Sesampainya di kantor polisi, Rafif pun turun dan berlari masuk mengabaikan sapaan para personil polisi yang melihat dirinya datang. Tujuan lelaki itu mengarah pada ruang monitor kamera pengawas yang tidak jauh dari pintu masuk.
“Hyena, tolong mundurin waktu kejadian Zyrach kecelakaan di depan lobi tadi!” pinta Rafif secara tiba-tiba saat masuk ke dalam.
Sontak seorang gadis yang terlihat sibuk menyantap makan malamnya itu pun terjengit pelan, lalu mengernyit tidak percaya mendapati Rafif memanggil namanya sekaligus meminta bantuan.
“Hah? Apa, Raf?” tanya Hyena tergugup sembari merapikan penampilannya yang sudah acak akibat terlalu lama duduk, lalu ia bangkit dari tempat duduknya mempersilakan seorang lelaki tampan menduduki bangku kosong yang ada di sampingnya.
“Lo masih simpan video kejadian Zyrach kecelakaan tadi, ‘kan? Gue dengar belum ada yang ngambil file itu di sini,” jawab Rafif duduk, lalu menatap sepuluh layar yang berada di depannya menampilkan banyak kamera pengawas di berbagai sudut tak terlihat sekalipun.
“Oh, iya, tadi memang masih ada. Tapi, pas gue keluar tadi enggak salah ada yang minta file itu juga,” ucap Hyena mulai mengetikkan sesuatu di komputer.
Sedangkan Rafif tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, lalu mengernyit bingung. Kemudian, ia menunggu dengan sabar Hyena mencari kamera pengawas yang menjadi satu-satunya petunjuk bagi Rafif menyelidiki hal ini.
“Ketemu! Ini sudut kamera yang menangkap langsung kejadian Zyrach,” celetuk Hyena tersenyum lebar, dan mempersilakan Rafif melakukan pekerjaannya sendiri. Sedangkan ia kembali melanjutkan makan malamnya sembari sesekali melirik ke arah seorang lelaki tampan yang terlihat serius sembari mencatat sesuatu di ponselnya.
Setelah beberapa saat mencari petunjuk, Rafif pun mengetik sesuatu di ponselnya secara cepat. Kemudian, menoleh ke arah Hyena yang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Gadis itu terlihat sibuk menutup tempat minum.
“Hyena, gue minta tolong buat minjam disk rekaman ini untuk bahan penyelidikan,” pinta Rafif dengan ekspresi serius.
“Boleh. Gue akan ambilkan disk-nya,” jawab Hyena bangkit menuju lemari besar yang menampilkan banyak sekali mesin.
Di sela menuggu Hyena mengambil rekaman itu, tanpa sadar Rafif melihat sesuatu cukup mencurigakan di bagian belakang gedung kantor polisi. Membuat lelaki itu memperhatikan dengan seksama. Namun, ia masih belum bisa memastikan apa yang terjadi.
“Nih, Raf! Disk yang lo minta tadi.” Hyena memberikan sebuah tempat kotak kaset yang lebih kecil membuat Rafif menyambar dengan cepat.
Kemudian, lelaki itu pun berlari keluar ruangan. Tak lupa ia berterima kasih pula pada Hyena yang sudah membantunya cukup banyak. Sebab, Rafif tidak ingin dianggap sebagai lelaki tak tahu diuntung sudah dibantu malah tidak berterima kasih sama sekali.
Langkah kaki Rafif mengarah pada ruangan rahasia yang selama ini dibuat rapat oleh dirinya dan Lizian. Memang tidak banyak yang tahu, tetapi lelaki itu memiliki ruangan dengan akses sangat terbatas.
Sesampainya di dalam, Rafif langsung mengeluarkan laptop beserta alat penting lainnya untuk melakukan penyelidikan melalui kamera pengawas yang cukup terang. Bisa dikatakan semua teknologi di kantor ini lebih maju dibandingkan tempat lain.
Sehingga rasanya cukup mudah melakukan banyak hal untuk penyelidikan. Apalagi kejadian tersebut tepat terjadi di kantor polisi. Memudahkan pekerjaan Rafif yang awalnya terasa sulit.
Namun, di sela pemantauannya di rekaman kamera pengawas tiba-tiba ponsel lelaki itu berdering pelan menampilkan sebuah nomor asing tanpa nama di sana. Hal tersebut membuat Rafif mengernyit bingung, lalu mengangkatnya tanpa suara.
“Halo, Raf! Ini gue Veena, lo ada di mana?” sapa seorang perempuan yang terdengar setengah berteriak membuat Rafif mengernyit bingung.
“Gue di kantor. Ada apa?”
“Oh, di kantor. Ya udah lo tunggu gue di sana, Ketua Franky tiba-tiba ngasih kabar kalau LUCA ada pergerakan di sekitar dermaga.”
“Oke. Gue tunggu di lobi biar masuknya bersama-sama,” putus Rafif tepat ketika panggilan tersebut terputus.
Sejenak Rafif memijat kepalanya lelah, lalu ia bangkit menaruh laptop dan alat-alat yang sempat digunakannya tadi. Tak lupa disk hasil rekaman kamera pengawas langsung Rafif bereskan bersama barang pribadi miliknya. Karena ia merasa tidak aman membiarkan benda tersebut berada di TKP.
Tentu saja ungkapan penjahat akan selalu datang ke lokasi kejadian membuat Rafif harus tetap melakukan waspada. Apalagi dirinya juga menangani sebuah kasus besar yang menyeret sekelompok organisasi gelap bernama LUCA. Sehingga hidup dan mati lelaki itu sangat terancam.
Setelah itu, Rafif pun melenggang keluar dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana bahan berwarna hitam. Ia menyempatkan diri menyisir rambutnya menggunakan sela-sela jemari tangan tegas nan berotot miliknya.
“Veera, lo udah lama di sini?” sapa Rafif tersenyum singkat ketika mendapati seorang gadis tengah berdiri menatap papan pengumuman di lobi.
Veera menoleh, lalu tersenyum hangat. “Sebenarnya udah lama, tapi mading ini kelihatan menggoda. Jadi, gue menyempatkan diri untuk membaca.”
“Ya udah. Ayo, kita sepertinya sudah ditunggu oleh Ketua Franky!” ajak Rafif mempersilakan gadis cantik bertubuh tinggi semampai dengan kaki jenjang terbaluti rok pendek di atas lutut.
Tentu saja terlihat kontras sekali dengan tubuhnya yang biasa menggunakan pakaian hitam, sebab tubuh Veera benar-benar sempurna. Bahkan kulitnya yang seputih s**u itu pun memerah akibat dinginnya malam.
“Lo ada kencan atau gimana?” tanya Rafif penasaran.
“Iya, gue ada kencan. Baru aja gue mau berangkat, tapi pas Ketua Franky ngasih kabar buat ngumpul lagi. Akhirnya, gue batalin aja itu acara yang udah dibuat jauh-jauh hari,” jawab Veera sekenanya.
“Pacar lo enggak marah?” tanya Rafif lagi. Kali ini lelaki itu membuka pintu elevator yang kebetulan berada di bawah membuat mereka berdua masuk ke dalam dengan menuju lantai yang sama pula.
“Mau gimana lagi, Raf. Punya pacar seorang polisi jelas harus siap kapan aja. Lagi pula pacar gue juga enggak terlalu mikirin. Kita berdua udah sama-sama dewasa, bukan anak kecil lagi. Jadi, untuk bisa ngertiin gimana posisi gue udah bisalah,” jawab Veera mengangkat bahunya acuh tak acuh.
“Pacaran berapa tahun?”
Veera terdiam sejenak dengan alis yang bertaut mengingat sesuatu cukup keras. “Sejak masuk SMA gue sama dia udah pacaran. Soalnya kita ketemu sewaktu gue jadi relawan di salah satu desa korban banjir.”
“Wah, kalian berdua benar-benar cocok bisa satu hobi dan memiliki rasa kemanusiaan tinggi,” puji Rafif mengangkat dua jempolnya sembari tertawa pelan membuat Veera tersipu malu, lalu berpura-pura mengabaikan semua perkataan lelaki tersebut.