"Oke, ibu sudah jelaskan semua materinya dan sudah kalian tulis juga kan?" sahut guru itu dengan senyum manis pada semuanya.
Semua mengangguk "Iya bu"
"Selanjutnya, ibu bakal ngasih kuis ke kalian. Ibu akan kasih soal sebanyak 5 soal dan harus kalian kerjakan, siapa yang bisa mengerjakannya dengan cepat dan semuanya benar maka dia bisa pulang lebih dulu" jelasnya.
Semua murid langsung saja berantusias, berlomba lomba supaya bisa lebih dulu pulang. Kecuali dengan Ellion, yang rasanya tak punya rasa semangat sedikit pun. Guru itu pun langsung menyerukan beberapa list pertanyaan sebanyak 5 dan memberi waktu sekitar 15 menit untuk mendapatkan siapa pemenang tercepat mengerjakan kuis ini.
"Oke, waktunya cuma 15 menit! inget yaa, ibu kasih waktu cuma 15 menit. Siapa pun murid pertama yang paling cepat, dia akan mendapat nilai terbesar di pelajaran ini tahun ini" jelasnya.
Hening, ruangan kelas itu kini hening dengan semua murid yang terlihat berpikir begitu keras. Guru itu berjalan jalan sembari mengecek murid muridnya.
"Waktu baru berjalan 5 menit, kalian tinggal memiliki waktu 10 menit lagi" gerutunya.
Tiba tiba Ellion bangun dari duduknya dan berjalan ke arah meja guru membawa bukunya lalu menyimpannya di sana. Semua mata kembali menatapi Ellion dengan tatapan yang sinis, Tak dapat mereka pungkiri Ellion yang paling cerdas di pelajaran seni apa lagi jenis seni musikal.
"Ellion, kamu sudah?" tanya guru itu terlihat agak muak, kenapa harus dia lagi.
"Ya" jawabnya cepat lalu kembali ke kursinya.
Guru itu pun mengangguk angguk "Baik akan ibu periksa yaa"
Dia kembali ke kursinya dan segera memeriksa isi jawaban dari Ellion, dengan jawaban yang luar biasa Ellion membuat mata guru itu semakin membelalak. Padahal yang dia cantumkan adalah pertanyaan pertanyaan sangat sulit, dengan bahasa yang tak terlihat anak SMP buat.
Pertanyaan pertama tentang makna seni musik menurut David Ewen, jawabannya : Berisi tentang kombinasi ritmik dan beberapa nada, baik vokal ataupun instrumental yang mencangkup melodi serta harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu hal yang menginginkan diungkapkan terlebih dalam segi emosional.
Dan jawaban dari pertanyaan ke 2, 3, 4, dan 5 yang membuat ibu guru itu geleng geleng kepala. Dia lalu mengangkat wajahnya dan menatapi Ellion dengan tatapan yang curiga, dia masih tidak terima soal kecerdasan yang di miliki Ellion yang menurutnya lebih mengarah ke Aneh.
"Kamu bawa ponsel Ellion?" tanya guru itu sinis.
"Ponsel?" tanya balik Ellion bingung.
Gelak tawa tiba tiba pecah saat murid murid lainnya bertatapan menatapi Ellion rendah. Membuat guru itu menatapi semua muridnya kesal.
"Kenapa kalian malah ketawa? ada yang lucu hah?" teriak dia lalu bangun dari duduknya.
Si Ketua kelas lalu mencoba menengahi "Bu- bukan seperti itu bu, kami hanya merasa tersinggung dengan ucapan ibu. Ponsel? Ellion punya ponsel maksud ibu? ibu menanyakan hal itu? boro boro ponsel bu, dia aja tiap hari ke sekolah engga bawa uang jajan. Makanya tadi Dino ngasih dia jajanan" jelasnya.
"Apa?"
Dino mengangguk angguk dengan senyuman merekah "Iya bu, tadi Dini ngasih Ellion jajanan" jawabnya.
"Bagus dong, mulia sekali kamu Dino" jawab guru itu tersenyum manis pada Dino.
"Meski pun sisa" sahut Dino pelan lalu diakhiri dengan senyuman merendahkan Ellion lagi.
Ellion tak berkomentar apa pun, guru itu lalu menatapi Ellion sinis. "Kamu udah bilang terima kasih ke Dino?"
"Sudah bu, apa harus di ulang lagi?" sahut Ellion.
Guru itu semakin geram dengan sikap Ellion yang menurutnya kurang ajar, dia memutar bola matanya kesal dan menghela nafasnya dengan panjang.
"Heh, kamu emang kurang sopan santun. Ya, tapi harus saya maklumi sih karena kenyataannya kehidupan kamu cukup gelap. Sayang sekali, padahal kamu cerdas. Tapi tetap saja kan itu semua engga ada gunanya jika hati kamu kotor. Kamu boleh pulang Ellion" jelas dia lalu kembali sibuk menatapi susunan bukunya.
Tak memperdulikan perkataan kasar yang gurunya sampaikan, dan tatapan tatapan teman sekelasnya yang menjijikan padanya. Ellion pun bangun dan membawa tas lusuhnya, dia lalu memberi salam pada guru sembari membawa bukunya.
"Terima kasih bu, pelajaran hari ini sangat berkesan buat saya" ujar Ellion masih menyalami gurunya.
Dia hanya terdiam lalu melepaskan tangannya dari tangan Ellion. Langkah kaki Ellion pun tertuju keluar, dengan perasaan hati yang tak bisa dia nilai apakah itu senang? sedih? terluka? gundah? atau apa pun itu.
********
Jalanan cukup ramai, tentu saja di tengah hari seperti ini orang orang yang sibuk dengan pekerjaannya atau sekolah mereka sedang berisitirahat. Suara klakson terdengar nyaring dari berbagai arah. Padahal Ellion berjalan di pinggir sekali.
"Woy! bocah! jalan jangan ke tengah, mau mati lo?"
"Gak punya mata lo?"
Teriak bapak bapak yang marah menatapi Ellion, Ellion hanya menunduk tak memperdulikannya. Dia pun berbelok ke gang menuju rumahnya. Dia melewati rumah ibu ibu yang tadi pagi menyuruhnya menyetrika. Perlahan senyuman tipisnya timbul, dia bersyukur hari ini dia akan mendapatkan sedikit uang yang akan cukup untuk nanti malam makan dan besok bekalnya sedikit. Namun, tiba tiba dia memegangi perutnya yang sudah terasa sakit.
"Aw, kenapa tiba tiba?" sahutnya pelan.
Pintu rumah besar itu terbuka "Ellion ya?" tanya si ibu pemilik rumah dengan senyum terpaksa.
Ellion segera mengangguk, ibu itu pun berjalan mendekat padanya dan membukakan pintu gerbang. "Ayo masuk nak" ajaknya.