Bab 1
Malam itu, dentuman musik disko yang membabi buta memenuhi setiap sudut klub malam yang remang-remang. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok berbaur, menciptakan atmosfer yang memabukkan. Di salah satu sofa VIP, Dokter Arka Alvino duduk di antara teman-teman akrabnya sejak kuliah: Bagas, Radit, dan Arga. Gelas-gelas berjejer di meja rendah di depan mereka, berisi cairan berwarna-warni yang berkilauan diterpa lampu sorot.
"Bro, ini minum lo kurang strong kayaknya," bisik Bagas sambil menyeringai licik, matanya menatap Arka penuh rencana. Tangan kanannya bergerak lincah ke saku jaketnya, menarik keluar sebotol kecil berisi cairan bening. "Tambahin dikit biar makin seru nih malam!"
Radit terkekeh, kepalanya mengangguk setuju. "Nah, ide bagus, Gas! Biar si Arka nggak terlalu kaku kayak kanebo kering. Udah lama nih kita nggak lihat dia losing control." Ia melirik Arga yang tampak sedikit ragu.
"Eh, tapi jangan kelewatan juga, guys," Arga mencoba mengingatkan, nadanya sedikit khawatir. "Ingat, dia udah tunangan. Nggak enak nanti kalau kenapa-kenapa."
"Santai aja, Arg," Bagas menepuk bahu Arga. "Dikit doang kok. Buat have fun aja. Lagian, siapa tahu kan dia jadi lebih rileks gitu?" Tanpa menunggu jawaban, Bagas dengan cepat menuangkan cairan dari botol kecil itu ke dalam gelas Arka yang hampir kosong, memastikan tak ada yang menyadari aksinya.
Lima menit berlalu. Dentuman musik terasa makin memekakkan telinga Arka. Tubuhnya mulai terasa aneh, sebuah sensasi hangat menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, dan pandangannya terasa sedikit berbeda, lebih fokus pada setiap gerak tubuh di sekitarnya.
"Eh, guys, kok gue agak gerah ya tiba-tiba?" Arka bertanya, mencoba menyingkirkan perasaan tak nyaman itu. "Padahal AC di sini dingin banget."
Radit pura-pura khawatir, menahan seringainya. "Masa sih, Dok? Perasaan biasa aja nih. Lo kecapekan kali abis jaga di rumah sakit?"
"Nah, kebetulan nih, bro," Bagas menyambar cepat, matanya berbinar licik. "Gue kenal beberapa cewek cakep di sini. Mau gue kenalin? Lumayan buat nemenin lo ngobrol atau... yang lain-lain lah." Bagas mengedipkan mata, nadanya begitu menggoda.
Arka menggelengkan kepala, mencoba menenangkan gejolak aneh dalam dirinya. Sensasi panas itu kian menjadi, menuntut sesuatu yang tak ia pahami. "Nggak deh, Gas. Thanks ya. Gue nggak enak badan nih tiba-tiba. Kayaknya gue harus balik duluan aja. Nggak enak juga sama tunangan gue kalau kemalaman."
"Beneran lo nggak apa-apa, Ka?" Arga mendekat, melihat perubahan pada wajah Arka yang tampak memerah.
"Iya, nggak apa-apa kok, Arg. Cuma butuh istirahat aja kayaknya. Lain kali kita nongkrong lagi ya. Duluan ya, guys." Arka bangkit dari sofa, gerakan tubuhnya sedikit kaku, berusaha menahan hasrat aneh yang kini membakar dirinya. Ia segera melangkah pergi, meninggalkan ketiga temannya yang saling bertatapan dengan seringai puas.
"Langsung bereaksi dia!" bisik Radit pada Bagas dan Arga, tawa pelan tak bisa ia tahan. "Ampuh juga nih obat."
Bagas menyeringai lebar, merasa bangga. "Tentu lah! Bagas gitu loh! Tapi sayang banget dia buru-buru cabut. Padahal seru kalau lihat dia..." Ia tertawa terbahak-bahak bersama Radit, membayangkan rencana jahil mereka berhasil sempurna.
Arga hanya menghela napas, bayangan wajah Arka yang memerah masih terbayang di benaknya. "Kalian ini emang ya... Semoga aja nggak ada masalah serius gara-gara ini."
Tubuh Arka terasa panas membara, otaknya berdenyut-denyut seperti dipalu. Ia berjalan terhuyung menyusuri koridor rumah sakit, hasrat buas dari efek obat perangsang itu menggerogoti setiap sarafnya. Dia harus segera ke ruang kerjanya, bersembunyi dari siapa pun, berharap bisa meredakan badai di dalam dirinya. Begitu sampai di depan pintunya, tangannya gemetar saat memutar kenop. Dia menerjang masuk, membanting pintu di belakangnya, dan bersandar di sana, mencoba mengatur napas. Gejolak itu semakin tak terkendali, seolah ada api yang membakar dari dalam.
"Sial!" desisnya, mencengkeram kepalanya yang pening. Ia melangkah gontai menuju meja kerjanya, berniat mencari air dingin atau apa pun yang bisa meredakan bara di tubuhnya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya sedikit terbuka. Safiyah, dengan seragam cleaning service-nya, melongokkan kepala. Wajah polosnya sedikit terkejut melihat Arka yang tampak kacau.
"Permisi, Dokter," ucap Safiyah lembut, siap masuk untuk membersihkan.
Mata Arka langsung terpaku pada Safiyah. Sosok gadis itu seolah menjadi satu-satunya jawaban atas deritanya. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik cepat, mengunci pintu ruang kerjanya. Suara "klik" yang tegas itu membuat Safiyah terlonjak kaget.
"Dokter, ada apa?" Safiyah bertanya, nadanya berubah waspada saat melihat Arka melangkah mendekat dengan sorot mata yang asing, penuh kegelapan.
Arka tidak menjawab. Hasrat yang menguasainya begitu kuat, menenggelamkan logikanya. Dalam satu gerakan cepat, ia mendorong Safiyah hingga gadis itu terhempas ke sofa di sudut ruangan. Sebelum Safiyah sempat bernapas, Arka sudah menindihnya, mengunci tubuh mungil gadis itu di bawahnya.
"Dokter! Apa yang Dokter lakukan?!" seru Safiyah, mencoba berontak, matanya membelalak ketakutan.
Namun, Arka sudah seperti kesetanan. Ia tidak mendengar apa pun selain jeritan hasratnya. Wajah Safiyah menjadi sasaran ciuman brutal. Safiyah meronta sekuat tenaga, menendang, memukul, namun tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Arka yang sedang di luar kendali. Ia menangis, air mata membasahi pipinya.
Satu per satu, kancing seragam Safiyah terlepas. Pakaiannya disingkirkan dengan kasar, lalu pakaian Arka sendiri. Dinginnya AC ruangan terasa begitu menyengat saat kulit Safiyah terpapar, namun rasa takut jauh lebih besar.
"Tidak! Dokter, jangan!" isaknya, memohon.
Tapi Arka tidak peduli. Rasa perih yang amat sangat menjalar di daerah intim Safiyah saat "pusaka" Arka menembus. Safiyah menjerit tertahan, air matanya tak lagi terbendung. Namun, Arka tak berhenti. Dengan gerakan cepat dan bertenaga, ia terus bergerak, tak memperdulikan kesakitan Safiyah yang memilukan. Desahan dan erangan Arka memenuhi ruangan, bercampur dengan isak tangis Safiyah.
Akhirnya, dengan tubuh yang bergetar hebat, Arka mengerang panjang, melepaskan seluruh cairan kenikmatannya ke dalam rahim Safiyah. Tubuhnya lunglai, luruh di atas Safiyah yang kini terisak pilu dalam dekapannya.
Arka bangkit, rasa lega membuncah di dadanya setelah gejolak dahsyat itu mereda. Ia meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu melangkah menuju kamar mandi di ruang kerjanya. Pintu tertutup, meninggalkan Safiyah sendirian dalam kehancuran.
Safiyah berusaha bangkit, menahan perih yang menusuk-nusuk di area intimnya. Air mata terus mengalir tanpa henti. Tangannya gemetar meraih tisu di meja, membersihkan darah dan cairan yang mengotori tubuhnya. Dengan susah payah, ia mengenakan kembali seragam cleaning service-nya yang kini terasa hampa. Ia duduk kembali di sofa, tubuhnya bergetar hebat, tangisnya pecah memenuhi ruangan sunyi itu.
Beberapa saat kemudian, Arka keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar, dengan rambut sedikit basah. Ia sudah mengenakan kemeja dan celana kerjanya, kembali menjadi Dokter Arka yang rapi dan berwibawa. Matanya langsung tertuju pada Safiyah yang meringkuk di sofa, bahunya terguncang karena tangis.
Arka melangkah mendekat, duduk di samping Safiyah. Namun, begitu Arka duduk, Safiyah langsung menjauh, bangkit berdiri dan bergerak ke sudut ruangan, seolah ada dinding tak kasat mata di antara mereka.
"Terima kasih, Safiyah. Kamu telah menolong saya," ucap Arka, suaranya terdengar berat oleh rasa bersalah.
Safiyah masih terisak, menatap Arka dengan mata sembab. "Dokter sudah merenggut kehormatan saya," lirihnya, suaranya serak.
"Iya, Safiyah, maafkan saya," Arka menjawab cepat, "Saya telah dikerjai oleh teman-teman saya dengan obat perangsang. Saya sudah tidak tahan saat kamu datang, saya tidak bisa mengontrol diri saya sendiri."
Safiyah tak berhenti menangis. Ia memegang perutnya. "Bagaimana kalau saya hamil, Dokter?" tanyanya, ada ketakutan mendalam dalam suaranya.
Arka terdiam sejenak, lalu menatap Safiyah dengan serius. "Saya akan bertanggung jawab, Safiyah. Saya akan menikahi kamu besok kalau kamu mau. Tapi, tolong, rahasiakan pernikahan ini. Jangan sampai keluarga saya dan tunangan saya mengetahui." Ia menatap Safiyah penuh harap. "Kamu mengerti, Safiyah?"
Safiyah, dengan sisa tenaganya, hanya bisa mengangguk pelan.
"Berikan rekeningmu," pinta Arka.
"Buat apa, Dokter?" tanya Safiyah bingung.
"Buat mahar kamu nanti saya transfer," jawab Arka singkat.
Safiyah ragu sejenak, lalu dengan tangan gemetar ia menuliskan nomor rekeningnya di secarik kertas yang disodorkan Arka. Arka segera menyimpannya, lalu mengeluarkan ponselnya. Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Safiyah. Arka sudah mentransfer uang 10 juta rupiah sebagai bentuk penyesalan dan tanggung jawab atas perbuatannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Safiyah sendirian di tengah ruangan, dengan kehormatan yang telah direnggut dan masa depan yang tiba-tiba berubah.
Safiyah melangkah keluar dari ruangan Dokter Arka, tubuhnya terasa hampa, jiwanya remuk redam. Lorong rumah sakit yang tadinya ramai kini terasa sunyi, seolah ikut merasakan kehampaan di hatinya. Dengan langkah gontai, ia mencari tempat sepi, lalu memesan ojek online menuju kosannya. Selama perjalanan, ia hanya menatap kosong ke luar jendela, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang basah oleh sisa air mata.
Sesampainya di kos, hal pertama yang Safiyah lakukan adalah menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya yang terasa kotor. Ia menggosok kulitnya berulang kali, seolah ingin membersihkan setiap sentuhan yang merenggut paksa dirinya. Rasa jijik pada diri sendiri menyeruak, membuatnya mual.
Setelah selesai membersihkan diri, Safiyah mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang longgar. Ia tak sanggup lagi berdiri, kakinya lemas, dan hatinya sakit. Ia meringkuk di kasur, memeluk lututnya erat-erat, berusaha keras melupakan setiap detik kejadian menyakitkan yang baru saja menimpanya. Air mata kembali mengalir, namun kali ini lebih pelan, mengiringi kelelahan yang luar biasa. Perlahan, bayangan-bayangan buruk itu memudar, dan Safiyah akhirnya terlelap, mencari perlindungan dalam kegelapan mimpinya.