Sedikit Rasa

1140 Kata
Setelah acara kantor usai, kantor Xia kembali ramai memperbincangkan sesuatu. Desas desus soal pernikahan Galen dengan Bianca, anak pengusaha kaya raya bahkan ayahnya memiliki perusahaan tambang batu bara sudah terdengar sampai ke sudut ruangan kantor sekalipun. Berita yang entah mereka dengar dari mulut siapa itu menggiring banyak opini dari karyawan Alexia, beberapa dari mereka memuji bahwasannya Galen dan Bianca adalah pasangan yang cocok, keduanya sama sama pekerja keras, namun tidak sedikit pula dari mereka yang mencemooh Galen karena di anggap mengambil kesempatan atas kekayaan calon istrinya. Tidak mau ikut Campir apalagi berkomentar, Alexia hanya berusaha menulikan telinganya, karena baginya hal itu sama sekali tidak penting. Untuk apa juga mereka membicarakan orang lain di kantor? Lagi lagi itu semua karena sifat manusia yang mau tahu dengan urusan orang lain, tidak memikirkan privasi dan juga mengatakan hal buruk sesuka mulut mereka. Itu juga yang membuat Alexia berprilaku sama, dia tidak pernah bersikap lemah lembut pada seseorang yang pernah mengatai atau menyakiti perasaannya. "Parah, mereka bahkan berkomentar bahwa Galen tidak cocok mendapat berlian seperti Bianca." Windi berucap heran, matanya tertuju pada room chat grup karyawan kantor. Alexia tetap tak bergeming, dia membuka tiap lembar novel yang tengah dia. Alexia sangat menyukai novel, dia selalu menyempatkan waktu senggangnya untuk membaca novel bukan membuka ponsel. "Aku baru tahu Galen memiliki daya tarik sekuat itu." komentar Windi lagi, Xia melirik Windi sekilas. "Maksudmu?." Alexia bertanya tidak paham. Windi menunjukkan room chat yang berisi kegalauan beberapa karyawati yang patah hati karena mendengar kabar Galen akan segera melangsungkan pernikahan, Xia mendesis remeh seakan akan mentertawai gadis gadis malang itu. Padahal dia sendiri juga merasakan hal yang sama, meskipun hanya sedikit, sangat sangat sedikit. Tidak, maksudnya adalah sedikit lebih banyak dari yang lain. "Gadis yang Galen cintai bukan Bianca, Binaca hanya sumber uang baginya kelak di masa depan." celetuk Alexia enteng, Windi sebenarnya sudah tidak kaget namun lagi lagi dia masih tidak percaya bahwa Galen bisa melakukan hal kejam seperti itu. "Aku yakin pasti gadis itu cantik sekali." "Yang jelas tidak lebih cantik dari diriku." sombong Xia tidak mau kalah, karena baginya itu sebuah penghinaan kalau gadis yang di sukai Galen lebih cantik darinya. Sebesar apapun kebencian Alexia, perasaannya pada Galen sebagai teman tidak akan hilang, dia berusaha untuk bersikap baik pada Galen meskipun kenyataannya hanya hinaan yang sering dia lontarkan pada teman kecil yang saat ini sudah berubah status menjadi kakak tirinya. Banyak hal yang ingin Xia lakukan untuk Galen, namun dia tidak bisa menunjukannya secara terang terangan, terlalu memalukan. Seperti saat ini, jujur Alexia ingin menampar para karyawan yang sudah berani berkomentar tidak enak pada Galen, karena mereka hanya melihat dari luar tanpa tahu siapa yang membuat Galen bertindak seperti itu. "Ku dengar kau dan Galen sudah teman sejak kecil, menurutmu apa dia memang tipikal orang yang seperti itu?." kini Windi mulai mengkepoi kehidupan Alexia lebih dalam dengan alibi mempertanyakan kedekatan Xia dan Galen. Xia menggeleng, lalu mulai menjelaskan seperti apa seorang Galen di matanya. "Dia itu pengecut, tidak berani mengutarakan ketidaksukaan atau mengutarakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Ketika dia merasa ada yang memperlakukan dirinya tidak adil, dia tidak memberontak malah dengan bodohnya menikmati permainan para anak anak yang sering membulinya di kelas satu sekolah menengah." Xia kembali mengingat ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana Galen tersenyum lebar saat dirinya di lempari telur dan juga tepung hingga tubuhnya sudah mirip udang yang siap untuk di goreng. "Penakut dan pengecut seperti dia tidak akan mungkin bisa menyusun strategi sedetail itu untuk mendekati ahli waris perusahaan ternama, dia pasti takut mengambil resiko yang terlalu besar. Bagiku ini pure Bianca yang tergila gila pada Galen, mereka sempat putus, orangtua Bianca sampai rela datang kerumahku demi memohon pada Galen untuk tetap bersama putrinya." Windi melongo tidak percaya, dia pikir Galen yang tergila gila pada Bianca, ternyata sebaliknya. "Ku rasa Bianca mengidap gangguan jiwa." Windi tertawa ngakak, mendengar perkataan Alexia. Jujur Alexia itu tidak seburuk yang mereka katakan, Alexia itu hanya terlalu mudah mengungkapkan kekesalannya. "Kau mengatainya sakit jiwa atas dasar apa?." "Gaun kuning, kau ingat? Di acara pengangkatan anak Rajendra ruangan monokrom itu di penuhi oleh gadis gadis cantik memakai dress elegan, dan dia dengan santainya menggunakan gaun berwarna kuning mencolok." Windi kembali terpingkal, mengingat Alexia yang saat itu menyindir Bianca yang datang dengan stelan acara ulang tahun anak anak. "Ini keterlaluan." ucap Windi menepuk nepuk perutnya sendiri yang sedikit kram karena terlalu banyak tertawa. "Aku rasa Galen cocok dengan Bianca, karena mereka sama sama sakit jiwa. Semoga saja setelah menikah, mereka cepat mati." Do'a jeleknya di dengar oleh Daniel dari luar pintu masuk kantor utama Alexia. Tidak terdengar seperti sumpah serapah, hal itu malah terdengar seperti kemaraha dan kecemburuan dari seorang Alexia yang tidak dapat lagi mendapat perhatian Galen setelah sahabat kecilnya itu menikah. Daniel mengurungkan niatnya masuk, tadinya dia akan memberikan kopi untuk Xia, namun tampaknya Xia tidak membutuhkan kopi saat ini. Dia lebih membutuhkan air dingin. ••••••• "Bali terlalu jauh." Raut wajah Bianca berubah masam, dia benar benar ngeyel ingin melangsungkan pernikahan mereka di Bali. Galen bukannya tidak mau, memikirkan betapa sulit prosedur dan juga protokol kesehatan yang harus mereka laksanakan pasca covid menyerang membuat dia sebagai mempelai laki laki enggan. Tidak harus di Bali, yang penting menikah. Begitulah pemikiran Galen, dia tidak mau merepotkan dirinya sendiri demi keinginan Bianca. "Tapi aku mau di Bali." "Menikahlah dengan orang lain." jawab Daniel asal asalan. Memang benar kata orang, setiap pasangan yang akan menikah selalu di uji dengan keributan, mempertanyakan keseriusan serta kesetiaan dan masih banyak lagi. Galen tidak menyangka hal itu juga terjadi pada pasangan yang tidak saling mencintai. "Bali tidak sejauh Paris." "Carilah pasangan lain." Galen masih saja kekeh tidak mau. Sebelumnya lebih parah, Bianca ingin mereka melangsungkan pernikahan di Paris karena kakeknya turunan orang Perancis. Bali saja di tolak mati matian apalagi Paris? Galen pasti akan di ejek habis habisan oleh Alexia karena terlalu pasrah pada Bianca. "Aku akan memberimu pilihan." Galen menatap Bianca seksama, Bianca masih saja menggembungkan pipinya kesal. "Menikah di Jakarta atau tidak sama sekali." "Tid- apa!? Apa apaan itu." Bianca semakin kesal, dia sangat ingin memukul wajah calon suaminya andai saja kalau Galen tidak tampan. "Jadi apa keputusanmu nona?." tanya Galen untuk terakhir kalinya, dengan wajah kesal dan marah Bianca menghentak hentakkan kakinya mencoba protes menggunakan gesture. "Jakarta." pupusnya kemudian. "Good girl." Galen tersenyum puas, mengusap puncak kepala calon istri yang belum mendapatkan tempat sama sekali di hatinya. Masih Alexia yang menduduki peringkat tertinggi di dalam hatinya, apapun untuk Alexia dan hidupnya juga adalah untuk Alexia meskipun si bungsu tidak menyadari akan hal itu. Galen sangat menyayangi Alexia, andai saja bisa dia sudah membawa alexia kabur, pergi sejauh mungkin untuk hidup sederhana bersamanya. Tiba tiba Galen meringis, mengingat Alexia tidak akan sudi hidup bersama orang miskin seperti dirinya, terlebih lagi dia adalah anak perempuan yang saat ini begitu Alexia benci. Sudah tidak ada harapan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN