Manusia memang makhluk paling pintar dalam menyembunyikan suatu hal, mereka sangat manipulatif dan bermuka dua, banyak manusia yang menipu sesama manusia. Menyingkirkan yang tidak sepaham dengan mereka dan berakhir saling membunuh ketika tidak terima menghadapi kekalahan, bermain curang dengan cara elegan.
Beberapa orang tertipu dengan sikap baik yang di tunjukkan, tidak semua manusia yang bersikap baik di luar berarti hatinya baik juga. Manusia itu penuh tipu daya, dan sialnya mereka juga bermuka dua. Terkadang mereka baik ketika butuh bantuan, dan menginjak ketika sudah berada di posisi yang pantas.
Dari sekian miliyar manusia di bumi, beberapa juta di antara mereka juga membenci kaum mereka sendiri karena banyak alasan.
Pendusta, manusia sendiri adalah makhluk Tuhan yang paling banyak menimba dosa setelah iblis. Mereka bangga dengan segala dosa yang mereka lakukan seakan akan Tuhan tidak akan memberi balasan di hari akhir. Berbeda dengan iblis yang selalu mengingat kuasa Tuhan, manusia terkadang berpikiran angkuh seolah mereka memegang kendali atas dunia.
Dengan wajah pongah, pria bertubuh atletis dengan kulit yang sedikit eksotis itu menarik sudut bibirnya. Kembali lagi dia memandangi lembar demi lembar foto yang dia ambil dari dalam sebuah amplop berwarna coklat yang digeletakkan di atas meja, senyumannya semakin melebar sampai bibirnya hampir akan robek, terlihat sangat mengerikan.
William Arsendo, dia anak salah satu musuh terkuat keluarga Gilbert pada masa emas mereka, banyak proyek dan kerjasama yang hampir mereka menangkan namun gagal karena Gilbert coorporation menawarkan hal yang lebih menarik dari pada perusahaan mereka.
William sudah terlihat gila bekerja sejak kecil, matanya begitu awas dan tajam, pandangannya seperti sebilah pedang yang menusuk. Tidak perlu di pertanyakan lagi soal penampilannya, dunia terkadang memang tidak adil, anak orang kaya selalu terlahir dengan fisik rupawan bak bangsawan.
Tekad terbesar William adalah membuat Alexia jatuh cinta dengannya, dan tekat terbesar musuhnya, Alexia adalah meratakan bisnis keluarga William.
William melempar beberapa lembar foto tadi ke atas meja, membiarkannya berserakan. Masih dengan wajah yang sama, William mulai membayangkal hal yang tidak seharusnya di bayangkan.
"Melamarnya adalah tindakan konyol." suara sang adik merusak imajinasinya.
Dengan tatapan dingin William memiringkan wajahnya, memandang sang adik lekat.
"Tidak ada yang meminta pendapatmu bodoh." Arlan memberikan tatapan jengah, sang kakak masih saja seperti itu, bertindak konyol sesukanya dan berakhir gagal lagi.
"Alexia Maurellin, dia tidak akan sudi menerima pinangan palsumu itu, bodyguard pribadinya mungkin lebih nampak menarik ketimbang kau di matanya."
Lagi lagi Arlan mencoba memberi pencerahan pada sang kakak, William nampak tidak perduli sama sekali.
"Aku tidak butuh matanya."
Kalau saja bukan takdir Arlan tidak sudi lahir sebagai adik dari manusia t***l di hadapannya itu, William tidak akan berfikir serius kecuali tentang uang.
"Terserah dirimu bodoh, aku sudah bosan menghadapi manusia i***t seperti dirimu."
William tertawa, sesekali memang Arlan ada gunanya, membuat dia tertawa karena sikap bodohnya.
"Dengar, aku memang butuh posisi di hatinya tapi bukan berarti aku berharap sepenuhnya. Kau tau aku hanya ingin membuat gadis cantik penuh kesombongan itu jatuh tertatih hingga mati, semoga saja dia mati tragis seperti ibunya."
Kebencian tanpa alasan jelas membuat William lupa dengan rasa kemanusiaan, dia sering kali menganggap Alexia adalah salah satu makhluk yang tidak penting.
"Aku berani bertaruh sampai mati, Alexia tidak akan pernah jatuh cinta padamu dan mungkin kau yang akan mati terlebih dahulu."
Rahang William mengeras, matanya berubah memerah mendengar penghinaan sang adik.
"Kenapa juga ibuku harus melahirkan sampah seperti dirimu."
Arlan melempar senyum remeh, dia berdiri dari duduknya sambil berkata "Karena yang lahir pertama adalah kegagalan, maka aku di lahirkan untuk kesuksesan."
William melempar gelas yang ada di meja dengan kasar, tidak merasa terintimidasi Arlan berjalan keluar dari ruangan sang kakak dengan santai.
•••••••••
Hari ini Alexia untuk pertama kalinya mengunjungi makam sang ibu, kewarasannya hampir hilang saat dia sampai. Daniel yang tadinya ingin menemani di tolak oleh Xia, diminta menunggu dalam mobil.
Xia memandangi batu nisan yang mulai berlumut, tertulis dengan rapih nama Hellen Gilbert, wanita yang sudah membawanya ke dunia penuh kegelapan ini.
Tangan kanan Alexia memegang sebuket bunga mawar putih, dia melemparkannya ke atas batu nisan sang ibu tanpa rasa sopan. Membuang nafas kasar, matanya menahan tangis tampak jelas dari matanya yang berkaca kaca. Inilah alasan mengapa Alexia tidak ingin Daniel ikut, dia lemah ketika sudah sampai di tempat istirahat sang ibu, Xia tidak suka di pandang lemah karena menangis.
"Harusnya kau tidak mati." ucap Xia, bibirnya sedikit bergetar.
"Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya sendirian, kau kira kau ibu yang baik?." Xia tertawa hambar.
"Kau adalah ibu paling buruk di dunia, bahkan kematianmu membawa petaka bagiku."
Bulir bening itu kini jatuh membasahi pipi mulus Xia, dengan kasar Alexia mengusap air matanya.
"Lihat aku sekarang, Leon menikahi gema dan mereka tampak hidup bahagia seperti tanpa dosa. Seharusnya kau tidak mati dan mengusir Gema, aku muak dengan semua ini."
Alexia menarik nafas pelan, hatinya tidak sanggup namun rasa sakit membuatnya kembali lagi bertekad untuk tetap hidup dan membunuh orang orang yang berprilaku jahat padanya.
"Lupakan, aku sama sekali tidak merindukanmu." bohong Alexia.
"Aku kemari hanya karena kakek memintaku datang, sudah hampir delapan tahun sejak kau di kuburkan di sini aku belum sekalipun hidup dan tidur dengan tenang."
Xia mengadu pada sang ibu, tangisannya tak berisak namun jauh dalam hatinya terasa begitu ngilu, tidak ada tempat terbaik untuk pulang kecuali pelukan ibu.
"Setiap hari aku merasa hampa dan kesakitan, jantungku seperti di tikam puluhan belati tajam, andai saja kau masih hidup aku akan membuatmu merasakan hal yang sama bu."
Langit tampak murung mendengar perkataan anak yang kini tengah mengadu dan marah pada sang ibu, rintik basah kecil mulai jatuh semakin lama semakin deras, Alexia tidak beranjak sama sekali dia masih setia memandangi batu nisan bertuliskan nama sang ibu. Tubuhnya sudah hampir basah kuyup, dari kejauhan tampak Daniel berlari membawa payung.
Nafas Daniel terengah, dia langsung memayungi sang nona yang tidak bergeming sama sekali di guyur hujan.
"Nona sebaiknya kita segera pulang, kau sudah basah kuyup." Alexia hanya mengangguk, sebelum pergi dia kembali menatap nisan sang ibu.
Bibir basahnya menahan isak, "Jangan pernah berani untuk hidup bahagia di sana, sekalipun alam baka baik untukmu aku harap Tuhan menyiksamu."
Daniel terperangah tidak percaya, kata kata itu tidak pantas di lontarkan untuk wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan bayi mereka.
Entah seberapa dalam luka Alexia, namun tampaknya Daniel mulai mengeti luka sang nona tidak sekecil kelihatannya.
Mereka kembali ke mobil, Xia melepas jaketnya, dia meminta sang supir cepat membawanya pulang kerumah.