Gaun Merah (I)

1235 Kata
Suasana kantor hari ini 180° sangat berbeda dari hari hari biasanya, seluruh karyawan diminta datang pagi hanya untuk mengisi absen harian kemudian mereka diminta pulang kerumah mempersiapkan diri untuk acara malam nanti. Mereka semua begitu senang karena masih memiliki waktu untuk istirahat, berbelanja atau menghabiskan waktu dengan keluarga mereka. Meskipun hari ini libur namun Alexia tetap datang ke kantor untuk menyelesaikan satu dokumen sisa kemarin yang belum rampung, Windi datang mengisi absen harian lalu pulang kerumah, sementara Daniel sudah duduk rapih sambil menyeruput kopi panas yang baru saja dia buat. Selesai mengerjakan dokumen Alexia langsung mengajak Daniel pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, dia mencari sepatu yang cocok untuk dirinya sendiri. Daniel terheran heran mengetahui Alexia belum membeli barang keperluannya sendiri malah mencarikan keperluan Daniel terlebih dahulu, dia bos yang sulit dimengerti. Berkeliling di beberapa toko ternama, setiap masuk Alexia setidaknya membeli sepasang sepatu, Daniel tidak yakin semua akan di pakai ke acara ulang tahun kantor yang Daniel tahu Alexia hanya membeli tanpa berniat memakainya. Masuk ke toko terakhir Alexia nampak akrab dengan pemilik butik ternama itu, dia terlihat berbincang dan sesekali tertawa bersama, Daniel hanya duduk diam di tempat yang sudah di sediakan sembari memperhatikan nonanya dari posisinya saat ini. "Aku yakin seratus persen, kau akan terlihat cantik menggunakan gaun ini." tunjuk sang pemilik butik ke salah satu koleksi mereka. Gaun merah dengan belahan d**a yang sedikit rendah, tak lupa bagian bawahnya menjuntai namun tidak terlalu panjang. Xia tampak berminat dia mengiyakan untuk mencoba gaun tersebut, Daniel setia menunggui sang nona yang tengah bersenang senang dengan uangnya sendiri. Sepuluh menit berlalu, Alexia keluar mengenakan gaun yang direkomendasikan oleh pemilik butik, mata Daniel hampir keluar dari tempatnya melihat nonanya tampak begitu berbeda. Kulit putih sedikit pucat, netra coklat terang serta rambut indahnya membuat Alexia tampak sempurna di balut gaun merah panjang itu. Entahlah melihat belahan di bagian atas dan bawah gaun itu membuat Daniel merasa tidak rela, tidak rela untuk alasan apa dia sendiri juga tidak mengerti. Bagian bawah gaun itu membelah sampai di atas lutut, Daniel hanya merasa tidak nyaman takut takut kalau ada yang melirik kaki indah nonanya. "Bagaimana menurutmu?." tanya Alexia. Daniel yang masih tergugu tampak linglung. "Ha- apa?." beonya membuat Alexia memutar bola matanya malas. "Aku bertanya bagaimana menurutmu, gaun ini apa cocok untukku?." ucap Alexia lagi mengulang pertanyaannya. Daniel mengangguk pelan. "Tapi wajahmu seperti mengatakan gaun ini tidak cocok untukku." Daniel menggelengkan kepalanya cepat, tidak ingin sang nona salah paham. "Bukan begitu, aku hanya tidak ingin ada pria yang melihat kakimu nona." jelas Daniel, sedetik kemudian dia salah tingkah bingung menjelaskan apa maksud dari perkataannya yang lancang. "Maksudku pasti banyak yang akan melirik nona dengan tatapan tidak tidak." gugup Daniel buru buru menjelaskan. Alexia hanya mengangguk anggukan kepalanya paham, dia tahu Daniel sedikit tidak suka jika ada yang menatap kaki mulusnya secara cuma cuma. "Aku mau gaun yang lain Steffa." minta Alexia pada pemilik butik. Steffa melirik Daniel sekilas lalu melempar senyum jahil ke arah Alexia, keduanya terlihat sangat canggung. "Padahal kau terlihat sangat cantik dan sexy memakai gaun ini, baiklah akan ku carikan gaun yang lain." Selesai mencari gaun Alexia mengajak Daniel kerumahnya, ini bukan kali pertama namun Daniel masih saja tidak berhenti terkagum dengan rumah mewah milik bosnya, jangankan memikirkan berapa harga rumah itu memikirkan berapa tagihan listrik bulanannya saja mungkin Daniel sudah hampir gila. Begitu masuk ke dalam ruang utama Daniel melihat Galen yang tengah bersantai sambil membaca koran, tidak lupa pula dengan secangkir kopi yang masih mengepul. Tidak bisa di pungkiri, kopi memang salah satu minuman simple yang memiliki banyak penggemar. "Kau sudah pulang?." tanya Galen tanpa mengalihkan pandangannya pada sang adik tiri. Alexia menghentikan langkahnya, dia melirik Galen, melempar tatapan tidak suka. Setelah kejadian dia membela Galen di hadapan Gema dan Leon, Galen malah menarik Alexia mundur dan mengatakan dia tidak perlu ikut campur dengan urusannya. Xia merasa marah karena dia hanya menjelaskan hal yang tidak seharusnya di lakukan orang tua pada anaknya, namun tampaknya Galen menyukai peran boneka dalam cerita ini. "Bukan urusanmu." jawabnya ketus. Di belakang Alexia, Daniel tampak kikuk memperhatikan interaksi kedua kakak beradik tidak sekandung itu, mereka tampak tidak akur satu sama lain. Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, namun saat menghadapi secara langsung beberapa kali Daniel tetap saja merasa begitu kaku. "Kenapa membawa kacung masuk ke rumahmu?." pertanyaan Galen kali ini menyentil Daniel, Alexia menatap Galen tidak suka. "Aku bahkan membiarkan gelandang tinggal dirumahku, lalu apa masalahmu tuan tidak tahu diri." entah sedang di bela atau di rendahkan Daniel sama sekali tidak membuka mulutnya, membiarkan mereka berdua beradu mulut. Tangan Daniel di tarik paksa oleh Alexia, dengan langkah tergesa Daniel sampai tersandung beberapa kali saat menaiki anak tangga. Alexia berjalan cepat menuju satu ruangan tepat di samping kamarnya, saat Daniel masuk dia lagi lagi di buat terheran oleh sang nona. Sebenarnya seberapa kaya seorang Alexia Maurellin ini sampai sampai dia membuang buang uang untuk membeli hal hal yang tidak seharusnya di beli, oleh orang miskin. "KAU LIHAT ITU DANIEL? DIA MANUSIA PALING TIDAK TAHU DIRI YANG PERNAH AKU TEMUI DI KEHIDUPAN INI!!." Alexia berteriak marah, dia mengacak rambutnya tidak karuan. "Sepertinya dia memang cocok menjadi gelandang, lihat saja cita citanya itu akan ku kabulkan secepatnya." Daniel meringis, Alexia berkata seolah olah dia akan mengusir kakak tirinya itu dalam waktu dekat. "Padahal kalian tampak serasi." beo Daniel melempar senyuman tanpa dosa. Hampir saja Alexia melempar bantal kursi ke arah Daniel saking kesalnya. "OMONG KOSONG MACAM APA ITU!!." •••••••• Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, Daniel bersiap dari rumah sang nona karena permintaan dari Alexia sendiri. Kini Daniel tengah menunggui Alexia di kamarnya, gadis itu kini sedang duduk manis dan menatap wajahnya sendiri di kaca, beberapa pelayan memoles wajah cantiknya dengan make up tipis dan menata rambut Xia sedemikian rupa agar terlihat lebih cantik. Selesai dengan acara make up Alexia mengganti pakaiannya, menggunakan gaun merah milik sang ibu yang dia temukan beberapa hari lalu. Wajah Daniel antara terpukau dan kebingungan, pasalnya kemarin Alexia mengajaknya pergi membeli gaun namun tidak di pakainya. Daniel dan Alexia kini sudah berada di dalam mobil, pergi menuju salah satu hotel ternama tempat acara ulang tahun kantor Alexia di adakan. Tidak hanya karyawan saja, jajaran kolega bisnis dan juga keluarga besar Alexia sudah hadir menunggu si pemilik yang kini masih menuju tempat acara. Alexia memiliki alasan tersendiri mengapa dia memakai gaun mendiang sang ibu, sekedar informasi bahwa Leon juga hadir bersama Gema sebagai tamu undangan. Lima belas menit berlalu akhirnya Xia dan Daniel sampai, Daniel buru buru turun dan membukakan pintu mobil untuk sang nona. Hari ini Xia tampak begitu cantik, wajahnya tampak mengingatkan siapapun yang mengenal Hellen teringat pada sosok wanita yang sudah hampir delapan tahun meninggal itu. "Bukankah dia cantik sekali?." "Wajahnya benar benar duplikat nyonya Hellen." "Ini benar benar gila, dia persis sang ibu." "Apa mataku bermasalah?." dan masih banyak lagi bisik biisik yang terdengar saat dia memasuki area acara. Daniel berjalan di samping sang nona, Alexia menatap datar semua orang yang ada di sekitarnya. Leon menatap sang putri terkagum, putrinya benar benar mirip seperti Hellen saat masih hidup, wajahnya persis sang ibu. Kenangan lama mulai memenuhi otak Leon yang mulai berkecamuk tidak karuan, ini bukan hukuman buatnya kan? Alexia melirik sang ayah, mengukir senyum tipis yang sedikit menakutkan. Wajah Gema nampak pias, dia mengatupkan bibirnya rapat rapat mengingat mendiang nyonyanya memakai gaun itu di acara terakhirnya. Bukan kah gaun ini memiliki sejarah tersendiri bagi ayahnya dan Gema? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN