Keputusan

1300 Kata
Dari pagi hingga sore Alexia tidak mengatakan apapun pada Daniel, bahkan dia sama sekali tidak menyapa Daniel seperti biasanya, semua pekerjaan yang biasanya Daniel lakukan seperti membuat kopi, membeli makan siang dan lainnya di kerjakan oleh Windi. Alhasil hari ini Daniel hanya berdiri tegap selama jam kerja, keluar untuk makan siang dan kembali lagi berdiri tegap di sudut ruangan Alexia. Entah ada masalah apa, namun Daniel tidak berani untuk bertanya. Andai saja dia tahu apa masalah Alexia pasti dia sudah meminta maaf, meskipun tidak ada yang perlu di maafkan, toh mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun, tapi Alexia tidak berminat menjadi salah satu pilihan Daniel. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, biasanya Alexia sudah bersiap siap untuk pulang namun kali ini gadis dengan kacama bertengger di hidungnya itu masih fokus mantap layar monitor. Sesekali tangannya Xia meregangkan tubuhnya karena merasa pegal, Daniel setia menunggui sang nona. Xia melirik Daniel sekilas, dia menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya sendiri, sudah hampir jam setengah enam sejak Daniel diam saja tidak berpamitan pulang. "Berkemas dan pulanglah." ucap Xia pada akhirnya, dia tidak boleh membiarkan Daniel menunggunya karena jam kerja Daniel sudah habis. "Bagaimana dengan nona?." tanya Daniel memastikan apa sang nona juga akan pulang. "Aku lembur." jawab Xia singkat tanpa menoleh ke arah Daniel, tangannya dengan cekatan mengetik berbagai hal penting di atas keyboard komputernya. "Aku akan menunggu nona." Xia berhenti menggerakkan jarinya, dia menoleh ke arah Daniel, menatap seksama lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar monitor. "Tidak perlu, aku hanya membutuhkan Windi." Daniel sedikit merasa tidak berguna setelah mendengarkan kalimat yang di lontarkan oleh Alexia, karena tidak mau menambah mood Alexia semakin buruk, Daniel akhirnya menurut mengemas sisa perkerjaannya dan kemudian pamit pulang pada Alexia. Setelah Daniel keluar, Windi masuk membawa secangkir kopi panas yang masih mengepul, nampak jelas dari kepupan asap yang keluar dari dalam cangkir. Windi duduk di depan meja Alexia, dia membawa dua novel yang sudah Alexia minta. Keduanya kini hanya saling diam, membaca novel sembari menatap matahari yang kian menghilang tertelan waktu di ufuk barat. Sebenarnya tidak ada pekerjaan lebih, Alexia hanya ingin menghabiskan waktu di kantor bersama Windi, karena Windi juga tidak ada acara jadi dia bersedia menemani Alexia yang tampak tengah galau. "Tidak perlu di cintai, kita hanya perlu hidup dengan banyak uang dan kebahagiaan dari diri kita sendiri.... Xia membaca salah satu kutipan dari novel yang dia baca, Windi menoleh seakan akan meminta pendapat Alexia tentang kutipan tersebut. Xia menarik nafas, kemudian berkata "25 persen benar, sisanya hanya kepura puraan." "Maksud kepura puraan?." Windi membeo tidak mengerti. "Dari dua puluh lima persen yang aku sebutkan itu terdiri dari menjadi kaya, tidak memikirkan keuangan yang sulit tapi percayalah sisanya adalah kebahagiaan semu. Dan tujuh puluh lima persennya adalah perasaan bahagia yang tidak menetap, aku termasuk golongan manusia dalam kutipan itu, kebahagiaan tidak selalu datang dari diri sendiri Windi. Kita butuh orang lain untuk bisa melepas tawa, untuk menangis haru dan untuk merasa beruntung." Xia mengambil gelas kopinya, menyeruput pelan, memejamkan matanya menikmati sensasi kopi yang menenangkan. "Kalau kita tertawa, menangis, dan marah tanpa memiliki lawan jelas saja kita di cap gila." Windi tertawa, memikirkan apa yang di katakan Alexia ada benarnya juga. "Kembali ke permasalahan awal, jadi ada apa antara kau dan Daniel?." Jujur Windi sangat penasaran, biasanya dia tidak perlu membelikan ini itu untuk Alexia karena ada Daniel, tapi Xia mengatakan dia malas bicara dengan Daniel. Sudah jelas mereka ada sesuatu, apa mereka berkelahi? "Tidak ada." jawab Xia bohong. Windi memicingkan ekor matanya, Xia mendesah berat menghadapi kekepoan sekertarisnya itu. "Aku tidak sengaja ada di satu cafe yang sama dengan Daniel kemarin, dia selalu baik padaku begitupun aku padanya, namun kemarin dia di sana dengan sahabatnya yang entah aku lupa siapa namanya. Dia mencoba menjadikan aku salah satu pilihannya, kalau aku tidak berhasil dia miliki dia akan kembali kepada gadis itu." Windi membuka mulutnya lebar, dia tidak percaya Daniel sosok yang seperti itu, ini terlalu gila. Masalahnya di sini adalah yang di jadikan Daniel pilihan itu seorang Alexia, Alexia Maurellin yang bahkan tidak sudi menikah dengan anak anak konglongmerat berkelas sekalipun. Nyali Daniel terlalu besar, entah mungkin dia hanya nekat melakukannya. "Dia tidak sadar kau ada di sana? Wah ini benar benar gila." Windi berucap spechless. Xia menggendikkan bahunya tidak mau pusing, baginya itu tidak penting, namun hatinya sedikit nyeri karena alasan yang tidak jelas kenapa. Dia tidak suka Daniel, namun dia marah saat Daniel mengatakan hal seperti itu. Jadi maksudnya bagaimana? "Jadi kau mendiamkannya karena hal itu?." Windi terkekeh pelan, dia menatap Alexia serius. "Kalau begitu permainkan dia sama seperti dia mencoba mempermainkanmu dan gadis itu, aku rasa dia pantas mendapatkan pelajaran kan?." Xia tidak terpikir akan memberi Daniel pelajaran, otaknya sudah pusing memikirkan beberapa hal penting lainnya terutama soal keputusan sang kakek yang akan menyelidiki ulang kasus kematian ibunya. Alexia sebenarnya tidak peduli, namun di sisi lain dia tidak ingin ada yang memasuki kamar mendiang sang ibu lagi kecuali dirinya, karena tempat itu adalah tempat ternyaman sekaligus mengerikan untuk beristirahat bagi Xia. "Kalau aku punya waktu senggang aku akan melakukannya." jawab Xia sembari melempar senyum tipis. Windi mengacungkan jempolnya setuju, meskipun hanya sebatas rekan kerja namun Windi senang bisa di percaya Alexia. Xia tidak mau bercerita dengan sembarang orang, dia tidak suka ada yang tahu masalahnya, hanya beberapa orang terdekat yang paham akan hal itu dan di percaya Alexia, itupun tidak seratus persen. "Soal tuan Galen, aku sudah meminta beberapa orang untuk menghilangkan desas desus tetangnya, aku juga sudah memberi pelajaran untuk mereka yang bekata tidak sopan pada tuan Galen." Kali ini Xia yang mengacungkan jempolnya, dia tidak mau lagi mendengar bisik bisik dari karyawan kantornya mengenai pernikahan kakak tirinya itu. Muak. Karena hidupnya selalu berisi orang orang yang tidak pernah membuatnya bahagia. Langit sudah mulai gelap, kerlap kerlip lampu kota nampak indah di lihat dari dalam kantor Alexia yang di d******i oleh dinding kaca. "Ayo pulang." ajak Xia pada Windi. "Tidak mau makan bersama?." tawar Windi karena dia tahu Alexia tidak akan makan malam dirumah kali ini. "Ya sudah ayo." keduanya meninggalkan kantor bersama menuju salah satu restoran terdekat. ••••••• "Kau sudah terlalu banyak ikut campur." Leon menatap istrinya dalam, dia mengusap wajah yang semakin lama tampak semakin menua. "Aku hanya ingin melindungi keluarga kita." Leon terdiam beberapa saat, mencoba untuk memberi pengertian secara lembut. Ini tampak tidak adil sama sekali, Alexia adalah putrinya, darah dagingnya, meskipun Xia lahir dari rahim wanita yang tidak Leon cintai namun Alexia tetap adalah putrinya. Gema memang sesekali egois, dia sudah menunggu terlalu lama, dia ingin lepas dari segala hal yang ada di rumah itu. Dia mencintai Alexia, namun dia lebih memikirkan soal kebahagiaan putranya. Dia tahu salah satu kebahagiaan putranya adalah Alexia sendiri, tapi tetap saja itu tidak bisa di biarkan. "Gema." panggil Leon lirih. "Dia putriku, aku sudah terlalu banyak menoreh luka di hatinya, sampai akhirnya dia tidak lagi mau menumpahkan rasa lelahnya padaku." Mata Leon mulai berkaca kaca, selama ini bukan karena tidak mampu Leon terus ada di rumah milik Alexia karena dia ingin terus melihat putrinya setiap hari. Meskipun wajah itu jarang mengukir senyum, lebih sering menunjukkan raut marah dan datar namun Leon tetap ingin manjadi ayah yang ada di samping putrinya. Leon sadar dia tidak bisa melakukan apapun selain diam dan terus bersikap sok tidak perduli, kesalahannya sudah tidak bisa di maafkan, dia hanya ingin tetap bisa melihat putrinya. "Dia wanita pertama yang mampu membuat hatiku terkoyak Gema, karena dia tidak pernah menatap aku selayaknya seorang ayah." Jatuh sudah air mata Leon, mengingat segala hal buruk yang sudah dirinya lakukan pada sang putri. "Jadi ku mohon tolong kali ini saja, biarkan aku mengambil keputusan ini." Kali ini Gema harus kembali mengalah, dia tidak bisa menuntut Leon seperti istri lain menuntut hak pada suaminya. Hidup mereka begitu rumit, karena mereka sendiri yang menjadikan hidup mereka rumit. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN