Tebakan

1512 Kata
"Tidak ada yang masuk ke kamar itu, semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing." tiba tiba topik perbincangan mereka menjadi berat, dua kakak beradik bersepupuan itu saling melempar pandang dan beradu argumen. Mereka berdua tengah menunggu sang pemilik rumah kembali dari pekerjaannya, sembari menunggu mereka bermain game, memakan camilan yang sudah di bawakan pelayan, bosan dengan itu semua akhirnya mereka memutuskan membahas soal kematian sang tante. "Tapi dengan keamanan yang begitu ketat, mustahil orang luar masuk dengan mudah." Zaheen berkomentar, menyorot Calyton seakan bertanya apakah dia memiliki pikiran yang sama dengannya. "Dan kamar aunty ada di lantai dua, kalau memang si pembunuh orang luar, maka jalan satu satunya adalah melompat untuk kabur." Zaheen dan Calyton sama sama mengulas senyum tipis penuh makna, sudah jelas di sini target yang mereka curigai adalah orang dalam, orang yang menghuni rumah itu sendiri karena cara bermainnya yang sangat mulus membuat kepolisian sampai tidak bisa menemukan jejaknya. "Aku sangat penasaran, kira kira apa yang si pembunuh incar sampai dia melakukan hal kejam itu pada aunty." beo Zaheen memasang wajah berpikir. Menurut Clayton ini sudah jelas motifnya adalah soal harta, karena saat itu pewaris yang tertulis masih Hellen bukan Alexia, jadi mereka pikir kalau mereka membunuh Hellen maka Gilbert akan mencari orang dewasa sebagai ganti pewaris. Namun tebakan si pembunuh meleset, setelah kematian Hellen, Gilbert mengambil alih saham sampai Alexia lulus sekolah menengah akhir, jadi usaha mereka gagal dan sia sia. "Apalagi kalau bukan uang." Clayton memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya. Keduanya sudah mengunci salah seorang di rumah itu menjadi tersangka, Zaheen mengganti posisi duduknya menghadap Calyton. "Aku mengunci om Leon sebagai tersangka." ucapnya tanpa basa basi, tidak takut sama sekali. Clayton tertawa, kemudian berkata "Aku mengunci Gema sebagai tersangka, tapi kalau di pikir pikir.... Clayton menjeda. "Sepertinya mereka combo." Zaheen mengangguk bersemangat, dia juga memikirkan hal yang sama sebelumnya. "Mau bertaruhan?." Zaheen melempar senyum tengil, Clayton tidak mau kalah dia juga menunjukkan wajah yakin dengan pilihannya. "Siapa takut, apa yang akan aku dapatkan jika aku memang?" "Mobil terbaruku?." Clayton menggeleng tidak mau. "Garasiku sudah penuh." "Rumahku?." "Rumahku juga sudah banyak." "Uang?." "Tabunganku sudah tidak berseri, jangan memperkaya aku lagi." Zaheen melempar bungkusan kacang ke arah Clayton. "Lalu kau mau apa b******k!?." "Bagaimana dengan memenggal kepalamu?." Zaheen melotot, dia bergidik ngeri membayangkan betapa menakutkannya jika dia sampai kalah bertaruhan. "KAU SENGAJA INGIN MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI KAN?!!." teriak Zaheen marah. Clayton terbahak, dia tertawa puas melihat wajah takut Zaheen, padahal bocah itu sendiri yang mengajaknya bertaruhan. Saking asiknya mereka berdebat, mereka tidak sadar Alexia sudah berdiri menyenderkan tubuhnya di ambang pintu, melipat kedua tangannya di depan d**a memperhatikan tingkah dua kakak sepupunya. "Kalian benar benar tidak ada pekerjaan?." tanya Alexia dengan nada menyindir, mendadak telinga mereka seakan tuli tidak mendengar apa yang Xia ucapkan. Xia melempar tasnya, menjatuhkan diri di sofa. "Pergi sana." usir Xia tidak berperasaan. "Kau siapa berani mengusir kami?." tanya zaheen tidak tahu malu, lupa akan siapa pemilik kamar yang sudah mereka jadikan kapal pecah sejak tadi. "Aku pemilik rumah ini bodoh." Calyton lagi lagi terbahak, selera humornya begitu rendah sekali sampai apapun yang Zaheen lakukan pasti membuatnya tergelak. •••••• Sudah sejak lama kasus kematian ibu Alexia dianggap percobaan bunuh diri, argumen itu semakin meluas setelah pernikahan Leon dan Gema dilangsungkan, mereka beranggapan bahwa Leon dan Gema sudah menjalin hubungan gelap sejak Hellen masih hidup dan mungkin saja itu alasan utamanya. Hellen merasa tertekan dengan keadaan, dan dia mulai kehilangan kepercayaan diri hingga akhirnya memutuskan bunuh diri. Namun tak berapa lama argumen itu terpatahkan karena tidak ada senjata tajam yang tertinggal, hingga desas desus soal Hellen di bunuh menjadi trending topik di kantor maupun kompleks perumahan elit yang di tempati putri bungsu keluarga Gilbert itu. Banyak yang mulai menebak nebak siapa pelakunya, mulai dari orang luar hingga orang terdalam dari rumah itu semua di curigai, argumen mereka soal perselingkuhan Leon dan Gema semakin menguat karena bisa jadi untuk mewujudkan keinginan mereka jalan satu satunya yang paling simple adalah membunuh Hellen. Banyak yang prihatin dengan keadaan Alexia karena saat itu dia masih berumur lima belas tahun, kejadian itu pasti membuatnya ketakutan dan menimbulkan trauma hebat. Benar saja setelah kematian sang ibu, Alexia tidak mau membuka mulutnya lagi di setiap pertemuan keluarga. Gilbert mencoba memberikan perlindungan terbaik, dia berusaha membawa Alexia ke psikolog untuk memastikan keadaan cucu kesayangannya itu, namun Xia selalu menolak dengan keras dan kembali mengunci diri. Semua bersimpati, menatap kasihan pada bocah lima belas tahun yang pasti mentalnya terguncang setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mengerikannya mayat Hellen, darah tidak berhenti mengalir dari tubuhnya membasahi lantai dan meninggalkan bekas merah pekat pada spreii yang dia tiduri. "Kau sudah terlalu banyak meminum obat." Niko menatap sang pasien miris. Pasien di depannya itu adalah pasien terlama yang pernah dia tangani, sejak debutnya menjadi dokter gadis di hadapannya itulah yang menjadi pasien pertama dan masih menjadi pasiennya sampai sekarang. Tidak mau ambil pusing, gadis di hadapannya itu memukul meja beberapa kali meminta dengan paksa obat yang seharusnya tidak boleh dia minum, obatnya habis dalam jangka waktu kurang dari satu bulan. Itu mengerikan menurut Niko, tapi herannya kenapa gadis ini tidak mati mati padahal sudah menenggak obat melebihi dosis normal setiap harinya. Apa mungkin dia memiliki nyawa serep seperti kucing? "Aku tidak bisa memberikannya." tolak Niko tegas, bisa saja nanti dia terkena masalah kalau gadis itu mati karena menenggak obat kelebihan dosis. "Rupanya si miskin ini sudah tidak butuh uang lagi." Niko meringis, sudah memaksa dia di hina pula memang gadis ini tidak ada duanya. "Kalau kau mati, aku akan mendapatkan masalah karena obat yang kau telan itu dariku." jelas Niko, meskipun sebenarnya yang Niko takutkan adalah nyawa pasiennya bukan masalah dirinya sendiri. "Bagus, aku tadinya berniat mengajakmu mati bersama." "JANGAN GILA." teriak Niko tidak habis pikir, gadis itu tertawa lepas. "Bercanda Niko, aku hanya ingin setidaknya kau ikut menemaniku dalam kubur." sambungnya lagi membuat Niko makin melotot galak. "Sama saja, aku tidak bisa hidup di dalam sana." "Siapa juga yang memintamu hidup di sana?." jawab gadis itu enteng, Niko memijat pangkal hidungnya pening. Entah dosa apa yang sudah dia lakukan di masa lalu hingga dia harus menghadapi manusia segila Alexia Maurellin, apa di kehidupan sebelumnya Niko adalah seorang penjahat? "Aku tahu apa yang kau pikirkan dokter gadungan." tidak puas mengatai Niko miskin, Alexia kembali mengatai Niko sebagai dokter gadungan. "Harusnya kau tidak kemari kalau kau tahu aku dokter gadungan." jawab Niko kesal, Alexia hanya menggendikkan bahunya tidak perduli. "Ya karena kau miskin, aku kan baik hati jadi aku kemari agar klinikmu tidak sepi." "Pertama tama pikirkan dirimu, kalau aku dokter gadungan setidaknya pikirkan nyawamu jangan pikirkan kemiskinanku." Niko mencoba memberi nasehat. "Jadi kau benar benar miskin Niko?." Ingin sekali Niko melempar kursi ke wajah Alexia, kalau saja Xia bukan pasiennya. Gadis di hadapannya itu selalu saja berkata sesuka hatinya saat bersama dengannya, tidak seperti saat bersama rekan kerja atau keluarganya, Alexia lebih mudah menunjukkan emosinya saat bersama dengan Niko. Wajar karena Niko adalah dokternya, Alexia sendiri tidak sembarangan memilih Niko sebagai dokternya. "Lupakan Xia, aku sudah mengatakan aku tidak bisa memberikanmu obat lagi." Wajah Xia mendadak lesu, dia menyenderkan tubuhnya di kursi, menatap sayu ke arah Niko. "Ini permintaan terakhirku Nik- Alexia mengaduh, keningnya mendapat jitakan pelan dari Niko. "Apa apaan kau ini, tanganmu penuh kuman jangan sentuh sentuh aku." Xia buru buru mengusap keningnya menggunakan tisue seakan akan tangan Niko banar benar sumber kuman. "Carilah dokter lain Xia, aku sudah tidak sanggup menghadapimu." Xia menatap Niko iba, dia mengangguk angguk penuh sesal. "Maafkan aku jika mungkin besok klinikmu sudah hangus dan rata." Niko melempar tatapan sinis. "Dasar tukang ancam." desis Niko kesal. "Aku tidak perduli Niko, aku mengancam untuk kebaikanmu, semua aku lakukan untuk kebaikanmu." kebaikan apanya? Niko tidak habis pikir kenapa dia harus bertemu dengan gadis cantik berotak pas pasan ini. Sejujurnya Alexia itu tidak berotak pas pasan, dia itu kelam dan memiliki sisi hitam putih yang sulit dimengerti, manipulatif dan tidak mudah terpengaruhi oleh siapapun. Hal itu membuat banyak orang sering ingin menjatuhkan Alexia, sebagian karena kalah dalam hal bisnis sebagian lagi karena mengincar harta benda cucu terakhir keluarga Gilbert itu. Xia kembali menengadahkan tangannya, dia memasang wajah sok lugu demi mendapatkan apa yang dia mau dari dokter Muda di hadapannya itu. Sekedar informasi, Niko bukan dokter tua dengan perut buncit dan kacamata tebal di hidungnya, dia debut menjadi dokter saat usianya 22 tahun, dan saat itu ada gadis berusia 16 tahun yang meminta di jadikan pasien khusus. Niko tidak menolak karena bayaran yang dia dapatkan sangat berbanding terbalik dengan yang dia dapat di ruma sakit, begitulah hubungan Niko dan Alexia. "Xia aku paham kau sangat terganggu dengan semua itu saat malam hari, namun kau tidak boleh terlalu banyak menelan obat, kesehatanmu bisa terancam." "Aku akan mengancamnya balik." "Xia tidak semudah itu." "Maka akan kita buat mudah." "Xia dengarkan aku." "Iya." "Aku hanya tidak mau kau overdosis." "Iya." "Kau harus tahu bahaya obat jika di konsumsi berlebihan." "Iya." "Bagus jika kau paham." "Iya." Sepanjang percakapan Xia hanya mengatakan iya iya saja. "Jadi mana obat untukku?." beo Alexia di akhir. Mati saja, Niko rasanya ingin bunuh diri saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN