Cemburu?

1012 Kata
Kini semua mata tertuju pada dirinya, tidak ada satupun orang yang mampu mengalihkan pandangan mereka dari sosok cantik nan anggun itu. Banyak orang yang terkagum dengan wajah sempurna ciptaan Tuhan itu, namun banyak pula yang tergugu seolah melihat mendiang nyonya mereka hidup kembali di dalam tubuh sang anak. Iris coklat terang miliknya menyorot datar para tamu undangan, namun bibirnya mengukir senyum penuh kehangatan, hanya segelintir orang yang sadar akan senyuman palsu yang dia berikan hanya untuk formalitas belaka. Setelah acara di buka, Alexia memberikan kata sambutan untuk semua tamu yang hadir pada pesta perayaan ulang tahun kantor mereka, di dampingi oleh Gilbert selaku pendiri perusahaan. Xia nampak di gandeng oleh sang kakek saat memberi kata sambutan. "Selamat malam untuk seluruh karyawan Gilbert coorporation dan juga A.M group, terimakasih karena sudah berkenan hadir dan menikmati acara tahunan yang sederhana ini." Sederhana memang hanya menghabiskan berapa ratus juta. "Saya sebagai CEO generasi 3 merasa sangat terhormat bisa berdiri dan membuka acara malam ini, sejujurnya ini belum saatnya masuk ke generasi tiga. Namun di karenakan ibu saya sudah tidak sabar menemui Tuhan akhirnya saya yang harus melanjutkan sebagai anak tunggalnya, seperti yang kalian tahu saya anak tunggal tidak mungkin saya membiarkan perusahaan yang sudah kakek saya bangun tidak terurus." Gilbert setia menggenggam tangan sang cucu. "Sejujurnya ayah saya mungkin bisa melanjutkan perusahaan ini untuk sepuluh tahun kedepan setelah kematian ibu saya, namun ayah saya memilih menikah lagi dan dalam aturan keluarga kami ayah saya sudah tidak memiliki hak dan kewajiban lagi mengurus segala hal tentang perusahaan. Rumit, tapi memang begitulah aturan keluarga. Baiklah saya rasa sudah cukup, nikmatilah acara malam ini selamat bersenang senang semuanya." Tepuk tangan dan sorak sorai terdengar heboh, Alexia turun dari podium dengan hati hati di bantu oleh sang kakek. Serangkaian acara sudah di lakukan, bahkan acara pemotongan kue juga lancar dilakukan. Xia melirik Galen yang di gandeng posesif oleh Bianca, Xia berjalan mendekati mereka berdua, menunjukkan senyum lebar pada dua sejoli itu. "Senang melihatmu hadir Bianca." sapa Alexia pada Bianca yang makin mengeratkan gandengannya pada sang kekasih, merasakan hawa intimidasi yang begitu kuat dari lawan bicaranya. "Galen yang mengajakku kemari." jawab Bianca sedikit gugup. Xia terkekeh pelan, dia mengangguk anggukan kepalanya entah kenapa. "Galen sangat pengertian, dia mengajakmu datang untuk mengenal lebih dekat siapa majikannya." tawa Alexia menjadi setelah di tatap tajam oleh Galen. Ini tempat yang tepat untuk mempermalukan Galen dan juga Gema, tak lupa pula dengan Leon. Merasa sudah menjadi sasaran Galen, memberi peringatan dengan menatap Alexia tajam. Namun yang di tatap tidak merasa takut, Xia malah semakin menjadi jadi. "Tidak sopan menatap orang lain seperti itu, kau harusnya tahu tata krama Galen." "Dia tidak akan tahu, karena sedari kecil dia hanya di ajarkan bagaimana cara memuaskan majikan." Alexia sedikit terkejut saat ada tangan yang merangkul bahunya dari belakang, siapa lagi kalau bukan Zaheen dan Clayton. Galen menahan, dia tidak bergeming meskipun sudah di permalukan oleh Alexia dan kini di tambah kedua sepupu Xia. Bagi Galen ini sebuah hukuman, hukuman atas segala luka yang Alexia dapatkan selama ini, memang bukan karena dirinya namun Galen tahu ini karena ibunya. "Beri aku tips untuk mendapatkan gadis kaya raya seperti dia." tunjuk Clayton pada Bianca yang kian menundukkan kepalanya. "Tidak ada yang spesial, cukup berikan cinta yang tulus." jawab Galen seadanya. Zaheen dan Calyton saling melempar pandangan, lalu tertawa keras beberapa orang bahkan melirik ke arah mereka. "Jelas, jelas saja cukup memberikan cinta karena kau tidak memiliki apapun selain cinta untuknya." Xia melirik Bianca tajam, matanya terlihat jelas kalau dia tidak menyukai kehadiran Bianca di acara ini terlebih Bianca menggandeng posesif lengan Galen sepanjang acara. Irisnya dan iris Bianca tidak sengaja bertumbukan, Xia menunjukkan secara gamblang ketidak sukaannya pada Bianca. "Membosankan." ejek Xia pada Bianca, gadis itu tampak geram namun dia tidak berani membuka suara untuk membalas Alexia. Sudah pukul sepuluh malam, acara masih berlanjut Daniel sibuk berbincang dengan Windi dan juga teman sekantornya yang lain, sementara Alexia di sibukkan oleh kolega bisnisnya yang satu persatu bergantian mengajaknya berbincang. Semakin larut semakin indah pesta ini mereka buat, ada yang berdansa ada pula yang memainkan beberapa permainan seru. Merasa lelah, Alexia pamit undur diri pada seluruh tamu yang datang dia kembali kerumah lebih awal di dampingi oleh Daniel. Di sepanjang perjalanan Alexia melamun, dia tampaknya sudah setengah mabuk. "Aku ingin air dingin." pintanya, segera Daniel mengambil air di dalam box yang ada di kursi belakang. Alexia menenggak air minum itu sampai habis, suasana hatinya mendadak buruk setelah berbincang dengan Galen dan Bianca. Dia yang memulai, dia pula yang kesal. Alexia memang sulit di pahami, terkadang dia baik pada Galen terkadang dia menyerang Galen seakan akan Galen adalah musuhnya dan terkadang dia menjahili Galen seperti layaknya teman. Sepanjang perjalanan Daniel hanya diam, karena Alexia juga hanya diam, dia tidak berani membuka mulut karena sang nona tampak begitu murung. Setelah sampai di rumah Alexia sudah tertidur dari dalam mobil, Daniel menggendong Xia sampai ke kamarnya melepas sepatu dan menyelimuti Alexia. Saat seperti ini wajah itu tidak tampak sedikitpun keangkuhan dan juga wajah mengintimidasi, Xia tampak begitu lugu dan polos saat tertidur. Daniel tidak tahu berapa banyak beban yang dia pikul sendirian selama ini, berusaha pura pura kuat dan juga tetap menjadi sosok yang jahat padahal sejatinya dia tidak seperti itu. ••••••• Tangan lembut itu mengelus puncak kepala sang putri lembut, menatap wajah yang kini tengah pulas dalam tidurnya. Sedikit terusik gadis itu menggeliat nyaman dan kembali melanjutkan tidurnya, semakin nyaman saat ada tangan yang memeluknya hangat. Sudah berapa tahun sejak terakhir kali dia memeluk putrinya, dan kini sang putri sudah menjadi wanita dewasa yang penuh dengan beban hidup. Merasa bersalah dan juga kecewa pada dirinya sendiri, meninggalkan dan bersikap kasar kala itu membuatnya ingin kembali namun sudah tidak mungkin lagi. Segalanya telah berubah, dia hanya sebatas angan yang tidak dapat di genggam, hadirnya hanya sebagai obat untuk sang putri saat di butuhkan. "Ib-uu.... Alexia menggeliat nyaman di dekapan sang ibu. Surai coklatnya terus di elus lembut, keningnya di kecup hangat oleh sang ibu. "Selamat tidur tuan putri." senyum tulus yang dia rindukan, kini menjadi penghangat tidur paling nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN