🦋Jenna

1646 Kata
Alexia memasuki sebuah cafe yang lumayan ramai, maklum pada jam jam menjelang malam banyak muda mudi yang memilih menghabiskan waktu mereka di luar untuk menikmati suasana kota dengan beberapa teman sebayanya. Alexia mulai melirik, dia menangkap sosok yang kini sudah melambaikan tangannya dari sudut cafe, dengan segera Alexia menghampiri gadis berambut sebahu itu. Jenna. Jenna menepuk meja beberapa kali memberi isyarat pada Alexia untuk segera duduk, gadis dengan wajah pucat namun terawat itu memasang senyuman cerah meskipun tak secerah wajahnya. Jenna itu tidak sesehat gadis lainnya, dia menderita beberapa penyakit yang lumayan serius, sejak ibunya meninggal 2 tahun lalu tingkat kesehatan Jenna semakin menurun. Dia sering kali bolak balik absen ke rumah sakit, setiap malam Jenna menghabiskan waktunya untuk menangis dan menangis hingga pagi menjelang. Kalau di tanya mengapa? Kasus Jenna hampir serupa dengan Alexia, hanya saja ayah Jenna lebih memilih keselamatan putrinya. Ayah Jenna tertangkap basah tengah berselingkuh dengan salah satu karyawan kantornya, kejadian 5 tahun silam itu membuat ibu Jenna mengalami kesulitan dalam menangani emosinya, bisa di katakan ibu Jenna gila. Mendiang ibu Jenna mendapat perawatan di salah satu rumah sakit jiwa, namun setelah 3 tahun menghuni tempat itu ibu Jenna mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap rumah sakit. "Aku sudah memesan." girangnya kembali menyedot milkshake kesukaannya. Alexia mulai membuka buku menu, dia memanggil salah satu pelayan cafe dan memberitahu pesanannya. "Tumben sekali kau mengajak aku bertemu." ucap Xia sambil menoleh ke kanan dan kiri. "Di tempat seperti ini pula." Wajah Jenna sedikit bingung, tempat seperti ini? Memangnya cafe tempat seperti apa bagi Alexia? "Memangnya ada yang salah dengan cafe? Kau takut keramaian? Apa sakitmu bertambah parah Xia?." Gadis yang sedari tadi cerewet itu meringis kesakitan setelah mendapat jitakan pelan. "Bukan kah harusnya aku yang bertanya begitu padamu? Kau selalu mengajakku bertemu di rumahmu atau kau yang berkunjung ke rumahku." "Ah..." Jenna membuka mulut sambil mengangguk angguk. Benar juga, batinnya. "Aku bosan, suasana rumah sangat sangat membosankan, ayahku terus seperti itu." keluhnya membuat Alexia penasaran. "Memang ayahmu kenapa? Dia tidak melakukan hal aneh kan?." Jenna menggeleng. "Tidak ada yang berubah, wajahnya begitu begitu saja." Jenna kembali meringis, Xia menjitak kepalanya lagi, Jenna mengaduh tidak terima. "Kau punya dendam terkesumat denganku ya? Kenapa kepalaku selalu kau nistakan." Kesalnya, pipi Jenna menggembung lucu. "Kau berharap wajah ayahmu berubah menjadi Leonardo Decaprio? Atau berubah menjadi Harry Potter? Jangan gila Jenna." Jenna tertawa kencang, benar juga. "Aku lebih berharap dia mati sebenarnya." ungkapnya kembali tertawa. Alexia tahu itu bukan sebuah kesungguhan, Jenna amat menyayangi ayahnya, dia tidak mungkin mampu kehilangan seorang Rajendra yang selama ini terus berusaha membahagiakan putri semata wayangnya bahkan Rajendra tidak keberatan untuk mati sekalipun demi Jenna. Namun jika memang Rajendra mati sudah dapat di pastikan Jenna akan menyusul karena gila, Jenna itu gila. Mirip dengan ibunya, berparas cantik serta wajah gadis nusantara begitu kental membuat Jenna tampak manis. Pesanan Alexia datang, dia menyeruput coklat panas miliknya. Sejenak mereka terjebak hening, keduanya sama sama memandang jalanan dari balik kaca cafe. Hujan Untung saja Alexia sudah sampai, dia tidak sudi terkena air hujan walau setetes, dengan alasan tidak nyaman. Hujan selalu begitu, dia terkadang tidak memberikan aba aba untuk jatuh, tidak memberi peringatan untuk datang, hujan sedikit egois, namun bumi dan seisinya harus memahami hujan, dia bahkan tak pernah mengeluh untuk jatuh berkali kali walaupun kehadirannya selalu di benci dan di anggap tak berarti. Manusia pelakunya, mereka menghardik hujan sesuka mulut mereka tanpa menyadari bahwa tanpa hujan mereka akan mati kelaparan. "Hari ini aku melihat wanita itu." Jenna mulai membuka mulutnya, menceritakan alasan mengapa dia meminta Alexia datang. "Berani sekali dia melempar senyum padaku." Jenna berdecih kemudian tertawa hambar. Alexia mendengarkan dengan seksama meskipun matanya masih setia memandangi rintik hujan yang semakin deras. "Kalau saja membunuh manusia itu tidak merepotkan, pasti sudah ku bunuh dia sejak lama." mendengar Jenna, Alexia menyunggingkan senyum tipis. Xia mengalihkan pandangannya pada Jenna, memperlebar senyumannya. "Ada banyak cara untuk membuat dia menderita Jenna, jangan bersikap terlalu baik." Alexia menjeda. "Tiga tahun bukan waktu yang singkat, bukan seperti kau tertidur lalu kembali membuka mata, tiga tahun itu cukup lama dan menyakitkan. Sangat berat untuk bertahan hingga saat ini, pikirkan dua hal Jenna." Jenna mengedip memegangi gelasnya. "Penderitaan ibumu dan rasa sakitmu, kalau kau membunuhnya sama saja seperti kau membiarkan dia hidup tenang tanpa menyesali perbuatannya, sekalipun dia di lempar ke neraka paling dasar tetap saja dia tidak pernah menyesali kesalahannya saat dia hidup." Bagi Alexia dia memang bukan Tuhan yang berhak memutuska hukuman untuk sesama manusia, namun Alexia berhak untuk menyadarkan mereka, membuat mereka menyesal dan memohon ampun pada dirinya dan pada Tuhannya. "Manusia itu rumit Jenna, mereka tetap akan melakukan kesalahan meskipun satu jam lalu mereka menyesali perbuatan tidak bergunanya, jadi buat dia mengerti rasa sakitmu, kalau perlu buat dia merasakan penderitaan ibumu." Alexia menyunggingkan senyum tipisnya lagi. Jenna melengkungkan bibirnya lebar, mengerti dengan ucapan Alexia. Jangan membunuh, tapi siksa. Kejam memang, tapi begitulah manusia, mereka akan membalas ketika di injak meskipun mereka sadar membalas kejahatan itu tugas Tuhan yang menciptakan namun mereka masih saja tidak perduli dan tidak takut pada dosa. Manusia memang makhluk paling tidak tahu diri. ••••••• "Sampai kapan?." Galen menyorot sang ibu lelah, Gema mengusap kepala putranya bersalah. "Maafkan ibu." ucap Gema memohon, dia sudah terlalu banyak menyakiti putranya sendiri. "Aku mencintainya ibu, sangat sangat mencintainya." tubuh Galen bergetar, entah harus bagaimana lagi dia menjelaskan pada sang ibu bahwa dia mencintai orang lain, mencintai adik tirinya sendiri. Hampir menyerah dengan perasaannya, dan juga menuruti tiap kemauan sang ibu. Namun setelah Alexia mengatakan bahwa dia harus berjuang demi orang yang di cintainya, Galen kembali memberontak dan ingin menyudahi pertunangannya dengan Bianca, wanita yang selama ini hanya dia cintai menggunakan sebatas kata tanpa hati. Gema egois, dia memang sangat egois pada putranya, entah karena alasan apa Gema tidak menyetujui permintaan Galen. Menurut hukum dan agama pun Galen dan Alexia sah sah saja untuk menikah dan memiliki keturunan, namun Gema tetap menolak dengan keras keinginan sang putra. "Ini untuk kebahagiaanmu Galen." Galen memandang Gema tak percaya, bagaimana mungkin ibunya bekata seperti itu setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa Galen tidak bahagia. "Bahagia macam apa yang ibu katakan? Bahagia seperti apa yang ibu maksud? Apa selama ini aku tampak bahagia?." Galen menaikkan nada bicaranya, Gema menutup mata, ulu hatinya perih mendengar pertanyaan putranya. "Bahkan aku tak pernah sekalipun melakukan hal yang aku inginkan, aku selalu saja melakukan apa yang ibu mau selalu seperti itu! Apa aku di lahirkan untuk menjadi kaki tanganmu?." Gema menggeleng, Galen hanya tidak mengerti dengan situasinya. "Tidak, ibu tidak pernah berfikir seperti itu, ibu sangat ingin kau