bc

Talak Tiga

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
arrogant
heir/heiress
drama
bxg
campus
friends with benefits
polygamy
professor
like
intro-logo
Uraian

Sherlyn terpaksa harus merelakan kehormatannya demi menjebak seorang pria kaya bernama Revano Axel Pradipta. Laki-laki yang tak lain adalah dosen di kampus tempat Sherlyn belajar. Jebakan itu berbuntut panjang menjadi tuntutan pertanggung jawaban hingga mereka terpaksa menikah. Pernikahan yang didasari oleh masing-masing kepentingan. Sherlyn menikahi Revano karena menuruti keinginan ayahnya untuk balas dendam. Sementara Revano menikahi Sherlyn dengan tujuan agar bisa menghalalkan kembali mantan istrinya yang sudah pernah dia talak tiga. Tujuan siapakah yang akan lebih dulu tercapai? Akankah Revano tetap kembali pada mantan istrinya dan meninggalkan Sherlyn?

chap-preview
Pratinjau gratis
Melempar Umpan
“Kenapa harus aku yang dikorbankan? Papa menyuruhku menjadi jalang demi menjebak pria kaya itu? Tidak, Pa. Aku tidak mau. Aku sudah punya kekasih dan jika aku menuruti permintaan papa maka sama saja aku mengkhianati Satria.” Perdebatan antara ayah dan anak itu sedang berlangsung di kamar lantai dua sebuah rumah. Mereka membicarakan rencana besar yang belum disepakati. Arifin dan Sherlyn. Kedua pembicara itu tampak berbeda pendapat tentang suatu hal. “Apa kamu lebih mementingkan kesetiaan pada pacarmu yang tidak jelas itu dari pada menuruti perintah papa?” ujar Arifin dengan nada meninggi. Dia mulai kesal karena Sherlyn tidak mau menuruti perintahnya. “Sherlyn sudah menuruti permintaan papa untuk masuk ke kampus itu dan menjadi mata-mata. Tapi sekarang papa juga menyuruhku untuk mengorbankan tubuhku? Ini mulai berlebihan, Papa. Papa hendak mengorbankan masa depan putri papa demi memenuhi ambisi papa sendiri,” bantah Sherlyn. “Apa susahnya menghabiskan satu malam saja dengan pria itu? Hanya ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Pokoknya papa tidak mau tahu. Rencananya adalah kamu harus tidur dengan pria itu dan menikah dengannya. Hanya itulah yang harus terjadi,” tegas Arifin tidak mau keputusannya diganggu gugat. Dia kemudian keluar meninggalkan kamar Sherlyn begitu saja tak peduli walau putrinya masih merasa keberatan. Sementara itu Sherlyn terduduk lemah di tepi ranjang. Tangannya terulur menyurai kedua sisi rambut panjangnya ke belakang. Dia masih merasa tidak terima dengan perintah yang diberikan sang ayah. Tapi bagaimana pun juga dia sangat mengenal seperti apa karakter Arifin. Ayahnya adalah seseorang yang berwatak keras dan akan melakukan apa saja yang dia inginkan. Sherlyn masih tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan menjajakan dirinya pada laki-laki yang menjadi dosennya di kampus. Baru satu semester Sherlyn menjadi mahasiswa pindahan di sana. Itu pun dia lakukan untuk menuruti keinginan Arifin. Padahal awalnya dia berkuliah di kampus yang sama dengan kekasihnya yaitu Satria. Selama menjadi mahasiswi, Sherlyn juga mendapat tugas untuk memata-matai salah seorang dosen yang bernama Revano Axel Pradipta. Semua Sherlyn lakukan demi mengikuti perintah Arifin. Arifin sangat berambisi untuk balas dendam pada Revano dan menjadikan Sherlyn sebagai senjata. “Jika harta bisa diwariskan, maka pembalasan dendam pun bisa berlaku demikian. Aku tidak peduli walau ayahnya sudah meninggal. Putranya yang harus merasakan akibatnya. Jangan menolak perintah papa, Sherlyn. Ingat dengan baik bahwa mamamu juga meninggal karena ulah keluarga mereka yang sudah memfitnah papa.” Kata-kata itu yang selalu digunakan oleh Arifin untuk membuat Sherlyn menurut padanya. Jika sudah membawa perihal kematian sang ibu, Sherlyn pun menjadi tak berkutik. Dia juga masih tidak terima dengan kepergian Amalia. Gadis itu masih ingat dengan jelas bahwa keluarganya sudah berantakan saat dia masih berusia enam belas tahun. Dua orang polisi tiba-tiba datang ke rumahnya dan membawa pergi Arifin. Sherlyn dan Amalia hanya bisa menangis menyaksikan pemandangan itu. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga kepala keluarga mereka ditangkap. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Arifin berkali-kali membela diri dengan mengatakan dirinya tidak bersalah. Namun tetap saja para petugas itu tidak mau mendengarkan. Arifin dipenjara karena difitnah oleh seseorang. Sementara Amalia jatuh sakit hingga akhirnya meninggal karena tak mampu menerima kenyataan pahit yang menimpa keluarganya. Sherlyn pun terpaksa diasuh sementara oleh paman dan bibinya di luar negeri sampai Arifin dinyatakan bebas. Sesugguhnya tak hanya Arifin, Sherlyn pun merasa marah jika mengingat nasibnya yang harus merasakan keluarga yang tidak utuh sejak usia remaja. Dia sepaham dengan rencana Arifin untuk balas dendam. Tapi terkadang cara-cara yang ditempuh Arifin sampai tak mengenal batasan dan itulah yang tidak bisa diterima dengan mudah oleh Sherlyn. Seperti kali ini, berat bagi Sherlyn untuk memenuhi permintaan Arifin. Dia merasa jebakan itu terlalu konyol. Dia berpikir menyerahkan kehormatan pada seorang musuh adalah sebuah tindakan yang bodoh. Meski begitu, tetap saja Sherlyn tidak bisa menghindar dari tugasnya. Bahkan kali ini Arifin mengancam akan menjualnya pada mucikari jika Sherlyn tidak menurut. “Hanya dengan cara itu kamu bisa masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Revano. Lalu hancurkan keluarganya seperti mereka sudah menghancurkan keluarga kita,” kata Arifin mencekoki Sherlyn dengan kebencian yang membara. Sherlyn tak punya pilihan lain. Dia lebih baik mengorbankan diri pada Revano dari pada menjadi pemuas para lelaki. Sherlyn tahu Arifin tidak pernah main-main dengan ancamannya. Bahkan Sherlyn tak habis pikir bagaimana dendam sampai membuat Arifin buta pada kasih sayang untuk putrinya sendiri. Pada suatu hari mereka pun menyiapkan sebuah rencana yang matang. Sherlyn sudah membuat janji dengan Revano mengatas namakan bimbingan tugas akhir. Ya. Tidak hanya dosen pengajar, Sherlyn juga berhasil mengatur alur hingga Revano juga menjadi dosen pembimbing skripsinya. Segala alasan Sherlyn utarakan agar hari itu mereka bisa bertemu di luar kampus. Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di sebuah cafe. Sherlyn pun harus berpura-pura menyiapkan proposal penelitian. “Sudah siap dengan rencana kita kali ini, Sayang?” tanya Arifin menemui Sherlyn yang sedang mematut diri di depan cermin. Sherlyn hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Bagus. Kamu memang putriku yang hebat,” puji Arifin. Laki-laki itu kemudian keluar dari kamar Sherlyn setelah memastikan bahwa putrinya bersedia menjalankan rencana mereka. Sementara itu Sherlyn sedang bersiap. Dia menatap ragu pada bayangannya sendiri. Dia mengenakan tank top crop berwarna hitam dengan belahan yang sedikit terbuka dan dia padankan dengan hot pants jeans. Wajahnya sudah ia poles dengan make up. Sementara rambut panjangnya dia sanggul hingga lehernya tampak jenjang. Sherlyn menelan ludah kasar. Sesungguhnya hati gadis itu sedang bergejolak. Nuraninya tidak menyetujui tindakan itu sepenuhnya. Sekarang dia geli menatap dirinya sendiri yang sudah tampak seperti perempuan penggoda. Sherlyn tidak menyangka sebentar lagi dirinya harus merelakan hal berharga yang ia jaga selama ini. Sherlyn memang pernah menjalani kehidupan di luar negeri. Tapi semua itu tidak membuatnya lantas mudah menyerahkan kehormatannya dengan buaian pergaulan bebas. Sejenak gadis itu mengambil napas panjang dan menghembuskannya teratur. Matanya terpejam menahan gejolak dalam hati. Ia terbayang pada Satria dan pengkhianatan yang akan dia lakukan sebentar lagi. Semua itu tidak mudah bagi Sherlyn tapi dia tidak punya pilihan lain. “Semua ini demi keluargaku. Aku tidak akan membuat pengorbanan besarku sia-sia. Revano harus hancur,” ucap Sherlyn penuh tekad. Gadis itu kemudian mengambil sebuah jaket untuk menutupi tubuhnya. Dia tidak mungkin keluar rumah dengan penampilan seperti itu. Hanya di depan Revano saja dia akan menunjukkan semuanya. Sherlyn pun keluar kamar. Sebelum pergi dia sempat menemui ayahnya. Beberapa orang suruhan juga Arifin kerahkan untuk mengikuti Sherlyn dari belakang tanpa membuat orang lain curiga. Arifin menugaskan mereka untuk membantu putrinya dan memastikan rencana berjalan sesuai yang diinginkan. “Kalau semua sudah siap aku akan pergi sekarang, Pa. Sebentar lagi papa akan kehilangan anak gadis papa. Doakan saja semoga rencana papa untuk menghancurkan Revano tidak berbalik menghancurkan putri papa sendiri,” pamit Sherlyn penuh penekanan menyiratkan hatinya yang masih keberatan. Gadis itu pun melenggang memasuki sebuah mobil dan melajukannya meninggalkan pekarangan rumah. Sementara Arifin hanya mematung di tempatnya. Dia sama sekali tidak mengindahkan peringatan dari sang putri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.6K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
34.0K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook