Mobil milik Rafif terhenti di sebuah rumah cukup besar tepat di dalam terdapat sebuah sedan merah terparkir sempurna menandakan salah satu anggota rumah telah kembali dari luar. Membuat Rafif tersenyum senang, lalu membuka pintu gerbang menggunakan akses wajah yang telah terdaftar di salah satu kamera pengawas.
Secara perlahan gerbang pun terbuka membuat Rafif menjalankan mobilnya masuk ke dalam, lalu memarkirkan tepat di samping sedan merah yang terlihat jauh lebih bersih. Sepertinya Regina baru saja memasukkan mobil kesayangannya ke salon hingga terlihat baru.
Tentu saja gerbang yang berada di belakang Rafif telah tertutup sempurna dengan terkunci rapat seperti semula. Membuat lelaki tampan itu melenggang masuk sembari menyampirkan jaket kulit miliknya di pundak, lalu bersiul-siul ringan masuk ke dalam.
Hal tersebut mengundang rasa penasaran Regina yang kebetulan saja tengah membawa sebuah mangkuk besar dari dalam dapur. Wanita berpakaian piyama tidur berwarna biru itu tampak mengernyitkan keningnya menghampiri sang adik setelah menaruh mangkuk besar tersebut di atas meja tepat di depan televisi.
“Raf, lo enggak habis kencan, ‘kan?” tanya Regina menelisik.
“Hah? Kenapa memangnya?” sahut Rafif tidak mengerti.
“Iya, lo pikir aja. Bagaimana bisa seorang adik kencan setelah kakaknya patah hati kemarin!” sinis Regina melebarkan matanya tidak percaya sembari melipat kedua tangan di depan da*da.
“Siapa bilang gue kencan? Bukannya lo lihat sendiri gue baru pulang dari kantor?” balas Rafif tidak mau kalah.
“Tapi, ... kenapa aroma lo mirip parfum cewek?” gumam Regina mengernyitkan keningnya bingung.
“Aah, tadi ada penyelidikan sama tim baru yang ada perempuannya,” jawab Rafif sedikit gugup. Baru kali ini ia berbohong pada sang kakak, walaupun tidak menutup kemungkinan dirinya akan terkena masalah sehabis ini.
Setelah mendengar jawaban tersebut, Regina mengangguk beberapa kali. Kemudian, melenggang pergi begitu saja meninggalkan sang adik yang parfumnya sangat menyengat. Sampai rasanya hidung Regina berdenyut sakit.
“Ya udah, sana lo buruan mandi! Nanti gue bikin mie telor,” titah Regina tegas.
Tanpa membalas apa pun lagi, Rafif pun berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan kamar Regina tepat berada di depan pintunya. Di bawah memang hanya ada ruang tamu, dapur, dan kamar mandi saja. Sisanya berada di lantai atas.
Namun, kepergian Rafif hingga larut malam seperti ini menimbulkan kecurigaan tersendiri bagi Regina. Apalagi baru kali ini sang adik menjawab tanpa menatapnya sama sekali. Seakan ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Meski ia tidak bisa menebak itu apa.
Akan tetapi, sebagai seorang kakak, Regina jelas tidak bisa menyimpan kecemasannya. Mengingat Rafif sudah cukup dewasa untuk mempunyai seorang pujaan hati. Namun, tidakkah lelaki itu merasa simpati pada dirinya yang baru saja patah hati.
Sebenarnya, Regina sama sekali tidak melarang Rafif untuk berkencan. Hanya saja lelaki itu harus mengerti waktu untuk tidak membuat dirinya merasa iri akan kedekatan seseorang. Sebab, ini sudah keempat kalinya ia gagal dalam percintaan, tetapi sukses dalam pekerjaan.
Tak lama kemudian, Rafif pun turun dengan kaus polos berwarna hitam yang dipadukan dengan celana hino cokelat selutut. Lelaki itu terlihat lebih segar dengan rambutnya masih basah akibat keramas.
“Kak, makanan gue udah matang?” tanya Rafif melangkah mendekati Regina yang terlihat asyik menonton sebuah film di depannya.
“Udah, ada di sini,” jawab Regina tanpa menatap sang adik sama sekali.
Mendengar hal tersebut membuat Rafif tersenyum lebar, lalu berlari kecil sembari melompati sandaran sofa. Pergerakan secara tiba-tiba itu menjadikan sofa bergoyang hingga Regina terkejut.
“Rafif, jangan goyang-goyang! Nanti mangkuk gue terkapar,” protes Regina kesal.
“Iya, iya,” balas Rafif menurut, lalu tersenyum lebar menatap mie telor buatan sang kakak yang entah kenapa terasa berbeda daripada dirinya makan bersama Lizian ketika di salah satu kedai.
Sejenak Regina menatap adiknya yang begitu riang menatap film di hadapannya. Membuat wanita itu lagi-lagi memincingkan mata curiga. Tidak biasa sama sekali Rafif bisa semerdeka itu tertawa tanpa beban. Setelah hidupnya dihabiskan dengan mengurung diri di kamar.
“Raf, jujur sama gue. Lo suka sama cewek, ‘kan?” tebak Regina tepat sasaran.
Tentu saja Rafif yang sibuk mengunyah itu pun langsung tersedak hingga terbatuk-batuk membuat Regina iba dan memberikan segelas air minum miliknya untuk meredakan tenggorokan Rafif.
Setelah menandaskan air mineral hingga setengah itu, Rafif pun menatap sang kakak dengan terkejut sekaligus kesal.
“Astaga, Kak, lo bisa tanyain ini setelah gue telan tadi. Jangan tiba-tiba juga dong!” sungut Rafif.
“Oke, gue salah. Jadi, lo beneran lagi suka sama cewek, ‘kan?” ucap Regina mengulangi pertanyaannya tadi.
Sejenak Rafif tampak ragu membuat Regina mengembuskan napasnya panjang. Kemudian, menaruh mangkuk yang isinya tingga rebusan telur berbentuk mata sapi. Salah satu kebiasaan Regina ketika makan mie telor, selalu saja meninggalkan telor tersebut untuk dimakan terakhir.
“Semua sikap lo udah gue paham, Rafif. Karena kita besar secara bersama-sama, jadi wajar buat gue ngenalin sikap aneh lo yang seakan menghindari tatapan gue,” sambung Regina tersenyum hangat menatap sang adik yang perlahan menundukkan kepalanya.
“Oke, gue ngaku, Kak. Sebenarnya, gue memang lagi enggak berkencan atau ketemuan sama cewek. Tapi, gue benar-benar penyelidikan kasus. Memang tempatnya agak berbeda, jadi mengharuskan gue nyamar,” ucap Rafif mengembuskan napasnya panjang, ternyata percuma saja ia menghindari tatapan sang kakak sejak tadi.
“Lantas, apa yang terjadi? Cepat, ceritain sekarang sama gue atau lo enggak akan masuk kamar sampai pagi,” ancam Regina dengan nada serius membuat Rafif sedikit ketakutan.
“Serius, Kak. Tapi, memang dalam penyelidikan itu gue sempat ketemu sama cewek yang lumayan memikat.”
“Ketemu di mana? Sampai lo bisa berubah begini?”
“Rainbow Night Club.”
“Hah?” Regina melebarkan matanya tidak percaya.
“Iya, gue lagi penyelidikan, Kak. Tapi, gue benar-benar enggak nyangka bisa ketemu sama wanita itu.”
“Wanita? Dia udah dewasa?”
“Sekitar usia dua puluh enam, jadi bisa dibilang lumayan dewasa sama gue.”
“Lo suka sama dia pandangan pertama?”
Perkataan tersebut mampu membuat Rafif tersenyum malu-malu sembari mengusap tekuknya salah tingkah. Kemudian, ia mengangguk samar mengiakan ucapan sang kakak yang begitu tepat.