Di ruang tamu mereka saling diam, sedikit mengejutkan namun kedatangannya membawa maksud yang tidak bisa di bantah. Sore menjelang tiba tiba Gilbert datang, menyampaikan keinginannya mengungkap kasus lama, sebagai tanda kesopanan Gilbert memberitahu hal ini pada Leon karena dia adalah suami mendiang putrinya. Meskipun kini Leon tampak sudah melupakan Hellen seratus persen, namun keinginan Gilbert kembali membuatnya ingat akan mendiang sang istri.
Tidak ada alasan yang lain, kata Gilbert ini semua hanya untuk memastikan siapa orang berani membunuh bungsu keluarga Gilbert. Keamanan rumah yang begitu banyak dan juga cctv dimana mana menjadikan semua orang dalam rumah itu ikut di curigai, namun sampai kini masih belum terungkap siapa dibalik kasus yang sudah bertahun tahun lalu itu di lupakan.
"Hellen sudah tenang, apa kita perlu melakukannya?." Leon mencoba meyakinkan Gilbert untuk tidak melakukan hal itu.
Gilbert terkekeh pelan, dia menatap Leon dan Gema bergantian.
"Dari mana kau tahu dia sudah tenang? Apa dia datang ke dalam mimpimu? Atau kau sering menjenguknya?."
Gilbert lagi lagi menatap kedua manusia di hadapannya, Gema menggandeng tangan Leon kuat seakan akan tidak ingin Leon lepas dari genggamannya.
"Dia tidak tenang di sana, dia hanya di paksa untuk tenang, kalau saja putriku bisa pasti dia sudah kembali kerumah dan memberitahu siapa pembunuhnya. Sayang sekali, meskipun dia kembali aku tidak akan bisa melihatnya."
Mendengarkan dengan seksama dari balik salah satu pilar rumahnya yang menjulang tinggi, Alexia diam diam senyum puas mendengar jawaban dari sang kakek.
"Tidak akan ada yang kita temukan ayah, ini sudah terlalu lama."
"Aku percaya kita tidak akan menemukan apapun jika kau yang mencarinya, jangan terlalu ketara Leon putriku sangat mencintaimu dia bahkan rela menikah dengan manusia biasa yang kesetiaanya tidak seberapa ini. Aku kemari tidak meminta persetujuanmu, aku hanya memberitahu dirimu soal ini."
Leon terdiam, dia tampak bingung harus menjawab apa lagi, suasana mendadak canggung. Gema sangat ingin membuka mulutnya, namun kesopanan lebih dia pikirkan. Gilbert adalah majikannya, dia baik sekali saat Gema masih bergelut di dunia pelayan, tidak mungkin dia bisa membantah atau hanya sekedar mengutarakan ketidaksetujuannya.
"Apa yang akan kita lakukan memangnya jika si pembunuh tertangkap?."
"Kenapa kau menanyakan itu? Tidak ada hukum yang lebih pantas untuknya kecuali kematian, lagi pula hanya Tuhan yang berhak menghakimi pendosa berat seperti itu."
Pemikiran Gilbert sangat sederhana sekali, Leon dapat menghela nafasnya lega, dia sangat takut jika mantan mertuanya itu melakukan hal yang tidak tidak kepada tersangkanya.
Xia menggigit gigit kecil ruas jarinya, memikirkan maksud dari 'Hanya Tuhan yang berhak menghakimi' maka bersiaplah si pembunuh di hukum mati.
Gilbert pamit pergi, dia tidak bertemu Alexia hari ini karena di pikirnya Alexia masih ada di kantor, padahal gadis itu diam diam menguping dari balik pilar kokoh rumahnya.
••••••••
Dengan stelan rapih dan wangi kini Daniel tengah duduk anteng di salah satu cafe dekat rumahnya, menunggu Savana datang karena hari ini mereka memiliki janji temu. Seperti biasanya Daniel membawakan kue kesukaan Savana, di masukan ke dalam paper bag berwarna pink cerah.
Lima belas menit menunggu akhirnya Savana datang, melambaikan tangannya saat melihat Daniel sudah menunggu di meja paling pojok. Savana bergegas mendekati Daniel, menarik kusi meletakkan tasnya lalu kemudian mendudukan dirinya.
"Sudah menunggu lama?." tanya Savana mengusap pipinya sendiri, di luar udara sangat dingin entahlah akhir akhir ini ibu kota yang biasanya panas mendadak dingin saat malam datang.
"Belum terlalu lama." jawab Daniel singkat.
Daniel memandang wajah Savana seksama, sudah berapa lama wajah itu tak pernah di pandangnya. Dulu sebelum bekerja dengan Alexia, tidak ada hari tanpa Savana. Namun sekarang, setelah Daniel mendapatkan pekerjaan waktunya tidak lagi sebanyak saat dia bekerja di rumah makan, alasannya karena Alexia selalu memanggilnya kapanpun dia mau.
"Niel." Savana memanggil Daniel beberapa kali, dia sibuk melamun bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Ah ya? Ada apa?." Savana tertawa.
"Kau itu sedang memikirkan apa?l
"Kita."
Mendadak tawa Savana berhenti, suasananya tidak seasik tadi. Jantung Savana mendadak berdetak lebih cepat, namun berkali kali otak Savana mengatakan bahwa dia tidak boleh lagi jatuh terlalu dalam. Savana belum melupakan Daniel, jelas itu membuat hatinya mendadak senang saat Daniel mengatakan hal itu.
"Ah kita, kita makan apa hari ini?."
Daniel menahan senyumannya, melihat Savana yang salah tingkah.
"Hadiah macam apa ini Savana?." Daniel menyodorkan kotak jam tangan yang tempo hari Savana titipkan pada Raken, Savana mengedip tidak mengerti.
"Itu jam tangan." jawabnya polos.
"Bukan, bukan itu maksudku. Apa maksud dari jam tangan ini? Apa ini salam perpisahan?."
Savana menggeleng, sedetik kemudian mengangguk.
"Bagaimana cara mengatakannya, aku ingin melanjutkan studiku di London, tapi masih belum ku putuskan akan berangkat kapan."
Dugaannya benar, Daniel menggenggam tangan sahabatnya erat, menyorot layu seperti tidak rela.
"Bisakah kau tetap tinggal? Aku-
Daniel mencoba mencari alasan yang tepat mengapa Savana harus tetap tinggal,
"Kau kenapa?."
"Aku hanya tidak ingin kehilangan sahabat sebaik dirimu."
Savana tersenyum kecut, hatinya sedikit terasa nyeri, pada akhirnya kembali lagi Daniel tidak memandangnya sebagai perempuan biasa, dia selalu di pandang sebatas sahabat baiknya.
Savana mengangguk.
"Aku akan memikirkan tentang itu, lagi pula aku belum yakin kapan aku akan berangkat, ayah tidak memaksaku untuk pergi semua tergantung kemauanku saja."
Mendengar penjelasan Savana, Daniel dapat tersenyum lega setidaknya dia tidak perlu lagi kehilangan seseoranh yang berharga baginya.
Tidak pernah mengatakan bukan berarti Daniel tidak merasa takut kehilangan, dia takut kehilangan orang orang yang dia sayangi, tidak mau terulang kembali seperti saat ayahnya meninggalkan dia dan ibunya. Setelah itu ibunya pergi meninggalkan Daniel bahkan untuk waktu yang sangat lama, mustahil untuk kembali.
Dia tidak ingin kehilangan Savana, Savana sudah menjadi matahari baginya. Daniel sadar bahwa Savana memiliki perasaan lebih dari sebatas sahabat, dan Daniel sadar bahwa dia adalah laki laki b******k yang tidak tahu malu. Meminta Savana menetap namun dia tidak bisa memberikan hatinya pada gadis yang sejak kecil sudah menjadi sumber kebahagiaannya, ini bukan karena dia mencintai Alexia.
Nonanya terlalu sulit untuk di tebak, raut wajah Alexia saja terlalu sering berubah dalam waktu singkat, seakan akan tidak pernah ada satupun laki laki yang di pandangnya sebagai pria yang cocok.
"Savana." Daniel memanggil lirih, dia menatap mata Savana dalam.
"Biarkan aku meyakinkan diriku terlebih dahulu, ini benar benar cinta atau hanya sebuah rasa penasaran belaka." Daniel menjeda ucapannya, yang dia maksud adalah perasaanya pada Alexia.
"Karena jujur, kau masih menjadi orang yang paling penting dalam hidupku."
Dari jarak beberapa meja Alexia bisa mendengar semua ucapan Daniel, Jenna meringis ngeri menatap wajah datar Alexia yang tampak mengintimidasi.
"Sepertinya dia buta." ucap Jenna karena sedari tadi Alexia sudah duduk bersama Jenna di tempat itu, bahkan sebelum perempuan bernama Savana itu datang.
Alexia menggendikkan bahunya tidak perduli, dia kemudian memasukan satu potongan ayam ke dalam mulutnya, mengunyah malas namun matanya tetap memandang lurus ke arah Daniel yang setia menggenggam tangan Savana erat.
"Tidak ada laki laki yang setia di dunia ini." celetuk Jenna nyengir lebar, dia belajar dari pengalaman pribadinya. Mengingat sang ayah selingkuh dengan sekertaris kantor ayahnya dulu, bahkan hubungan mereka masih berlanjut secara diam diam.
"Benar, tidak ada." sambung Alexia membenarkan.
Tidak ada laki laki yang baik di mata Alexia kecuali Gilbert sang kakek, kakeknya begitu setia pada neneknya yang sudah meninggal sejak lama, kalau Gilbert mau sampai sekarang pun banyak gadis gadis seusianya yang rela membuka paha mereka lebar lebar untuk kakeknya.
Sangat di sayangkan, Gilbert begitu mencintai Arumi sang nenek.
"Pecat saja dia." Jenna memberi saran dengan nada sinis, gadis yang umurnya tidak jauh dari Alexia itu menunjukkan wajah kesal kekanakan.
"Itu namanya tidak profesional." Xia menjitak kepala Jenna pelan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?."
"Menghabiskan ayam ini, lalu pulang." jawab Alexia keluar dari topik utama.
Jenna menatap sinis, pipinya menggembung lucu saat marah.
"Bukan itu!!." teriaknya membuat Alexia tertawa puas mengerjai cewek cebol di depannya.
•••••••
"Kenapa warna tubuh spongbob kuning?."
"Iya karena aku cantik."
"Jelaskan kenapa Alaska begitu dingin?."
"Ya karena aku anak orang kaya."
"Aku lelah sekali, ingin permen rasa jagung."
"Beri aku pasta uang Xia, aku lapar."
Ocehan ocehan itu membuat kepala Alexia pening, setelah dari cafe Jenna memaksa ikut pulang kerumah Xia dan lebih sialnya lagi di kamar Alexia sudah ada dua manusia rusuh, siapa lagi kalau bukan Zaheen dan Clayton.
Clayton sedari tadi cengar cengir tidak jelas melihat tingkah lucu Jenna, sedangkan Zaheen sesekali menunjukkan wajah kecut karena selalu kalah saat bermain game.
Xia memeluk kakinya frustasi, mencoba mengusir ketiganya namun mereka menolak keras.
"Cepat, cepat kalian pulang saja aku pusing melihat kalian." usir Alexia tanpa basa basi.
"Yang berisik bukan aku, jadi yang seharusnya keluar itu Jenna."
Jenna mendelik kesal ke arah Zaheen, tidak terima di minta pergi sementara Zaheen mengeluarkan lidahnya mengejek. Alexia hampir membenturkan kepalanya ke tembok, kenapa sifat mereka seperti anak anak yang sedang berebut mainan.
"Aku tidak berisik! Kau keluar saja ponselmu berisik sekali.!"
"Anak kecil tidak seharusnya bergabung dengan orang dewasa."
"Aku bukan anak kecil!!."
"Tapi kau pendek."
"Aku tinggi!!."
"Ya, sedikit lebih tinggi memang ketimbang anak SD."
Clayton terbahak tidak kuat dengan interaksi sepupunya juga gadis mungil sedikit cebol bernama Jenna itu.
"Kalian benar benar mirip anak TK." komentar Clayton sembari tertawa.
Jenna benar benar bisa mencairkan suasana, tingkahnya tidak menunjukkan kalau dia adalah gadis yang sudah legal untuk di apa apakan, maksud Clayton legal untuk di nikahi.
"Xia dia ini...
Jenna menunjuk Zaheen kesal, wajahnya memerah padam menahan marah.
"Lempar saja ke kandang buaya."
Tawa Clayton semakin nyaring, dia begitu menikmati tingkah Jenna. Alexia menggeleng gelengkan kepalanya tidak mau ikut campur, kepalanya sudah terlalu pening mendengar suara mereka yang bagitu ribut.
"Jenna." panggil Zaheen pelan.
"Apa." jawab Jenna ketus.
"Jujur aku suka anak kecil sepertimu, mudah untuk di banting."
"XIAAAA!!."
Clayton memegangi perutnya yang kram, dia tidak bisa berhenti tertawa pertunjukan seperti ini sangat jarang dia temukan. Xia mengangkat tangan pasrah, dia tidak mau berkomentar lagi.