Suara ayam berkokok membangunkan orang orang yang masih tertidur di tempat tidur yang hangat dan nyaman. Silau matahari menyinari pepohonan yang rindang di area perkampungan yang masih asri. Waktu menunjukkan pukul 05.25 dimana sebagian besar orang kembali melanjutkan tidurnya dan kembali terbangun di bangunkan oleh suara kokokan ayam yang cukup nyaring. Udara segar di pagi hari masih terasa menyejukkan. Para penduduk terlihat sedang sibuk dengan kegiatan di pagi hari yang baru mereka mulai.
Jauh dari keramaian suasana rumah di sana, rumah sederhana yang terlihat sudah kumuh itu masih pemuda itu tempati. Setelah kepergian ke dua orang tuanya yang tragis tak membuat Ellion pergi meninggalkan rumah itu karena satu satunya tempat tinggal yang dia miliki saat ini hanya rumah ini, meskipun beberapa kali Ellion mencoba untuk menahan diri untuk melakukan bunuh diri. Bisikan bisikan yang selalu dia dengar di setiap malam, saat sunyi melanda selalu menyerukannya untuk melakukan bunuh diri. Suara itu sangat mirip dengan suara ibu dan ayahnya Ellion, kadang Ellion berpikir mungkin ke duanya memang menginginkan kematian yang sama pada putra satu satunya itu.
Ellion baru lulus dari sekolah dasar, di hari pembagian raport dia hanya pergi sendiri tentu saja berbeda dengan anak anak lainnya yang di temani oleh orang tuanya. Dia juga di masukan langsung ke sekolah menengah pertama oleh pihak sekolah dasar, karena menurut mereka Ellion sangat layak melanjutkan sekolahnya karena dia adalah siswa yang cerdas.
Waktu semakin pagi, seragam baru yang rapi dan baru Ellion setrika sudah dia pakai, meskipun dia hanya menggunakan setrikaan lama yang sudah hampir putus kabelnya namun tetap dia pakai karena Ellion selalu menyukai kerapihan. Sejak jam setengah lima dia sudah sibuk membereskan seisi rumah. Mulai menyapu, mengepel lantai, mencuci piring dan pakaiannya. Dia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Sehingga rumah kecil itu masih terlihat begitu asri dan bersih. Ellion berkaca di luar kaca jendela rumahnya, untuk merapikan dasinya.
"Eh nak ell, kamu kapan bisa nyetrikain baju tante? di rumah udah numpuk banget pakean tante belum di setrikain, kamu bisa kan?" tanya seorang ibu ibu yang terlihat membawa bingkisan berisi sayuran, bersama dengan satu ibu ibu lainnya.
Dia lalu membalikkan badannya menatapi ke dua ibu ibu itu dengan senyuman tipis sembari mengangguk angguk sopan. "Iya tante, nanti setelah Ellion pulang sekolah ya" jawabnya.
"Oke, saya tunggu ya nak Ell"
Ibu yang di sampingnya lagi lalu menatapi Ellion dengan serius. "Kamu yakin? remaja cowok itu bisa nyetrika dengan bener bener rapih? dan cuma di bayar 20 ribu?" sinis dia menatapi Ellion.
"Iya jeng, dia rajin banget kok anaknya. Jeng engga perlu khawatirin soal keahlian dia, dia jago banget selesain pekerjaan rumah. Mau samaan nyetrika baju ke dia?" tanya ibu ibu itu lagi.
"Hm gitu ya, ya wajar aja deh dia kan juga harus makan. Kasihan sekali ya, tapi apa dia engga bakal ngelakuin sesuatu yang aneh? misalnya..." bisik dia pada temannya.
Ellion menelan ludah, dan memilih untuk menunduk tak mau mendengar dan melihat apa yang bisa menyakitinya.
"Saya juga kadang kadang mikir gitu sih jeng, tapi kayaknya dia beda kok sama orang tuanya." jawab dia cepat.
"Heem semoga aja, saya lain kali deh nyobanya. Soalnya ngerasa agak ngeri hehe" bisik dia lagi tapi masih bisa terdengar oleh Ellion.
Mereka segera pergi dari hadapan rumah Ellion, setelah menyisir rambutnya Ellion lalu kembali ke dalam rumah untuk mengambil tasnya. Memang kehidupannya sudah tak semengerikan dulu, namun hidup dalam kesepian justru bisa membunuhnya lebih cepat lagi. Dia segera bergegas untuk keluar rumah, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar ibu dan ayahnya. Sekilas bayangan mengerikan itu kembali hadir di benak Ellion, membuatnya merasa sakit dan tak bisa bertahan untuk berdiri.
Dia lalu terjatuh sampai terduduk, memegangi kepalanya. "Ya tuhan, lagi lagi. Kepalaku" lirihnya.
"Arrgghh, aku harus bangun dan sekolah. Jika terus terbelenggu di sini bisa bisa.." ucapannya terpotong saat dia merasa sesuatu meniupi ujung telinganya.
"Sshhhh, gimana? udah siap gak ikut sama kita? gampang banget, pecahin aja gelasnya dan potong urat nadi kamu nak" bisikkan itu terdengar sangat jelas seperti suara sang ibu, sosok ibu yang selalu menyiksanya.
Ellion menutup matanya, mencoba untuk bisa kembali mengendalikan dirinya. Perlahan keringat dingin bercucuran, membuatnya juga tak bisa bernafas dengan lega.
"Siap gak Ellion? bukannya kamu itu anak yang paling berbakti ya hahaa" tambah bisikan dari suara ayahnya.
"Stop! jangan pernah ganggu Ellion lagi! kalian semua gak nyata! kalian hanya ilusi mengerikan" teriak Ellion begitu lantang dan membuat tetangganya mendengar semua itu.
Bukan hanya sekali dua kali Ellion berperilaku aneh, hampir setiap hari di waktu yang berbeda beda Ellion sering menyerukan hal hal aneh seakan dia sedang berbicara dengan seseorang. Dan hal itu membuat para tetangga merasa tak nyaman dan takut.
"Duh, si Ellion bertingkah lagi"
"Bikin merinding aja sih"
"Hah mau gimana juga pak RT tetep aja kasian sama dia, padahal kan dia bikin kita engga betah di sini. Lama lama kayaknya kita yang justru bakal kabur dari sini"
"Bener banget"
Ellion segera bangun dari duduknya dengan kepala yang masih terasa sakit seakan tertusuk tusuk sesuatu. "Arggh" ucapnya sakit, setelah merasa gangguan gangguan itu perlahan hilang lagi darinya.
Dia segera keluar dari rumah dan mengunci rumahnya. Saat Ellion membalikkan badannya, dia sangat terkejut melihat beberapa orang yang kini menatapinya dengan tajam.
"Ellion, kamu kerasukan atau apa sih? bikin orang lain takut aja!" teriak si ibu berwajah sinis.
"Jangan depresi Ellion, jangan tinggal di rumah itu. Jelas jelas bayangan kematian orang tua kamu bakal terus menghantui kamu. Kamu engga ada niatan buat pindah ke mana gitu? kamu engga punya keluarga lain? biar kami antarkan ke kampungnya" tambah bapak bapak berwajah sangar.
Ellion langsung menggelengkan kepalanya "Maaf sudah bikin kalian terganggu" jawabnya lalu segera pergi berangkat sekolah dengan berjalan kaki.
Mereka lalu menatapi Ellion dengan tatapan yang sinis. "Lihat? dia sama sekali engga ada sopan santunnya ke kita. Mau di bantuin malah ngeleos gitu aja"
"Dasar engga tau terima kasih"
"Kita harus bicarain lagi ini ke RT sih, kalau gini terus kita juga engga bisa hidup dengan tenang"
"Iya, kalau bisa kita sendiri aja yang cari di mana keluarga dia tinggal"
*******
Suasana sekolah menengah pertama sangat ramai di jam jam istirahat, semua siswa dan siswi berlarian ke kantin. Ellion masih berada di kelas dengan tatapan kosong ke arah mejanya. Di mana di sana tertulis "Matilah, seperti orang tua lo!"
Entah siapa yang menuliskan hal mengejikan ini tentangnya, namun ini bukan kali pertamanya Ellion di perlakukan seperti ini.
"Bukan mati, tapi pergi." gerutu Ellion lalu membuang nafasnya panjang dan menunduk mengarah ke meja.
Rasa sakit yang dia rasakan sudah tak bisa dia ungkapkan dengan air mata lagi. Semuanya terasa begitu memuakkan. Tak satu pun bagi Ellion yang menganggap dirinya sebagai manusia. Mereka semua menganggap Ellion sama seperti orang tuanya, bahkan guru guru di sekolahnya menatap Ellion dengan tatap mata yang takut.
"Ell" sahut seseorang dari belakang kursinya.
Ellion langsung terbangun dan membalikkan badannya ke belakang. Dengan tatapan datar dia menatapi teman sekelasnya. Dia lalu berjalan mendekat pada Ellion sembari membawa sebuah roti dan minuman penyegar untuknya.
"Ini buat lo" ucapnya menyodorkan.
Ellion menatapi roti dan minuman itu datar "Ambil Ellion, ini buat lo. Gue yakin lo pasti engga bawa duit kan? Sebenci apa pun kita semua sama lo, tapi kita tetep teman sekelas lo dan seenggaknya kali ini kita peduli sama lo" ujar nya lagi lalu tersenyum.
Beberapa orang temannya lalu masuk ke dalam kelas dengan tatapan yang merasa bersalah. Raut wajah Ellion tak berubah sama sekali, dia masih menatapi semuanya dengan datar. Namun yang dia rasakan saat ini adalah sakit perut akibat merasa lapar, karena sejak kemarin dia belum memakan apa pun selain sisa roti yang sempat dia beli dari hasil kerjanya sebagai buruh menyetrika. Sisanya, dia hanya minum.
"Bawa dong Ell" ujar yang lain menyemangati.
"Oke, makasih" angguk Ellion lalu mengambil makanan itu. Tanpa mau memperpanjang pembicaraan dengan teman temannya.
Ellion segera memakan makanan yang mereka beri karena rasa lapar yang semakin memuncak membuatnya hilang fokus dan tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Dia memakannya dengan cepat. "Lihat lah betapa kelaparannya dia?" sahut temannya yang lain dengan senyum merendahkan.
"Hm kasihan sekali, siapa lagi yang peduli selain kita? orang tuanya malah bunuh diri sih, padahal engga sekalian di ajak aja ya? haha" tambah yang lain.
Teman Ellion yang memberikannya roti itu langsung duduk di depan meja Ellion "Lo udah engga makan berapa hari sih? sampe sampe hilang kendali gitu, cara lo makan kayak zombie tau haha" tawa dia ngakak.
Sorot mata Ellion tajam pada temannya yang ada di depannya itu, seketika saja dia menghentikan makannya dan hanya tersisa sedikit roti lagi, juga minuman yang tinggal beberapa tetes lagi.
"Dia sampai engga lihat tanggal expired nya? sial, ini bener bener sesuai dengan rencana kita haha" teriak yang lain.
Ellion segera mengecek kemasan produk roti dan minumannya yang sudah expired beberapa bulan yang lalu. Dia sangat tak percaya dan hanya bisa terdiam.
"Bagus lo Dino, lain kali sering sering deh ngasih makanan expired ke Ellion. Supaya engga mubazir banget lah toserba keluarga lo haha"
"Iya iya bener, ehh ngomong ngomong lo bilang apa ke orang tua lo? soal makanan expired yang lo ambil?" tanya yang lain menatapi Dino yang masih duduk di depan meja Ellion.
Dino tertawa begitu nyaring dan membuat Ellion menatapinya datar "Gue bilangnya kasih ke hewan terlantar lah, ya kali gue bilang ngasih ke manusia. Kita semua tau kan si Ellion ini cuma hewan terlantar haha" tawanya begitu lepas di ikuti oleh teman temannya yang lain.
Rasanya Ellion geram, namun dia sudah tak bisa mengekspresikan lagi rasa marahnya itu. Suara lapar dari perutnya kembali menyeruak, membuat Ellion kembali melanjutkan makanan kadaluarsa itu sekaligus dengan minumannya yang akhirnya dia habiskan semuanya. Semua teman teman Ellion yang awalnya tertawa langsung terdiam dengan tatapan yang takut.
"Gila! dia bener bener engga waras" sahut Dino lalu segera menjauh dari bangku Ellion.
"Anjir malah di makan semua" tambah yang lain dengan mata yang hampir keluar.
Mereka semua hendak bergegas pergi dari kelasnya, namun saat itu juga siswa dan sisiwi yang lain masuk bersamaan dengan seorang guru yang mempunyai jam kelas hari ini. Sehingga hal itu membuat siswa yang tadi menjahili Ellion terpaksa kembali duduk di bangkunya masing masing, meski dengan tatapan takut menatapi Ellion.
"Selamat siang semuanya" sapa ibu guru itu.
Ellion lalu memasukkan sampahnya ke dalam tas lusuh miliknya. "Siang bu" jawab semua siswa dan siswi nyaring kecuali Ellion.
"Ellion, kenapa kamu engga jawab?" tanya ibu guru itu dengan tatapan tak suka.
"Dia bisu kali bu" ketus yang lain.
"Iya bu, dari kemarin dia engga bicara. Jangan jangan di bisu ya?" tambahnya lagi.
Ellion menatapi gurunya dengan datar "Siang bu, saya juga tau ini siang. Bukan malam" jawabnya.
Semua kembali terdiam, guru itu merasa ada yang aneh dengan Ellion dia menelan ludahnya. "Hm oke" angguknya lalu tatapannya segera terarah ke buku buku yang dia bawa.
"Oke anak anak, kita mulai pembelajarannya yaa" sahut dia dengan suara yang agak gelagap.
Mereka pun memulai pembelajaran dengan sorot mata yang sesekali menatapi Ellion takut. Ellion hanya mengabaikan semuanya dan fokus menulis sesuai dengan perintah dari gurunya.