Bab 14

2029 Kata
Pagi itu, jarum jam menunjukkan pukul delapan tepat. Matahari mulai naik, menembus jendela rumah kontrakan Arka dan Safiyah, menyinari ruang tamu yang sederhana namun penuh kehangatan. Arka berdiri di depan pintu. Mengenakan jas dokternya yang bersih dan rapi, ia menyalami ibunya dengan penuh hormat. “Doakan Mas ya, Ma,” ucapnya pelan. Mama Karina membalas salaman dan mencium pipi anaknya. “Selalu, Nak... Jaga diri dan fokus kerja.” Arka kemudian berbalik, memeluk istrinya yang tengah duduk di sofa kecil, dan mengecup kening Safiyah dengan lembut. Safiyah membalas dengan mencium punggung tangan suaminya penuh hormat, seperti biasa—penuh cinta dan doa diam-diam yang tak terucap. Sebelum melangkah pergi, Arka mengelus perut besar Safiyah, membungkuk sedikit dan berbisik manis kepada anak di dalam kandungan. “Papa berangkat dulu ya, Nak. Jangan bikin Mama rewel hari ini... Papa sayang kalian berdua.” Dengan senyum terakhir, Arka menaiki motor matic-nya dan melaju pelan menuju rumah sakit. Di dalam rumah, Yusuf kecil keluar dari kamar. Usianya baru dua tahun, tapi sorot matanya tenang, penuh pengertian. Ia menghampiri Safiyah dan duduk manis di samping ibunya, menggenggam tangan ibunya yang semakin sering terlihat lelah. “Sayang Mama, ya?” tanya Safiyah sambil membelai rambut Yusuf. Anak itu mengangguk, pipinya menempel di lengan ibunya. Mama Karina yang menyaksikan itu dari sudut ruangan, terharu. Bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa begitu lembut dan dewasa melebihi usianya? “Yusuf, sini sayang... Peluk Oma,” bisik Safiyah lembut. Dengan langkah kecil, Yusuf mendekat dan memeluk Mama Karina. Pelukan kecil namun menghangatkan hati seorang nenek yang selama ini tak tahu bagaimana cucunya tumbuh dalam kesederhanaan, tapi penuh cinta. Hari itu, Mama Karina mengajak Safiyah dan Yusuf berjalan-jalan ke mall terbesar di Banyuwangi. Mobil besar Mama Karina terparkir di depan rumah kontrakan. Di dalam bagasi, telah tersedia kursi roda khusus ibu hamil—Mama Karina menyiapkannya agar menantunya tidak kelelahan. Safiyah digandeng lembut oleh mertuanya, dan didudukkan di kursi roda dengan hati-hati. Novi dan Naning, yang diajak serta oleh Mama Karina, ikut membantu. Mereka tampak gembira bisa ikut berbelanja, merasa dihargai dan dianggap bagian dari keluarga. Sepanjang perjalanan menuju mall, Yusuf tak berhenti tersenyum. Matanya berbinar saat melihat arena bermain anak, lampu-lampu, dan boneka besar di etalase toko. Mama Karina menggandeng Yusuf ke toko mainan, membelikan bola plastik dan mobil-mobilan kesukaannya. Yusuf tertawa lepas, berlarian kecil sambil memanggil, “Mama! Oma! Lihat, mainan!” Sementara itu, di toko perlengkapan bayi, Mama Karina memborong popok, baju bayi, selimut, perlak, bahkan gendongan dan ranjang bayi lipat. Ia meminta Safiyah memilih apa pun yang ia suka. “Ma... jangan banyak-banyak, nanti Mas Arka—” “Mas Arka itu anak Mama. Kamu itu menantu Mama, dan cucu Mama akan lahir dari rahimmu. Kalian adalah keluarga,” jawab Mama Karina sambil menggenggam tangan Safiyah. Mata Safiyah basah. Tak pernah ia bayangkan, seorang ibu mertua yang datang dari kehidupan mewah, bisa begitu hangat, rendah hati, dan menyayangi dirinya seperti anak sendiri. Dan hari itu, di tengah riuh mall yang ramai, Safiyah dan Yusuf merasakan hari yang sangat langka—penuh kasih, tawa, dan kehangatan keluarga yang utuh. Malam itu terasa hangat, meski angin berembus pelan di teras rumah kontrakan yang sederhana. Di ruang tamu, Mama Karina duduk sambil menggenggam tangan Safiyah, sesekali menatap cucunya yang tertidur pulas di pangkuan Arka. Hari yang melelahkan, tapi hati semua orang malam itu terasa penuh. “Mama pamit, ya Nak. Besok pagi harus kembali ke Bandung,” ucap Mama Karina pelan. Safiyah menatapnya dengan tatapan berat, namun penuh hormat. “Terima kasih banyak ya, Ma... Hari ini benar-benar luar biasa,” jawabnya sambil tersenyum lembut. Arka ikut berdiri, menghampiri sang ibu, dan memeluknya. “Terima kasih, Ma... Untuk semuanya. Untuk belanja hari ini... dan untuk menerimanya,” ucap Arka pelan, suaranya bergetar. Namun belum selesai Arka melepas pelukan, Mama Karina menyodorkan sebuah map kecil berisi kunci mobil. “Ini, Ma belikan kalian mobil. Avanza baru, warnanya putih. Sudah Mama parkir di depan gang. Biar istri dan anakmu enggak kepanasan kalau ke rumah sakit, atau kehujanan saat Yusuf sekolah nanti,” ucap Mama Karina sambil tersenyum. Arka langsung menggeleng. “Ma, nggak usah. Kita belum butuh. Lagipula... kami masih bisa naik motor, itu cukup.” “Arka,” suara Mama Karina menghangat namun tegas. “Kamu memang bisa naik motor, tapi istrimu sedang hamil besar. Yusuf masih kecil. Keluargamu adalah tanggung jawabmu, tapi Mama juga masih punya hak untuk menjaga kalian. Terimalah, bukan sebagai hadiah... tapi sebagai wujud kasih seorang ibu.” Hening sejenak. Safiyah menatap Arka penuh pengertian, menggenggam tangannya. Akhirnya, Arka pun menghela napas panjang dan mengangguk pelan. “Baik, Ma. Tapi hanya kalau Mama ikhlas... dan izinkan aku bayar cicilannya nanti, kalau sudah cukup tabungan.” Mama Karina tertawa kecil sambil menepuk pipi Arka. “Bukan cicilan. Tapi kalau mau balas, bahagiakan keluargamu. Itu cukup buat Mama.” Di luar rumah kontrakan, mobil Avanza putih keluaran terbaru terparkir manis. Meski terlihat kontras di tengah lingkungan sederhana, bagi Arka dan Safiyah, itu bukan simbol kemewahan. Melainkan simbol kasih dan pengakuan, bahwa meski hidup mereka sederhana, mereka tak pernah kekurangan cinta. Dan malam itu, sebelum Mama Karina kembali ke Bandung, ia pulang dengan hati tenang. Anaknya mungkin tidak lagi tinggal di rumah mewah, tapi hatinya tinggal dalam rumah yang penuh kehangatan dan cinta yang tak ternilai. Usia kandungan Safiyah kini memasuki bulan kesembilan. Perkiraan dokter, dalam waktu satu minggu lagi, bayi mungil yang dinanti-nanti itu akan lahir ke dunia. Namun alih-alih bermalas-malasan, Safiyah justru semakin bersemangat. Ia tahu bahwa tubuhnya harus tetap aktif agar persalinan nanti lancar. Setiap pagi, Safiyah berjalan kaki keliling kompleks perumahan sederhana di pinggir kota itu, ditemani oleh Arka dan Yusuf. Arka menggandeng tangan istrinya, sementara tangan satunya menuntun Yusuf yang senang sekali berlarian di sepanjang trotoar kecil. Safiyah berjalan pelan, perutnya yang besar tampak menonjol di balik gamis longgar berwarna pastel. Pemandangan itu menjadi perhatian para ibu-ibu kompleks. Dari balik pagar rumah mereka, para ibu berbisik-bisik pelan, tak jarang menyisipkan nada iri yang samar. “Beruntung banget si Safiyah itu, hamil tua masih diajak jalan pagi bareng suaminya.” “Iya, suaminya dokter lagi, ganteng pula. Anak orang kaya katanya, tapi tetap sederhana.” “Udah ganteng, perhatian, enggak sombong... mana nyari yang kayak gitu sekarang?” Namun Safiyah hanya tersenyum. Ia tidak pernah memamerkan apa pun, tidak juga merasa paling bahagia. Ia hanya menjalani hidupnya dengan syukur—dan cinta yang begitu nyata dari suaminya. Setelah selesai jalan pagi, Arka bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Ia mencium pipi Yusuf yang masih sibuk bermain mobil-mobilan, lalu menghampiri Safiyah dan memeluknya dengan lembut. “Jaga diri ya, Sayang. Jangan kecapekan, ingat... tinggal seminggu lagi.” Safiyah tersenyum sambil menggenggam tangannya. “Insya Allah, Mas. Hati-hati di jalan.” Seperti biasa, Arka menunduk dan mencium perut Safiyah. “Papa berangkat dulu ya, Nak. Jangan bikin Mama susah hari ini.” Setelah itu, ia membuka pagar kecil dan masuk ke dalam mobil Avanza putih yang terparkir rapi di halaman rumah. Mobil hadiah dari Mama Karina itu kini menjadi kendaraan sehari-hari Arka—bukan hanya sekadar kendaraan, tapi juga simbol kasih yang menyatukan dua dunia: kehidupan sederhana Safiyah dan latar belakang mewah keluarga Arka. Dengan mantap, Arka mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Sementara dari dalam pagar rumah, Safiyah dan Yusuf melambaikan tangan. Hati Safiyah penuh... bukan oleh materi, bukan oleh status, tapi oleh rasa cukup yang tumbuh dari cinta yang utuh. Dan di dalam hatinya, ia berdoa agar saat bayi mereka lahir nanti, cinta ini tak hanya bertambah satu... tapi berlipat menjadi tiga, empat, dan tak terhingga. Malam itu angin bertiup pelan, menyusup ke sela-sela jendela kamar yang setengah terbuka. Safiyah yang tengah rebahan, tiba-tiba menggeliat pelan sambil memegang perutnya. “Mas… perutku mulas…” ucapnya dengan napas pendek. Arka yang sedang membaca laporan pasien di sisi tempat tidur langsung meletakkan dokumen, wajahnya berubah serius namun tetap tenang. Sebagai seorang dokter, ia sangat memahami situasi ini. Ia mendekat, memegang tangan Safiyah, dan menatapnya dengan lembut. “Tenang, Sayang. Mungkin ini saatnya. Mas bantu kamu siap-siap, ya.” Dengan cekatan, Arka mengemas tas perlengkapan bayi dan pakaian Safiyah yang sudah sejak jauh hari disiapkan. Ia juga memastikan dokumen kehamilan, KTP, BPJS, dan perlengkapan penting lainnya masuk dalam satu tas khusus. Setelah semuanya siap, Arka membantu Safiyah berdiri pelan-pelan, membimbingnya dengan hati-hati menuju mobil. Di ruang tamu, Novi dan anaknya sudah siap menginap, bersedia menjaga Yusuf kecil yang sudah terlelap di kamarnya. “Mas Arka, biar kami di sini. Tenang aja, Yusuf insya Allah aman sama kami,” ujar Novi sambil membawa selimut tambahan. Arka mengangguk penuh terima kasih. “Terima kasih, Mbak. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya ya.” Perjalanan menuju rumah sakit terasa hening namun tegang. Arka mengemudikan mobil Avanza putih mereka dengan hati-hati, tidak terburu-buru tapi tetap sigap. Sesekali ia melihat Safiyah dari kaca spion, memastikan istrinya nyaman. “Napas pelan ya, Sayang. Kita hampir sampai,” ucapnya lembut. Setibanya di rumah sakit, Arka langsung membawa Safiyah ke ruang bersalin. Dokter kandungan langsung memeriksa kondisi Safiyah. “Pembukaan lima, Pak Arka. Masih butuh waktu, tapi ini masuk fase aktif,” ujar sang dokter. Arka mengangguk. Ia tak pergi ke mana pun. Ia duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Safiyah, mengusap peluh yang mulai membasahi dahi istrinya. Tak sedetik pun ia meninggalkan ruangan. Matanya hanya tertuju pada wajah wanita yang sangat ia cintai—wanita yang dulu melahirkan Yusuf seorang diri, tanpa dirinya di sisi. Dan malam itu, Arka bertekad menebus semuanya. “Maaf ya, Sayang... dulu aku enggak ada waktu Yusuf lahir. Tapi sekarang, aku enggak akan ke mana-mana. Mas ada di sini. Untuk kamu… dan anak kita.” Safiyah menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tak ada kata yang mampu menggambarkan rasa syukurnya malam itu. Meski kontraksi semakin terasa, ia tahu... ia tidak sendiri. Malam pun berlalu dengan peluh dan doa. Dan cinta yang menghangatkan setiap detik penantian menuju lahirnya kehidupan baru. Malam telah larut, namun ruang bersalin dipenuhi ketegangan dan harapan. Pembukaan telah lengkap. Dokter kandungan bersiap, suster berdiri di posisi masing-masing, dan di sisi ranjang, Arka menggenggam erat tangan Safiyah. “Tarik napas… dorong sekarang…!” suara dokter terdengar tegas namun sabar. Safiyah mengejan, menahan sakit yang luar biasa. Peluh membasahi wajahnya, tubuhnya lelah, tapi semangatnya menyala penuh cinta. Di tengah perjuangan itu, Arka terus menyemangatinya, menenangkannya, dan sesekali mengecup keningnya dengan lembut. “Kamu hebat, Sayang… sebentar lagi ya. Anak kita sebentar lagi lahir…” Dan akhirnya… Tangisan pertama pecah memenuhi ruangan. Suara nyaring bayi perempuan yang baru saja hadir ke dunia. Suster menyerahkan bayi itu pada dokter, lalu dibersihkan dan dibedong dengan kain halus berwarna putih lembut. Arka masih terpaku—antara tak percaya, terharu, dan penuh rasa syukur. “Selamat ya, Bayinya perempuan, sehat dan cantik,” ucap dokter sambil tersenyum. Safiyah menangis. Bukan karena sakit, tapi karena bahagia. Beberapa saat kemudian, setelah keadaan stabil, Arka mengambil bayi mungil itu dari tangan suster. Dengan lembut, ia menggendongnya. Tangannya sedikit gemetar—ini pertama kalinya ia menyaksikan sendiri proses kelahiran anaknya. Arka lalu mendekatkan mulutnya ke telinga sang bayi. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” Dengan suara tenang dan lirih, ia mengadzankan putri kecilnya. “Namamu… Aliyah Arkanaya,” bisiknya pelan, “semoga engkau tinggi derajatnya, mulia akhlaknya, dan membawa keberkahan untuk semua.” Safiyah kemudian dipindahkan ke ruang rawat VIP. Arka menemaninya, duduk di sisi ranjang sambil terus menggendong Aliyah. Safiyah menatap keduanya dengan mata berbinar. Kebahagiaan itu kini lengkap. Keesokan harinya, kabar bahagia menyebar cepat. Dokter Yuda dan Aisyah Hanum datang menjenguk pertama kali. Membawa setangkai bunga mawar putih dan hadiah perlengkapan bayi. “Masya Allah... cantik banget,” ucap Aisyah sambil mengelus pipi Aliyah yang lembut. Dokter Yuda tersenyum hangat, “Persalinan lancar, Arka. Safiyah hebat.” Tak lama kemudian, Umi Hamidah dan Kyai Hasyim datang. Umi membawa bubur kacang hijau dan air zamzam. Kyai membacakan doa panjang untuk cucu spiritualnya, agar menjadi anak yang shalihah, kuat, dan penuh cinta pada agama. Ustad Musa dan istrinya juga hadir, membawa tasbih kecil berwarna pink dan baju bayi. Mereka semua duduk bersama, mendoakan keluarga kecil itu. Suasana kamar VIP berubah menjadi tempat penuh doa dan kasih. Dan Arka sadar, di tengah kesederhanaan hidup mereka, mereka telah dianugerahi kekayaan yang tak ternilai: cinta, keluarga, dan seorang putri kecil bernama Aliyah Arkanaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN