Mereka pun memasuki rumah itu, Ellion mengikuti langkah ibu si pemilik rumah. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan, di mana pakaian yang baru habis di cuci menumpuk dengan banyak di sana.
"Sebanyak itu?" sahut Ellion dalam hatinya.
"Kamu sanggup gak beresin semuanya sampai sore? saya kasih uang tambahan deh, jadi 35 ribu gimana?" tanya si ibu dengan melipat tangannya.
Ellion tersenyum "Tambah 10 ribu dong ya bu? saya bersedia bu" jawabnya cepat.
"Bagus, kamu mulai nyetrikanya bisa dari sekarang kan? duluin dulu pakaian anak saya karena bentar lagi dia ada les siang" jelasnya.
"Siap bu, saya kerjakan dari sekarang ya" jawab Ellion lagi lalu dia pun melepaskan tas yang di bawanya.
Dia segera menyetrika seperti biasa di rumahnya si ibu ini, meskipun bisa di bilang baik karena dia satu satunya yang mau memperkerjakan Ellion karena warga lain banyak yang takut padanya. Namun tetap saja, dia hanya memberinya upah minim yang seharusnya buruh setrika si beri minimal 50 ribu sehari.
Dengan bersemangat Ellion mengerjakan semuanya dengan berhati hati dan begitu telaten, tak bisa di ragukan lagi soal cara kerja Ellion untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Karena dari didikan ibunya yang keras, membuatnya bisa melakukan apa pun. Keringat bercucuran menempel di seragam sekolahnya Ellion, dengan hawa panas dari setrika di tambah lagi ini siang bolong.
"Hm aku haus, apa engga ada minum ya disini?" lirihnya lalu menatap ke sekeliling.
"Ah lupain, yang ada nanti pekerjaanku engga selesai selesai" gerutunya lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 baru selesai setengah tumpukkan baju yang Ellion bereskan. Tiba tiba saja perut Ellion kembali sakit dan membuatnya kesulitan menyetrika. "Aduh gimana ini ya?" ujarnya bingung namun masih dengan sekuat tenaga mencoba menyelesaikan semuanya.
Rasa sakit yang dia rasakan di perutnya, akibat makanan kadaluarsa yang di berikan Dino padanya. Namun Ellion bisa menahan rasa sakitnya itu sampai akhirnya pekerjaannya semuanya selesai di jam 16.40. Ellion langsung di beri upah dan pulang dengan membawa sebungkus nasi goreng porsi besar dan sebotol air mineral.
Dia berjalan dengan rasa tenang, dan segera bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk menyantap makanan hasil jerih payahnya. Sebelum itu, Ellion mandi dan mencuci seragam sekolahnya yang tak akan dia pakai di hari sabtu. Setelah berganti baju dan bersih, Ellion pun duduk di teras rumahnya dan makan di sana. Karena setiap dia menghabiskan waktu di dalam rumah, selalu ada hal hal janggal yang menimpanya.
Ellion makan begitu lahap, setelah beberapa hari yang lalu dia hanya terus meminum air. Akhirnya dia kembali menemukan nasi yang bisa di makannya. Tak lupa dia memberi obat maagh untuk perutnya yang agak sakit akibat makanan kadaluarsa. Sembari makan, Ellion membaca sebuah koran di mana di dalamnya tercantum soal musisi jalanan di kota yang berhasil menciftakan lagu dan sampai di lirik oleh industri musik besar. Perlahan senyumannya timbul.
"Kenapa aku sempat bermimpi untuk menjadi penyanyi? padahal aku tidak pernah sekali pun mencobanya"
Ellion menggeleng gelengkan kepalanya lalu kembali makan. Setelah selesai, dia kembali ke rumah dan mencuci piringnya. Waktu sudah agak petang dan saat saat seperti ini yang selalu dia takutkan. Bisikan bisikan itu selalu kembali terdengar di telinganya, membuatnya terjaga semalaman dengan keringat yang bercucuran.
******
Suara bel masuk sudah berbunyi, kursi Ellion masih kosong. Semua teman temannya seketika menyalahkan Dino.
"Dino, kalau dia beneran mati keracunan gimana?"
"Iya, nanti lo di penjara lhoo"
Dino menghela nafas dengan sorot mata yang santai "Ya bagus dong kalau dia mati, dia bisa nyusul orang tuanya dan berhenti buat bikin kita semua kesel" jawabnya enteng.
"Ya tapi lo yang bakal di salahkan, dan bisa aja lo di penjara"
"Gue gak peduli mau di penjara atau engga, tapi yang pasti gue bisa bayar berapapun dong supaya bisa bebas" tawa Dino.
Semua temannya mengangguk setuju "Asal punya duit, kita semua akan aman" ujar yang lain.
Guru lelaki dari pelajaran Matematika pun datang ke kelas mereka dan langsung membuat semua siswa diam dengan pembicaraannya, mereka segera duduk di bangkunya masing masing. Setelah mulai berdoa sebelum belajar, guru itu lalu menatapi bangku Ellion yang kosong.
"Ahh jangan bilang Ellion terlambat lagi di jam pelajaran bapak?" sahut dia menatapi semua muridnya.
"Sepertinya iya pak"
"Bapak engga habis pikir kenapa dia selalu menyepelekan jam matematika bapak? atau memang dia sengaja menghindarinya?" tanya nya lagi.
"Entahlah pak, kami tidak tahu"
Ellion masih di perjalanan menuju ke sekolahnya, badannya terasa agak lemas karena semalaman dia tak bisa tidur. Setiap malam sabtu, adalah malam paling mengerikan baginya. di mana di malam itu dia kehilang ke dua orang tuanya dengan keadaan tragis dan di setiap malam yang sama Ellion selalu mendapat teror dari arwah ke dua orang tuanya. Badan Ellion agak gemetar, sampailah dia di sekolahnya dan di hukum satpam karena terlambat.
Setelah hukuman melelahkan itu, Ellion pun menuju ke kelasnya dan mengetuk pintu sebelum masuk.
"Itu pasti dia pak" ujar Dino
"Iya itu pasti si Ellion" tambah yang lain.
Guru matematika itu lalu bangun dari kursi dan berjalan ke arah pintu, Dia lalu membukanya dan benar Ellion yang kini berdiri di sana dengan menunduk.
"Pak, maaf saya terlambat lagi" lirih Ellion takut.
"Karena apa? kamu mau bilang karena kamu gadang lagi dan gak bisa tidur?" sinis guru matematika itu.
Ellion mengangguk "Iya pak, maaf" jawabnya lemas.
"Gimana kamu engga lemes begitu? kerjaan kamu gadang mulu kayak orang dewasa, apa sih yang kamu lakuin saat gadang hah? berfaedah apa?" teriak guru itu lagi.
Dia hanya terdiam dan tak bisa mengatakan apa pun, guru itu lalu menarik nafasnya panjang dan menunjuk ke depan. "Sekarang kamu berdiri di sana dan angkat kaki kamu selama yang saya mau" tegasnya.
"Ba- baik pak" jawab Ellion segera lalu dia berjalan ke tempat yang sudah guru itu arahkan. Ellion berdiri menghadap ke teman temannya dengan kaki yang dia angkat.
Guru itu kembali ke kursinya dan melanjutkan pelajarannya. Selama Ellion berdiri, perut yang dia rasa kembali sakit seperti kemarin. Rasa lemas dan nyaris tak sadar terus dia rasakan, keringat dingin terus bercucuran sampai rasanya dia tidak tahan lagi.