Pagi ini langit tampak lumayan bersahabat meskipun tak sepenuhnya cerah, seperti halnya suasana hati Alexia yang labil, langit juga bagitu. Mereka tampak cerah saat pagi, mendung ketika menjelang siang, kembali cerah saat petang menyapa dan tiba tiba hujan saat malam datang. Meskipun begitu manusia tetaplah manusia, hanya bisa menghardik dan mengeluh, lupa bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Hujan itu, termasuk rahmat kan?
Alexia berjalan masuk ke dalam kantornya di buntuti oleh Daniel yang seperti biasa rapi dengan stelan jas hitam lengkapnya, beberapa karyawan menyapa Alexia ramah, dan hanya di balasan anggukan oleh Xia.
Alexia bukan tipe bos yang sombong pada para karyawan, dia hanya sulit membuka pembicaraan pada orang yang jarang di temuinya, Alexia sudah menjadi bos yang baik. Dia tidak pernah mem PHK karyawan dengan alasan yang tidak jelas, satu satunya kesalahan yang tidak dapat Alexia maafkan adalah pencurian dan penghianatan dari karyawan.
Karena dari banyaknya saingan bisnis di luaran sana, Alexia selalu menjadi sasaran empuk mereka untuk di jatuhkan, ya meskipun hal itu sangat tidak mungkin dan terlampau sulit untuk di lakukan, namun mereka tetap dengan bodohnya mencoba menjatuhkan Alexia.
Sampai di dalam ruangannya Alexia langsung memanggil Windi untuk memeriksa beberapa pekerjaan, dia begitu fokus, sesekali Xia menaikkan kacamatanya yang sedikit turun ke pangkal hidungnya.
"Duduk."
Suara Alexia memerintah, Windi berkedip karena sedari tadi dirinya sudah duduk di hadapan Alexia.
"Aku sudah duduk." jawabnya membeo.
"Aku tidak bicara denganmu Windi." Xia melempar pandangan pada Daniel yang berdiri di sudut ruangan.
"Duduk Daniel."
"Ah." Daniel linglung, dia langsung bringsut duduk di sofa dekatnya.
Kembali hening, lagi pula pekerjaan Daniel hanya berdiri ataupun duduk ketika Alexia tengah sibuk.
"Menurutmu di antara aku, ayah dan ibu siapa yang akan mati terlebih dahulu?." pertanyaan Alexia membuat wajah Windi tampak kebingungan, siapa yang di maksud 'ibu' oleh Alexia?
"Maksudmu nyonya Gema?." Xia menggeleng.
"Lupakan aku hanya asal bicara." Xia menjatuhkan kepalanya di atas meja, dia kemudian mengibaskan tangannya beberapa kali.
"Pergilah Windi, aku muak melihat wajahmu."
Windi meringis kesal di jadikan bahan sasaran, dia saling melempar pandangan dengan Daniel, Windi memilih keluar karena sudah bisa menebak suasana hati Alexia sedang tidak baik.
Xia memandang langit yang tiba tiba mendung, rintik hujan mulai jatuh satu persatu menyapa bumi. Hujan lagi.
Xia mengubah posisi, menopang dagunya sembari menatap Daniel sayu, sialnya di mata Daniel wajah tanpa minat itu tampak begitu sempurna. Alexia mengedip sekali, mendesah berat.
"Aku mengantuk, tidak biasanya." keluhnya sembari menguap.
"Apa kita perlu kembali kerumah nona?." Alexia berdiri dari kursinya, dia menggeleng berjalan menuju sofa yang di duduki Daniel.
Wajah Daniel tiba tiba sedikit bersemu, Alexia membaringkan tubuhnya di atas sofa, menjadikan paha Daniel sebagai batalan, dia memejamkan matanya sedetik kemudian membuka matanya menatap lekat Daniel yang masih canggung.
"Apa ini membuatmu tidak nyaman?." Daniel refleks menggeleng.
Daniel bahkan takut merasa terlalu nyaman.
Xia terkekeh, dia meraba rahang Daniel pelan, tatapan Alexia kali ini sangat teduh, dia tampak lelah namun berusaha terjaga. Memberanikan diri, Daniel menggenggam tangan lembut yang kini sedang menyentuh rahangnya.
"Ayo menikah." bicaranya semakin ngawur, Daniel tertawa pelan.
"Apa kau mabuk?."
"Tidak." tatapan sayu Xia benar benar membuat Daniel terpanah, seakan melihat kekasihnya yang tengah merengek manja.
"Lalu mengapa mengajakku menikah."
Xia memejamkan matanya.
"Untuk mengajakmu merasakan panas bersama saat malam datang."
••••••
Berjalan dengan langkah gontai menuruni anak tangga satu persatu, Galen masih menatap datar adik tirinya yang sudah melempar tatapan mencemooh khasnya, suasana hati Xia memang tengah tidak baik maka dari itu dia butuh sasaran empuk untuk di jadikan pelampiasan emosinya.
"Hidupmu sungguh tidak berguna." Xia mulai mengusik.
Galen tidak menanggapi, dia berjalan ke arah lemari pendingin mencari minuman, tenggorokannya seakan kering bak di padang pasir. Seharian Galen tidak keluar dari kamarnya sudah persis seperti anak gadis yang tengah patah hati, ya meskipun Galen sebenarnya juga tengah patah hati hebat.
"Kenapa tidak mati saja?." Alexia mendekat, masih saja memancing emosi Galen tanpa putus asa.
Dengan wajah malas Galen menatap adik tirinya datar, dia mendudukan diri di hadapan Alexia masih enggan membuka mulut menanggapi keinginan sang adik yang memintanya mati lebih cepat.
"Aku tidak minat berkelahi." jawabnya santai, Alexia menatap sinis.
Dalam hati Alexia juga penasaran ada apa dengan Galen? Wajahnya pucat, matanya tampak sedikit membengkak, kantung mata yang menggantung, dia mirip sekali seperti zombi.
Sedikit menakutkan.
Alexia ikut duduk, dia menopang dagu memandangi wajah Galen seksama, kakak tirinya itu tengah sibuk memandangi botol minuman sekaan akan bisa berubah wujud, entah apa yang di pikirkannya.
"Kata orang jika seseorang mulai lelah, wajah memucat, dan acak acakan seperti gembel maka dia tidak lama lagi akan menjadi gembel sungguhan."
Xia melontar candaan, namun tidak tahu dimana letak kelucuannya.
Kali ini dia pasrah.
"Katakan ada apa." putusnya mengalah.
Galen menggeleng, dia menarik nafas lesu.
"Bagaimana jika aku jujur soal perasaanku pada gadis itu?."
Alexia mengangguk setuju, menurutnya itu adalah hal yang wajib di lakukan. Setiap manusia berhak mencintai siapapun, mereka juga berhak mengutarakan perasaannya. Meskipun hasil akhir tidak selalu sesuai dengan harapan yang sudah mereka bangun, namun setidaknya mereka tidak perlu lagi menanggung beban berat atas perasaan mereka sendiri.
Di tolak bukan berarti dunia akan berakhir, masih banyak harapan baru yang perlu mereka kejar.
"Itu tindakan yang tepat, masalah di tolak atau di terima adalah resikomu." Alexia menjeda, dia merebut botol minuman yang setengahnya sudah di minum oleh Galen, menenggaknya hingga tatas tanpa sisa.
"Tujuan mencintai bukan untuk memiliki, namun menjalankan kewajaran bagi manusia. Bagiku seperti itulah cinta."
Benar, tujuan mencintai bukan untuk memiliki, namun untuk menunjukan bahwa manusia bisa menyayangi sesamanya dengan baik. Munafik memang kalau mereka mengatakan cinta tidak harus memiliki sementara hati mereka memaksa untuk menjadikan orang yang mereka cintai sebagai pendamping hidup sampai mati.
Beberapa orang bahkan bisa menjadi terobsesi, melakukan segala hal baik dan buruk secara bersamaan dengan alasan cinta itu sendiri. Tak sedikit dari mereka yang membunuh diri atau bahkan melukai orang yang mereka cinta sebagai bentuk kekesalan atas penolakan yang mereka dapatkan.
"Kalau dia benar benar menolakku?."
"Maka matilah." gelak tawa Alexia memenuhi ruangan yang begitu sepi, hanya ada mereka saat ini. Jelas saja ini sudah pukul 2 dini hari, Leon, Gema maupun para pelayan pasti sedang sibuk sendiri sendiri di dunia mimpi.
Dua kakak beradik ini malah menggalau tanpa kejelasan yang pasti.
Galen menatap sinis, dia kembali mendesah frustasi. Sedangankan manusia yang menjadi objek pembicaraan tepat berada di depanya, sungguh merepotkan perasaan.
"Aku bercanda." sejujurnya Alexia tengah bingung dengan perasaannya sendiri.
Selama ini dia juga membohongi dirinya sendiri, merasa paling bisa menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh, pada kenyataannya dia selalu bimbang dengan hatinya. Bohong kalau Alexia mengatakan dia tidak pernah memiliki perasaan apapun dengan Galen, mereka sudah lebih dari 20 tahun bersama. Menghabiskan masa kecil dengan penuh kebahagiaan.
Galen sosok sempurna bagi Alexia kala itu, dia selalu melindungi Alexia dari berbagai macam ancaman, meskipun Galen juga selalu mendapat perlakuan buruk saat di bangku sekolah dasar namun dia selalu ada di garda terdepan untuk melindungi sahabatnya.
Perasaan aneh itu yang membuat Alexia sangat membenci Galen, dia membenci segalanya, mengapa Galen harus menjadi kakak tirinya? Mengapa Galen harus terus menerus menganggapnya sahabat? Mengapa Galen mencintai orang lain?
Di sudut terkecil hatinya, Alexia merasa sakit mendengar tiap ocehan Galen. Meminta pendapatnya soal gadis yang dia sukai, padahal jelas saja Alexia memiliki sedikit perasaan untuknya.
Sedikit lebih banyak maksudnya.
"Kau sangat mencintainya?." tanya Alexia penasaran, Galen mengangguk.
"Sejak lama?." Galen kembali mengangguk.
"Dia cantik?." Lagi lagi Galen mengangguk.
"Kau bisu?." Galen menangguk, sedetik kemudian mendelik kesal.
"Satu kali saja mohon keseriusanmu nona Alexia Maurellin." protes Galen.
"Satu kali saja mohon pengertiannya tuan Galen, matilah mati mati mati."
Alexia meringis, merasakan keningnya di jitak pelan oleh Galen.
Sungguh hubungan yang rumit.
••••••
Daniel menenteng sebuah paper bag berwarna merah muda, bibirnya mengukir lengkungan tipis, menyapa gadis yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Savana, sahabat karibnya.
Melihat Daniel datang, Zio mulai memasang wajah masam, jujur saja dia ingin sekali mengajak Daniel adu tinju sejak melihat sang nona sering kali menangis gara gara b******n tengik itu.
Dendam sekali.
Daniel memasuki salon milik Savana yang masih ramai pengunjung, beberapa gadis menatap penuh puja padanya. Jelas saja dia menjadi sorotan, tidak ada gadis yang tidak menoleh jika melihat pria tampan.
Meskipun sejujurnya mereka juga senang berkunjung ke salon milik Savana karena dua hal utama, pertama pelayanan yang memuaskan dan kedua ada Zio si tampan.
Savana meminta salah satu karyawannya untuk menyelesailan pekerjaanya, dia menghampiri Daniel yang sudah duduk di sofa tempat para pengunjung menunggu giliran.
"Tumben sekali kau datang ke salonku."
Daniel memberikan paper bag yang di bawanya, dia tidak menjawab.
Daniel melirik Zio yang diam diam terus menyorot tidak suka ke arah keduanya.
"Perhatikan pekerjaanmu Zio."
Tengil sekali, batin Zio mengumpat. Savana menoleh menatap Zio, lalu terkekeh pelan.
Melempar senyum kecil seolah berkata 'tenang saja' untuk meyakinkan Zio.
"Aku datang membeli beberapa barang, jadi ku pikir tidak ada salahnya mampir. Ku kira kau sudah pulang, ternyata belum." jelas Daniel.
Hari ini salon milik Savana lumayan ramai, tadinya dia juga akan pulang lebih awal, namun dia tidak tega melihat karyawannya bekerja sendirian. Sangat pengertian sekali, begitulah Savana. Sifatnya membuat dia di sukai banyak orang, tak terkecuali sesama wanita.
"Hari ini lumayan banyak pengunjung, aku tidak bisa meninggalkan mereka sendirian." Savana membuka paper bag dari Daniel.
Wajahnya berubah menjadi lebih cerah, ada kue kesukaannya di dalam sana.
"Kau memang paling mengerti kesukaanku."
"Tentu saja nona pink."
Panas.
Pendingin di ruangan itu sepertinya mati, Zio gerah. Ingin sekali menyumpal mulut Daniel dengan kain handuk, Zio sangat panas.
Dia, cemburu.
"Bagaimana dengan pulang besama?." Daniel melirik Zio.
Savana mengangguk, membuat Zio semakin kesal.
Daniel tidak bodoh, selama ini dia selalu melihat gerak gerik Zio. Jelas saja Zio menyukai Savana, namun dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
Tidak tahu diri sekali Daniel ini, selama ini dia juga seperti pengecut yang menyembunyikan perasaannya sendiri, dan kini dia malah melukai gadis yang dulu pernah mengisi hatinya.
Bodoh.
"Ayah memintamu untuk makan malam bersama lusa, apa kau bisa?."
Sudah sangat lama sejak terakhir kali bertemu dengan ayah Savana, Daniel mengingat ingat entah berapa bulan berlalu. Saat dia berkunjung, ayah Savana tidak ada di rumah, karena tengah melakukan perjalanan bisnis ke Pekan Baru.
"Akan ku usahakan, aku juga sudah sangat lama tidak bertemu ayahmu."
Kali ini Zio hanya mampu mendengar dan mendesah pasrah, dia tidak sedekat itu dengan keluarga nonanya. Jelas saja, dia hanya seorang karyawan, bukan teman kecil ataupun teman dekat Savana.
"Baiklah, aku akan memberi tahu ayah nanti."
Satu jam berselang, Savana dan para karyawannya sudah selesai membereskan segala pekerjaan mereka, beberapa karyawannya berpamitan untuk pulang. Hanya tersisa Zio yang masih sibuk, entah mengerjakan apa.
"Zio."
Zio menoleh, Savana mendekatinya.
"Sudah larut, ayo pulang." Zio menurut, dia mengambil tasnya berjalan keluar dari salon lalu mengunci tempat itu.
"Aku pulang nona, hati hati di jalan." pamit Zio sopan, meskipun hatinya sedikit dongkol melihat wajah tengil Daniel yang sengaja membuatnya cemburu.
Sialan, awas saja kau.
Dalam hati Zio terus saja mengumpat.
Savana mengangguk, setelah Zio pergi dia dan Daniel menyusul bergegas pulang.
Menyusuri jalanan yang mulai sepi, Daniel menggenggam tangan Savana hangat, keduanya terjebak hening. Daniel menoleh, menatap Savana yang masih setia diam dalam genggamannya.
"Aku rasa Zio menyimpan sesuatu padamu." Savana menoleh, mengedip satu kali, mencerna maksud dari perkataan sahabatnya.
Hanya orang bodoh yang tidak bisa menyadari gerak gerik Zio, sudah tampak jelas bahwa Zio memiliki perasaan lebih dari sekedar karyawan dan bos pada Savana. Bukan tak menyadari, Savana hanya mencoba untuk pura pura tidak peduli. Hati Savana masih terpaku pada satu orang yang sama, yaitu orang yang saat ini menggenggam tangannya.
Bukan tidak mau melupakan atau melepaskan, Savana hanya takut melukai perasaan Zio karena hatinya belum sepenuhnya selesai dengan cinta masa lalu. Savana tidak ingin melukai, meskipun dia di beri kesempatan untuk melakukan itu.
Savana diam, dia mengukir senyum simpul.
"Aku tidak yakin." bohongnya begitu ketara.
Daniel berhenti melangkahkan kakinya, menatap sang sahabat lekat. Tangan kirinya terulur mengusap kepala sahabatnya lembut, Daniel tahu Savana berbohong.
"Jangah takut untuk memulai Savana, jangan terus menerus melihat ke belakang. Aku memang tidak akan pernah meninggalkanmu, tapi kali ini kau sadar aku memiliki perasaan untuk wanita lain, dan kau tidak perlu takut. Zio pasti mengerti, dia akan membantumu melupakanku."
Sedikit menyentil ulu hatinya, namun memang perkataan Daniel benar meskipun laki laki di hadapannya itu sedikit tidak tahu diri.
Tak banyak yang bisa Savana lakukan, dia lagi lagi hanya melempar senyum kecil seolah berkata 'akan ku coba'.
Daniel membawa Savana dalam pelukannya, kembali mengusap lembut kepala Savana.
"Maaf, Maaf karena mencintai orang lain."
Maaf? Hanya itu saja yang dapat Daniel ucapkan?
••••••
Calyton melempar senyum ramah, dia menyapa beberapa pelayan yang tengah membersihkan ruang tamu kediaman Alexia. Calyton sengaja berkunjung tanpa memberi tahu sang adik, kemana batang hidungnya jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi tapi Alexia masih belum turun dari kamarnya.
Dia menggoda satu pelayan yang tampak masih muda, melempar tatapan hangat yang sangat penuh tipu daya.
"Kau, siapa namamu?." tanya Clayton pada gadis muda yang memakai seragam maid yang baru saja mengantar minumannya.
Dengan nada malu malu gadis itu menjawab.
"Starla." jawabnya pelan.
"Starla?." gadis itu mengangguk.
"Nama yang cantik, persis seperti sang pemilik."
Gadis bernama Starla itu semakin memerah, wajahnya bersemu.
Dari atas Alexia bergidik jijik, saudaranya itu selalu saja mencari kesempatan untuk menikmati gadis gadis polos hanya dengan bermodalkan ucapan, wajah, dan uang.
Tak dapat di pungkiri, seluruh keturunan keluarga Gilbert tidak ada yang gagal dalam segala hal. Apalagi Alexia sebagai satu satunya cucu perempuan, dia memiliki segala hal yang gadis gadis lain impikan. Terlahir di keluarga kaya raya, memikiki kulit putih pucat yang indah, garis wajah sempurna bak bangsawan. Hanya saja Alexia gagal dalam hal keluarga.
Xia menuruni anak tangga, berjalan santai menuju ruang tamu, beberapa pelayan menyapanya dengan sopan.
Sesampainya di ruang tamu, Xia mengibaskan tangannya, memberi kode pada Starla untuk segera pergi sebelum menjadi santapan buaya tampan di hadapannya.
"Orang gila macam apa yang bertamu di rumahku sepagi ini." cecar Alexia mendudukan dirinya di sofa.
Clayton tertawa tidak bersalah.
"Gadis gila macam apa yang baru membuka matanya sesiang ini?." balas Calyton membuat Alexia mendesis sinis.
"Aku ini gadis dengan sejuta kelebihan, kalau saja aku ini orang miskin, mungkin aku tidak akan sempat makan dan lebih memilih terus berkerja."
Clayton meringis, adiknya memang gila.
"Manusia membutuhkan makan."
"Memangnya aku mengatakan manusia tidak butuh makan dan minum?." sewotnya pada Clayton.
"Kau bilang kalau kau miskin kau tidak akan sempat makan."
"Itu sebabnya, bukankah lebih baik mati daripada hidup menjadi orang miskin?."
Beberapa pelayan yang mendengar saling melempar pandangan, mereka tidak heran dengan sang nona, menurut mereka Alexia itu anti dengan orang miskin. Padahal tidak seperti itu.
"Katakan, apa kepentinganmu dan cepat pergi setelahnya."
"Dasar tidak tahu diri."
Clayton melempar sebuah map ke atas meja, Alexia menatap tidak paham. Dia mengambil map berwarna coklat itu, membaca sekilas, kemudian membukanya. Sedetik kemudian raut wajahnya tampak lebih sumringah, mengangguk angguk pelan.
"Jadi, kapan kau akan pergi dari rumahku?." tanyanya lagi.
Clayton ingin sekali mengatai adiknya itu, namun Alexia tetaplah Alexia.
"Bajingan." umpat Clayton.
Alexia terbahak, senang dengan kekesalan sang sepupu.
••••••••