Ada sebuah rasa yang sulit untuk di mengerti oleh si pemilik raga itu sendiri, bertahun tahun bersama menjalin sebuah ikatan yang begitu erat namun tak terlihat, semakin lama ikatan itu semakin memudar seiring mereka tumbuh dan menjadi dewasa. Rumit dan tidak sukar untuk di pahami, terlalu besar rasa yang mereka miliki hingga saling menyakiti satu sama lain, begitulah menjadi dewasa.
Semakin kita dewasa semakin sulit pula segala hal yang akan kita hadapi, tak sama dengan anak anak yang hanya memikirkan soal besok akan bermain apa dan dimana, menjadi dewasa adalah sebuah hal yang menakutkan sekaligus membosankan.
Menjadi dewasa adalah hal yang suka tidak suka, sudi tidak sudi harus tetap kita lewati, karena sejatinya manusia adalah makhluk hidup yang memiliki siklus seperti itu. Dari sekian miliyar manusia di bumi, sebagian dari mereka menyesal menjadi dewasa.
Setelah saling dewasa, diam diam dua manusia saling memikirkan saat mereka terjaga dari tidur mereka, tersakiti oleh opini yang mereka buat sendiri tanpa mau saling bicara. Begitulah rumitnya menjadi dewasa, mempersulit suatu hal yang seharusnya menjadi mudah.
Alexia membuka matanya pelan, suara gemericik hujan di luar sana tidak terlalu keras namun lumayan mengusik tidur malamnya, melirik ke arah jam dinding, masih pukul dua dini hari. Tidak ada yang bisa dia lakukan selarut ini, tidak terlalu ingat namun kepalanya sedikit pusing memikirkan siapa yang membawanya masuk ke kamar.
Tidak mungkin Galen.
Mengingat namanya saja sudah membuat Alexia malas, memikirkan betapa angkuh manusia bernama Galen itu.
Sesekali kilat tampak menyapa, membuat langit seakan akan terkena potret cahaya terang. Sepertinya langit sedang marah, namun dia tidak ingin ada manusia yang melihat amarah serta tangisnya.
Alexia tiba tiba teringat pada Jenna, gadis itu tidak hadir pada acara kantornya. Dia sakit, begitu kata Windi saat sekertarisnya mengantarkan undangan khusus untuk Jenna. Xia merasa bersalah pada gadis mungil itu, belum sempat meluangkan waktu untuk menjenguknya.
Jederrrrr......!!!
Alexia menarik selimutnya menutupi wajah terkejut, jantungnya berdegup lebih kencang takut akan suara petir yang begitu menggelegar datang kembali. Xia semakin menutupi dirinya dengan selimut saat pintu kamarnya terdengar di buka pelan oleh seseorang, meskipun tidak yakin itu manusia atau bukan namun Alexia mencoba untuk positif thinking.
Dada Alexia naik turun tidak karuan, dia sedikit takut. Tidak, dia sangat ketakutan.
Sebuah tangan besar mengusap puncak kepalanya, membuat Alexia terkejut lalu beteriak kencang.
"b******n PERGI KAU SETAN!!!."
Tidak ada jawaban, tiba tiba kamarnya menjadi sangat terang, Alexia menatap takut orang yang kini berdiri di samping sakelar kamarnya. Ingin mengumpat lagi namun dia masih merasa ketakutan, tapi momen ini memang sangat tepat untuk di jadikan alasan mengumpat manusia yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
"Kau! Dasar i***t!! Mati saja kau dasar kuda nil." niat hati ingin terlihat galak dengan emosi menggebu gebu, namun sang target malah tertawa kecil.
"APA YANG KAU TERTAWAKAN b******k!!."
Sang target menggeleng pelan, dia mendek ke arah Alexia, ikut naik ke atas ranjang empuk milik tuan putri rumah ini. Dia membaringkan tubuhnya di samping Alexia, mengarahkan tubuhnya menghadap ke arah Xia. Sembari tersenyum kecil dia berkata "Aku tahu kau takut dengan suara gemuruh di luar."
Ingin menjawab TIDAK, namun manusia di hadapannya itu memang sudah mengerti apa saja hal yang dia takuti.
"Aku lebih kaget melihat manusia bodoh di hadapanku ini." ketus Alexia kasar.