bahagia." mata Gema sudah berair, dia menangkup wajah Galen. "Tapi tidak harus dengan Alexia, dia adikmu." Galen menepis kedua tangan ibunya. "Lalu dengan siapa? Bianca?." Galen tertawa hambar. "Aku bahkan selalu melihat Alexia tiap kali kami bersama, bagaimana mungkin aku bisa bahagia dengan gadis tidak bersalah itu? Dia tidak akan bisa mendapat cinta yang tulus dariku." Segalanya adalah kebohongan. Galen tidak pernah mencintai Bianca walau sesaat, dia sudah jatuh cinta pada adik tirinya sejak dirinya masih anak anak, terbiasa bersama dan mendapat pembelaan yang tidak pernah di lakukan oleh siapapun dari Alexia membuat Galen jatuh hati pada teman kecilnya. "Waktu akan membuatmu jatuh cinta pada Bianca nak." lagi lagi Gema mencobs meyakinkan. "Sampai mati pun Bianca tidak akan pernah mendapatkan hal itu, dan aku tidak akan pernah bisa melakukan itu, percuma memaksaku." Galen keluar dari kamar sang ibu, membanting pintu dengan keras membuat Leon yang sedari tadi menunggu mereka di luar kamar kebingungan. Leon bergegas masuk, melihat sang istri yang bersimpuh di lantai dengan air mata yang bercucuran. Leon memeluk Gema, mencoba menenangkan sang istri. "Galen hanya tidak mengerti dengan situasinya sayang." Gema menggeleng kuat. "Kalaupun Galen tau, entah apa yang akan dia lakukan, aku tidak ingin kehilangan putraku Leon." isak Gema. "Putramu juga putraku Gema, aku pun tidak ingin kehilangan Galen dan Alexia, mereka sama berharganya bagiku." Andai Alexia mendengar ucapan Leon barusan, pasti Alexia sudah tertawa dan mencemooh ayahnya itu. Dunia terlalu rumit, banyak rahasia yang manusia sembunyikan, mereka bahkan ingin menyembunyikan segala hal dari pencipta mereka, kalau saja bisa. Sayang sekali Tuhan akan selalu tahu apapun yang hambanya lakukan dan sembunyikan, karena memang Tuhan yang maha tahu segala hal. ••••• Setelah berbincang dengan Alexia di cafe, Jenna akhirnya memutuskan untuk menginap di kediaman sahabatnya itu, sebenarnya entah apa yang membuat Alexia betah dan mau membuka diri serta mau mendengar cerita rumit gadis yang lebih muda dua tahun di bawahnya itu. Seperti yang kalian tahu, Alexia termasuk orang yang sulit berbaur dengan orang lain, dia lebih cenderung suka menyendiri, semua orang yang mendekatinya selalu dia anggap sebagai penyebab masalah, benalu dan lain sebagainya. Yang lebih parah Alexia selalu berfikir bahwa dia sanggup hidup sendirian, mau sekaya apapun Alexia tetap membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Jenna mengembangkan senyuman cerahnya, Gema dan Leon menyambut gadis itu ramah, Alexia menatap Jenna kemudian mengelus kepala gadis itu pelan. Xia tahu Jenna butuh istirahat, Xia tahu Jenna tengah kesulitan untuk mengambil nafas, Jenna benar benar butuh teman untuk saat ini. "Maafkan aku karena datang bertamu selarut ini, bahkan aku akan menginap." ucap Jenna sembari mengangkat tas berisi pakaian baru yang di belinya tadi. Gema menggeleng tidak setuju. "Tidak Jenna, kau tidak perlu minta maaf sebaiknya sekarang kau ke kamar bersama Alexia, wajahmu tampak pucat." menyadari raut wajah Jenna, Gema tampak sedikit khawatir. "Ayo." tanpa berlama lama lagi Alexia menyambar tangan Jenna, di bawanya gadis mungil itu ke kamarnya. Jenna sesekali menatap Alexia tak mengerti, dia kira hubungan Alexia dan keluarga barunya tak sedingin itu, namun kenyataannya atmosfer ruangan menjadi berat ketika mereka saling berhadapan. "Berhenti membatinku." Jenna tertawa, Xia membuka pintu kamarnya menarik Jenna masuk. "Kau mirip dukun." ejek Jenna, Xia hanya mendesah malas. "Tidak ada dukun secantik diriku." bela Alexia pada dirinya sendiri. "Aku harus mandi, istirahatlah." perintah Alexia, Jenna mengangguk angguk dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk Xia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN