Di sela menyelidiki kasusnya sendiri, Rafif pun secara diam-diam mengikuti permintaan Perwira Jarvis untuk melakukan penyelidikan pada kecelakaan cukup aneh yang menimpa Zyrach.
Kini lelaki tampan itu tampak berdiri di sebuah night club cukup elit dengan banyak sekali mobil mewah terparkir dan beberapa penjaga bertubuh besar berdiri di depan pintu sembari menatap lurus ke depan.
Rafif pun melenggang masuk dengan santai menatap banyak sekali wanita cantik yang berdiri di lorong ruangan untuk mencari pelanggang. Beberapa dari mereka tampak memperhatikan Rafif dengan tatapan penuh minat.
Sampai salah satu wanita menghampiri Rafif dengan kipas lipat berada di tangannya, lalu berkata, “Apa kamu membutuhkan hiburan pemuda tampan?”
“Iya, berikan aku satu wanita cantik,” jawab Rafif tersenyum miring. Bisa ia lihat tatapan lapar wanita itu membuat Rafif semakin menarik untuk mencari tahu tempat ini lebih lanjut.
“Baiklah. Kalau begitu, ikuti aku! Kamu harus kamar terlebih dulu di sini,” ucap wanita itu melangkah memimpin jalan.
Tentu saja hal tersebut tidak Rafif sia-siakan. Ia sesekali mengintip melalui celah pintu yang transparan terlihat banyak sekali wanita menari, bernyanyi, meminum miniman keras, dan saling memuaskan di tempat duduk.
Semua pemandangan itu tampak membuat Rafif merasa miris. Ia tidak menyangka bahwa tempat ini bisa lolos dari jeratan polisi. Namun, selagi belum menimbulkan masalah, Rafif jelas tidak bisa menangkap siapa pun. Karena identitasnya sebagai polisi, ia tinggalkan begitu saja di rumah.
Langkah kaki Rafif terhenti di sebuah kamar tepat paling ujung membuat wanita ber-make up tebal itu membukanya dan mempersilakan lelaki muda di belakangnya untuk masuk ke dalam.
“Silakan masuk, Tuan! Akan aku panggilkan beberapa wanita cantik ke sini,” ucap wanita itu menutup pintunya kembali sembari tertawa pelan.
Sedangkan Rafif hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu mendudukkan diri sembari menatap layar televisi besar di hadapannya. Tak lupa beberapa botol minuman tampak tersedia di atas meja lengkap dengan gelas kosongnya.
Di sela menunggu, Rafif mendengar suara langkah kaki mendekat. Membuat ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam celana, dan berpura-pura menikmati keadaan dengan menyandarkan tubuh layaknya lelaki nakal.
Satu per satu wanita cantik berpakaian sek*si itu pun masuk sembari memamerkan kecantikannya yang lumayan tebal akibat terlalu gemerlap cahaya kamar. Membuat bibir merah merona itu tampak memikat.
“Silakan dipilih, Tuan! Semua wanita cantik sudah ada di sini,” ucap wanita yang mengantarkan Rafif tersenyum lebar.
Sejenak lelaki itu menatap satu per satu wanita di hadapannya yang saling memamerkan wajah menggoda. Namun, sayang sekali ada seorang wanita yang terlihat ketakutan menunduk di antara wanita lainnya. Membuat Rafif merasa tertarik sekaligus penasaran apa yang telah terjadi menimpa wanita itu.
“Baik, aku ingin yang paling ujung!” pinta Rafif menunjuk wanita yang perlahan mengangkat kepalanya ketakutan.
Sontak wanita pemandu Rafif tadi pun tersenyum puas. “Kamu benar-benar beruntung, Tuan.”
Kemudian, secara takut-takut wanita yang ditunjuk oleh Rafif pun maju ke depan membuat wanita pemandu yang menyuruh wanita lainnya untuk pergi. Lalu, kembali menatap wanita cantik tadi.
“Reni, layani tamu kita dengan baik. Jangan sampai kamu kecewakan, ya,” ucap wanita pemandu itu tersenyum lembut, lalu mendorong pelan tubuh Reni untuk mendekati Rafif.
Setelah itu, wanita pemandu pun keluar dari ruangan. Tak lupa ia mematikan lampu kamar untuk mereka berdua menyelesaikan waktunya bersama di dalam.
Selepas kepergian wanita pemandu tadi, Reni pun duduk di sofa merah tepat di samping Rafif yang terdiam tanpa suara. Lelaki itu terus saja memusatkan perhatiannya pada Reni, sampai wanita itu merasa malu sendiri.
Bahkan gaun di atas lutut yang ia kenakan tampak terangkat sedikit memperlihatkan paha mulus siap membuat lelaki mana pun lapar.
“Tuan, apa kamu ingin minum?” tanya Reni membuka botol minum di hadapannya dengan sedikit kesulitan.
Namun, Rafif memiliki rencana jahil. Lelaki itu pun mengambil alih dengan cepat botol yang ada di tangan Reni, lalu mendorong tubuh wanita tersebut hingga merebahkan diri di sofa sembari menatap Rafif dengan binar mata uang tanpa sadar cukup memikat.
Pada saat Rafif hendak mendaratkan sebuah ciuman, tiba-tiba pintu ruangan terbuka menampilkan dua pelayan membawa kereta minuman yang cukup banyak. Mereka tampak terkejut, tetapi lebih memilih untuk diam dan menunduk.
“Berikan aku empat botol minuman lagi!” ucap Rafif menatap datar. Seakan ia kesal kegiatannya diganggu oleh seseorang.
Akan tetapi, posisinya masih tetap menindih tubuh Reni yang sama sekali tidak bergerak. Jelas wanita itu sudah pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah menaruh botol minuman tersebut, dua pelayan itu pun pergi dengan terburu-buru. Karena tatapan Rafif terlihat sangat menakutkan di tengah cahaya remang yang cukup sulit untuk menyadari apa pun.
Rafif tersenyum puas melihat dua pelayan tadi pergi begitu saja, lalu ia kembali menatap wanita cantik di bawahnya yang terus memperhatikan tanpa ekspresi.
“Apa kita harus melanjutkan kegiatan tadi?” tanya Rafif tersenyum menggoda.
Reni melepaskan cekalan lelaki tampan di atasnya, lalu menarik tekuk lelaki itu untuk mendekat. Tentu saja tubuh mereka berdua mendadak terhimpit dengan Reni terus mendekap tubuh Rafif dengan begitu erat.
“Tentu saja,” bisik Reni setengah mendesah tepat di telinga Rafif.
Dalam sekejap akal sehat lelaki itu pun menghilang. Godaan yang diberikan Reni cukup besar membuat Rafif menjauhkan tubuhnya sejenak, lalu mulai mencium bibir wanita yang berada di bawahnya cukup pasrah.
Tentu saja tangan bebas lelaki itu mulai menari-nari mengisi kekosongan yang tercipta di antara mereka berdua, Rafif mulai memeras dan memilin pucuk bongkahan yang masih terselimuti gaun mewah tersebut.
Reni menjambat rambut Rafif dengan memperdalam ciuman mereka berdua. Jujur saja, baru kali ini ia mendapatkan ciuman yang benar-benar memabukkan. Sampai rasanya Reni tidak ingin berhenti begitu saja.
Setelah puas beberapa lama saling bertukar saliva, Rafif pun menghentikan aksinya dengan napas cukup tersengga-senggal. Sedangkan Reni tampak tersenyum geli melihat lelaki tampan di atasnya tampak tidak berpengalaman.
“Apa kamu baru pertama kali melakukan ini?” tanya Reni dengan memincingkan matanya menggoda.
Sontak hal tersebut membuat Rafif tersenyum malu-malu, lalu menenggelamkan wajahnya di belahan yang sempat ia pegang tadi. Rasanya benar-benar aneh. Kalau boleh jujur, Rafif sepertinya sudah menyukai Reni dalam pandangan pertama.
Merasa geli melihat tingkah lelaki yang berada di pelukannya, Reni pun tertawa gemas. Kemudian, ia mengeratkan rengkuhannya yang berada di punggung lebar milik Rafif. Entah kenapa posisi seperti ini saja sudah membuat ia merasa nyaman sekaligus terlindungi. Baru kali ini Reni merasa desiran aneh pada pelanggannya sendiri.