Tidak cukup di buat kesal oleh Niko, sesampainya di rumah dia kembali lagi di buat emosi, namun kali ini dia tidak bisa menunjukkan raut wajah tidak sukanya karena yang membuat kerusuhan adalah sang kakek. Kamar mendiang ibunya kembali di jamah orang lain, mereka membuka tiap laci yang ada di dalam kamar mendiang Hellen. Tidak cukup mereka juga memastikan setiap sudut ruangan tidak ada benda aneh yang terlewatkan, mereka bahkan menyentuh sprai yang jelas sudah tidak ada lagi jejak pelaku.
Alexia mencoba untuk tetap bersikap tenang, bibirnya mengukir senyum ramah ke arah sang kakek, dari ujung ekor matanya dia bisa melihat Galen berdiri di ambang pintu kamarnya sembari menatap awas.
Lagi pula ini sudah bertahun tahun, jadi mustahil kan ada barang bukti yang tersisa? Pelakunya tidak mungkin bodoh dengan menyimpan sisa barang bukti di tempat kejadian perkara, namun Alexia tidak ingin banyak protes, dia sebisa mungkin tetap menghargai keinginan Gilbert. Karena meskipun Alexia anak Hellen, namun Hellen tetap putri dari Gilbert jadi wajar jika Gilbert masih kekeh ingin tahu siapa pelaku pembunuhan itu.
Sejenak kenangan buruk melintas di otak Alexia bagaikan putaran kaset rusak, betapa sering dia di pukul, di caci, dan di kurung hanya karena masalah sepele oleh sang ibu. Namun tiap malam Hellen tidak lupa memeluk putrinya penuh kasih sayang, sembari mengucap kata maaf beribu ribu kali namun keesokannya Hellen selalu mengulangi hal yang sama.
Alexia mengepalkan tangannya kuat, nafasnya memburu tiap kali mengingat hal itu, dia tidak mau lagi merasakan terkunci dalam ruangan gelap gulita tanpa cahaya sedikitpun.
Galen mengawasi gerak gerik Alexia, tak bisa terus mengelak Galen semakin khawatir dengan keadaan Alexia karena dia tahu segala ketakutan Alexia di masa kecil. Nalurinya sudah mirip seorang kakak pada adik, namun hatinya melenceng ke arah hubungan antar lelaki dan wanita biasa, terlalu sulit di mengerti memang.
Alexia memeluk Gilbert sesaat, dia kembali mengulas senyum kecil, Alexia hanya bisa memandangi orang orang suruhan Gilbert dengan tatapan mautnya. Bagi Alexia, mereka semua lancang telah menyentuh barang yang tidak seharusnya mereka sentuh, dan harusnya tangan tangan itu mendapat hukuman seperti saat dia kecil.
"Berapa lama ini akan selesai kakek?." ucap Xia membuka pembicaraan.
Gilbert tampak berfikir sejenak, dia mengusap pundak cucunya pelan sembari berkata "Sepertinya hanya satu bulan untuk memeriksa tempat kejadian, selanjutnya analisis akan mereka kerjakan di kantor. Ada apa memangnya?."
Gilbert bertanya balik, dia sedikit penasaran, lagi pula raut wajah Alexia tampak tidak senang.
Xia menoleh, sedikit mendangakkan kepalanya melihat sang kakek kemudian memamerkan senyum lebar.
"Kakek tahu sendiri aku tidak suka ada orang asing memegangi barang barangku." jawab Xia apa adanya, dengan harapan sang kakek meminta mereka berhenti melakukan pemeriksaan di dalam kamar mendiang ibunya.
"Bersabarlah sebentar sayang, kakek janji semua yang sudah mereka sentuh akan kakek ganti tanpa terkecuali."
Sial.
Alexia tidak butuh itu, dia juga bisa membeli semua yang dia mau termasuk membeli harga diri orang orang di dalam sana, Xia hanya tidak mau barang miliknya di jamah orang lain. Karena bagi Alexia mereka itu kotor.
"Tidak, tidak perlu di ganti." Xia menolak halus.
"Aku ingin mempertahankan kamar itu dengan segala isinya, agar tiap kali aku rindu pada ibu aku bisa masuk dan mengenang segalanya." lanjut Xia menjelaskan.
Gilbert tersenyum hangat, dia tahu Alexia sangat mencintai Hellen, sayang sekali Hellen harus pergi begitu cepat. Gilbert bersumpah akan membuat si pembunuh membusuk dalam penjara selamanya, dia tidak akan memaafkan manusia keji yang sudah menusukkan belati berkali kali ke tubuh putri kesayangannya.
"Kakek akan minta mereka menyelesaikan semuanya secepat mungkin." Gilbert mengecup puncak kepala Alexia singkat.
Xia mengangguk angguk saja, terpaksa mengiyakan karena dia tidak bisa mengusir orang orang itu sekarang juga, meskipun dia muak dan ingin mengamuk sejadinya. Entahlah, dia hanya risih ketika orang asing memasuki rumahnya dan menyentuh barang barang miliknya. Ya, hanya sebatas itu.
•••••
Daniel merengek, dia terus terusan mengikuti langkah Windi. Kemanapun Windi pergi dia selalu mengekor, mengulang dan mengulang kalimat yang mungkin sudah lebih dari dua jam lalu dia ucapkan. Windi sebisa mungkin tetap fokus pada pekerjaannya, mengabaikan manusia di belakangnya itu.
Windi berjalan ke arah mesin fotocopy, lagi lagi Daniel mengekor, dia bahkan mengeluarkan tatapan sok imut demi meminta Windi melakukan sesuatu untuknya.
"Tolong aku Windi, aku tahu kau orang baik." bujuk Daniel dengan berbagai cara.
Windi masih mempertahankan penolakannya pada Daniel, karena dia tidak mau ikut campur ke dalam urusan mereka.
"Lakukan sendiri, tanyakan sendiri." jawab Windi singkat, tangannya sibuk menyalin berkas berkas penting ke dalam komputer.
Daniel mendesah berat, dia bukan tidak mau tapi dia takut untuk menghadapi kemarahan sang nona.
"Jujur aku tidak merasa membuat kesalahan, lalu mengapa nona mendiamkanku seperti ini? Bukankah ini mirip seperti aku di campakkan?."
Windi mengangkat vas kecil di atas mejanya, hampir saja dia lemparkan ke arah Daniel kalau tidak ingat vas itu hadiah dari Alexia pertama kali.
"Kau ini pura pura bodoh atau bagaimana? Sudah jelas jelas kau melakukan kesalahan, kau benar benar mencari penyakit Daniel." Windi menjeda ucapannya, menarik nafas pelan entah ini pilihan yang baik atau buruk namun Windi lebih memilih mengatakan yang sejujurnya.
"Berani beraninya kau menjadikan nona Alexia sebagai salah satu pilihanmu, kalau nona Xia gadis biasa aku tidak akan mengumpat Daniel. Tapi gadis yang kau jadikan salah satu pilihanmu itu adalah pewaris tunggal kekayaan keluarga Gilbert, kau benar benar sudah gila."
Windi memijat kepalanya pusing.
Kini Daniel hanya mampu terdiam, memikirkan bagaimana mungkin dia bisa sebodoh itu dan juga bagaimana cara Alexia tahu soal itu?
Kali ini dia benar benar semakin takut untuk bertemu Alexia, jantungnya berdegup tidak karuan, dia merasa inilah akhir dari hidupnya, kali ini pasti Alexia sangat marah dan mungkin saja Alexia akan membunuhnya.
Sedikit lebay, namun Daniel lebih takut jika semua pria yang menyukai Alexia tahu tentang ini, mungkin tiga puluh menit kedepan dia sudah kehilangan nyawanya.
"Tuhan tolong selamatkan aku." beo Daniel dengan nada pasrah.
Windi menatap iba, andai dia tahu Alexia sebenarnya juga tidak perduli karena Alexia hanya kesal pada Daniel yang berani sekali menjadikannya sebagai salah satu pilihan dalam hidupnya.
"Semoga Tuhan mengangkat nyawamu." Windi ikut berucap membumbui.
"Jangan dulu aku belum siap."
"Kematian tidak menunggu sang target siap, mereka bahkan sering tidak memberi aba aba."
"Tapi aku tidak siap."
"Tapi malaikat sudah siap."
"Jangan dulu Tuhan."
"Sekarang saja tidak apa apa Tuhan, aku tidak keberatan."
Daniel mendelik kesal, Windi memasang wajah tanpa dosa sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.