15. Akal Sehat

1132 Kata
“Reni, apa kamu sudah lama bekerja seperti ini?” tanya Rafif perlahan mengangkat kepalanya membuat pelukan tersebut mengendur. Reni tesenyum kecut, lalu mengembuskan napasnya berat. “Sebenarnya, aku terpaksa melakukan ini demi menyelamatkan orang tuaku yang hampir saja terkena masalah.” “Apa maksudmu?” tanya Rafif penasaran. Namun, sayang sekali Reni tidak ingin membahas hal tersebut membuat wanita itu kembali mencium bibir Rafif dengan menggigitnya lembut. Seakan ia ingin Rafif melupakan pembicaraan tadi. Dan benar saja, dalam sekejap Rafif melupakannya dan merengkuh pinggang ramping yang sangat pas di tangannya. Kemudian, membawa wanita itu bangun dari sofa untuk duduk di atas pangkuannya tanpa melepaskan ciuman sama sekali. Suara decapan sekaligus basah akibat ulah keduanya yang saling bertukar saliva tanpa jeda mengambil napas. Bahkan hal tersebut sudah membuat Reni kesusahan membuat wanita itu menjauhkan wajahnya sejenak, lalu menatap tidak percaya pada Rafif yang bisa mempelajarinya dengan begitu cepat. “Waw, kamu sangat hebat!” puji Reni dengan mata berbinar ceria. “Tentu saja. Aku mudah melakukan banyak hal,” balas Rafif tersenyum sombong. Membuat keduanya tertawa bersama dengan saling menyatukan kening satu sama lain. Dalam berada di posisi cukup dekat ini membuat Reni sadar bahwa Rafif terlihat muda dan begitu kuat. “Berapa usiamu?” “Uhm ... lebih tua daripada dirimu.” “Baiklah, aku tahu. Tapi, itu berapa?” “Kenapa? Kamu ingin mengatai diriku tua?” “Tidak. Aku hanya penasaran dengan tubuhmu yang begitu kuat, tetapi wajahnya yang terlihat sangat muda.” “Astaga, jangan bercanda! Usiaku sudah menginjak kepala tiga, lebih tepatnya tiga puluh satu tahun.” “Lagi-lagi kamu membuat aku terkejut. Ternyata kita berbeda lima tahun.” Rafif tersenyum senang. Kini ia sudah mengetahui usia Reni yang sebenarnya. Namun, di saat lelaki itu hendak memutar musik pada layar di hadapannya tiba-tiba tatapan Rafif terpaku pada celana berwarna merah menantang yang terangkat akibat Reni duduk di pangkuannya. Tentu saja hal tersebut membuat Rafif mendelik tidak percaya, tetapi saat lelaki itu hendak menjauhkan tubuh Reni bertepatan sekali wanita itu mengambil gelas dengan isinya berada setengah dalam tegukan. “Reni, kenapa kamu minum?” tanya Rafif terkejut, lalu berusaha mengambil gelas tersebut. “Jangan. Kita harus menghabiskan minuman ini, Tuan! Kalau tidak, akan percuman saja kamu memesannya tanpa diminum sama sekali,” jawab Reni menggeleng keras dan menenggak dengan cepat minuman tersebut hingga tandas. Namun, Rafif sama sekali tidak mengira Reni akan memberikan minuman tersebut melalui ciumannya. Membuat ia tanpa sadar menelan begitu saja. Rafif memang tidak mudah mabuk, tetapi wanita di hadapannya benar-benar mabuk. Padahal Reni baru saja meminum satu gelas, dan kadar alkohol yang dikonsumsinya cukup kecil. Membuat wanita itu mudah mabuk dan kini berkicau sembari memeluk tubuh Rafif yang kian menegang akibat sentuhan-sentuhan aneh tercipta dari Reni. “Astaga, apa yang harus aku lakukan,” keluh Rafif menggeram tidak percaya. Ingin sekali ia meminta bantuan Lizian, tetapi lelaki itu jelas akan menggoda dirinya ketika berada di kantor. Akhirnya, Rafif pun berusaha melepaskan pelukan yang mendadak erat di pinggangnya. Hal tersebut membuat lelaki itu cukup kesulitan. Apalagi Reni mulai melompat-lompat kecil sehingga area intim Rafif yang menegak pun langsung bersentuhan menciptakan aliran listrik kejut. “Reni, diam dulu, ya. Anak manis,” ucap Rafif lembut sembari menyentuh pinggangnya agar tidak bergerak kembali. Namun, sayang sekali usaha itu sia-sia dengan Reni yang mendadak kepanasan membuat wanita itu menarik gaunnya sendiri dari bawah tepat di hadapan Rafif yang melebarkan matanya. “Panas! Panas banget! Ayo, cepat nyalakan pendingin ruangan,” pinta Reni setengah terpejam sembari menyikap rambut panjangnya ke belakang. Kemudian, wanita itu pun mengibaskan tangan kanannya ke arah da*da yang berkeringat cukup banyak. Hal tersebut membuat pikiran Rafif semakin tidak terkendali. Apalagi melihat satu set pakaian dalam itu terpampang jelas di depan matanya. “Oke, Rafif, lo perlu tuntasin masa ini juga. Satu ronde, iya satu ronde aja,” ucap lelaki itu pada dirinya sendiri sembari menggendong Reni masuk ke dalam kamar yang berada di sana. Bahkan lelaki itu melupakan gaun milik Reni yang masih berada di sofa. Sesampainya di dalam kamar, Rafif langsung membanting tubuh Reni dengan lembut ke atas kasur membuat wanita itu menggeliat kesenangan bersamaan kedua tangannya menjulur ke arah Rafif. Sejenak Rafif tampak ragu, tetapi ia menginginkan hal tersebut. Namun, akal sehatnya terus menolak. Ia tidak bisa sembarangan melakukan apa pun, terlebih dirinya seorang polisi yang bertugas melindungi masyarakat biasa. Akal sehat yang awalnya masuk menyelimuti otak Rafif pun mendadak tercemas membuat lelaki itu melepaskan jaket kulit serta kaus putih polos tersebut. Menampilkan otot perut yang tercetak jelas membuat Reni tertawa kegirangan. “Tubuhmu sangat bagus, Tuan!” puji Reni terduduk sembari menyentuh cetakan otot tersebut yang terasa dalam sembari tertawa pelan. “Kamu bisa menyentuhkan dengan puas, Reni,” balas Rafif tertawa geli. Akan tetapi, tangan lentik yang nakal itu pun mendadak berulah dengan membuka ikat pinggang sekaligus celana membaluti tubuh bagian bawah Rafif. Tentu saja tindakan tidak terduga itu membuat Rafif melebarkan matanya saat pakaian dalam miliknya terpampang jelas dengan mengembung begitu besar. “Wah, selain rajin berolahraga. Milikmu benar-benar bagus, Tuan!” puji Reni tersenyum lebar dan hendak menyentuh benda pusaka yang selama ini terjaga dengan rapi. Dengan cepat Rafif mencekal pergelangan tangan wanita itu, lalu mendorongnya kembali merebahkan diri sembari menindih dengan begitu intim. Bahkan bisa ia rasakan benda miliknya bergesekan langsung dengan milik Reni yang sudah begitu matang. “Apa kamu yakin kita melakukan ini dengan sekali pertemuan?” bisik Rafif dengan menggigit kecil telinga Reni membuat tubuh wanita itu mendadak menegang. Seakan ada aliran listrik tak kasat mata menyetrum dirinya. “Tentu saja,” jawab Reni tanpa beban sembari menarik tekuk Rafif untuk mendekati dirinya. Dalam sekejap keduanya pun kembali berciuman, kali ini terlihat begitu menuntut dengan tangan Rafif mulai merayap ke belakang tubuh Reni untuk membuka sepasang penutup yang tergantung menggoda. Di tengah kegiatannya itu tiba-tiba bayangan Regina berada di bawahnya tengah tersenyum kesenangan membuat Rafif menghentikan kegiatan. Ia teringat memiliki seorang kakak perempuan yang sering mabuk seperti ini membuat Rafif mendadak penasaran. Tentu saja ia menjadi curiga wanita itu sering datang ke tempat terlarang seperti ini. Sampai Rafif merasa penasaran apakah sang kaka sudah membuka segelnya pada orang lain. Karena hal tersebut menyalahi aturan keluarga yang selama ini dijaga ketat oleh kedua orang tuanya. Nasib baik tengah berpihak pada Rafif, tepat ketika Reni hendak memaksakan diri untuk berhubungan intim. Tiba-tiba wanita itu mendengkur halus dengan mata yang terpejam erat membuat Rafif mengembuskan napasnya panjang. Antara senang dan sedih melihat Reni tertidur pulas setelah mabuk. “Baiklah, Rafif. Lo harus mandi air dingin biar kadar suhu turun menjadi normal,” gumam Rafif pada dirinya sendiri melangkah tubuh dari ranjang, lalu menyelimuti tubuh polos Reni menggunakan selimut. Kemudian, Rafif meraih semua pakaiannya yang tergeletak di bawah. Setelah itu, ia menatap sesaat pada Reni yang tersenyum dalam tidur membuat lelaki itu tanpa sadar ikut tersenyum dan melenggang keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN