7. Romanticism 3.50

1529 Kata
"Arka. Habis nikahan lo sibuk banget ya. Gue udah spam chat tapi ga ada satu pun yang lo bales." "Chat lo ga penting soalnya," celetuk Arka pada Edwin, yang menjabat sebagai manajer di restoran miliknya. The Home. Hubungan di antara keduanya terbilang cukup unik. Arka telah menganggap Edwin sebagai temannya. Namun hal itu tidak berlaku pada Edwin. Lelaki yang sangat jarang menampakkan senyumnya itu menganggap hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Meski begitu, Edwin tidak pernah benar-benar menghormati Arka sebagai atasan. Seperti saat ini. Mana ada bawahan yang berani protes ke atasan secara gamblang begitu? Padahal 'kan itu restoran punya Arka. "Ga penting matamu!!" Edwin membuka map yang dipegangnya dari tadi, lalu memperlihatkannya pada Arka. "Ini ada tawaran iklan dari perusahaan XLD. Katanya, bakalan tayang di stasiun televisi juga. Katanya juga, dia pengen ngundang lo jadi tamu di acara Cooking Day," ujar Edwin. Arka menopang dagu menatap Edwin. "Terima, jangan?" tanyanya. "Ya mana gue tau!" Edwin menggeram. Berdecak menatap Arka. "Ini restoran 'kan punya lo, Arka. Ngapain nanya ke gue?" keluh Edwin. "Gue cuma nanya doang, Edwin. Sensi amat. Lagi banyak beban hutang ya lo?" terka Arka seraya mengambil map itu lalu memperhatikan, membaca tulisan-tulisan tersebut dengan saksama. "Sembarangan!" Edwin menghela napas. "Jadi ini gimana? Kalo terima cepetan lo tanda tangan. Kerjaan gue bukan cuma ngurusin lo doang," ucap Edwin. Arka terdiam sejenak. Perusahaan XLD ... siapa pun tahu bahwa perusahaan tersebut dikenal dengan strategi pemasarannya yang begitu hebat. Arka harus mengakui satu hal itu. Hal ini juga mungkin menjadi peluang untuk bisnisnya agar tetap bertahan di zaman yang serba canggih ini. "Gue ga harus datang ke acara masak-memasak itu, 'kan?" tanya Arka. Sejujurnya Arka sangat tidak menyukai bila dirinya menjadi pusat perhatian publik. Acara masak-memasak yang disebutkan Edwin itu ... merupakan acara yang paling diminati oleh kalangan kaum ibu belakangan ini. Edwin mengangguk. "Menurut gue, ini patut kita coba. Lo tau 'kan, kesempatan ga bakalan datang dua kali. XLD juga punya citra yang baik di kalangan masyarakat." Sembari mendengarkan ujaran Edwin, Arka kembali membaca isi surat kontrak itu sekali lagi. "Ajukan pertemuan selanjutnya minggu depan. Kalau bisa hari Selasa atau Rabu." * Ruth tampak kegirangan setelah mendapat notifikasi dari seseorang yang sangat dinanti-nantikannya belakangan ini. "Laura!! Akhirnya gue diterima juga." Ruth memekik. Perempuan itu menghamburkan pelukannya pada Laura, sahabatnya. "Akhirnya perjuangan lo ga sia-sia ya, Ruth," ucap Laura. Bibir perempuan itu tampak melengkung. Ruth melepas pelukannya lalu mengangguk penuh antusias. Senyum di wajahnya masih belum pudar. "Kata Ibu tadi, besok gue bisa langsung ke sana, ke rumahnya." "Tapi Ruth ... Arka ngijinin lo kerja ga?" tanya Laura. "Dia ijinin kok. Malah dia juga ikut ngebantu gue cari lowongan," jawabnya. Laura mengangguk paham. "Oya, Ruth. Gue mau pulang dulu. Cucian di kost udah numpuk banget. Lusa Mama gue bakalan mampir ke kost-an. Bahaya banget kalau ibu negara tau kalau gue hobi menumpuk baju kotor." "Oke. Makasih ya udah mampir," ucap Ruth. "Gue ga ngasih lo duit. Jadi ga usah ngucapin terima kasih." ——— Ruth menyambut dengan baik kepulangan Arka. Setelah sebulan tinggal bersama, entah mengapa hal itu menjadi kebiasaannya. "Kamu udah makan, Ruth?" tanya Arka. "Belum. Aku nungguin kamu pulang dulu biar bisa makan malam bareng," jawab Ruth seraya mengekori langkah Arka. "Kamu mau mandi dulu atau makan dulu, Ar?" tanyanya. Arka terdiam sejenak. Ia sudah berencana hari ini akan mandi lebih dahulu karena ia pulang sedikit terlambat, tidak seperti biasanya. Dikarenakan ada beberapa kendala di restoran yang harus diselesaikannya dengan segera. "Makan dulu dong." Namun mengetahui bahwa Ruth sudah menunggunya dari tadi rasanya ia tidak tega jika harus membuat Ruth menahan lapar lebih lama. Keduanya segera beranjak menuju ke ruang makan. Arka segera duduk di sana, di kursi meja makan. Sementara Ruth tengah sibuk menyajikan nasi di piring untuk Arka, juga untuknya. "Mau aku buatin kopi, Ar? Atau apa gitu?" tawar Ruth. Arka tersenyum, menggeleng pada Ruth. "Gak usah. Kita langsung makan aja," ujar Arka. Ruth mengangguk paham lalu duduk di sebelah Arka. * "Mama tadi nelpon." Ruth memulai kembali pembicaraan seusai mereka makan malam. "Mama bilang apa?" Arka menyingsingkan lengan kemeja, berniat membantu Ruth mencuci piring di wastafel. "Mama ga ngomong yang aneh-aneh, 'kan?" Arka tahu persis kelakuan mamanya itu. Selama ini, mama terus-terusan menelpon, mendatangi Arka secara tidak diduga-duga. Arka merasa tengah diteror oleh mamanya sendiri. Arka dipaksa untuk segera mendapatkan keturunan. Ingin rasanya Arka mengatai sang mama dengan kata-k********r, tapi itu mama. Mama kesayangannya walaupun ia ragu apakah mama juga menyayanginya atau tidak. Namun bagaimanapun juga itu tetap mama. Mama kandungnya. Ruth tergelak. "Mana mungkin Mama ngomongin hal yang aneh-aneh." Ruth menoleh melirik Arka. "Mama nanyain kabar kita doang. Katanya, Yumi juga kangen banget sama kita. Kalau ada luang kita ketemu Mama ya, Ar." "Boleh. Sekalian nanti kita juga mampir ketemu Bunda," ucap Arka sembari membilas tangannya yang penuh busa dan beralih mengikatkan kembali ikatan rambut Ruth yang tampak terlepas. "Oya, aku diterima, Ar." Ruth mendadak berbalik, membuat tatapan keduanya bertemu. Tubuh Arka sedikit tersentak ke belakang. Mendadak tubuh lelaki itu terasa kaku. Dapat ia rasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "S-serius?" Arka tersenyum canggung, sedikit menjauhkan dirinya dengan Ruth. "Bagus dong," ujar lelaki itu. Ruth tampak sumringah. "Besok aku diminta datang ke sana." "Aku anterin ya." "Kamu 'kan sibuk ngurusin restoran. Mana sempat nganterin aku," ucap Ruth. "Gapapa, Ar. Aku berangkat sendiri aja." "Jangan khawatir. Gak bakalan ada yang berani mecat aku kok," ujar Arka. Ruth mendelik pada lelaki itu. "Iyalah! 'Kan kamu yang punya restorannya." Arka terkekeh. "Jadi aku boleh anterin kamu, 'kan?" tanyanya lagi. Sembari beranjak dari dapur, Ruth berujar. "Ya udah kalau kamu maksa." Keduanya kini memasuki kamar. Seperti biasa, Ruth kembali menatap layar laptop. Berencana menyelesaikan naskah yang tengah dikerjakannya. Sementara Arka segera menuju ke arah Walk in Closet. Ruth menghela napas. Belakangan ini imajinasi perempuan itu kian menurun. Entah apa yang menghalangi pintu imajinasi otaknya. Padahal tenggat waktu pengiriman naskah sebentar lagi. Namun seberapapun Ruth berusaha untuk menulis, perempuan itu tetap tidak bisa. Ruth menoleh ke arah belakangnya. "Kayaknya masih lagi mandi." Ruth bergumam. Pilihan terakhir Ruth hanya satu. Ruth meraih ponselnya yang berada tepat di pinggiran rak buku lalu beralih menghubungi Laura melalui panggilan via telepon. "Ngapain nelpon gue malem-malem? Ga ada kerjaan lo?" Ruth meringis. Laura memanglah Laura. "Gue kehabisan ide cerita, Ra." Ruth menghela napas. "Lah? Hubungannya sama gue?" "Ya ... gue minta saran. Mana tau dengan mendengar masukan dari lo bisa ngebuat gue berimajinasi dengan baik lagi." "Ruth. Lo 'kan udah nikah ... genre novel yang lo tulis juga kali ini komedi, romantis. Bukan kayak yang sebelumnya yang genre misteri. Kenapa ga nyoba ngelakuin beberapa hal bareng Arka dulu?" Ruth diam mendengarkan opini Laura. Dan mendengar hal itu membuatnya tersadar akan satu hal. Ia dan Arka meski sudah menikah, mereka tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu bersama. Bahkan setelah menikah, keduanya kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing. Keduanya juga kompak menolak tiket untuk berbulan madu yang ditawarkan oleh tantenya Arka ke luar negeri. "Kalian ga pernah jalan bareng, 'kan? Belanja aja lo minta temenin sama gue terus, Ruth ... bukannya gue ga mau, tapi ... kalian 'kan udah nikah. Sesekali coba deh ajak Arka. Dia 'kan pinter masak tuh, jadi dia bisa bantu nyari bahan masakan. Atau—" "Ra, awas aja kalau ternyata Bunda yang nyuruh lo ngawasin gue sama Arka." Tuuut. Sambungan telepon terputus sepihak. Ruth berdecak. Bundanya itu benar-benar .... Namun jika hal itu dikesampingkan, semua yang diucapkan Laura tidak ada salahnya juga. Arka dan Ruth memang sangat jarang menghabiskan waktu bersama. "Serius banget, Ruth. Ada apa?" Arka berjalan menghampiri Ruth yang tampak fokus menatap layar laptopnya. Ruth menoleh menatap Arka. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di meja, menatap pada Ruth. Ruth menghela napas. Perempuan itu menutup layar laptop lalu memindahkannya ke bagian sudut sebelah kanan meja. Berdecak geram, Ruth mulai mengeringkan rambut suaminya itu menggunakan pengering rambut. "Berapa kali lagi sih mesti aku ingatin? Malam-malam begini jangan keramas." Alih-alih menjawab, Arka hanya menunjukkan cengirannya. Ruth mengabaikan respon Arka. Perempuan itu tampaknya benar-benar tidak ingin melihat Arka tertidur dengan rambut basah. "Kamu pendek banget, Ruth." Arka kembali berceletuk. Ruth berdecak geram. "Kamunya aja yang kayak tiang." Arka terkikik geli. Bukan Ruth namanya jika tidak berbicara dengan nada bicara yang nyolot begitu. "Malam ini jangan begadang ya, Ruth. Kamu mesti tidur lebih awal." Ruth menyimpan kembali pengeringbrambut tersebut kala merasa rambut Arka mulai kering. Setidaknya, tidak basah seperti tadi. "Pengennya sih gitu, Ar. Tapi naskahnya masih belum selesai." Ruth mendesah berat. Arka menatap dalam-dalam Ruth. Lelaki itu menarik pinggang Ruth, mendekapnya lalu menempatkan dagu ke pundak kanan Ruth. "Aku udah baca naskah yang kamu tulis kemaren ... malam ini kamu tidur duluan. Biar aku aja yang lanjutin naskahmu." Ruth sedikit menjauhkan tubuhnya dari Arka, menatap Arka dengan serius. "Tapi, 'kan—" "Aku tau." Arka menginterupsi. "Aku masih inget banget kok kamu pengen buat ending yang gimana." Arka menyibak poni rambut Ruth ke belakang telinga. "Kalau kamu ga suka atau apa yang kutulis keluar dari story line yang udah kamu rencanakan dari jauh-jauh hari, 'kan masih bisa dihapus," ujar lelaki itu. Ruth tertawa pelan. Ia menjauhi Arka lalu merebahkan diri ke tempat tidur. "Ya udah kalau kamu maksa." Ruth tersenyum menatap Arka. "Selamat malam, Arka." "Selamat malam juga, Ruth."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN