“Bos, apa yang harus kita lakukan? Semua rencana kita kacau akibat ulah dari seorang polisi muda yang mendadak ikut bersama Frangky.”
Terlihat beberapa pengawal berpakaian hitam berdiri rapi tepat di sisi pintu ruangan seorang yang paling berpengaruh. Kepala mereka menunduk seiring dengan kepulan asap terlihat jelas di balik kursi kantor yang berbalik membelakangi.
Sedangkan di sampingnya tampak seorang lelaki yang tidak asing tengah memainkan ponsel sembari sesekali memakan cemilan di depannya. Kemudian, beberapa komplotan yang sempat menculik Rafif pun berlutut meminta ampun.
“Apa yang kalian semua katakan tadi? Seorang polisi muda?” tanya seseorang lelaki yang perlahan memutar kursinya menampakkan diri dengan setelah jas mahal berwarna cokelat tua.
“Iya, benar. Kami tebak dia baru saja masuk beberapa hari, karena Franky tidak mengatakan apa pun tentang hal ini,” jawab seorang pemimpin dari komplotan yang menculik Rafif sembari menunduk dalam.
“Cepat hubungi, Franky!” titah lelaki pemimpin itu tegas membuat beberapa anak buahnya langsung berdiri ketakutan.
“Baik, Bos Theo!”
Kemudian, enam orang berpakaian preman itu pun keluar dari ruangan membuat seorang lelaki yang terlihat asyik memainkan ponsel langsung menegakkan tubuhnya kembali, lalu menatap Theo dengan pandangan menyirat sesuatu.
“Kalian semua keluar dulu! Aku ingin mengatakan sesuatu pada Ethan,” titah Theo pada anak buahnya yang masih berjaga di dalam.
Satu per satu mereka pun keluar, tinggallah Theo dan Ethan yang masih berada di dalam sembari saling berpandangan. Sampai Ethan bangkit dari tempat duduknya, lalu memperlihatkan sesuatu di ponselnya.
“Ini polisi muda yang dikatakan tadi bernama Rafif. Dia sudah menangani banyak kasus, termasuk perampokan di salah satu bank terbesar. Tentu saja hidup dan mati sudah lelaki itu lewati dengan mudah,” ucap Ethan menjelaskan sesuai dengan berita yang telah dibaca tadi.
“Jadi, maksudmu, Rafif sangat berbakat dengan semua hasilnya selama ini?” tanya Theo tersenyum lebar.
“Iya. Kamu bisa menggunakannya, Bos. Karena aku lihat Franky sudah kehilangan kepercayaan dari atasannya sampai diberikan anak baru seperti Rafif yang jelas-jelas dari departemen lain,” jawab Ethan tersenyum iblis sembari meyakinkan bosnya untuk mengajak lelaki itu bekerja sama.
“Tapi, aku lihat dia tidak mudah dibujuk. Apa kamu mempunyai cara tentang ini?” tanya Theo berminat.
“Tenang saja. Sudah aku atur semua pertemuanmu dengan Rafif,” jawab Etha tersenyum singkat, lalu menatap arloji yang ada di tangan kirinya. “Sepertinya waktu telah tiba, Bos. Kamu bisa menemui Rafif dengan mudah.”
“Apa maksudmu?”
“Dia sedang berada di kantor pusat. Kamu bisa menemuinya langsung, karena kebetulan sekali kakaknya terlibat masalah di perusahaan tentang hak cipta yang sejak kemarin dipermasalahkan.”
“Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, kamu tetaplah di sini dan terus awasi mereka. Karena kalau sampai polisi menemukan hal ini, maka jangan harap kamu bisa hidup tenang, Ethan,” pungkas Theo menarik kerah jas yang dikenakan oleh Ethan, lalu merapikannya secara singkat dengan menatap dingin. Seakan ada sebuah ancaman di sana membuat Ethan tidak bisa berkutik.
Setelah kepergian Theo yang hendak melihat sesuatu di perusahaannya, kini Etha pun berada di ruangan tersebut seorang diri sembari memikirkan sesuatu yang sempat mengusik benaknya. Entah kenapa ia merasa telah terjadi sesuatu. Seakan ada hal besar yang akan menimpa dirinya.
Akan tetapi, Ethan tidak bisa menebaknya secara langsung. Selain, dirinya hanya merasa tidak asing dengan nama-nama yang baru saja disebutkannya. Namun, Ethan tidak ingin membebankan pikiran dengan memikirkan banyal hal.
Setelah itu, Ethan pun keluar dari ruangan sembari membawa tas kerjanya. Lelaki itu melenggang pergi menyusuri lorong mansion besar yang dijaga oleh beberapa pengawal. Tentu ada pula kamera pengawas yang merekam pada titik buta mata seseorang.
“Direktur Ethan, Bos mau ke mana?” tanya salah satu pengawal yang penasaran.
Etha membalikkan tubuhnya bingung, lalu menatap dengan penuh selidik pada pengawal yang terlihat tidak asing. “Bukan urusanmu. Lagi pula kamu diam-diam saja di sini dan jaga dengan baik. Tidak perlu ikut campur urusan orang lain.”
Kemudian, Ethan pun melenggang pergi begitu saja dengan kepala yang beberapa kali menggeleng tidak percaya sekaligus tidak mengerti. Lalu, lelaki itu pun masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam bersama supir pribadinya menuju salah satu tempat yang selama ini dirahasiakan dan menjadi tameng bagi perusahaan lain.
Sementara itu, di sisi lain tampak gedung megah nan mewah di depan mata Rafif membuat lelaki itu mengembuskan napasnya berat. Baru kali ini ia datang ke kantor tempat sang kakak bekerja. Bukan karena identitasnya sebagai polisi, melainkan Regina sendiri yang tidak menginginkan adiknya datang.
Entah apa yang ada di pikiran wanita itu sampai melarang Rafif datang. Padahal dirinya sama sekali tidak melakukan hal yang merugikan, tetapi Regina tetap saja melarang dengan keras. Membuat Rafif tidak mempunyai hal lain, selain menuruti kemauan wanita itu.
“Permisi, saya adik dari Regina yang baru saja ditelepon oleh kantor ini,” ucap Rafif pada dua resepsionis cantik di hadapannya.
“Oh, Rafif, ya? Mari ikuti saya!” balas salah satu resepsionis itu dengan sopan mengantarkan Rafif menuju departemen yang kini terjadi keributan.
Dari kejauhan Rafif mendengar secara samar-samar semua perkataan sang kakak membuat lelaki itu mempercepat langkahnya. Sampai tidak sadar bahwa resepsionis di sampingnya berusaha menyamakan langkah sembari sesekali tergelincir akibat high heels yang tidak menapak sempurna pada lantai.
“Ini ruangannya, silakan masuk!” titah wanita itu menahan perih di kakinya.
Sedangkan Rafif sebelum masuk sempat mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, lalu memberikan benda tersebut pada resepsionis di sampinganya yang tampak terkejut.
“Jangan lupa diobati dan gantilah sepatu yang nyaman. Jangan sampai memaksakan diri,” ucap Rafif melenggang pergi begitu saja.
Membuat wanita tadi tersenyum malu-malu menerima pemberian lelaki tampan yang ada di sampingnya. Kemudian, dengan cepat wanita itu pergi meninggalkan sebuah ruangan pertemuan yang kini terlibat aura kemarahan cukup panas.
Rafif bisa melihat dengan jelas bagaimana emosinya sang kakak sampai dipegangi oleh banyak orang. Wanita itu ternyata hendak menyerang salah satu petinggi membuat Rafif melebarkan matanya, lalu berlari cepat menghampiri sang kakak yang mulai memberontak.
Dengan memeluk tubuh wanita itu, Rafif berkata, “Sudah, Kak. Jangan dilawan lagi, lo masih ada di kantor!”
Regina menghentikan kegiatannya sejenak, lalu mengernyit tidak percaya. Namun, sayang sekali wanita itu sudah kepalang tanggung marah membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
“Siapa yang manggil adik gue ke sini!? Hah!? Ayo, ngaku!” bentak Regina penuh amarah membuat Rafif mengembuskan napasnya putus asa. Ketika wanita itu marah memang tidak ada siapa pun yang bisa meredakannya, sekalipun itu adalah Rafif.