8. Romanticism 3.50

1497 Kata
"Kamu udah coba baca lanjutan yang aku tulis semalam?" Ruth menoleh menatap Arka. "Belum. Tadi pagi-pagi banget aku langsung masak. Terus tadi Bu Tia datang, ngajakin aku ketemu sama ibu-ibu komplek," jelas Ruth. "Oya? Kamu ngapain aja sama ibu-ibu komplek?" Arka menutup pintu kulkas setelah menemukan apa yang diinginkannya, lalu menarik kursi meja makan. Lelaki itu duduk tepat di sebelah Ruth. "Ya ... gitu. Tau sendirilah sifat ibu-ibu tuh pada gimana." Ruth menjawab seadanya. Ia menoleh menatap Arka yang tampak asyik mengaduk minuman yang mengandung kafein tersebut. "Eh tapi 'kan, Ar, Bu Tia ngajakin aku ikut kelas memasak hari Minggu nanti. Sama ibu-ibu yang lain juga sih nanti perginya." "Kamu mau?" tanya Arka. Ruth mengedikkan bahu. "Masih belum tau sih." "Kamu pengen ikut kelas memasak ga?" Arka sangat mengetahui bahwa Ruth, istrinya itu sangat suka mempelajari hal-hal baru, hal yang membuatnya tertarik. Seperti kelas memasak ini. Ruth terdiam sesaat. "Pengen sih. Kemampuan memasak aku juga masih kalah jauh sama kamu," ucap Ruth. "Tapi masakanmu enak kok, Ruth." Sejujurnya Ruth kerap kali merasa tidak percaya diri dengan apa yang dimasaknya. Karena dibandingkan dengan hasil masakan Arka, hasil masakan Ruth bisa dikatakan biasa-biasa saja, begitu menurut Ruth. Ruth terkesiap. "Eh ... beneran?" Perempuan itu tampak mengerutkan kening. Arka mengangguk. "Walaupun aku ga pernah bilang sebelumnya, tapi aku suka sama masakan kamu." Ruth tampak sumringah. Seumur hidup, baru kali ini ada yang memuji hasil masakannya. Eh— ralat. Arka adalah orang kedua yang mengatakan bahwa masakannya enak, setelah bunda yang berada di urutan pertama. "Sebenarnya aku juga pengen nyoba buat kue, Ar. Kamu tau 'kan, aku paling ga bersahabat sama yang namanya kue." Arka tertawa pelan. "Kayaknya kamu pengen banget ya?" Jika sudah membahas hal tersebut berulang kali, itu berarti Ruth benar-benar ingin mengikuti kelas memasak. Arka sangat yakin akan hal itu. Ruth menyengir. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menatap Arka dengan tatapan berbinar "Aku boleh ikut 'kan, Ar?" tanya Ruth. Arka bersedekap. Menatap Ruth dengan tatapan angkuh. "Boleh sih. Tapi ga gratis." Ruth berdecak. "Ngapain nanya kalo kamunya ga ngijinin?" "Ya suka-suka aku dong," balas Arka. Ruth menghela napas. Berhadapan dengan suaminya sama saja dengan membuang-buang tenaga. Jika terus diladeni bisa-bisa mentalnya kian menciut. Arka beranjak dari ruang makan sembari memakai jam tangan berwarna hitam di tangan kiri. Ruth berlari kecil mengekori Arka yang berniat berangkat kerja. "Arka. Boleh dong ya?" Ruth kembali memohon. Memelas menatap Arka. Bahkan tangan perempuan itu kini memegangi lengan Arka. Menahannya. Setidaknya, sampai Arka mengizinkan dirinya ikut kelas memasak hari Minggu nanti. "Kamu ngapain pegang-pegang aku? Naksir, hm?" celetuk Arka. Reflek, Ruth menghempas lengan Arka. Ada-ada saja memang Arka. "Dih! Enggak ya! Ogah banget juga. " Ruth beringsut mundur menjauhi Arka. Samar-samar, Arka tersenyum. Entah mengapa melihat ekspresi Ruth yang tengah merajuk itu benar-benar membuatnya gemas. "Sana pergi! Jangan balik lagi! Memang harusnya waktu itu aku nikah sama Choi Siwon aja," keluh Ruth. Arka mengerutkan kening menatap Ruth. "Jangan ada Choi Siwon di antara kita," tegas Arka. "Lagi pun orang kayak Choi Siwon mana mau sama tutup botol plastik kayak kamu." Wajah Ruth merah padam. Tatapannya pada Arka kian menajam. "Kamu juga! Dasar tutup botol jelek!!" "Seenggaknya aku tupperware." Arka tersenyum mengejek. Ruth memegangi belakang lehernya yang tiba-tiba saja terasa sakit. Sungguh, Ruth tidak habis pikir dengan kelakuan Arka. Kenapa ayah dan bunda harus menjodohkannya dengan lelaki seperti Arka sih? Yang bahkan tidak ada satu pun sifat Arka yang masuk ke dalam daftar tipe idaman Ruth. Dan lagi ... masih pagi-pagi begini Arka sudah mengajak baku hantam? Melihat Ruth yang tampak mengatupkan rahang, Arka terdiam sejenak. Lelaki yang sudah berpakaian amat rapi itu beralih menarik Ruth, membawanya masuk kembali ke dalam rumah. "Ngapain masuk lagi?" Tampaknya Ruth masih enggan untuk berbaikan dengan Arka, suaminya yang super nyebelin itu. "Suka-suka aku dong. Rumah aku juga ini." Ruth mendengus. Mendengar nada suara Arka yang terdengar begitu arogan benar-benar membuatnya harus menarik napas dalam-dalam. Arka ... suaminya itu masih waras ga sih? "Jadi kamu mau ikut kelas memasak, 'kan?" Arka kembali bertanya. Ruth menoleh menatap Arka dengan penuh rasa enggan yang menyelimuti batin. "Ga usah tanya kalau ujung-ujungnya ga ngijinin aku pergi!" Arka mengulum senyumnya. "Aku ga ada bilang kamu ga boleh pergi ya. Itu kamu sendiri yang bilang." "Arka!!" Harus Ruth apakan lagi Arka yang kelewat jahil itu? "Iya, Ruth?" Well, tampaknya Ruth harus mengalah kali ini. Ruth tersenyum malu-malu. Perempuan itu mendekati Arka yang baru saja meneguk air putih. Sejujurnya alasan Arka kembali masuk ke rumah hanya untuk meminum air putih. Sedari bangun subuh tadi, tenggorokan Arka entah mengapa terasa begitu kering. Lelaki itu membiarkan Ruth duduk di kursi sebelah kanan. Tepat di sampingnya berdiri saat ini. "Ruth. Aku ijinin kamu ikut kelas memasak kok. Tapi ga gampang, bakalan ada syaratnya," ucap Arka. Ruth mencebikkan bibir. Syarat yang diajukan Arka pasti aneh-aneh dan akan membuat raga dan batinnya tertekan. Arka 'kan memang begitu. Suka menyusahkan kehidupan Ruth. "Kamu pengen banget-banget gitu ikut kelas memasak?" Tanpa menoleh ke arah Arka, Ruth mengangguk. "Emang kamu betah lama-lama sama para ibu?" Lagi, Ruth mengangguk. Memberi respon dengan cepat. Tiba-tiba saja Arka merundukkan tubuh. Mensejajarkan posisinya dengan Ruth. Lelaki itu menangkup kedua pipi Ruth, menatapnya dalam-dalam. Arka mencium bibir Ruth dengan lembut. Ruth terbelalak. Niatnya ingin mendorong Arka malah urung tatkala tangan kanan Arka bergerak membelai rambutnya. Membuat Ruth memejamkan mata. Membiarkan Arka menciumnya lebih dalam lagi. Tangan perempuan itu meremas kuat-kuat bagian samping baju yang dikenakan Arka. Bruk. "MAMA!! Mata Yumi ternodai!!" BRAK. Tubuh Arka tiba-tiba saja terpental akibat dorongan kuat dari Ruth. * Harusnya, saat ini Arka mengantar Ruth menuju tempat kerja. Tetapi akibat insiden pagi tadi, yang Arka inginkan hanyalah berada di ruang yang berbeda dengan Ruth, istrinya. "Mikirin apa, Pak? Beban hidup ya?" Bahkan ocehan dari Edwin sedikit pun tidak digubris oleh Arka. Lelaki itu benar-benar malu. Mau disembunyikan ke mana dirinya yang tampan dan dermawan itu? Bisa-bisanya ia mencium Ruth di tengah keadaan seperti pagi tadi? Memang tidak salah kata papanya dulu pada Yumi. Semua laki-laki itu buaya. Ya. Termasuk dirinya. Arka Ravindra. "Arka! Lo kenapa sih? Kalo ada masalah cerita ke gue. Jangan diem kayak patung." Edwin berujar setengah geram. Arka yang mendadak jadi pendiam benar-benar membuatnya jengkel. Pasalnya, sedari tadi Edwin berusaha mendapatkan atensi Arka, si pemilik restoran untuk membahas beberapa hal penting. "Emang lo siapa gue? Nganggep gue temen aja enggak," cibir Arka. Edwin menghela napas lega. Akhirnya Arka mulai merespon ucapannya. "Lo kenapa diem-diem aja dari tadi? Dari pas nyampe, sampe sekarang lo ga ada ngomongin hal apapun." Arka menatap Edwin penuh selidik. "Jangan bilang lo naksir sama gue?" Arka terbelalak. "Lo gay?!!" Edwin menghantam kepala Arka dengan buku. Ia berdecak beberapa kali setelah mendengar lontaran Arka barusan. "Ngadi-ngadi lo. Kalaupun iya tampang kayak gue mana selevel sama lo." Edwin mendengus padanya. "Capek gue ngurusin lo." Ia beranjak keluar dari sana. Urusan restoran akan dibahasnya nanti. Saat kondisi otak Arka kembali normal. "Kak Arka!" Habis Edwin terbitlah Yumi. Arka memijat pangkal hidungnya. "Kamu di luar aja sana. Main sama yang bisa kamu ajak main." Arka berujar acuh tak acuh. Bahkan lelaki itu tidak melihat ke arah adiknya, Yumi. "Lagi sibuk banget di luar. Ada rombongan yang datang soalnya, Kak. Malesin banget deh." "Seenggaknya mereka bayar. Gak kayak kamu. Maunya gratisan doang," celetuk Arka. Ada ga sih online shop yang memperjual belikan manusia? Ingin rasanya Yumi menjual kakaknya itu. Urusan harga boleh nego. "Sama adik sendiri perhitungan banget! Dasar Kak Arka pelit." Gadis itu mencebikkan bibir. Membuang muka, enggan melihat tampang arogan kakaknya yang super nyebelin itu. Yumi beranjak duduk di sofa. Mengeluarkan gawainya lalu asyik menonton film. "Lain kali kalau mau datang ke rumah, kabarin dulu," ucap Arka seraya menatap Yumi yang tengah menyusun beberapa buku yang ada di meja lalu menyandarkan benda pipih elektronik itu ke tumpukan buku. Yumi mengangguk tak acuh. "Yang tadi pagi itu salah Kakak. Ngapain coba ciuman di dapur?" "Heh!" Arka melotot. "Mulutnya itu dikasih filter dulu kalau mau ngomong." "Ya 'kan aku ngomong faktanya. Kakak sama Kak Ruth tadi—" Arka buru-buru membekap mulut Yumi dengan tangannya. Memang usia Yumi tidak termasuk dalam kategori anak-anak lagi ... tapi tetap saja. Arka merasa aneh jika Yumi melontarkan kalimat-kalimat tersebut dengan frontal. "Ga perlu dilanjutin. Anggap aja kali ini kamu menang." Arka beralih mengambil sebuah apel yang terletak di meja lalu menggigitnya. "Lagian Mama ngapain sampe nitipin kamu segala sih? Sendiri di rumah pun ga bakalan ada orang yang mau nyulik bocah kayak kamu. Yang ada penculiknya juga bakalan menderita batin ngurusin kamu." Yumi menatapnya sinis. "Emang harusnya tadi aku ikut aja pas Kak Ruth ngajakin aku ke tempat Kak Ruth jadi tutor." "Kamu kalau ikut, yang ada malah nyusahin Kakak Ipar kamu." "Dih. Sok tau banget si Kakak." Yumi menatapnya congkak. "Belum tahu aja Kakak kalau nilai bahasa inggris aku tuh A semua. A-nya pake plus lagi. A+." "Dih. Sombong. Duluan juga Kakak lahir dari pada kamu." "Serius, Kak ... kalau Kak Ruth bisa bertahan sama manusia kayak Kakak, berarti Kak Ruth benar-benar luar biasa. " Arka tertawa sinis. "Sst! Bocah dilarang berkomentar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN