“Y-yu, dia … dia cucu ibu. Dia anakmu, Bayu!” Kalimat itu tidak hanya mengejutkan Bayu, melainkan juga mengejutkan semua orang yang ada di lorong itu. Hera yang tengah merapikan kancing baju Nirvana seketika terdiam di tempat, dan menoleh ke arah Widya dengan kening berkerut. Shaka yang semula sibuk melipat baju bekas muntahan Nirvana pun sontak menoleh dengan alis berkerut dalam. Sementara Elvira masih mematung mencerna ucapan Widya. Namun, tangannya refleks memeluk Nirvana lebih erat. “Bu, apa yang ibu katakan? Anakku sudah meninggal setelah dilahirkan. Itu anak orang. Ibu, jangan ngomong sembarangan.” Bayu berusaha menyangkal pernyataan ibunya, berharap Widya hanya linglung karena sakit. Widya menggeleng keras. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya yang pucat. T

