19. Menarik Perhatian Rafif

1044 Kata
“Ada apa ini?” Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dari belakang membuat semua yang ada di ruangan itu pun menoleh, terlebih Rafif yang langsung mengernyitkan keningnya bingung. Tentu saja Rafif merasa seperti pernah melihat lelaki tersebut sebelumnya. Namun, karyawan yang berada di belakang Rafif tampak membungkuk hormat, termasuk Regina. Meskipun wanita itu terlihat malas-malasan sekaligus kesal. “Pimpinan Vald!” sapa mereka semua secara bersamaan. Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu pun melenggang masuk ke dalam, lalu menatap Rafif dengan senyuman lebar. Kemudian, mendudukkan diri di salah satu kursi meja panjang yang biasa digunakan untuk melakukan pertemuan. “Duduk, dan ceritakan apa yang sedang terjadi!” titah Theo mengkode pada karyawan di depannya untuk duduk. Akhirnya, empat lelaki berjas formal, satu wanita karir cantik, dan Rafif yang sejak tadi berdiri kaku pun duduk tepat di samping sang kakak. Tentunya lelaki itu tampak sedikit tidak mengerti apa yang membuat Regina bisa sampai semarah itu. “Nona Regina tidak terima saat presentasinya kami hentikan, Pimpinan Vald,” celetuk salah satu lelaki berjas biru dengan setengah menyindir. Sontak Regina pun langsung menoleh dengan mata yang mendelik tidak percaya, lalu wanita itu pun menunjuk sorot marah. “Siapa yang enggak marah lo lagi ngomong panjang lebar tiba-tiba dihentikan!? Lo pikir gue lagi mainan di depan sana? Ya gue kerjalah!” “Kak, udah,” ucap Rafif berusaha menurunkan tangan sang kakak sembari berusaha menenangkan wanita tersebut. “Enggak bisa. Raf! Enak aja dia bilang begitu sama Pimpinan Vald! Enggak terima gue,” tolak Regina menggeleng cepat, lalu menatap sinis ke arah rekan departemen yang menjalin kerja sama dengan dirinya. “Sudah, sudah. Ternyata ini hanya salah paham saja. Kalau begitu, kita bisa mendengarkan apa yang akan diutarakan oleh Nona Regina. Lagi pula ini juga untuk masa depan Valder Logistic, bukan?” pungkas Pimpinan Vald mengkode agar Regina tetap tenang. Setelah itu, rapat pun kembali tenang dengan Theo yang menjadi penengah sekaligus pemimpin rapat. Entah apa yang membuat lelaki itu bisa datang ke sana, bahkan mengundang banyak pertanyaan bingung. Sebab, bisa dikatakan lelaki itu hampir jarang sekali datang ke perusahaan, kecuali tanda tangan kerja sama dan pengiriman barang dalam jumlah besar. Menghormati perusahaan kerja sama yang selama ini sudah memakai barang dan jasa miliknya. Satu per satu rekan kerja yang sempat dalam situasi menegangkan itu pun membubarkan diri. Tak lupa Rafif ikut bangkit bersama sang kakak. Namun, Theo yang melihat hal tersebut langsung mencegahnya. “Tunggu sebentar, Nona Regina!” panggil Theo bangkit dari tempat duduknya. Sedangkan Regina tampak mengernyit bingung, lalu bertanya, “Ada apa, Pimpinan Theo?” “Tidak ada. Aku hanya ingin bertanya, apakah dia adikmu?” Theo menatap Rafif tersenyum ramah. Salah satu kebiasaan lelaki itu ketika bertemu dengan orang baru untuk memikat. Ia tidak akan lupa tentang Rafif yang menjadi anggota baru menyelidiki organisasi gelap miliknya. Regina mengangguk singkat. “Iya, dia adikku.” “Apakah dia sudah bekerja? Maksudku, dia bisa juga bekerja di sini bersamamu. Karena aku lihat dia begitu tangkas memperhatikan sekaligus membenarkan semua teknik bicaramu di depan tadi.” “Maaf, Pimpinan Vald. Adikku sudah bekerja di kepolisian. Dia datang ke sini bukan mencari pekerjaan.” “Oh, tidak masalah. Aku hanya bertanya tadi. Karena aku berpikir akan lebih baik jika kalian berdua di sini saling melindungi.” “Aku tidak perlu dilindungi, Pimpinan Vald. Lagi pula kedatangan Adikku ke sini berkat panggilan seseorang yang menyangka aku akan meruntuhkan tempat ini.” Theo tertawa lepas membuat Rafif yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum tipis. Tentu saja lelaki berprofesi sebagai detektif itu pun merasa ada sesuatu yang mencurigakan. “Ternyata Nona Regina suka bercanda, ya. Kalau begitu, kamu bisa pergi,” pungkas Theo mengangguk singkat. Setelah mendengar perkataan itu, Rafif pun membawa sang kaka sebelum wanita itu membalas perkataan pemimpinnya. Ia harus bergerak cepat sebelum melupakan semua perkataan yang sejak tadi menarik-nari di kepalanya. Rafif membawa sang kakak di sebuah tempat istirahat outdoor yang terhiasi beberapa meja berpayung elegan. Menjadikan kantor ini sedikit lebih baik untuk ukuran sebuah perusahaan sibuk. Karena para karyawannya dibawa untuk menenangkan diri ketika terlalu sibuk bekerja. “Kak, kenapa lo bisa hilang kendali seperti tadi? Gue hampir enggak ngenalin lo sama sekali gara-gara terlalu marah tadi,” tanya Rafif membawa sang kakak duduk di salah satu kursi yang telah ia tarik. Wanita yang tengah memeluk laptop itu pun mengembuskan napasnya panjang, lalu duduk sembari menjawab, “Namanya juga kerjaan, Raf. Tapi, gue enggak habis pikir mereka sampai nelepon lo yang jelas-jelas lagi tugas. Memangnya lo enggak sibuk sampai bisa ke sini?” “Sebenarnya, ya sibuk juga, Kak. Tapi, siapa sih yang enggak ke sini pas dengar kakaknya terlibat masalah? Jelas gue bakalan langsung nyamperin lo, karena prioritas gue itu keluarga bukan kerjaan.” “Gue sedikit terharu saja ucapan lo, Raf.” Senyum bangga sekaligus percaya diri itu membuat Regina terlihat jauh berbeda daripada di dalam tadi. “Oh ya, sekarang gue udah selesai mau lanjut kerja. Lo mau tetap di sini atau balik lagi ke kantor?” Sejenak Rafif menatap arloji yang ada di tangan kirinya, lalu berkata, “Gue mau ke rumah sakit dulu, Kak. Mungkin gue agak malam baru pulang.” “Siapa yang sakit?” tanya Regina terkejut. “Kenalan Lizian dari BIN. Kemarin dia kecelakaan dan masuk ke rumah sakit. Sekarang belum sadarkan diri, jadi gue harus tetap di sana sampai dia sadar dan ngasih tahu semuanya,” jawab Rafif menyandarkan tubuhnya lelah. “Kecelakaan di mana? Cewek apa cowok? Kok bisa?” tanya Regina beruntut membuat Rafif tertawa pelan. “Astaga, satu per satu, Kak. Yang kecelakaan cewek tepat di depan kantor polisi. Untuk alasannya, gue juga enggak tahu. Sampai sekarang belum ada motif yang jelas tentang kecelakaan itu. Tapi, yang pasti dia belum sadar di rumah sakit.” Regina menatap prihatin pada rekan kerja Rafif yang ternyata seorang perempuan. “Gue boleh ke sana jenguk juga enggak?” “Boleh. Nanti gue kirim alamat rumah sakitnya,” jawab Rafif mengangguk singkat. Setelah itu, Regina pun tersenyum senang sekaligus berpikir untuk membawa buah tangan ketika menjenguk rekan Rafif nanti tepat sepulang kerja. Tentu saja sebagai seorang yang paling dekat dengan lelaki itu, Regina harus memberikan banyak perhatian. Apalagi Rafif tidak pernah bercerita tentang apa pun pada dirinya. Membuat ia harus mendekatkan diri dengan lelaki tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN