🦋Kebohongan

1084 Kata
Pernah jatuh ke dalam sebuah jurang kehampaan yang begitu dalam membuat Alexia selalu takut untuk memulai sesuatu, tak ada yang mau mengulurkan tangan membantu gadis lemah yang kala itu masih berusia 15 tahun. Dia mencoba bangkit sendirian, menutupi lukanya dengan sehelai kain dari potongan bajunya. Hujan menjadi saksi betapa berat situasi yang dia hadapi, wajah cantiknya pucat pasi. Bibirnya bergetar menahan tangis, bukan salahnya sungguh ini bukan salahnya, namun mengapa dia harus menanggung penderitaan yang amat menyakitkan? Dia memang terlahir dari garis keturunan konglongmerat kaya raya, namun hidupnya tak selalu di penuhi kebahagiaan. Begitulah Tuhan memberi keadilan bagi seluruh hamba-Nya. Sejak kecil di perlakukan dengan baik oleh keluarga besarnya, namun selalu menjadi ciut dan ketakutan ketika berhadapan langsung dengan sang ibu. Kala itu Hellen sangat bahagia saat mengetahui dirinya akhirnya mengandung, buah hati yang selama ini di nanti nanti oleh kedua belah pihak keluarganya hadir menjadi sebuah anugerah yang begitu mereka syukuri. Sampai akhirnya bayi perempuan itu lahir dengan paras yang sungguh sempurna, dia mendapat sentuhan Tuhan yang begitu alami. Hellen mulai menjadi sangat keras saat putrinya mulai tumbuh dan berkembang, dia selalu membentak Alexia kecil ketika sang putri melakukan sebuah kecerobohan. Banyak orang mengatakan bahwa Hellen gila, dia menyiksa putrinya. Tak banyak yang tahu bahwa Hellen bersikap seperti itu karena terlalu menyayangi putri semata wayangnya, tidak ingin sang putri mengalami hal buruk, namun dia sendiri menjadi pengukir kenangan buruk terbesar bagi sang putri. Hari di mana Hellen pergi, Alexia tak tampak sedih tak pula bahagia, meskipun di awal dia hampir ikut mati karena ketakutan melihat sang ibu yang sudah tak berupa. Bau anyir darah memenuhi ruangan, menyeruak menusuk hidung, tetes demi tetes mengalir membasahi lantai marmer mewah. Mual Alexia mual tiap mengingat hal itu, dia tak ingin melihat hal mengerikan seperti itu lagi. Alexia membuka matanya pelan, masih dengan pandangan yang kabur dia menatap langit langit kamar yang di hiasi oleh beberapa lukisan tangan. Xia menoleh ke arah jendela besar di samping kirinya, masih gelap belum ada tanda tanda matahari akan muncul. Di sinilah dia, di kamar yang mengukir satu dari banyak kenangan hitam dalam hidupnya. Alexia tidak pernah bosan mengunjungi kamar mendiang sang ibu, meskipun dia sering kali mendapat mimpi buruk namun dia selalu saja menjadikan kamar itu sebagai tempat istirahat yang nyaman. Sejak kematian sang ibu, Xia sangat jarang menunjukkan emosionalnya secara langsung, dia lebih memilih memendam segala hal yang di rasakannya. Entah sakit, sedih, ataupun bahagia semua dia sembunyikan di balik wajah datarnya. Alexia meringkuk di dalam selimutnya, memejamkan mata kembali, berharap mentari segera datang mengakhiri segala keresahannya. Kenangan kenangan lama kembali bermunculan di dalam kepalanya, seperti sebuah kaset rusak yang di putar berkali kali. "Jahat." bibirnya berucap lirih. Air mata mulai menyusuri pipi mulusnya, membawanya terhanyut dalam kegelapan. •••••• Mata dengan netra coklat terang itu kembali terbuka, menyipit karena biasan cahaya matahari mulai memasuki retina matanya. Setelah terjaga beberapa saat, Alexia mendudukan dirinya membiarkan tubuhnya bersender di kepala ranjang. Kemeja longgar yang melekat di tubuhnya sedikit berserakan, wajahnya tampak lesu. Alexia turun dari ranjang, berjalan mendekat ke arah jendela, kemudian membukanya. Udara yang lumayan segar masuk ke dalam paru parunya. Banyak hal aneh yang melekat pada diri Alexia, dia sangat mudah sekali merubah suasana hatinya, perasaannya selalu saja murung ketika berada di dalam rumah. Tidak seperti saat bekerja, atau di tempat lainnya. Mungkin karena rumahnya tidak seramah rumah lain, rumah yang seharusnya memberi kehangatan berbalik menjadi rumah yang sama sekali tak pernah dia rindukan. Alexia segera bersiap untuk berangkat bekerja, hari ini dia memiliki beberapa jadwal yang tidak bisa di tunda, meskipun Alexia memang tidak pernah suka menunda sebuah pekerjaan namun dia harus datang lebih awal untuk mempersiapkan segalanya lebih matang. Setelah selesai bersiap, Alexia turun untuk sarapan. Sejak pertunangan Galen dan Bianca, Alexia belum pernah sarapan bersama lagi dengan mereka. Dia masih membungkam tak mau membuka mulut untuk sekedar berbasa basi menyapa ayahnya ataupun yang lain, hening. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang saling bertabrakan dengan piring mengisi ruangan itu, di tambah yang biasanya paling sering menyapa ramah kini juga ikut membisukan diri, menutup bibirnya rapat rapat. Gema melempar tatapan penuh sesal pada sang putra, mereka tampak asing setelah berdebat prihal perasaan Galen malam itu. Tiga puluh menit berlalu, Galen dan Alexia selesai dengan makanan mereka. Berjalan keluar dari dalam rumah menuju mobil mereka masing masing, sebelum Alexia masuk ke dalam mobil Galen meraih tangan adiknya. Netra keduanya saling bertumbukan, Xia menatap bingung. "Ada apa?." Galen hanya menatap wajah Alexia lekat, lalu tersadar dari lamunannya setelah Xia melambaikan tangannya di hadapan wajah Galen. "Ha?." beonya linglung. "Bolehkah aku berangkat bersamamu?." Tumben sekali, tidak biasanya Galen mengajak Xia berangkat bersama. Karena mengejar waktu Alexia mengiyakan permintaan Galen, tidak ada waktu untuk berdebat saat ini. "Masuklah." Xia menarik tangannya dari genggaman Galen, kemudian masuk ke dalam mobil di susul oleh sang kakak. Dalam perjalanan Alexia menatap keluar kaca mobil, awan sudah mulai sedikit menggumpal memberi isyarat bahwa dia akan menjatuhkan pasukan tak berperisainya. Aneh sekali, harusnya sekarang belum waktunya musim hujan namun beberapa hari belakangan hujan selalu saja turun. Alexia tidak menyukai hujan, namun dia tak membenci, dia hanya tidak suka ketika tubuhnya harus basah dan lembab. •••••• Hukuman bagi manusia yang tidak pernah puas dengan segala hal yang Tuhan berikan adalah kehilangan suatu hal yang sangat berharga entah itu saat ini atau di masa yang akan datang, mereka yang serakah akan mati dengan keserakahan mereka sendiri, terkubur dalam balutan rasa penyesalan. Tuhan terlalu baik membiarkan mereka tetap hidup dengan berbagai cara yang mereka suka, setelah menyakiti banyak orang untuk mendapat apapun yang mereka inginkan. Sebagian besar dari mereka bahkan menghalalkan berbagai cara. Manusia itu, menjijikan. Pernikahan Leon dan Gema sudah berjalan hampir 7 tahun lamanya, selama itu pula dia hampir tidak pernah bertegur sapa dengan sang putri. Ketika memikiki kesempatan untuk bicara mereka akan meributkan suatu hal, Alexia tak lagi mau menjadikan Leon sosok rumah tempatnya berkeluh kesah. Dia selalu menyimpan segala permasalahannya sendirian, memandang Leon bak orang lain yang menempati rumahnya. Siapa yang bersalah atas keadaan ini? Leon menatap langit yang mulai berwarna keemasan dari balkon, menghirup udara yang semakin sore semakin terasa sejuk. "Apa yang harus kita lakukan?." tanya Gema memeluk dari belakang. Sejujurnya Leon sendiri juga tidak tahu harus bagaimana, keduanya sama sama penting bagi Leon. "Aku yakin kita pasti bisa menemukan solusinya." Leon berbalik, mengusap wajah Gema. "Selama mereka tidak tahu, keadaan akan baik baik saja." Seberapa banyak kebohongan yang sudah Leon lakukan? Tidakkah dia merasa bersalah pada sang putri dan mendiang istrinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN