Saat Cinta dan Luka Bertemu

1611 Kata

Hari itu langit Malang tampak mendung. Udara terasa lembab dan sunyi. Rafandra baru saja keluar dari rumah sakit setelah shift malam di UGD. Kantung matanya menghitam, wajahnya lesu, tapi langkahnya tetap mantap menuju tempat parkir. Ia tak menyangka bahwa pertemuannya dengan seseorang hari ini akan menguji sabarnya sebagai pria dan sebagai lelaki yang pernah mencintai—atau masih mencintai. Di depan sebuah kafe kecil dekat rumah sakit, Rafandra menghentikan langkahnya. Matanya membidik sosok yang familiar tengah duduk santai sambil tertawa kecil. Barra. Pria itu tampak tenang, mengenakan kemeja putih dan jam tangan hitam. Di mejanya, dua gelas kopi dan sepotong red velvet yang tak tersentuh. Tanpa basa-basi, Rafandra menghampirinya. “Barra,” sapanya datar. Barra menoleh. Sekejap matany

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN