Kehilangan Orang tuanya

1724 Kata
Wali kelas Ellion berbicara langsung pada kepala sekolah mengenai apa yang telah dia lihat tentang Ellion tadi, beberapa fakta yang selama ini sudah dia dapatkan menurutnya sangat wajib di tangani pihak sekolah. Di akhir percakapan mereka sepakat untuk berkunjung ke rumah Ellion besok setelah ujian selesai. Sementara itu si wali kelas akan menelpon orang tuanya. Ellion melanjutkan pekerjaannya, tinggal satu tahap lagi dia sedang menjemur pakaian tepat di matahari yang sedang terik-teriknya. Orang-orang di sekitar hanya melewat dan menatapi Ellion dengan tatapan kasihan, mereka semua sudah tahu bagaimana Ellion di perlakukan oleh ke dua orang tuanya. Namun apa boleh buat, mereka tidak pantas untuk terlibat dalam permasalahan keluarga orang lain. Ibu Ellion tiba-tiba pulang dan menatapi anak semata wayangnya dengan senyuman yang puas, Ellion membalas senyumannya. Ini yang selalu dia harapkan dari ibunya, sebuah senyuman yang dengan sekejap mengubah rasa lelah Ellion menjadi kebahagiaan yang tak terbendung. Meski dia sendiri tahu ibunya tidak tersenyum dengan tulus. “Ibu udah pulang?” Sapa Ellion Dia hanya memutar bola matanya kesal lalu masuk ke dalam rumahnya. Ellion menatapi kepergian ibunya dan segera mengejar ibunya ke dalam dengan ember di tangannya, dia lalu segera menyimpan embernya di kamar mandi. “Mau makan?” tanya ibu Ellion yang sudah duduk di karpet tempat mereka makan Ellion yang baru keluar dari kamar mandi lalu tersenyum merekah dan segera mengangguk “Mau bu” jawabnya bersemangat lalu segera duduk di samping ibunya dan makan bersamanya. Mereka memakan makanan sisa tadi pagi. “Makanannya abis ya bu? Kalau ayah mau makan apa? Ellion takut ayah marah nanti karena makanannya di abisin kita” gerutu Ellion menatapi piring piring yang sudah kosong itu Ibunya menatapi Ellion marah “Kenapa sih kamu malah bahas bahas ayah kamu! Makanan abis ya biarin, jadi enggak mood tau makannya” ucapnya dengan intonasi nada yang tinggi Ellion lalu menunduk takut “Maaf bu, maafin Ellion. Ell Cuma khawatir” lirihnya “Ayah kamu itu enggak perlu di khawatirin, toh salah siapa juga kerja enggak pernah bener” tambah ibunya lagi masih dengan intonasi yang tinggi Ellion pun memilih terdiam dan melanjutkan makannya saja. Meski pun sejak itu ibunya terus mengomel dan mengata-ngatai ayahnya. Mereka sudah selesai makan dan keluar dari dapur. Ellion segera masuk ke kamarnya dan membaca beberapa buku pelajarannya, karena dia yakin besok dia akan menyusul ulangan hari ini yang tertinggal. Sementara itu ibunya merebahkan diri di kasur sembari memainkan ponselnya, tiba-tiba dia mendapat sebuah telpon dari seseorang. Nomor itu tidak terdaftar di ponselnya. “Siapa nih yang nelpon, hmm nomor siapa ya” gerutu ibu Ellion dengan mengerutkan keningnya lalu segera mengangkat telponnya “Hallo siapa ni?” ujar ibu Ellion “Hallo, selamat sore dengan ibunya Ellion Kingsley?” jawab seseorang yang merupakan suara perempuan Dia membuang nafasnya berat, dia sudah memiliki pikiran buruk tentang hal ini. “Iya, ini dengan siapa ya?” tanya dia penasaran “Saya wali kelasnya Ellion bu, saya menelpon karena ingin bertanya kenapa hari ini Ellion tidak bisa masuk sekolah ya bu? Padahal hari ini harinya ujian lho, sangat penting sekali dan Ellion seharusnya mengikuti ujian” jelas ibu guru itu dengan suara yang lembut Ibu Ellion memutar bola matanya kesal “Dia hari ini enggak enak badan makanya enggak masuk bu, tenang aja besok dia juga masuk ke sekolah kok. Dia juga bakal susul ujiannya yang ketinggalan, ibu enggak usah khawatir” jawab ibunya dengan nada suara yang tak santai “Hmm, baik bu. Saya mohon maaf karena sudah mengganggu waktu ibu ya. Saya cuman-“ ujar guru itu lagi lalu suaranya terpotong karena ibu Ellion yang langsung mematikan sambungan telponnya. Dia menaikkan sudut bibirnya kesal “Banyak bacot banget nih guru, enggak tau masalah keluarga orang apa ya! Jadi bikin kepala makin sakit aja sialan! Lagian cuman sehari Ellion gak masuk sekolah kok baper” kesalnya lalu melempar ponselnya ke kasur Ibu Ellion bangun dan langsung berjalan ke arah kamar Ellion, dia melihat anaknya yang sedang rajin belajar. Dia lalu tersenyum menyungging. “Cih, pantas aja gurunya nanya-nanyain toh ternyata kamu itu anak yang rajin ya Ellion” ujar sang ibu Ellion langsung menatap ke arah ibunya yang berdiri di ambang pintu “Ma- maksud ibu?” tanya dia bingung “Baru aja wali kelas kamu nelpon tanya kenapa kamu enggak masuk sekolah, hahh nyebelin banget” gerutu ibunya lalu hendak pergi dari sana Ellion langsung bangun dan menghampiri ibunya “Terus ibu jawab apa?” tanyanya khawatir “Apa lagi? Ya ibu bilang kamu enggak enak badan dong, apa lagi coba” ujar ibunya lalu masuk ke kamarnya lagi dengan menutup pintu kamarnya sangat keras. Ellion terdiam di sana dengan tatapan khawatir “Ibu bilang aku enggak enak badan? Hm padahal kan aku sehat dan tadi wali kelas lihat aku keluar. Gimana kalau ibu guru besok tanyain apa yang sebenarnya terjadi, aku jadi bingung” lirih Ellion pelan dan hampir menangis lalu kembali ke kamarnya Selang beberapa menit, Ayah Ellion pulang dengan keadaan yang mabuk. Sementara itu Ellion dan ibunya tertidur di kamarnya masing-masing. Ayah Ellion berjalan oleng ke arah dapur dan mencari makanan, namun tidak ada apa pun di sana. Dia sangat kesal. “Istri gue emang yang paling bodoh! Kerjaannya seharian ini pasti Cuma tidur dan ngerumpi, kenapa sih enggak bantu cari uang, bantuin gue suaminya. Hahh gue udah muak sama kelakuan dia” kesal dia lalu pergi ke arah kamarnya Benar dugaannya, istrinya saat ini sedang tidur nyenyak. Ayah Ellion lalu menarik tubuh istrinya dan membuat dia terjatuh ke lantai. “Aw” gerutu ibu Ellion yang baru setengah sadar “Aw aw aw! Kerjaan lo hari ini apa sih? Makan doang hah? Lo enggak ada inisiatif gitu buat bantuin suami cari duit? Gue balik di sediain makanan kek, eh ini mah enggak ada apa apa di sana. Gue mau makan apa hah” teriak dia dengan keadaan yang masih mabuk Ibu Ellion lalu bangun dan menatapi suaminya marah “Mau di sediain makanan apa mas hah? Duit aja aku enggak pegang, beras udah abis apa lagi buat lauknya! Harusnya kamu yang kasih dulu aku uang baru kamu minta makan, kamu pikir aku apaan mas? Pesulap gitu hah? Bisa mengadakan apa yang enggak ada? Gila kamu ya! Kamu balik balik mabuk gini lagi, bisa aja kamu beli mabuk mabukan sedangkan untuk anak dan istri enggak ada. Kamu udah enggak waras mas!” teriak sang istri jauh lebih lantang dengan tatapan marah “Stop! Gue udah muak sama ocehan lo! Gue udah muak” tegas suaminya dengan memelotot lalu berjalan ke arah meja kecil di mana di sana ada beberapa botol yang berjajar Ibu Ellion menatapi suaminya aneh “Mas kamu mau ngapain?” ujar dia bingung dan sedikit takut “Baru aja udah gue bilang kan, gue udah muak sama lo!” teriaknya lalu membawa botol itu dan memecahkannya lalu mulai melukai istrinya tanpa ampun. Darah sang istri sudah mulai bercucuran keluar dari kepala dan perut tepat di mana sang suami menyiksanya, namun dia melakukan perlawanan dengan mendorong tubuh suaminya hingga membuat suaminya terjatuh ke pecahan kaca. Suara-suara mengerikan itu membuat Ellion terbangun, teriakan-teriakan kesakitan yang berasal dari suara ke dua orang tua dari dalam kamarnya membuat Ellion sangat takut. Ellion terbangun dan berjalan keluar dari kamarnya. Suara itu terasa semakin dekat. “Ibu ayah..” lirih Ellion pelan tak membuat suara itu berhenti Ellion menatapi jam dinding yang menunjukkan pukul 17.30 ternyata ini sudah malam. Ellion merasa dirinya masih belum sepenuhnya terbangun, kadang dia merasa dirinya masih berada di dalam mimpinya. “Mungkin sebenarnya aku masih tertidur” lirih Ellion semakin memberanikan diri untuk ke arah kamar orang tuanya Deru nafas yang memburu terdengar oleh Ellion dari dalam sana, kini teriakan-teriakan kesakitan yang sebelumnya terdengar sudah hilang. “Kenapa sekarang.. mereka..” lirih Ellion lalu mencoba membuka pintu kamar itu dengan tangan yang gemetar Degup jantung Ellion terasa semakin cepat, rasa penasaran, takut dan khawatir memenuhi perasaannya. Dia membuka pintu kamar orang tuanya dengan sangat perlahan. Ckklekkk.. “I- ibu? A- ayah?” terkejut Ellion saat melihat ke dua orang tuanya yang kini terbaring di lantai dengan bersimbah darah, beberapa pecahan kaca dari botol juga berada di sekitar mereka. Mereka satu sama lain memegangi botol pecah dan sudah di penuhi darah. Ke duanya menatap ke arah Ellion dengan tatapan wajah yang sudah kosong, hati Ellion teriris dan dia mulai menangis tanpa bersuara. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Ellion lalu segera pergi dari sana, pergi dari dalam rumahnya dan berniat untuk mencari bantuan dari orang sekitar. Meski tangisan terus bercucuran dari matanya, tangan dan semua tubuhnya bergetar hebat dia tetap berlari mencari orang. Hingga saat di pos penjaga, beberapa orang tua dan pemuda sedang berkumpul di sana. Ellion menatapi semuanya dengan tatapan takut dan air mata yang terus mengalir, semuanya lantas menatapi Ellion dengan kebingungan. “Ellion? Ada apa? Kamu kenapa kok lari lari?” tanya salah satu pemuda yang merupakan tetangga Ellion Ellion masih terdiam dengan raut wajah takut, sedih dan bercampur aduk “Nak? Ada apa nak” tanya RT di sana lalu berjalan mendekat ke arah Ellion “Tolong...” lirih Ellion yang sudah tidak tahan lagi dan mulai sesenggukan menangis Semuanya semakin terkejut dan khawatir apa lagi sebelumnya Ellion tidak pernah keluar malam-malam begini. Semua pun berdiri dan menatapi Ellion dengan tatapan khawatir. “Katakan ada apa nak” tanya yang lain dengan suara yang lembut supaya Ellion lebih tenang Ellion lalu berlari ke arah rumahnya lantas semua orang yang ada di sana langsung mengikuti langkahnya. Mereka menemukan orang tua Ellion yang bersimbah darah dan sudah tidak bisa di selamatkan lagi, dari apa yang mereka lihat mereka sangat yakin bahwa orang tua Ellion sudah saling membunuh terbukti dengan ke dua botol yang sama-sama di pegang oleh korban. Sejak saat itu wali kelas Ellion sudah menemukan jawaban tanpa harus bertanya tentang apa pun pada Ellion, semuanya sangat menyayangkan keberadaan Ellion yang kini hanya tinggal sendiri di dalam rumahnya. Sejak saat itu juga Ellion menjadi sangat berubah, dia menjadi anak yang sangat jarang berbicara dan enggan bergaul dengan siapa pun. Ellion kecil juga menolak tawaran untuk di adopsi oleh beberapa orang tua yang kaya dan siap menyekolahkannya. Rasa hancur, trauma dan kesepian tak bisa mengubah apa pun bagi Ellion. Terlalu sakit masih terbayang-bayang bagaimana orang tuanya yang saling membunuh tanpa memikirkan dirinya. Kini Ellion sadar, tak satu pun dari mereka yang benar-benar menyayangi dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN