Bab 10

1574 Kata
Tanpa menunggu jawaban, Arka menarik Safiyah ke dalam pelukannya. Tubuh Safiyah menegang sesaat, lalu luruh dalam dekapan hangat yang lama ia rindukan. Ia membalas pelukan Arka erat, menumpahkan seluruh tangis, luka, dan kelegaan di d**a bidang suaminya. Isak tangis Safiyah memenuhi ruangan, bercampur dengan keheningan yang penuh makna. Arka sendiri tak mampu menahan. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, meluncur di pipinya, sebuah luapan kelegaan dan rasa syukur. "Terima kasih, sayang, kamu mau menerima Mas Arka," bisik Arka, suaranya parau menahan haru. "Mas Arka janji akan selalu membahagiakanmu." Tak jauh dari sana, Dokter Yuda dan Aisyah berdiri. Pemandangan itu begitu menyentuh hati mereka. Air mata pun mengalir di pipi Aisyah, diikuti oleh Dokter Yuda yang tanpa sadar mengusap sudut matanya. Dokter Yuda menarik istrinya ke dalam pelukan hangat. "Mas Yuda, kenapa?" tanya Aisyah, sedikit heran melihat suaminya ikut terharu. "Mas sedih, sayang," jawab Dokter Yuda, suaranya tercekat. Aisyah mengerutkan kening. "Sedih kenapa? Justru Mas harus bahagia, sahabat Mas Yuda menemukan kebahagiaannya." Dokter Yuda tersenyum tipis, mengeratkan pelukannya. "Iya, sayang. Mas beruntung bertemu dengan kamu dan menikah sama kamu, Aisyah." Aisyah terkekeh pelan, menyadari suasana yang mendadak melankolis. "Eh, Mas, kok jadi kita yang mellow ya?" candanya, berhasil membuat Dokter Yuda ikut tertawa kecil. Di tengah suasana haru itu, Arka dan Safiyah masih saling mendekap, seolah tak ingin melepaskan. Babak baru kehidupan mereka, yang diawali dengan sebuah rahasia pahit, kini terbuka lebar, siap menyambut lembaran baru yang penuh harapan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Arka melepaskan pelukannya, menatap Safiyah dengan senyum lega. "Kita temui Umi dan Pak Kiai, ya?" ucap Arka lembut. Safiyah mengangguk pelan, air mata masih membasahi pipinya, namun kini adalah air mata kebahagiaan. Arka bangkit, lalu menggenggam tangan Safiyah erat, menuntunnya menuju ruang tengah. Saat mereka tiba, Kiai Hasyim dan Umi Hamidah tersenyum hangat menyambut keduanya. Wajah Dokter Yuda dan Aisyah pun terlihat begitu bahagia, seolah turut merasakan kelegaan yang terpancar dari Arka dan Safiyah. Suasana haru bercampur kebahagiaan menyelimuti ruangan itu. Arka dan Safiyah duduk bersimpuh di hadapan Umi Hamidah dan Kiai Hasyim. Arka menatap lurus ke depan, sementara Safiyah menunduk, jantungnya berdebar, siap menghadapi babak baru kehidupannya. "Umi, Kiai," Arka memulai, suaranya mantap, "Arka sudah menemukan Safiyah. Kami ingin memberitahukan bahwa kami telah menikah secara siri." Umi Hamidah mengangguk lembut, matanya penuh pengertian. "Umi sudah menduga, Nak. Safiyah sudah menceritakan semuanya." Kiai Hasyim tersenyum bijak. "Alhamdulillah, Nak Arka. Ini adalah takdir yang Allah SWT tetapkan. Yang terpenting sekarang adalah niat baik kalian untuk meluruskan semuanya." Arka menoleh ke arah Safiyah, menggenggam tangannya lebih erat. "Kami ingin pernikahan kami diresmikan secara hukum dan disaksikan oleh semua orang, Kiai, Umi. Tanpa ada lagi yang perlu dirahasiakan." Safiyah mengangkat wajahnya, menatap Kiai Hasyim dan Umi Hamidah, ada keberanian baru di matanya. "Saya mohon restu dan bimbingannya, Kiai, Umi." Umi Hamidah meraih tangan Safiyah, mengusapnya lembut. "Tentu saja, Nak. Umi akan selalu membimbing kalian. Sekarang, tak ada lagi air mata, ya? Hanya ada kebahagiaan." Aisyah mendekat, memeluk Safiyah erat. "Selamat datang kembali, Safiyah! Kami semua bahagia kamu sudah kembali." Dokter Yuda menepuk pundak Arka. "Selamat, Bro. Akhirnya kamu menemukan kebahagiaan sejatimu." Arka tersenyum, menatap Safiyah. Kini, tak ada lagi beban. Hanya ada harapan akan masa depan yang cerah bersama wanita yang ia cintai. Malam itu di pesantren Al Hikmah terasa syahdu. Setelah semua percakapan tuntas, Kyai Hasyim memandang Arka dengan tatapan bijak dan teduh. “Besok pagi kamu ikut Yuda ke KUA. Abah punya sahabat lama di sana, beliau bisa bantu proses pernikahanmu dengan Safiyah. Nikahmu yang kemarin sah, tapi belum tercatat negara. Kita sempurnakan. Kita muliakan.” Arka mengangguk pelan. Suaranya tertahan haru. “Terima kasih, Pak Kyai… Arka benar-benar merasa diterima di sini.” Kyai Hasyim mengangguk, “Setelah Isya besok, kamu dan Safiyah akan menikah ulang. Di hadapan para santri, keluarga abah, dan... kalau kamu ingin, undang juga orang tuamu. Biar mereka tahu, siapa wanita luar biasa yang kamu pilih.” Arka sempat ragu sejenak, tapi kemudian mengangguk dengan penuh tekad. “Baik, Pak Kyai.” Di halaman rumah pesantren, dokter Yuda menepuk punggung Arka pelan, senyumnya jahil. “Jadi gimana, Ka? Mau menginap di sini sekalian pantau calon istri?” Arka tersipu. “Saya pulang saja. Besok pagi masih ada operasi bypass.” Yuda tergelak. “Wah, dokter teladan nih. Sudah cinta, tetap prioritas pasien.” Umi Hamidah yang mendengar godaan itu ikut tersenyum. “Masya Allah… semoga besok jadi pengantin berkah, Nak Arka.” Arka menyalami umi, Kyai Hasyim, ustad Musa, juga Ning Zahra, istri Musa. Lalu matanya mencari seseorang. Safiyah muncul dari balik pintu, wajahnya teduh, malu-malu. Arka mendekat perlahan dan... memeluk Safiyah singkat tapi penuh makna. “Besok kita sempurnakan janji kita, ya, Fiya...” Safiyah tersenyum, angguk pelan. “Aku siap, Mas.” Malam itu, di dalam kamar kost sederhana yang kini menjadi tempat tinggal dokter Arka, ia duduk bersandar di ranjang sambil menatap foto Yusuf yang tertidur di pangkuannya siang tadi. Senyumnya mengembang pelan. "Akhirnya... aku menemukan rumah yang sebenarnya," gumamnya lirih. Dengan tangan sedikit gemetar, Arka mengambil ponselnya. Ia tahu ini saatnya mengabari orang tuanya—meski hatinya tak yakin akan tanggapan mereka. Telepon tersambung. Suara berat dan berwibawa terdengar dari seberang. "Halo, ini Papa." "Pa... ini Arka." "Ada apa?" nada ayahnya datar. Arka menarik napas dalam. "Besok... aku akan menikah ulang dengan Safiyah, secara sah di mata negara dan agama. Disaksikan banyak orang, termasuk keluarga pesantren tempat dia mengabdi. Jika Papa dan Mama ingin hadir, aku akan sangat bahagia..." Diam. Sunyi beberapa detik yang terasa seperti menit. Lalu suara ayahnya terdengar tegas—dan menghujam. "Aku tidak akan hadir. Sejak kamu memilih mempermalukan keluarga ini dengan menikahi cleaning service, kamu bukan lagi anakku." "Papa—" "Jangan hubungi aku lagi." Telepon ditutup. Arka menunduk, matanya panas. Namun, belum sempat dia meletakkan ponsel, panggilan lain masuk. Nama “Mama” muncul di layar. Dengan suara terbata, ibunya berkata, "Nak... maafkan Mama... Mama ingin datang. Tapi... Papa kamu... dia sangat keras kepala. Tapi tahu nggak? Mama bangga padamu. Sangat bangga..." Air mata Arka jatuh. "Terima kasih, Ma. Aku hanya ingin Mama tahu, aku bahagia sekarang. Safiyah wanita baik, dan dia sudah memberikan anak luar biasa darah dagingku sendiri..." Keesokan harinya, Arka tenggelam dalam kesibukan operasinya di rumah sakit. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang ketika Dokter Yuda datang menghampirinya. "Ka, nanti setelah ini ikut gue ya," ajak Yuda. "Kita temui teman Abah, beliau yang jadi penghulu." Arka mengangguk cepat. "Siap, Yud. Semua udah beres?" "Beresss! Beliau siap datang ke pesantren nanti setelah Isya," jawab Yuda optimis. Di sisi lain, jauh di Jakarta, Alesha, adik perempuan Arka, diam-diam telah terbang menuju Banyuwangi. Ia ingin memberikan kejutan dan menghadiri pernikahan kakaknya yang mendadak ini. Mama Karina, ibu Arka dan Alesha, menitipkan satu set perhiasan indah untuk Safiyah, calon menantunya. Setibanya di Banyuwangi, Alesha segera menuju gerbang Pondok Pesantren Al Hikmah. Sore itu, ia disambut hangat oleh Umi Hamidah yang telah diberitahu kedatangan Alesha oleh Arka. "Alesha, ya Nak? Alhamdulillah sudah sampai," sambut Umi Hamidah dengan senyum ramah. "Iya, Umi. Senang sekali bisa sampai di sini," jawab Alesha. "Mari Umi antar ke rumah Safiyah," ajak Umi Hamidah. Mereka berdua berjalan menuju rumah kecil yang biasa dihuni Safiyah. Saat masuk, hanya ada Naning dan Yusuf di sana. Safiyah sendiri sedang mengajar santri di masjid pesantren. Alesha langsung tertegun melihat Yusuf. Ia menghampiri keponakannya itu, matanya berkaca-kaca. "Ya Allah, ini keponakanku?" gumam Alesha, suaranya bergetar. Ia langsung menggendong Yusuf, mendekapnya erat, dan menciuminya berkali-kali. "Sayang... Masya Allah..." Yusuf yang kaget dengan kehadiran orang asing, mulai menangis keras. Umi Hamidah segera mengambil alih Yusuf, menenangkannya dengan lembut. "Tenang, Nak. Yusuf kaget mungkin," ujar Umi Hamidah sambil mengusap punggung Yusuf. Alesha menatap Yusuf dengan penuh kasih sayang, meskipun tangis Yusuf membuat hatinya sedikit perih. Ia tahu, momen ini adalah awal dari babak baru yang bahagia bagi keluarganya, terutama bagi Arka dan Safiyah. Safiyah melangkah santai setelah selesai mengajar para santri. Senyuman tipis terukir di wajahnya, menikmati sore yang tenang. Namun, begitu sampai di depan rumah, senyumannya memudar. Ada tamu. Di ruang tamu, Umi Hamidah menoleh padanya, wajahnya berseri. "Fiyah, ini Alesha, adiknya Arka," Umi Hamidah memperkenalkan. Alesha, gadis muda sebaya dengannya, langsung menghampiri dan memeluk Safiyah erat. "Mba Safiyah," sapanya hangat. "Alesha, adik Mas Arka?" Safiyah sedikit terkejut, namun ia membalas pelukan itu. "Iya, Mba. Mas Arka sudah cerita?" tanya Alesha, antusias. Safiyah mengangguk pelan. Ia lalu menggendong Yusuf dari pangkuan Umi Hamidah. "Yuk, masuk dulu," ajaknya. "Umi tinggal, ya Fiyah. Masih banyak yang harus diurus," pamit Umi Hamidah sambil tersenyum. "Iya, Umi. Makasih," jawab Safiyah. Alesha dan Safiyah pun masuk ke dalam rumah, lalu duduk di ruang tamu. Safiyah segera beranjak ke dapur, membuatkan minum dan menyuguhkan camilan untuk Alesha. "Sudah ketemu Mas Arka?" tanya Safiyah begitu kembali duduk. Alesha menggeleng. "Belum, Kak. Bahkan Mas Arka enggak tahu kalau Alesha ke sini." "Oh, gitu," respons Safiyah, sedikit heran dengan kejutan Alesha ini. Alesha menatap Yusuf yang kini digendong Safiyah. Ada binar kebahagiaan di matanya. "Yusuf mirip banget wajahnya kayak Kak Arka, ya?" ucap Alesha, gemas. Safiyah terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Masa sih, Lesha? Bukannya mirip ibunya?" candanya. Alesha menggeleng, tawanya renyah. "Hmm, enggak deh. Lebih mirip Kak Arka," ujarnya yakin. "Kamu mau istirahat dulu, Alesha?" tawar Safiyah. "Boleh, Kak. Pegel juga dari Bandung ke sini," jawab Alesha. Safiyah segera merapikan sedikit kamarnya yang sederhana. Tak lama kemudian, Alesha merebahkan tubuhnya di kasur, sambil terus mengobrol ringan dengan Safiyah, seperti dua saudara yang sudah lama tak bersua. Ada ikatan baru yang mulai terjalin di antara mereka, di balik segala kerumitan yang ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN