Sepulang kerja, Regina pun langsung melajukan mobilnya menuju salah satu rumah sakit terkenal. Ia menatap gedung tinggi bernuansa putih sekaligus merah yang menjadi lambang medis.
Tak lama kemudian, Rafif pun datang bersama seorang lelaki yang ternyata seusianya. Bisa dilihat mereka berdua tampak dekat membuat Regina tanpa sadar tersenyum hangat. Selama ini Rafif tidak pernah bercerita lelaki itu memiliki seorang sahabat.
“Wah, ini Kak Regina, ‘kan?” sapa seorang lelaki tampan dengan senyuman lebar berlesung pipi sebelah kiri yang begitu khas.
“Oh, kamu mengenalku?” Regina melebarkan matanya terkejut, lalu menatap sang adik dengan menyipitkan mata penuh selidik. “Apa kamu sering menceritakan tentang diriku, Rafif? Semoga saja itu hal baik.”
Namun, Rafif hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Ini Lizian, Kak.”
“Halo, Lizian!” sapa Regina balik sembari tersenyum manis membuat lelaki itu sedikit tersipu malu.
“Kita pernah bertemu, Kak. Walaupun sekali,” ucap Lizian membuat kening mulus wanita cantik di hadapannya berkerut bingung.
“Di mana, ya?”
“Sewaktu Rafif enggak pulang, Kakak pernah mendatangi kantor polisi dan bertemu aku di sana.”
“Oh, iya benar. Maaf aku sedikit lupa mengingat sesuatu yang sudah lama.”
“Tidak apa-apa,” sanggah Lizian tertawa pelan sembari menggeleng beberapa kali.
Setelah itu, ketiganya pun melangkah bersamaan dengan Lizian yang terus saja banyak bercerita dengan Regina tentang Rafif ketika berada di kantor begitu cuek dan dingin. Bahkan hal tersebut mampu membuat Regina tergelak tidak percaya.
Tidak ada yang menyangka bahwa lelaki tampan selama ini bersikap aneh ketika berada di rumah nyatanya idaman semua wanita di kantor. Hanya karena sikap dingin dan cueknya pada banyak wanita.
Hal tersebut membuat Rafif sedikit kesal, tetapi ia tidak bisa menyanggah. Karena semua yang dikatakan Lizian memang benar. Dirinya tidak pernah bersikap biasa pada orang lain, selain Reni tentunya.
Entah apa yang dilakukan wanita itu membuat Rafif tiba-tiba memikirkannya. Apakah mereka akan bertemu lagi? Atau dirinya harus ke sana demi melepas rindu bukan mencari petunjuk? Rafif harap, dirinya tidak akan terjebak ketika baru saja memulai jatuh cinta.
Sesampainya di ruangan Zyrach, banyak sekali anggota tentara yang berjaga di depan pintu sembari menatap Regina penuh selidik. Namun, saat dijelaskan oleh Lizian, akhirnya mereka pun melepaskan pandangan.
Tentu saja tidak akan menyangka bahwa Regina adalah kakak dari Rafif yang selama ini dikenal menyendiri. Ternyata memiliki seorang kakak begitu cantik dan dewasa. Hanya saja wanita itu selama ini belum memiliki pasangan hidup membuat dirinya merasa belum sempurna.
“Hai, Zyrach! Semoga cepat sembuh, ya,” sapa Regina tersenyum manis membuat Perwira Jarvis yang asyik membaca buku langsung mengangkat kepalanya bertepatan sekali dengan tatapan mereka berdua bertemu.
Dalam sekejap suasana hening dengan tatapan Jarvis tidak lepas dari seorang wanita cantik sekaligus anggun yang berada di depannya. Wanita yang berada di dekat Rafif itu membuat jantung Jarvis hilang kendali. Ia langsung berdeham pelan menetralkan tenggorokannya yang mendadak kelu kedatangan wanita cantik nan asing tersebut.
Jarvis melangkah mendekat membuat Rafif yang menyadarinya langsung mengkode pada sang kakak untuk berbalik.
“Perwira Jarvis, perkenalkan ini Kakaku bernama Regina. Dia tulus datang ke sini untuk memberikan doa restu agar Zyrach cepat siuman,” ucap Rafif menoleh sesaat pada sang kakak yang menatap penuh kebingungan, tetapi ketika sadar wanita itu langsung tersenyum manis.
“Hai, Perwira Jarvis!”
Awalnya Jarvis tampak gugup. Baru kali ini ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang hanya karena melihat seorang wanita. Apakah ia sakit jantung? Sepertinya tidak.
Alih-alih membalas dengan tergagap, Jarvis hanya mengangguk singkat. Membuat Lizian dan Rafif yang melihatnya tersenyum tipis. Nyatanya lelaki dingin seperti Jarvis pun merasa salah tingkah pada kecantikan alami milik Regina.
Regina yang terbiasa ramai pun langsung bertanya pada adiknya, “Raf, nama rekan kerja lo ini Zyrach?”
“Iya, Kak. Zyrach ini adiknya Perwira Jarvis,” jawan Rafif mengangguk singkat.
“Terus, kenapa itu di depan banyak banget tentara?” tanya Regina lagi. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Jarvis yang sudah merasa lebih tenang pun menjawab, “Tentara itu prajurit di bawahku yang khusus menjaga keamanan di sini.”
“Hah? Ka ... kamu tentara!?” pekik Regina terkejut membuat Rafif mengembuskan napasnya panjang.
“Iya,” jawab Jarvis tersenyum geli. “Memangnya kenapa? Kamu terlihat begitu terkejut.”
“Ternyata benar perkataan Rafif tadi, kalau pasien gadis ini dipenuhi oleh militer,” gumam Regina menggeleng takjub, lalu menoleh pada Zyrach dengan penuh antusias. “Zyrach, kamu harus cepat bangun, ya! Biar kita berbagai cerita bersama.”
“Maafkan Regina, Perwira Jarvis. Dia memang seperti itu,” sesal Rafif mewakili sang kakak yang begitu heboh.
“Tidak apa-apa. Aku tahu Regina pasti terkejut mendengarnya,” balas Perwira Jarvis menggeleng pelan.
“Bukan!” sahut Regina cepat. “Aku hanya mengingat semasa ketika Ayah kita masih bekerja sebagai Jenderal.”
“Tentara juga?” timpal Lizian terkejut. Baru kali ini ia mendengar sisi lain dari sahabatnya yang begitu tertutupi.
Regina mengangguk sembari tersenyum kecut. Menandakan wanita itu enggan membahas lebih lanjut membuat Rafif yang mengerti situasi pun langsung mengambil alih.
“Ayah memang seorang jenderal, tapi gugur ketika melakukan tugasnya. Jadi, setidaknya melihat Zyrach seperti ini membuat Kakak merasa mengingat dirinya sendiri,” imbuh Rafif tersenyum tipis.
Seketika Jarvis mengangguk pelan sembari menatap ekspresi kesedihan terpancar dari wajah cantik yang kini menunduk sembari memandangi wajah adiknya dengan sendu. Hal tersebut membuat hatinya sedikit menghangat. Karena selama ini Zyrach hanya seorang diri sebagai perempuan di rumah.
“Perwira Jarvis, bagaimana perkembangan Zyrach?” tanya Rafif mengalihkan perhatian lelaki itu yang terlihat asyik memandangi sang kakak. Tentunya sebagai seorang lelaki, ia bisa melihat tatapan penuh kekaguman itu.
Bukan Rafif tak ingin sang kakak bersama atasannya, tetapi ia hanya menginginkan sang kakak mengejar kebahagiaannya sendiri. Meski bersama lelaki mana pun agar wanita itu bahagia. Hanya saja untuk bersama seorang tentara, Rafif agak merasa berat hati.
Tentu saja ia hanya tidak ingin kejadian pada sang ayah yang menimpanya kala itu akan menjadi nasib Regina pula. Ia ingin wanita itu tetap bahagia sepanjang hidupnya tanpa merasa kesedihan yang mendalam. Walaupun tidak dapat dipungkiri ajal tetap datang.
“Sudah lebih baik. Hanya saja dokter masih belum bisa memprediksi kapan Zyrach bangun. Karena masih perlu melakukan pengecekan lebih lanjut mengenai kepalanya yang sempat terbentur. Ada kemungkinan dia mengalami gegar otak kecil,” jawab Jarvis mendadak lemah.
Sedangkan Regina yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka pun langsung terkejut. Ia tidak tahu bahwa kecelakaan menimpa gadis yang terbaring lemah ini begitu keras. Bahkan ia lebih tidak percaya lagi Zyrach akan mengalami lupa ingatan. Tentunya hal tersebut pukulan terbesar bagi keluarga yang kini berusaha menguatkan hatinya.