Hujan terus turun sepanjang sisa malam itu, mengetuk-ngetuk atap rumah Inggrid seperti denting lembut yang menenangkan. Seno dan Inggrid masih duduk berdampingan di tepi ranjang, punggung bersandar pada dinding, napas keduanya mulai teratur setelah semua kekalutan, kerinduan, dan pelarian hati itu menemukan penjelasannya sendiri dalam bentuk kehangatan satu sama lain. Inggrid memejam sejenak, merasakan detak jantung Seno yang stabil, kuat, namun penuh kegetiran masa lalu. Di dadanya, ada rasa tenang yang jarang sekali ia rasakan sejak kehilangan orang yang dulu pernah ia cintai. “Mas,” ucapnya lirih. “Kalau aku terlihat berlebihan… maaf ya.” Seno mengangkat dagunya sedikit, menatapnya dari samping. “Kamu nggak berlebihan, Grid. Kamu cuma manusia yang butuh disayang. Sama kayak aku.” In

