Keesokkan harinya, Rafif terburu-buru menuruni tangga menuju lantai bawah untuk segera pergi ke kantor. Sebab, ia mendapat kabar dari Lizian bahwa lelaki itu menemukan petunjuk penting.
“Rafif, lo mau ke mana!?” teriak Regina ketika mendengar suara langkah kaki terburu-buru.
“Gue mau ke kantor, Kak! Hari ini gue enggak sarapan dulu!” balas Rafif setengah berteriak, lalu tenggelam di balik pintu yang tertutup.
Sedangkan Regina yang tidak hanya sekali melihat tingkah sang adik itu pun hanya mengembuskan napasnya panjang. Ternyata memiliki pekerjaan yang cukup merepotkan membuat dirinya harus tetap sabar dengan sang adik.
Kemudian, Rafif menjalankan mobilnya keluar dari garasi dan mulai membelah jalanan ibukota yang super padat. Akan tetapi, tidak ada kemacetan yang terlihat. Karena semua jalan yang berada di sini begitu teratur dengan bergerak sepanjang arah mengurai kemacetan.
Namun, kelemahannya para pengemudi sama sekali tidak bisa melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata. Karena hal tersebut akan menimbulkan kecelakaan yang tidak terhindarkan.
Tak lama kemudian, mobil jeep berwarna hitam itu pun terhenti tepat di parkiran khusus mobil detektif membuat Rafif turun dan berlari dengan cepat masuk ke dalam. Ia ingin mempersingkat waktu untuk menemui Lizian, sebelum lelaki itu melaporkannya kepada pihak yang menjadi penanggung jawab.
Sesampainya di ruangan, Rafif sama sekali tidak melihat kehadiran Lizian membuat mata lelaki itu melebar, lalu membalikkan tubuhnya yang bertepatan sekali menghadap seorang gadis berpakaian jaket kulit hendak masuk melalui pintu di belakangnya.
“Zian, di mana?” tanya Rafif tanpa basa-basi.
Gadis itu mengernyit bingung, lalu menjawab, “Kak Zian bilang mau ke atas tadi.”
“Oke, makasih,” pungkas Rafif kembali berlari membuat gadis asing yang bisa dikatakan pengganti lelaki itu pun mengernyit tidak percaya. Namun, ia lebih memilih untuk mengabaikannya saja.
Lagi pula memang tidak ada urusannya untuk mengetahui semua yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Sebab, hal tersebut sudah masuk dalam ranah informasi pribadi, dan hanya orang yang bersangkutanlah bisa menjawabnya sendiri.
Rafif mengembuskan napasnya lega ketika mendapati Lizian berada di ruangannya tengah menatap ke arah luar jendela. Di dalam ruangan tersebut terdapat Veera yang terlihat asyik menatap papan kasus di hadapannya.
Akan tetapi, pemandangan Veera teralihkan sejenak ketika mendengar suara langkah berlari cukup keras. Bahkan Franky yang biasanya tidak terusik pun mendadak mengangkat kepala membuat Rafif seketika membeku di tempat.
Saat Franky kembali menatap buku kasus tersebut, Rafif pun melangkah dengan hati-hati menghampiri Lizian yang tersenyum geli. Rafif benar-benar terlihat berbeda di ruangan kerja barunya.
“Kita jangan ngomong di sini. Ayo, ikut gue!” bisik Rafif tepat di telinga Lizian.
“Baiklah, ayo!”
Kemudian, mereka berdua pun keluar secara bersamaan. Tak lupa Rafif menutup pintu ruangan tersebut agar Franky tidak terganggu dalam penyelidikannya. Karena lelaki itu akan sangat marah jika pekerjaannya diganggu.
Kini Lizian dan Rafif sudah berada di ujung lorongn yang menjadi lantai khusus para detektif penanganan kasus besar, seperti yang tengah dilakukan oleh Rafif bersama anggota tim lain.
“Ruangan lo terlalu senyap, Raf. Gue aja baru datang tadi merasa canggung banget,”keluh Lizian mengembuskan napasnya lega.
“Pantas aja gue lihat wajah lo kayak enggak nyaman gitu. Ternyata karena masalah ini. Ketua Franky memang begitu, Zian. Dia selalu serius sama pekerjaannya, tapi dia termasuk orang baik kok. Karena orang pertama yang gue kenal dan nyapa gue ketika pindah itu, ya Ketua Tim Franky.”
“Wah, bermatabat sekali Ketua Franky itu, tapi gue tetap aja ngerasa canggung. Apalagi di dalam tadi sama sekali belum ada orang.”
“Veera belum datang?”
“Maksud lo cewek yang lihat papan kasus itu?”
“Iya, dia Veera, rekan kerja gue.”
“Kayaknya dia baru datang juga. Gue enggak terlalu paham.”
“Memangnya lo ke mana sampai enggak tahu?”
“Gue? Ya di dalam ruangan itu, tapi tetap aja gue enggak bisa melihat ke arah orang lain.””
“Jadi, apa yang mau lo ceritain?” pungkas Rafif menatap serius sekaligus lurus ke depan.
Sedangkan Lizian yang berada di hadapan lelaki itu langsung mengembuskan napasnya panjang. Kemudian, mengangguk singkat menandakan ia sudah siap berbagai cerita demi memenuhi penyelidikan.
“Beberapa hari yang lalu, saat gue masih menjenguk Zyrach di rumah sakit. Gue sempat mendengar omongan dari beberapa suster yang bilang kalau di ruangan Zyrach sering kedatangan banyak orang. Tapi, enggak ada yang tahu asalnya dari mana. Mereka selalu datang secara rombongan, dan pas diselidiki malah menghilang.”
“Maksudnya, orang-orang itu punya kekuatan super?” Rafif mengernyit tidak percaya. Seakan ia mengatakan hal yang mustahil orang-orang seperti itu ada di dunia nyata.
“Dan, kemarin gue nyamar jadi penjaga salah satu di sana. Memang beberapa kali ada sekitar empat atau lima dokter yang masuk ke dalam ruangan, tapi anehnya mereka sama sekali enggak membawa catatan medis. Hanya kereta obat dengan suster yang kelihatan aneh di sampingnya.”
“Terus?”
“Gue nemuin hal tidak terduga.”
“Apa itu?”
“Anggota organisasi gelap LUCA.”
Bagaikan tersengat aliran listrik, lagi-lagi permasalahan mengarah ke sana membuat Rafif menatap tidak percaya. Entah kenapa ia merasa telah terjadi sesuatu di anggota tersebut. Seakan mereka ingin menghalangi seseorang yang hendak memperlihatkan, lebih tepatnya mengekspose semua perbuatan mereka selama ini.
Namun, pada detik itu juga, tiba-tiba ponsel Rafif berbunyi membuat lelaki itu tanpa pikir panjang mengangkatnya. Sedangkan Lizian terdiam sembari berpikir keras mengenai semua hal yang telah terjadi belakangan ini.
Tentu saja mengusik anggota keluarga kemiliteran jelas memiliki nyali yang cukup besar. Apalagi sampai membuatnya terdiam di rumah sakit hingga hari ini.
“Oke, gue ke sana sekarang!” putus Rafif memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
“Apa yang terjadi, Raf? Lo mau pergi lagi?” tanya Lizian penasaran.
“Kakak gue kena masalah di kantornya,” jawab Rafif mengusap wajahnya kasar.
“Hah? Kok bisa?”
“Enggak tahu. Gue susul Regina dulu. Lo di sini terus awasin semua pergerakan mereka. Karena gue merasa rumah sakit ini agak sedikit bermasalah.”
“Ya udah, lo bisa percayain semuanya sama gue. Tenang aja.”
“Gue pergi dulu!” pamit Rafif berlari menyusuri lorong rumah sakit untuk mempersingkat perjalanannya. Sebab, ia bisa mendengar suara keributan dari sang kakak yang memenuhi panggilan.
Tentu saja lelaki itu tidak ingin terjadi sesuatu pada siapa pun yang berurusan dengan sang kakak. Karena wanita itu akan sangat kejam jika terjadi sesuatu yang menyangkut kehidupannya. Bahkan Regina tidak segan-segan membuat hidup orang tersebut menjadi tidak tenang.
“Ayolah, Kak, apa lagi yang lo perbuat di kantor,” gumam Rafif mempercepat laju mobilnya membelah jalanan padat merayap dengan beberapa kendaraan tampak melewati jalan bawah tanah, demi mempersingkat waktu.