“Halo, Rafif! Lo di mana? Gue baru dapat kabar kalau Zyrach kecelakaan saat menghampiri kakaknya yang ternyata bukan.”
Mendengar perkataan itu, seorang lelaki yang baru saja hendak menghabiskan waktu menikmati cokelat panas sembari memainkan salah satu game online di komputernya pun mengurungkan niat.
Tak lupa lelaki itu berpamitan pada Regina yang terlihat sibuk memakai masker sembari menikmati tontonan cukup menyenangkan di ruang tengah. Bahkan wanita itu terkejut adiknya hendak pergi lagi, tetapi ketika mendengar kecelakaan yang menimpa Zyrach. Akhirnya, Regina pun memberikan izin dan meminta agar lelaki itu tidak kembali terlarut malam.
Selama perjalanan menuju rumah sakit yang diberikan oleh Lizian, lelaki itu pun tak henti-hentinya merasa cemas. Entah kenapa ia merasa sesuatu telah direncanakan. Namun, Rafif tidak ingin berpresepsi begitu saja sebelum meminta kejelasan lebih lanjut dari sahabatnya.
Sayang sekali jalanan pada malam ini terlihat padat merayap membuat Rafif menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit dari yang biasanya hanya dua puluh lima sampai tiga puluh menit menjangkau rumah sakit tersebut.
Tentu saja rumah sakit yang dimaksud oleh Rafif adalah sebuah bangunan medis khusus aparat keamanan negara. Sehingga tidak ada yang menjadi pasien di sini, selain polisi dan beberapa militer yang bertugas membela kenegaraan.
Lelaki itu pun memasuki parkiran bawah tanah yang dipadati oleh mobil polisi sekaligus beberapa mobil jeep khusus dinas para tentara negara. Membuat Xuan Yi mengenakan jajet kulit miliknya berwarna hitam untuk menutupi kaus putih polos dengan balutan celana levis panjang yang terlihat sobek di bagian beberapa sisi.
Setelah menemukan keberadaan elevator yang cukup sulit untuk dicari, sebab letaknya kurang strategis dan terlalu banyak mobil terparkir membuat Rafif sedikit kesulitan. Di tengah menunggu giliran elevator yang masih berada di atas, tanpa sengaja Rafif melihat tiga orang berpakaian hitam cukup mencurigakan.
Namun, untuk menghampiri mereka, Rafif sudah tidak memiliki waktu dan bertepatan sekali pintu elevator terbuka menampilkan kotak logam kosong tanpa siapa pun di dalamnya. Membuat Rafif menatap mereka sesaat, lalu masuk ke dalam sembari memencet lantai yang akan dituju, yaitu lantas lima belas. Tempat di mana Zyrach di rawat.
Setelah beberapa saat menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya Rafif pun sampai di sebuah lantai yang terlihat sepi. Akan tetapi, ketika ia sampai di sebuah ruangan yang menjadi tempat Zyrach dirawat, Rafif bisa melihat sepasang suami-istri tengah menagis.
Sampai pandangan Rafif jatuh pada punggung yang terlihat lemas bersandar di sisi jendela sembari memandangi ke luar. Hal tersebut membuat Rafif meringis pelan, ia merasa tidak nyaman sekaligus tidak enak melihat sahabatnya begitu terpukul.
“Zian, gimana keadaan Zyrach?” tanya Rafif melangkah menghampiri pemuda yang menegakkan punggungnya kembali, lalu menoleh dengan ekspresi lemas.
“Dokter belum bisa ngasih keputusan apa pun. Karena Zyrach belum sadar sejak dibawa ke sini membuat semua kemungkinan akan terjadi jika dia tidak bangun,” jawab Lizian mengembuskan napasnya berat.
“Kenapa bisa terjadi, Zian? Lo lupa atau gimana kalau Zyrach ada di kantor kita itu tandanya ada sesuatu yang diselidiki,” ucap Rafif memijat pangkal hidungnya yang mendadak nyeri.
“Gue udah minta buat ngantar sampai depan, Raf. Tapi, dia bersikeras sendiri gue bisa apa? Gue juga mikirnya Perwira Jarvis benar-benar datang tanpa mau nyapa di sini dulu,” balas Lizian berusaha membela diri.
Sebab, ia memang tidak melakukan apa pun, selain mengingatkan gadis itu untuk ditemani. Namun, kalau Zyrach sendiri saja tidak mau, Lizian tidak akan bisa memaksa. Karena semua keputusan ada di Zyrach. Tindakan illegal kalau dirinya mengikuti tanpa izin.
Rafif terdiam sesaat. “Lo tahu siapa yang celakai dia?”
“Untuk sekarang belum ada kecurigaan apa pun, Raf. Semua kasus ini langsung dibawa ke pusat sama Perwira Jarvis. Bahkan semua kamera pengintai langsung diamain ke kantor pusat, dan udah dibawa semua ke sana. Tanpa tersisa sama sekali,” jawab Lizian tersenyum kecut.
Tentu saja sebagai seorang detektif, Lizian merasa diremehkan sampai masalah ini harus BIN yang turun tangan daripada forensik. Namun, mereka tidak memiliki kekuasaan pun tidak melakukan apa pun, selain menunggu kabar perkembangan dari media siaran dan laporan penyelidikan dari kejaksaan.
Di tengah perbincangan keduanya mengenai keadaan Zyrach, tiba-tiba Rafif mendengar suara seseorang yang dari belakang. Terdengar cukup asing membuat dua lelaki tampan itu mengalihkan pandangannya.
“Siapa di sini yang bernama Rafif?” tanya Perwira Jarvis menatap keduanya satu per satu.
Seorang lelaki tampan itu pun maju selangkah, lalu menjawab, “Saya Rafif, Perwira Jarvis.”
Jarvis mengkode pada Rafif untuk mengikuti langkahnya. Tentu saja Lizian ditinggal sendirian di lobi. Walaupun ada beberapa personil tentara, tetapi tetap saja mereka tampak diam tak bersuara. Seakan sudah menjadi salah satu kebiasaan saat rasa canggung menyerang begitu saja.
Sesampainya di jarak cukup jauh, seorang lelaki yang berada di atas jauh kepemimpinannya di atas Rafif itu pun menoleh membuat jarak antara mereka berdua begitu dekat. Sedikit canggung, tetapi tidak membuat keduanya merasa saling berjauhan.
“Rafif, aku ingin bertanya padamu, jadi jangan terlalu kaku. Aku mengajakmu ke sini bukan berarti aku curiga kejadian tersebut, tetapi aku hanya ingin sebuah pengalaman yang cukup untuk adikku,” ucap Perwira Jarvis dengan ekspresi datar yang begitu serius.
“Apa itu, Perwira Jarvis?” tanya Rafif memberikan form untuk saling mengisi.
“Apa kamu melihat Zyrach belakangan ini menyelidiki sesuatu yang terdengar cukup aneh?” tanya Jarvis penasaran.
“Aku pikir tidak ada. Bahkan Zyrach baru saja datang ke kantor polisi bersama Lizian.”
“Tapi, mengapa waktu itu aku sempat merasa sesuatu telah terjadi, Rafif?”
“Maksud Perwira Jarvis, sesuatu telah terjadi tadi?”
“Iya. Kalau bisa, aku ingin kamu melakukan penyelidikan masalah ini. Karena kecelakaan ini bukanlah kecelakaan biasa. Apalagi sudah mengincar Zyrach yang sama sekali tidak ada kaitannya apa pun.”
“Tentu saja bisa, Perwira Jarvis.”
“Ingat, kamu menyelidikinya secara diam-diam. Jangan sampai ada siapa pun yang tahu.”
“Baik, Perwira Jarvis.”
Setelah membicarakan hal tersebut, keduanya pun kembali menemui Zyrach yang baru saja selesai ditangani oleh dokter. Tentu saja Jarvis adalah orang yang paling pertama menemui dokter sebelum orang tuanya menyusul.
Sedangkan Rafif mendapat tugas pun langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Membuat Lizian yang merasa penasaran langsung mengikuti kepergian lelaki itu menuju parkiran bawah tanah.
“Raf, mau ke mana?” tanya Lizian setengah berteriak dari pintu elevator melihat sahabatnya membuka pintu mobil.
“Ada urusan sebentar nanti gue balik lagi ke sini,” jawab Rafif mengangguk meyakinkan, lalu meringsek masuk ke dalam mobil dan menjalankan benda beroda empat itu keluar dari parkiran.
Meninggalkan Lizian yang mengernyit tidak percaya sekaligus bingung melihat Rafif begitu terburu-buru untuk pergi. Padahal lelaki itu sama sekali belum melihat keadaan Zyrach. Namun, tidak ingin berpikir lebih lanjut, ia pun kembali masuk ke dalam elevator dan kembali ke lantai di mana Zyrach ditangani.