Keesokan harinya, Safiyah melangkah perlahan menuju Rumah Sakit Intra Medika. Setiap langkah kecil terasa seperti sengatan, rasa perih di daerah intimnya masih terasa meski tak sesakit semalam. Wajahnya pucat, namun ia memaksakan diri untuk tampil biasa. Begitu sampai, ia langsung mengenakan seragam cleaning service-nya dan memulai rutinitas.
Dengan hati-hati, ia membersihkan ruang rawat satu per satu. Namun, saat tiba giliran ruangan Dokter Arka, napas Safiyah tercekat. Ia menghela napas panjang sebelum mendorong pintu, bayangan mengerikan semalam kembali berputar di benaknya: bagaimana Arka dengan brutal merenggut kehormatannya secara paksa. Ia berusaha mengenyahkan pikiran itu, bergerak cepat, dan menyelesaikan pekerjaannya di ruangan itu secepat mungkin.
Setelah semua tugasnya selesai, Safiyah duduk termangu di pantry, mencoba menenangkan diri. Beberapa saat kemudian, Dokter Arka muncul, seolah tak ada kejadian luar biasa yang terjadi semalam. Ia tampak rapi dan berwibawa, langsung sibuk dengan jadwal praktiknya seperti biasa, membuat Safiyah makin merasa terasing dan kecil.
Sore harinya, Arka sedang memeriksa beberapa berkas ketika ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Rudi, orang kepercayaannya yang mengurus pernikahan siri.
"Halo, Rudi? Bagaimana?" tanya Arka tanpa basa-basi.
"Sudah siap, Dokter. Semua sudah beres," jawab Rudi di seberang sana. "Tempatnya di hotel dekat rumah sakit, sesuai permintaan Dokter."
"Baiklah, Rud. Saya ke sana sekarang," ucap Arka, lalu mengakhiri panggilan.
Arka segera bangkit dari kursinya, melangkah cepat menuju pantry, mencari Safiyah. Namun, ia tidak menemukannya. "Sial, di mana cewek itu ya?" gumam Arka, sedikit panik. Ia segera menghampiri Putri, teman Safiyah sesama cleaning service.
"Putri, Safiyah ke mana? Apa kamu melihatnya?" tanya Arka.
"Oh, Safiyah sudah pulang, Dokter," jawab Putri.
"Sudah pulang?" Arka mengernyit. "Kamu punya nomor ponselnya?"
"Ada, Dokter," Putri menyebutkan nomor ponsel Safiyah.
Arka segera kembali ke ruang kerjanya. Dengan tangan yang sedikit tegang, ia menekan nomor Safiyah.
Tut… tut…
"Assalamualaikum," ucap Arka saat panggilannya tersambung.
"Waalaikumsalam, Dokter," jawab Safiyah, suaranya terdengar ragu.
"Safiyah, bisa kamu datang ke hotel di depan Rumah Sakit Intra Medika sekarang? Saya menunggumu di sana," ucap Arka lugas.
Hening sejenak di ujung telepon. Safiyah tentu tahu maksud panggilan ini. Ia teringat janji Arka semalam. "Baik, Dokter. Saya segera ke sana," jawab Safiyah dengan suara pelan.
Arka menghela napas lega. "Baiklah, saya tunggu." Ia menutup telepon, menatap kosong ke luar jendela. Sebuah pernikahan siri, demi tanggung jawab, dan harus dirahasiakan. Hidupnya baru saja berubah drastis, dan ia tahu, hidup Safiyah pun demikian.
Langkah-langkah ringan Safiyah menyusuri trotoar kecil menuju hotel di seberang Rumah Sakit Intra Medika. Gamis putih sederhana yang ia kenakan seolah menyatu dengan kerudung senada, menciptakan siluet lembut yang menenangkan mata. Meski riasan di wajahnya nyaris tak terlihat, aura anggun dan kesucian terpancar kuat dari sorot matanya. Hari ini bukan hari biasa. Bukan pula hari yang ia impikan sebagai momen sakral dalam hidupnya. Tapi takdir berjalan di luar logikanya.
Di lobi hotel, seorang pria berjas hitam telah menunggunya. Pria itu mengangguk singkat.
"Ikut saya, Mbak Safiyah," ucapnya pelan.
Ia adalah Rudi, orang kepercayaan dokter Arka. Tak banyak kata terucap di antara mereka. Langkah mereka hanya diiringi detak jantung Safiyah yang berdentum tidak karuan.
Kamar hotel di lantai tiga tampak tenang dari luar. Tapi begitu pintu terbuka, suasana sakral langsung terasa. Seorang penghulu duduk dengan tenang di atas sajadah kecil, bersama dua orang saksi berpakaian rapi. Dan di hadapan mereka—duduk tegak mengenakan kemeja putih dan peci hitam—adalah dokter Arka Alvino. Tatapannya tajam, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya—seolah menyimpan banyak keraguan yang dipaksa dikubur dalam-dalam.
"Masuklah," ucapnya singkat.
Safiyah hanya mengangguk pelan dan melangkah maju.
"Duduk," suara Arka terdengar tegas namun tidak kasar.
Dengan tangan sedikit gemetar, Safiyah duduk di hadapan sang penghulu. Tanpa banyak basa-basi, prosesi dimulai. Kalimat ijab kabul mengalun lirih dari mulut Arka, begitu mantap dan meyakinkan. Dan hanya dalam hitungan detik...
"Sah," ujar saksi hampir serempak.
Kata itu menggema di seluruh ruangan, menampar kesadaran Safiyah.
Kini, ia resmi menjadi istri dari lelaki yang telah merenggut banyak hal darinya—kehormatan, masa depan, dan mimpi-mimpi remaja yang sederhana. Dengan mahar yang disebutkan secara mengejutkan oleh penghulu tadi—seratus juta rupiah—Safiyah menjadi seorang istri. Namun bukan dalam pelukan cinta, melainkan dalam naungan tanggung jawab dan rahasia yang harus dijaga mati-matian dari dunia.
Begitu kata “sah” terucap, penghulu dan kedua saksi segera berpamitan. Dokter Arka hanya mengangguk singkat, menyalami mereka satu per satu, lalu menutup pintu kamar. Suasana mendadak senyap, menyisakan hanya dia dan Safiyah—dua insan yang kini terikat dalam ikatan pernikahan... tapi tak satupun dari mereka yang benar-benar tahu arah hati masing-masing.
Tanpa banyak bicara, Arka mengambil sebuah map cokelat dari dalam tas kerjanya. Ia mengeluarkan selembar kertas berisi tulisan tangan rapi dan tanda stempel rumah sakit.
“Ini perjanjian,” ucapnya datar.
Safiyah menatapnya bingung.
“Jika kamu membocorkan tentang pernikahan ini kepada siapa pun, maka saya berhak menceraikan kamu secara sepihak,” lanjutnya tanpa jeda, menyerahkan pulpen ke arah Safiyah.
Tangan Safiyah sempat gemetar, namun ia tahu bahwa ia tak punya banyak pilihan. Ia mengambil pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan dengan perlahan. Dokter Arka lalu mengambil kembali dokumen itu, membaginya menjadi dua.
“Satu untukmu,” katanya, menyerahkan selembar kepada Safiyah.
“Satu lagi saya simpan.”
Safiyah menggenggam kertas itu dengan ragu, lalu bertanya pelan, “Apakah prosesnya sudah selesai, Dokter?”
Arka mengangguk. “Sudah.”
Safiyah pun berdiri, hendak pamit. “Kalau begitu, saya permisi...”
Namun langkahnya tertahan oleh suara tenang namun mengandung kuasa.
“Tunggu, Safiyah.”
Ia berbalik, menatap Arka yang kini berdiri lebih dekat.
“Kamu sekarang istri saya. Malam ini... kamu harus berada di sisi saya.”
Safiyah tertegun. Detak jantungnya memukul keras di d**a. Ia tahu benar bahwa penolakan hanya akan memperpanjang luka. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berkata,
“Silakan, Dokter. Mau melakukan apa pun kepada saya... saya pasrah.”
Arka terdiam sejenak, menatap wajah muda di depannya yang terlalu tabah untuk seusianya. Bukan nafsu yang muncul di matanya, melainkan keraguan yang samar. Ia mendekat dan memeluk Safiyah perlahan.
“Jangan terlalu kaku dengan saya, Fiya…” ucapnya lembut, menggunakan panggilan baru yang keluar tanpa sadar.
Safiyah membalas pelukannya, kaku namun mencoba menerima. Mereka duduk di tepi ranjang. Untuk sesaat, hening menyelimuti mereka.
“Kamu sudah makan?” tanya Arka.
Safiyah menggeleng.
“Baiklah, saya akan pesan makanan. Kamu mau makan apa?” suaranya kini terdengar lebih hangat.
“Terserah Dokter saja,” jawab Safiyah lirih.
Arka segera menelepon Rudi dan memesan makan malam. Sementara itu, ia merebahkan tubuhnya ke kasur hotel yang empuk, berusaha melepas lelah.
Safiyah tak ikut rebah. Ia memilih duduk di sofa, menatap layar televisi yang menayangkan acara tanpa suara. Kepalanya penuh, dadanya sesak. Tapi untuk sekarang, ia hanya ingin diam.
Di kamar hotel itu, dua orang yang baru saja terikat oleh janji suci duduk berjauhan, mencoba memahami nasib yang mempertemukan mereka... dalam keadaan yang jauh dari kata wajar.
Lima belas menit setelah panggilan telepon, makanan yang dipesan pun tiba. Hidangan sederhana namun hangat tersaji di atas meja kecil kamar hotel. Tanpa banyak kata, Arka dan Safiyah menyantapnya dalam diam. Suara sendok yang menyentuh piring menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, mengisi keheningan yang kaku dan canggung di antara mereka.
Usai makan, Safiyah bangkit perlahan, mencuci tangan di wastafel kecil dekat pintu kamar mandi. Lalu ia kembali ke sofa, duduk kembali dengan tenang—atau tepatnya, menenangkan diri. Sementara itu, Arka melangkah masuk ke kamar mandi, berganti pakaian dengan setelan santai—kaus putih polos dan celana jeans gelap. Wajahnya kini tertutup masker, dan ia mengenakan topi abu-abu untuk menyamarkan identitasnya.
Begitu keluar, ia berdiri di depan Safiyah.
"Ikut saya," ucapnya tegas.
Safiyah menatapnya heran. "Ke mana, Dokter?"
"Sudah, ikut saja. Jangan banyak tanya," jawab Arka sambil berjalan lebih dulu.
Tak ingin memperpanjang pertanyaan, Safiyah bangkit dan menyusulnya. Di parkiran basement hotel, Arka membuka pintu mobil hitamnya. Ia menoleh ke arah Safiyah.
"Masuk duluan."
Safiyah membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Lima menit kemudian, Arka masuk dan langsung menyalakan mesin, melajukan mobil dengan kecepatan sedang menembus malam Bandung yang masih ramai.
Tujuan mereka berhenti di sebuah butik eksklusif di sudut jalan Dago. Arka membuka laci dashboard dan mengambil kartu debit.
"Belanja pakaian yang kamu mau. Saya tunggu di mobil," ucapnya sambil menyerahkan kartu itu.
Safiyah terdiam. Ia ragu. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia masuk butik semewah itu, apalagi berbelanja dengan kartu milik orang lain.
"Jangan lama," Arka menambahkan, matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan langsung.
Dengan langkah pelan, Safiyah turun. Ia masuk ke dalam butik, disambut dengan hangat oleh pelayan butik yang langsung menawarkan bantuan. Awalnya ia hanya memandangi pakaian-pakaian di rak, merasa asing. Tapi ia ingat, Arka tak suka dibantah. Ia pun memilih lima potong pakaian sopan—gamis polos, tunik lembut, beberapa kerudung yang senada. Semua dibayar dengan kartu debit milik Arka, dan pelayan membungkusnya dengan rapi.
Beberapa menit kemudian, Safiyah kembali ke mobil dengan tas belanja di tangan. Arka melirik sekilas ke arah tas itu lalu menyalakan mesin lagi.
Tak ada kata-kata. Tapi di antara sikap kaku dan perintah singkat, ada perhatian yang samar. Atau mungkin... rasa bersalah?
Usai dari butik pakaian, mobil Arka meluncur ke toko alas kaki. Tanpa banyak kata, Arka kembali menyerahkan kartu debit dan memberi instruksi singkat.
“Belanja lagi. Sandal, sepatu… beli yang kamu butuhkan.”
Safiyah mulai terbiasa dengan sikap dingin namun tegas itu. Ia memilih satu pasang sepatu kasual, dua pasang sandal, dan sebuah tas sederhana bermerk—bukan karena ia ingin tampil mewah, tapi karena ia tidak ingin dianggap mengabaikan perintah suaminya. Semua itu ia bawa kembali ke dalam mobil dengan hati yang campur aduk.
Setelah semua selesai, Arka kembali menyalakan mesin dan tanpa memberi tahu arah, melajukan mobil keluar dari kota Bandung, menuju arah Bogor. Perjalanan panjang itu diisi dengan diam, sesekali hanya suara angin malam yang terdengar dari sela-sela jendela mobil.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis bertingkat dua, berdesain modern namun terasa tenang. Di depan pintu, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menyambut mereka.
“Masuklah,” ucap Arka singkat.
Safiyah menatap rumah itu dengan bingung, namun tetap melangkah masuk. Rumah itu hangat dan rapi, seperti sudah lama disiapkan.
“Bi Ijah, ini istri saya, Safiyah,” ujar Arka pada wanita tua itu. Bi Ijah menatap Safiyah penuh kasih, lalu mengangguk dengan hormat.
Arka naik ke lantai dua, mempersilakan Safiyah mengikutinya. Ia membuka pintu sebuah kamar.
“Ini kamarmu,” katanya.
Safiyah mengernyit. “Maksud dokter... saya tinggal di sini?”
“Iya. Bersama Bi Ijah.”
Safiyah menelan ludah pelan. “Kalau begitu… bagaimana dengan pekerjaan saya di rumah sakit?”
Arka menatapnya dalam-dalam. “Kamu nggak perlu kerja lagi, Fiya. Mulai besok saya antar kamu ke kampus di Bogor. Kuliah, lanjutkan pendidikanmu. Sekarang kamu tanggung jawab saya.”
Kata-kata itu terucap mantap. Untuk pertama kalinya, Safiyah melihat bukan hanya perintah dalam nada bicara Arka, tapi ada kepedulian yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Safiyah hanya bisa mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar yang begitu nyaman. Saat membuka lemari, matanya terbelalak. Pakaian-pakaian telah tersusun rapi—berbagai ukuran dan warna, seperti sudah dipersiapkan sebelum kehadirannya. Mungkin... Arka memang sudah menyiapkan semua ini sejak awal.
Safiyah menaruh belanjaan barunya di rak kosong, lalu merasa gerah. Ia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dengan air hangat, berusaha melepas semua lelah dan tekanan yang menggantung di dadanya. Saat keluar, ia mengenakan daster lembut, rambutnya masih basah dan setengah dikeringkan dengan handuk kecil.
Arka yang sejak tadi rebah di kasur menatapnya dari balik bantal. Senyumnya tipis, tapi jelas terlihat.
“Kamu mulai nyaman ya… sudah nggak kaku lagi sama saya.”
Safiyah menunduk malu, lalu tersenyum kecil. Entah apa yang sedang dibangun oleh lelaki itu—pernikahan? Pertanggungjawaban? Atau cinta yang tumbuh dari keterpaksaan?