Mendengar Alexia berkata seperti itu membuat laki laki yang tadi di kira hantu oleh Alexia tergelak tidak habis pikir, dia mengusap puncak kepala Alexia.
"Kau tahu sendiri, aku tidak akan menjauhimu meskipun kau sering kali menngataiku dengan segala hal yang buruk."
Xia terdiam, mengutuk laki laki yang membuatnya merasa tidak enak hati.
"Karena kau temanku."
"DIAM GALEN!!." bentak Alexia kesal.
Dia Galen, manusia yang dia kata katai saat pesta kantor berlangsung. Manusia yang membuatnya terjaga, manusia yang tidak pernah lagi menjadi alasan Alexia tertawa.
"Aku tidak mengizinkanmu naik ke atas ranjangku."
"Aku tidak membutuhkan izin."
"Jelas kau butuh, ini ranjangku!!."
"Diam Alexia."
"Kau yang diam!!
"Apa perlu ku lumat bibirmu agar kau bisa diam?." seketika Alexia terdiam.
"Jangan asal bicara kau i***t!!." Galen tertawa melihat wajah sang adik tiri yang sedikit bersemu malu.
Galen menarik pinggang Alexia mendekat, dia mendekap tubuh yang lebih mungil darinya itu hangat. Mengusap kepala belakang Xia lembut, Galen memejamkan matanya mencium aroma rambut Alexia yang semakin di usap semakin bertambah wangi.
Sementara Alexia hanya diam, terpaku di perlakukan selembut itu oleh Galen. Dia tampak sangat berbeda, di pesta tadi malam Galen nampak marah padanya tapi lihat saat ini, Galen bersikap sangat hangat padanya.
"Andai Bianca tahu seberapa b******k tunangannya, memeluk adik tirinya sendiri saat malam, dengan alasan yang murahan."
Galen tertawa hambar.
"Aku harap dia tahu, akan lebih baik jika seperti itu, setidaknya biarkan dia yang bosan dan meninggalkanku bukan aku yang meninggalkannya."
"Kau mencintai dia?."
"Tidak."
"Lalu?."
"Dia bagian dari permainan yang sudah di susun oleh ibuku dan ayahmu, dia adalah korban yang seharusnya tidak pernah bertemu dengan laki laki b******k seperti diriku ini. Kau sendiri yang paling tahu bahwa pertunanganku dan Bianca adalah strategi, bukan karena cinta. Namun sangat di sayangkan dia benar benar jatuh cinta padaku, menganggap aku adalah hal yang perlu dia perjuangkan sementara aku di sini tengah memikirkan gadis lain, gadis yang sudah bertahun tahun mengisi hatiku."
Galen menjeda ucapannya, menarik nafas pelan.
"Bukankah aku sangat jahat? Aku tidak pantas untuk gadis sebaik dia, sekaya dia dan secantik dia. Kau juga tahu sendiri, aku hanya anak seorang pelayan gadis yang ku cintai juga seorang putri raja di singgasana keluarganya. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah menjadi milikku."
Alexia mendengarkan dengan seksama, dia menatap wajah Galen kasihan. Mereka sama sama korban, Daniel tidak bersalah karena dia juga ingin bahagia tidak seharusnya di atur siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya.
"Kau lemah pada ibumu, kau lemah dan bodoh." maki Alexia kesal.
"Kau selalu ingin menjadi anak yang patuh, tidak memikirkan perasaanmu sendiri, kau itu bodoh."
Tidak ada jawaban, Galen mempererat dekapannya pada Alexia, menepuk punggung adik tirinya pelan. Menghindari segala hal yang coba Alexia jelaskan, dia terlalu bodoh, lebih memilih setia menjadi boneka sang ibu.
Galen tidak mau memperjuangkan si cantik yang mengisi hatinya, karena dia tahu bahwa di perjuangkan pun mereka tidak akan pernah bisa bersatu karena Galen tahu dia akan di tolak habis habisan, atau mungkin di permalukan di hadapan umum seperti sebelum sebelumnya.
•••••••
Terbangun, Alexia menatap sekitar menatap segala penjuru ruangan kamarnya, Galen sudah tidak ada. Jelas saja pasti Galen keluar dari kamarnya sebelum Gema dan Leon bangun, tidak lucu kalau mereka ketahuan tidur di satu kamar yang sama setelah segala makian yang dia lontarkan kepada Galen selama ini.
Akan terlihat sangat menggelikan, Xia tidak sanggup membayangkan.
Hari ini Xia meliburkan para pekerjanya, dia tahu pasti sangat lelah harus pergi bekerja setelah berpesta semalaman penuh.
Xia mengambil sebotol air mineral yang ada di atas nakasnya, melepas tutup botol lalu segera meneguk air itu hingga sisa setengah. Rasanya haus, dan sedikit panas mengingat perlakuan manis Galen tadi malam. Alexia menepuk nepuk kedua pipinya, mencoba untuk segera sadar dari pikirannya yang tidak jelas.
"Cukup, cukup, cukup aku sudah tidak tahan dengan otakmu ini Xia." Alexia memukul mukul pelan kepalanya, meminta pikiran tentang Galen untuk pergi sejauh mungkin.
Tidak ingin terus memikirkan hal itu, Alexia turun dari ranjangnya, masih menggunakan piyama tidur Alexia turun ke lantai satu. Perutnya lapar, membuka lemari pendingin Alexia menemukan apel dia langsung mengambil dan menggigit apel itu.
Xia menuang jus mangga ke dalam gelas, meminumnya lalu mengangguk anggukan kepalanya merasa sedikit lega karena perutnya sudah terisi.
"Setidaknya cuci mukamu nona sebelum sarapan." Xia terkejut, dia kemudian mendelik galak ke arah Calyton yang sudah duduk menaikkan satu kakinya ke atas meja ruang keluarganya.
"Sialan, apa yang kau lakukan sepagi ini dirumahku?." tanya Alexia dengan nada kasar.
Clayton memasang wajah sok berfikir, mencari alasan yang tepat untuk menjawab Xia.
"Ah dirumahku tidak ada makanan, jadi aku mengungsi kemari."
"Oh."
"Oh? Oh apa?." tanya Clayton tidak paham.
"Pantas wajahmu terlihat seperti orang miskin." jawab Xia enteng sambil kembali mengunyah apelnya.
"b******k tidak seperti itu maksudku Alexia Maurellin." kesal Calyton karena di jadikan bahan candaan Xia sepagi ini.
Xia membuka lemari pendingin dan mengambil satu apel, di lemparnya ke arah Calyton dengan senang hati Calyton menangkap apel itu.
"Galen bilang kau belum bangun saat aku datang tadi." Xia terdiam beberapa detik, lalu kembali melanjutkan kesibukannya dengan apel yang sudah di makannya separuh.
Keduanya sama sama diam, terjebak keheningan.
"Kenapa Indonesia kurang maju?." tanya Alexia tiba tiba membuat Clayton bingung, namun Calyton tetap menjawab pertanyaan sang adik.
"Karena sumber daya alam kita yang melimpah tidak kita olah sendiri, mengandalkan negara asing dengan alasan keterbatasan alat yang canggih. Kedua, sumber daya manusia kita yang pintar dan cekatan sama sekali tidak di perhatikan tidak di pandang hingga akhirnya orang pintar di negeri ini pergi keluar negeri untuk menyalurkan kelebihan mereka. Indonesia terlalu banyak pemimpin rakyat yang tidak waras, gila kekuasaan dan hanya uang yang mereka pikirkan."
Clayton kembali mengunyah apelnya.
"Aku rasa itu sudah cukup untuk di jadikan alasan mengapa negara kita tidak mengalami kemajuan, karena pengurus intinya lebih mementingkan rekening mereka ketimbang kesulitan rakyat."
Xia mengangguk angguk setuju, terlalu miris jika harus di kupas terlalu dalam.
"Mereka tidak lebih dari sekedar sampah yang ingin tetap terlihat elite, padahal sebenarnya mereka hanya orang orang yang mengemis uang rakyat dengan gaya."
Tawa Calyton terdengar memenuhi ruangan.
"Sebenarnya ada alasan utama kenapa Indonesia tidak maju."
"Apa?." Clayton memasang wajah penasaran.
"Karena kau homo."
"AKU TIDAK HOMO b******k!!." kini tawa Alexia memenuhi penjuru ruangan, merasa puas melihat wajah kesal kakak sepupunya.