Mata Achiera tidak berkedip saat menatap Keenan yang tersenyum lebar. Dia sampai menelengkan kepala untuk memastikan bahwa pria itu memang sungguh mengangkat kedua sudut bibir. Lalu, dia menghela napas panjang. Ada sesuatu yang membeku ketika dia menyadari Keenan perlahan mengangkat alis. Ini sudah ke sekian kali Keenan membuat jantung Achiera nyaris meledak. Entah apa yang membuat pria itu terus melancarkan rayuan maut. Achiera menyipitkan mata. Dia meremas bagian kanan kiri gaun putih, lalu mengambil napas banyak-banyak. Jika Keenan bisa melakukan hal semacam itu, dia juga bisa. “Apa Mas tidak tahu kalau saya juga sudah terpesona pada Mas?” Kini, Keenan yang mematung di tempat. Kedua tangan yang tadinya berada di saku celana, perlahan dia keluarkan. Dia memberikan tatapan penuh selidi

