Tamu

1201 Kata
Sampai di rumah Daniel uring uringan tidak jelas, merasa di acuhkan sepanjang hari oleh nonanya tanpa sebab yang jelas. Dia mencoba mengingat ingat kesalahan apa yang pernah dia lakukan dengan Alexia, sampai bicara dengannya pun Alexia tidak mau. Dirasa tidak pernah melakukan kesalahan, akhirnya Daniel mencoba berpikir positif, mungkin saja Alexia memiliki masalah dengan anggota keluarganya yang lain. Daniel menarik nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Daniel bingung dengan dirinya sendiri, dia merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan hubungannya dengan Alexia, karena tidak ada yang spesial dari mereka berdua. Hanya sebatas atasan dan bawahan, tapi Daniel tidak bisa menutup mata atas perasaannya sendiri. Belum seratus persen yakin, dia sedang mencari tahu kemana arah perasaanya, apakah menuju sang nona atau malah menuju sahabat kecilnya. Dia menyadari satu hal, bahwa dia tidak pantas menyukai apalagi berharap lebih kepada Alexia, dia wanita yang begitu anggun penuh kharisma, keturunan keluarga kaya raya yang mungkin hartanya tidak akan pernah habis meskipun dia menganggur sepuluh tahun. Tidak seperti dirinya yang hanya anak orang biasa, sudah menjadi piatu dan entah dimana keberadaan ayahnya pun Daniel tidak tahu. "Ada masalah apa lagi kali ini?." Raken mengulungkan secangkir teh hangat, Daniel menerima dengan sopan. Keduanya duduk di teras rumah kos mereka, menikmati udara malam yang dinginnya sedikit mencubit kulit. Daniel membuang nafas lelah. "Tidak ada yang serius, hanya saja suasana kantor hari ini sedikit mencekam, wajah Nona Xia begitu sangar." Raken tertawa pelan, wajar semua bos akan menunjukkan wajah yang sama jika ada hal yang tidak memuaskan atau mengecewakan. "Wajar, mungkin saja proyek yang sedang dia kerjakan bermasalah atau dia gagal menggaet proyek besar." Daniel menggeleng, seorang Alexia tidak pernah kalah dalam hal itu. "Sudahlah kenapa kita malah membicarakan hal itu." sambung Raken lagi. "Bagaimana denganmu?." Daniel bertanya membingungkan. "Tidak ada yang serius, sebentar lagi hutang hutangku hampir lunas. Aku merasa sedikit lega sekarang." Daniel mengulas senyum tipis, tidak ada masalah yang lebih menakutkan bagi orang miskin seperti mereka kecuali soal keuangan, mereka harus bersusah payah mencari pinjaman dalam keadaan mendesak, dan setelah itu kembali harus pusing dengan pengembalian uang yang telah mereka pinjam. "Hari hari kita hanya pusing memikirkan dompet." keduanya tergelak, agak miris namun begitulah pahitnya lahir sebagai orang biasa. "Andai saja aku bisa bekerja dengan nona Alexia seperti dirimu, pasti aku sangat senang." Semua iri dengan orang orang yang bekerja dengan Alexia, karena mereka di berikan segala sesuatu yang memadai. Gaji mereka di atas rata rata kantor lainnya, jaminan kesehatan diberikan secara cuma cuma, tunjangan setiap hari raya selalu Xia berikan setara dengan gaji mereka satu bulan penuh. Ketika ada salah satu karyawannya yang sakiy, Xia selalu meminta Windi dan beberapa staff kantor lainnya menjenguk serta tidak lupa membantu soal pengobatan. Siapa yang tidak iri dengan mereka? Jelas saja Alexia sukses memberikan aura positif pada para pekerjanya, walaupun Xia seorang wanita yang keras kepala dan gampang melontarkan perkataan buruk, namun hatinya begitu bijaksana. "Kalau ada lowongan, aku akan memberitahumu." Daniel ingin mencoba membantu Raken semampunya. Raken mengacungkan jempolnya pertanda mengerti, Daniel memang sangat baik padanya meskipun mereka baru berteman beberapa tahun. Merasa senasib dan juga hidup sebatang kara, akhirnya mereka secara alami saling bahu membahu layaknya keluarga. •••••• Alexia menatap orang orang yang ada di meja makan dengan tatapan risih, lagi lagi mereka mengundang tamu yang tidak seharusnya mereka undang, terkesan tidak sopan namun dia adalah tuan rumah. Apapun yang mereka lakukan, dan siapapun orang yang mereka undang seharusnya mereka meminta izin terlebih dahulu pada Alexia. Namun seakan akan lupa dengan pemilik rumah, mereka bertindak sesukanya. Kali ini Alexia tidak akan mengalah makan malam di luar, meskipun ada tamu tidak penting Alexia akan tetap duduk di kursinya seperti biasa. Berhadapan dengan Leon langsung, Xia menatap sinis. Hari ini Gema mengundang ibu, ayah, serta adik adiknya untuk ikut makan malam di rumah, kemungkinan besarnya mereka juga akan tinggal malam ini. "Sudah sangat lama kita tidak bertemu." ibu Gema melempar senyum tulus pada Xia. Suasana mendadak canggung karena Alexia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas sapaan ibu Gema, dia malas berbasa basi. Tatapan tidak suka di lemparkan oleh adik adik Gema, mereka menganggap Alexia tidak sopan pada tamu, sikapnya begitu angkuh. "Aku paham, Alexia pasti sangat terkejut dengan kehadiran kita di sini." ucap ibu Gema lagi masih memamerkan senyum lebar nan ramah, Xia terkekeh geli dia kemudian menatap satu persatu wajah wajah orang yang menatapnya tajam. "Jawaban seperti apa yang kalian harapkan dari mulutku? Senang bertemu dengan kalian, sudah sangat lama sekali, aku sangat merindukan kalian." Xia bicara dengan lagak di buat buat seolah dia begitu excited. "Seperti itu?." "Xia." Leon menegur lirih, Xia menaikkan dagunya menatap Leon angkuh. "Kami di sini untuk merayakan pertunangan Galen, sebentar lagi dia juga akan menikah, kami sekaligus akan membahas hal itu." salah satu adik Gema berkomentar, mencoba menyadarkan Alexia kalau dia tidak suka Xia boleh pergi. Bukankah itu tidak sopan? "Lalu aku harus apa?." tanya Xia dengan ekspresi datar tidak tertarik. "Kalau kau kurang nyaman, malam ini kau bisa makan diluar dulu." "MALAM INI?." mendengar Gema berkata begitu, Xia rasanya ingin mengguyur air ke wajah istri ayahnya itu. Lancang sekali dia meminta Alexia pergi, padahal mereka tahu Alexia adalah tuan rumah. "Maaf Xia, kami tidak memberitahumu sebelumnya bahwa kakek neneku dan adik adik ibu akan makan malam di sini, aku benar benar minta maaf." setelah memilih diam sejak Alexia datang, kini Galen membuka mulut untuk meminta maaf. Dengan malas Alexia langsung memasukan potongan daging ke dalam mulutnya, enggan berkomentar lagi, perutnya sudah lapar. Mereka saling diam, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bertabrakan dengan piring, karena atmosfer ruangan menjadi berat setelah perbincangan antara Alexia dengan keluarga Gema selesai. Selesai makan Alexia tidak langsung beranjak, dia masih setia duduk di kursinya dengan menyantap makanan penutup, dia juga memanggil pelayannya untuk menyiapkan jus kesukaannya. "Aku sudah bertemu dengan Bianca beberapa kali, ternyata dia sangat cantik." puji salah satu adik tertua Gema, mereka tampak bersemangat membahas anak tunggal kaya raya yang akan mereka jadikan ladang uang untuk bertahan hidup. "Benar, dia lebih cantik saat acara pertunangan, aku iri denganmu Galen." adik bungsu Gema ikut berkomentar. Galen hanya mengulas senyum tipis, dia tampak tidak nyaman dengan makan malam kali ini, jujur Xia sangat membenci sikap Galen yang seperti ini. Dia tidak berani menyuarakan bahwa dirinya tidak suka, tidak nyaman di komentari seperti itu, meskipun yang berkomentar pamannya sendiri. "Aku penasaran, kapan kau akan menyusul seperti Galen Xia?." Adik tertua Gema bertanya dengan nada mengejek, Xia melempar senyum manis, dia menatap adik Gema itu seksama. "Memangnya apa yang sudah Galen capai? Apa baru saja Galen membeli sebidang tanah di bulan? Apa Galen membuka properti di Bali? Atau Galen sudah memiliki tabungan dengan nominal tidak berseri? Jadi yang mana yang harus aku susul?." "Pernikahan." jawab adik Gema spontan. Xia mengangguk anggukan kepalanya paham, dia kemudian melirik Galen sekilas. "Aku tidak minat memeras uang orang lain, bukankah kalian sendiri juga yang paling tahu alasan Galen menikah dengan Bianca?." kalah telak, mereka mengajak Alexia untuk adu mulut dan ingin menyudutkan Alexia, tapi mereka gagal. Alexia tahu caranya berperang tanpa harus menghabiskan tenaganya. "Ah kau ini tidak bisa di ajak bercanda." ucap adik Gema pada akhirnya menghindari permasalahan. Xia tertawa pelan, dia menatap lekat adik Gema seraya berkata "Padahal aku juga bercanda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN