Tentang keluarga

1236 Kata
Tidak ada angin tidak hujan tiba tiba saja badai datang, persis seperti ungkapan itulah keadaan kamar Alexia saat ini. Kedua sepupunya Clayton dam Zaheen menerobos masuk membawa beberapa botol minuman dan juga camilan, akhirnya Alexia hanya bisa mengusap d**a pelan menerima tamu tak di undang itu. Ketiganya kini tengah bermain game online, jujur Alexia tidak paham tentang permainan yang kini tengah dia mainkan, membuka ponsel saja jarang apalagi bermain game, suatu hal yang mustahil. Karena tidak mengerti cara kerja hero yang di mainkannya, Alexia berkali kali terkena pukulan lawan, di stun dan akhirnya mati. Zaheen mendesah frustasi saat tim mereka kalah, saling menyalahkan dengan Clayton, tidak berani menyalahkan tuan putri yang hanya menjadi beban. Sedikit penjelasan, Zaheen dan Calyton adalah sepupu Alexia, meskipun masih memiliki berhubungan darah yang kental namun mereka jarang sekali nampak bermain bersama. Sesekali mereka saling mengunjungi, namun lebih banyak Alexia yang di kunjungi oleh keduanya. Di sisi lain Clayton dan Zaheen adalah pendukung setia Alexia, tidak perduli seberapa sulit pekerjaan yang Xia perintahkan mereka akan langsung memberikan hasil terbaik. Di antara kebanyakan sepupu Alexia, hanya mereka berdua yang pro denganya, selain itu sepupu Xia yang lain tampak kontra karena hasutan orang tua mereka terutama Jevanio, anak dari Handoko. Setiap melihat Alexia dia akan memberi tatapan sinis dan remeh, seakan akan Alexia perusak suasana di tiap acara. Tapi Alexia sama sekali tidak perduli, dia hidup dengan hasilnya sendiri dan kemampuan dirinya yang begitu mumpuni, dia bukan anak manja seperti Jevanio yang meminta apapun pada sang ayah dan membayar dengan menurut seperti kacung. "Aku dengar Jevanio sudah lulus dari studinya." Calyton melempar kacang yang sudah dia kupas ke dalam mulutnya, Alexia tidak tertarik sama sekali tapi tidak ada salahnya mendengar berita tidak penting itu. "Enam tahun bukan waktu yang singkat Clay." Zaheen ikut menyahut meskipun kedua tangan dan matanya fokus ke dalam layar ponsel, dia melanjutkan game sendirian. "Kalau saja dia anak ayahku, pasti dia sudah di permalukan di hadapan kakak kakakku yang lain." lanjut Zaheen membongkar kebenaran keluarganya. Sistem di keluarga mereka adalah memuji siapa yang paling mencolok dan pantas di puji, orang tua mereka bahkan bisa bersikap pilih kasih ketika si bungsu atau si sulung mendapat peringkat yang jelek dengan tujuan agar si anak semangat untuk bangkit. Namun sebaliknya, hal itu malah membuat anak mereka saling membenci satu sama lain. "Dia anak tunggal wajar kan mendapat pelayanan bak pangeran." Xia ikut berkomentar malas. Clayton tertawa garing, dia dan Jevanio tidak dekat karena Jevanio sosok yang angkuh dan keras kepala. "Karena dia harapan satu satunya bagi om Handoko, aku yakin sebenarnya om Handoko terlalu malu untuk mengakui bahwa Jevanio tidak sepintar sepupunya yang lain." jelas Calyton dengan nada mengejek di akhir kalimat. Zaheen tertawa keras, dia mengacungkan jempolnya setuju dengan pendapat Clayton. Manusia bernama Jevanio itu benar benar menguras kesabaran sedari mereka kecil, sering kali mengambil mainan Clayton, merusak sepeda baru milik Zaheen dan yang paling parah mendorong Alexia ke dalam kolam renang pada saat usia Xia tujuh tahun. Setelah kejadian Alexia, Gilbert menghukum Jevanio dan dia tidak medapatkan uang saku dari sang kakek selama satu tahun. Jevanio marah, dia kembali membuat ulah pada sepupunya yang lain. "Kau? Tahu dia bahkan tidak bisa bermain kasti, beberapa kali saat di sekolah menengah Jev selalu mendapat pukulan keras." Zaheen terpingkal mengingat kebodohan sepupunya sendiri. "Setelah itu om Handoko datang ke sekolah memprotes guru olahraga." ketiganya kini tertawa keras, lelucon macam apa yang di buat oleh paman mereka itu. "Jujur aku sangat malu mengetahui mereka salah satu keluarga kita, benar benar memalukan." komentar Calyton sambil memasang wajah geli. Tidak ada manusia yang terlahir bodoh, mereka hanya tidak mau mengasah kemampuan berfikir mereka secara signifikan. Namun beberapa orang yang memiliki kekurangan juga tidak ingin lahir dengan keadaan kekurangan, jadi Alexia tidak seratus persen menyalahkan Jevanio dengan keterbatasan otaknya. "Tekanan orang tua juga bisa menjadi pemicu kebodohan seorang anak Clay, tampak luar Jevanio memang di perlakukan bak pangeran negeri dongeng, namun kita tidak tahu bagaimana dia di perlakukan saat ada dirumah." Xia menenggak sisa minumannya dalam botol, membuang sampah botolnya ke sembarang tempat. "Kau tahu sendiri, om Handoko tidak mau Jevanio kalah dengan keponakannya yang lain. Padahal kita tidak sedang berkompetisi, tapi memang seperti inilah aturan keluarga kita." Zaheen melempar ponselnya ke sofa, dia mengambil kacang yang sudah Clayton kupas sedari tadi. "Aku tidak perduli soal siapa yang paling mencolok di mata Gilbert.. Clayton memukul kepala Zaheen keras, si korban meringis kesakitan. "Gilbert Gilbert, dimana rasa sopanmu Za." protes Clayton. "Siapa perduli dengan kesopanan, aku orang baik Clay hanya saja tampilan luarku mirip perisak." sambung Zaheen beralasan membela diri. "Yang aku perdulikan hanya Xia dan dirimu, yang lain mereka pemain di belakang layar, mereka akan menyerang kita suatu saat nanti." Meskipun tidak tahu itu benar atau hanya sebuah dugaan semata, kata kata Zaheen ada benarnya menurut Alexia. Tidak ada yang bisa menjamin kalau sepupu sepupunya memiliki rasa kasih sayang satu sama lain, mereka memang sedang berkompetisi dengan cara halus. "Pembahasan kita terlalu serius." Clayton melirik Alexia yang masih memasang wajah datar tidak mau tahu. "Aku kepo tentang suatu hal dirumah ini." Xia dan Calyton sama sama menoleh ke arah Zaheen, wajah pria berusia 21 tahun itu tampak serius membuat kedua manusia yang menatapnya juga serius. "Ah lupakan aku sudah tidak berminat menanyakannya lagi." Calyton menendang kaki Zaheen kuat, Zaheen mengaduh sambil mengusap usap kakinya sakit. "Sialan, sakit bodoh." protesnya dengan nada marah. Alexia hanya menggeleng gelengkan kepalanya pusing, kamarnya tidak sesunyi biasanya, dalam kamarnya kini terdengar gelak tawa dan berbagai macam bentuk emosi manusia lainnya. Sesaat Xia tidak kesepian, otaknya mulai berfikir bahwa sebenarnya banyak orang yang menyayangi dirinya, menganggap dia penting serta berguna. Zaheen dan Calyton masih saja sibuk berkelahi, mereka saling pukul dan menindih, Clayton tertawa puas saat Zaheen meminta ampun padanya, sementara Xia hanya memandangi kedua sepupunya yang asik bergulat. "Aku ingin Gema dan Leon keluar dari rumah ini." kedua manusia yang tengah berkelahi itu sama sama menoleh. "Aku sudah mulai muak dengan mereka." jujur Xia dengan wajah jijik. "Jangan khawatir, kita akan cepat mendapatkan cara agar mereka biasa keluar dari rumahmu." Zaheen mengangguk setuju. "Pikirlanlah caranya, kalau kalian berhasil masing masing kalian akan mendapatkan mobil baru pilihan kalian sendiri." mata keduanya berbinar, mereka kompak mengucapkan 'siap bos' dengan pose hormat pada Alexia. Memiliki saudara rasa sahabat memang sangat membantu. ••••••• "Apa yang kau cemaskan?." wajah Daniel berubah pucat setelah membuka kotak yang Savana titipkan pada Raken. Daniel mengeluarkan jam tangan dari Savana ,jam tangan itu bermerk mahal harganya selangit bagi Daniel, kenapa Savana harus repot membelikannya barang mahal? "Ini luar biasa gila." beo Raken setelah melihat jam tangan tadi. "Aku harus bertemu dengan Savana sekarang." belum sempat Daniel berdiri Raken sudah mengingatkan Daniel untuk tetap dirumah. "Acara kantormu besok, jangan pergi malam ini kau bisa menemui Savana selesai acara." benar juga, saat ini waktunya mepet sekali. Perasaan Daniel campur aduk, dia tidak tahu apa makasud Savana memberikan jam padanya, namun Daniel was was kalau saja ini sebuah kode tentang suatu hal. Savana pernah berkata akan study di luar negeri, dan dia akan memberi hadiah perpisahan sebelum berangkat. Daniel takut ini adalah barang yang diberikan Savana sebagai hadiah perpisahan. "Aku harus tidur, besok nona Xia memintaku datang membantunya." Raken mengangguk membiarkan Daniel masuk ke dalam kamarnya. Sejujurnya Raken bisa melihat raut wajah gelisah Daniel tadi, seakan akan Daniel begitu takut kehilangan Savana namun hati Daniel dan cintanya bukan untuk Savana. Apa itu yang di maksud terjebak prasaan dengan sahabat?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN