Bab.41 Runtuhnya Kepercayaan Inggrid

1101 Kata

Pintu lift menutup perlahan, memantulkan bayangan Inggrid yang berdiri kaku dengan mata sembab namun penuh tekad. Seno tertinggal di luar, napasnya terengah, tangannya masih terulur kosong. Bunyi dentingan lift yang turun terasa seperti palu terakhir yang memaku kesadarannya: ia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Lorong hotel kembali sunyi. Isabella berdiri bersandar di kusen pintu kamar, menyilangkan tangan di d**a, menikmati pemandangan kehancuran itu tanpa raut penyesalan. Namun Seno tidak lagi memedulikannya. Ia merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada dinding dingin, menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa kecil, tak berdaya, dan kalah. Pesawat yang membawa Inggrid menuju Jakarta melaju membelah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN