Sesi terakhir forum bisnis itu berlangsung hingga larut malam. Lampu ballroom memantul pada gelas-gelas kristal, percakapan para pebisnis bercampur dengan tawa ringan dan nada diplomatis yang penuh perhitungan. Seno duduk di salah satu meja bundar, ditemani beberapa relasi penting dari Singapura dan Malaysia. Wajahnya tampak tenang, profesional, seperti biasa. Tidak ada yang tahu betapa pikirannya sebenarnya sudah lelah. Segelas anggur disentuhnya tanpa benar-benar dinikmati. Kepalanya terasa berat sejak setengah jam lalu, seolah ada tekanan yang perlahan menekan dari dalam. Awalnya ia mengira hanya kelelahan biasa. Namun ketika waktu menunjukkan hampir satu jam sejak makan malam dimulai, rasa nyeri itu berubah menjadi denyutan tajam yang membuatnya terdiam. “Seno, kamu kelihatan pucat,”

