengeluarkan semua kata kata pedasnya untuk menghina anak dari mantan pelayannya itu. Alexia memang begitu sejak kecil, dulu ketika mereka masih anak anak, Galen sering kali di jadikan bahan bulian teman temannya. Sama seperti Galen, Alexia sering mengalami hal serupa sebelum semua orang tahu bahwa dia pewaris tunggal keluarga Gilbert. Galen sangat ingat, ketika Alexia membelanya dan memaki anak anak jahat itu. "Dasar jelek." "Diam kau miskin." "Kau tidak akan mampu membeli sepatu seperti milikku." Sombong Sombong Sombong Dan sombong, tapi Alexia bukan tipikal anak yang pelit dalam hal berbagi makanan apalagi uang saku. Galen sering sekali di ajak Alexia makan di kantin sekolah meskipun Galen menolak Alexia tetap saja menyeret Galen untuk ikut makan dengannya. Persahabatan mereka begitu kental, meskipun Alexia jarang bicara dan lebih senang mengatupkan bibirnya rapat. "Ku tebak kau sedang membayangkan tubuh Bianca di atas ranjang." Galen mendelik kesal, ingin melempar gelas berisi kopi ke arah Alexia kalau saja dia jahat. Alexia tergelak melihat wajah Galen. "Aku tidak semesum itu." sanggah Galen tidak terima. Alexia hanya manggut manggut saja. "Kau seharusnya tidak di sini." ucap Alexia membuat Galen bingung. "Maksudmu." tanya Galen. "Wahai tukang kebun, bersihkan taman belakang rumah." Bajingan Alexia benar benar sedang mengajaknya ribut, Galen membuang muka tak ingin menanggapi. Keduanya saling diam, sibuk memikirkan masalah mereka. Alexia menatap langit malam yang tampak cerah karena kehadiran bulan, sejenak dia memikirkan dirinya. Dia seperti bulan, begitu cantik dan menawan namun kesepian, sejauh apapun dia mengejar matahari sebagai pusat kebahagian dia tak akan pernah mendapatkannya, sangat mustahil. Namun ada satu hal yang di lupakan Alexia, bahwa bulan tak harus bersanding dengan matahari untuk bahagia, dia memiliki bintang sebagai teman hidup yang setia. Pertanyaannya, kapan bintangnya akan muncul? Galen melirik Alexia, gadis itu tampak melamun. "Apa yang sedang kau pikirkan?." tanya Galen membuyarkan lamunan Alexia. Xia berdecak kesal.. "Sedang memikirkan bagaimana cara membunuhmu." jawabnya asal. "Kau itu benar benar, aku ini temanmu!." kesal Galen membuat Alexia makin menggebu untuk menggoda kakak tirinya itu. "Maaf aku tidak pernah berteman dengan gelandangan." SIALAN Galen benar benar ingin melempar gelas ke kepala adik sambungnya yang semakin hari tampak semakin tidak waras. "Aku penasaran dengan sesuatu." celetuk Alexia sembari menatap Galen, Galen hanya mengangkat dagu seolah bertanya 'apa'. "Kau sejauh ini belum melakukan apapun dengan Bianca?." Galen mengangguk, dia meraih gelas berisi kopi itu kemudian menyeruput pelan, membiarkan kerongkongannya di bahasi cairan berwarna hitam pahit namun candu. "Lagi pula belum saatnya." jelas Galen. Alexia menatap penuh keraguan. "Belum saatnya atau... Dia menggantung ucapannya. "Atau apa?." tanya Galen menatap curiga. ....jangan jangan kau homo." "SIALAN AKU NORMAL!!." teriak Galen membuat Alexia tertawa ngakak, dia terpingkal pingkal memegangi perutnya yang keram karena terlalu banyak tertawa. Wajah Galen memerah padam, kesal pada Alexia. ~~~ Gadis kecil berusia 5 tahun menarik ujung baju yang Xia gunakan, wajahnya tampak lusuh dan penuh darah, kakinya terpincang ketika berjalana mendekatinya beberapa saat sebelum gadis kecil itu memegang erat bajunya. Jantung Alexia berdegup kencang, rasa takutnya membuncah ke seluruh tubuh. "Kakak, mama mau bunuh aku. Tolong aku kakak." Tubuh Alexia semakin bergetar, dia berkali kali menggeleng kuat, berusaha melepaskan cengkraman gadis kecil itu dari bajunya. Seakan melekat kuat, gadis itu menangis dan menjerit kesakitan, kakinya tampak semakin banyak mengeluarkan darah. "Kakak aku hampir mati." Rintihnya dengan suara menakutkan. Alexia terjaga dari tidurnya, tubuhnya di banjiri keringat, dia mengusap wajahnya kasar. Xia bringsut duduk memeluk lututnya sendiri di tengah sunyinya malam, mimpi buruk selalu saja menghampirinya tiap kali dia tidur di kamar mendiang ibunya. Gadis kecil tadi, benar benar menakutkan, telapak kakinya hampir lepas dari pergelangan kakinya, benar benar menakutkan. Mata Xia bergerak menatap penjuru ruangan yang begitu sunyi, dia ketakutan. Pelan di rasakannya elusan lembut pada kepalanya, melirik ke samping Alexia menatap wanita paruh baya yang melempar senyuman menenangkan, Xia langsung menubruk, memeluk tubuh wanita itu erat. "Ssttt,,, jangan takut." Suara lembut itu mampu meredam rasa takutnya, sangat menenangkan. "Ada ibu di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN