“Mana bisa seperti itu, Keenan. Kamu pengusaha muda yang sukses. Mana mungkin menyembunyikan pernikahan kalian begitu?” Keenan menatap Indira yang berdiri sambil menggerakkan-gerakkan tangan. Entah sudah berapa kali dia mengulangi perkataan yang sama mengenai ketidaksetujuan. Dia menghela napas, lalu mengalihkan tatapan pada Agha yang hanya diam. Pria yang sangat mirip dengannya itu pasti juga sudah bosan mendengar ocehan sang istri. Mungkin sebaiknya Keenan tidak perlu menuruti keinginan Marwa. Namun, ketika melihat anggukan pesetujuan dari Achiera, dia menjadi luluh. Dia memutuskan untuk berbicara dengan orang tuanya, meskipun sudah tahu jika akan begini. Tidak pernah ada akhir saat mereka mendiskusikan sesuatu. Kali ini juga sama. Untuk ke sekian kali, Keenan menghela napas. Dia mena

