9. Romanticism 3.50

1523 Kata
Ruth menepuk bibirnya berulang kali. Sembari berjalan dengan langkah perlahan, perempuan itu terus merutuki diri. Malu. Mengingat apa yang terjadi pada Arka dan Ruth pagi tadi, hanya rasa malulah yang melekat dalam diri Ruth. Rasanya Ruth ingin menghilang saja dari peradaban. "Ck. Bisa-bisanya gue terus kepikiran Arka." Perempuan itu masih saja menggumami tiap hal yang terbesit dalam pikirannya. Sejujurnya, setelah menikah, Arka dan Ruth tidak pernah sekali pun melakukan kontak fisik yang cukup intim. Mereka hanya sebatas berpelukan. Itu pun selalu Arka yang memeluknya duluan. Namun Ruth tidak pernah memprotes akan hal itu. Karena posisi Arka dan Ruth, meski dipaksa menikah ... usia mereka bukanlah usia remaja yang masih saling malu-malu. Usia keduanya sudah terbilang cukup dewasa. Jadi meski mereka melakukan kontak fisik pun itu merupakan hal yang wajar. Namun tidak bagi Arka dan Ruth. Mereka memiliki sudut pandang yang berbeda. Ruth tidak pernah tersentuh oleh lelaki mana pun, kecuali sang ayah. Selain karena Ruth pintar menjaga diri, selama ini Ruth juga jomblo. Kalau mau ngebucin, mau ngebucin sama siapa? Ya kali sama tiang listrik? "Arka nyebelin. Ngapain coba dia nyium-nyium gue?! Untung cuma ketahuan sama Yumi. Kalau aja Mama yang lihat ...." Ya. Jika saja mama yang melihat. Pasti Ruth ingin berubah menjadi buih-buih di laut saja. Membayangkan mama melihat keduanya saja sudah cukup membuat perempuan itu bergidik ngeri. Aih. Sudahlah. Memikirkan hal itu hanya membuat kepala Ruth tambah sakit. Ruth mempercepat langkahnya. Menghampiri sebuah bangunan mewah yang menjadi tempat tujuannya saat ini. Perempuan itu menekan bel pintu rumah beberapa kali. Lalu menunggu di sana seraya melihat-lihat pekarangan rumah yang dihiasi oleh berbagai tanaman hias. Atensi Ruth teralihkan tatkala mendengar suara decitan pintu. Ia menoleh menatap seorang wanita yang memiliki tampilan begitu elegan. Ruth mengucapkan salam pada si pemilik rumah. Wanita itu nampak menyambut baik kedatangan Ruth. Ia segera mempersilakan Ruth masuk ke dalam rumah. Dengan senang hati Ruth berjalan masuk mengikuti langkah wanita tersebut. "Ini ... ini anak saya. Heran saya. Nilai bahasa Inggris Hira ga pernah naik. Malah makin ke sini makin turun." Wanita itu berujar ramah. Ia memanggil putrinya untuk mendekat. "Nak, ini tutor yang bakalan ajarin kamu. Ibu—" "Panggil Kak Ruth aja," sela Ruth sembari tersenyum pada remaja itu. "Nah, sekarang langsung mulai belajar aja," ujar wanita itu, mamanya Hira. "Ruth, tolong ajarin anak saya ya. Kalau dia bandel langsung pukul aja. Jangan sungkan." Wanita itu melenggang pergi meninggalkan mereka. Ruth meletak tasnya di meja lalu duduk lesehan di karpet. "Eh, Kak? 'Kan ada sofa. Duduk di situ aja." "Duduk di sini aja. Lagi pun bakalan susah kalau di sofa duduknya. Meja belajarnya ga bakalan kepake nanti." Ruth tersenyum. "Kamu saya panggil Hira aja boleh, 'kan?" Gadis itu mengangguk sembari mengeluarkan buku-buku miliknya. "Boleh kok, Kak." Tubuh Ruth mendadak tersentak. Perempuan itu terkesiap kala menyadari suatu hal. Ruth sangat yakin bahwa ia pernah melihat gadis tersebut. Tidak salah lagi! Hira ... gadis itu saingannya Yumi. Orang yang bersama pacar Yumi tempo hari. "Kak Ruth?" "Eh? Iya, Hira? Kenapa?" Hira tampak mengernyit. "Harusnya aku yang tanya. Kak Ruth kenapa? Kok tiba-tiba bengong begitu?" "Maaf-maaf. Saya cuma lagi kepikiran sesuatu tadi." Ruth menyengir. "Jadi kamu udah belajar sampai bab mana di sekolah?" Hira membuka halaman bukunya dengan perlahan. "Kamu ga inget, Hira?" Hira tersenyum kikuk. "Gurunya lebih sering ngasih latihan soalnya." Ruth tersenyum menanggapi. "Kalau begitu kita mulai dari yang kamu inget dulu aja." "Sebenarnya, Kak ...," "Iya?" "Aku ga mau belajar sama tutor. Aku udah bilang ke Mama kalau aku tetap bakalan belajar bahasa Inggris lebih giat lagi sama temenku." "Temen?" Hira mengangguk. "Iya, temen aku. Dia pinter banget soalnya." "Gak diijinin mama kamu?" "Mana bisa saya ijinin," celetuk wanita itu sembari berjalan melewati keduanya. "Bukannya belajar, malah keasikan main ntar Hira-nya." Ia kembali beranjak dari sana seusai meletak dua gelas jus jeruk di meja. "Kapan-kapan kamu boleh ajak temen kamu itu kok buat ikut belajar bareng. Ya walaupun teman kamu itu udah pinter bahasa Inggris." Hira nampak berbinar. "Serius boleh, Kak?" tanya Hira. Ruth mengangguk sembari tersenyum. "Serius kok," jawabnya. "Nah, sekarang kita belajar dulu ya. Nanti kalau udah ga sanggup belajar lagi kita bisa ngobrol." * Ruth menoleh ke samping. Melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul 12.14 PM. Namun tanda-tanda Arka akan tiba pulang masih belum kelihatan juga. Raut wajah Ruth tampak tidak tenang. Arka tidak pernah pulang selarut ini. Biasanya jika Arka akan pulang terlambat, lelaki itu pasti selalu memberitahukannya terlebih dahulu. Namun kali ini … tampaknya tidak ada yang dapat diharapkan oleh Ruth. "Apa jangan-jangan Arka marah karena gue dorong dia tadi?" Perempuan itu bergumam. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan. Ingin rasanya Ruth menelepon sang suami dan menanyakan keberadaannya, namun rasa bersalah karena telah mendorong tubuh Arka dengan begitu kuat pagi tadi benar-benar membuat Ruth merasa tidak enak. Belum lagi ia khawatir akan betapa canggungnya mereka nanti. Ruth beranjak dari ruang makan. Berjalan terburu-buru dengan langkah besar menuju pintu. Entah untuk yang keberapa kalinya perempuan itu kembali memutar knop pintu rumah. Melangkah melewati ambang pintu lalu mengalihkan atensi melihat ke sekeliling perumahan. Suara-suara jangkrik yang terdengar begitu jelas juga angin malam yang berdesau membuat suasana kian terasa mencekam. Lebih-lebih lagi, tidak ada lagi suara-suara berisik dari tetangganya. Perlahan, Ruth melangkah lebih jauh lagi. Perempuan itu memberanikan diri, mendekati pagar rumah. Ia berdiri di sana. Mengintip ke arah jalanan melalui celah-celah besi pagar. Namun Ruth hanya mendapati jalanan yang sepi. Dedaunan yang berserakan di jalanan. Juga beberapa kucing liar yang nampak terjaga. Merasa Arka tidak kunjung pulang, perempuan itu memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Membiarkan pintu tertutup tanpa dikunci kalau-kalau Arka kembali pulang ke rumah. Ruth berdiri dibalik pintu. Memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Ia tidak pernah menduga bahwa berjauhan dengan Arka membuat dirinya sefrustasi ini. Perasaan yang dirasakan Ruth saat ini, sangatlah asing baginya. Perasaan perempuan itu benar-benar tidak tenang. Ia juga khawatir, takut suaminya kenapa-napa di luar sana. Atensinya ia alihkan guna menatap ke arah meja makan di dapur. Dimana makanan telah tertata dengan begitu rapi di sana. Makanan yang sudah dimasak Ruth pasti sudah dingin. Dan perempuan itu benar-benar kelaparan sekarang. Sepertinya makan malam bersama Arka menjadi kebiasaan baru Ruth. Hal itu tampak seperti hal yang wajib bagi Ruth. Namun alih-alih menyantap makanan lebih dahulu, Ruth memilih untuk merebahkan tubuh di sofa. Berusaha untuk melepas penat. Seharian ini dia terlalu sibuk mengurusi halaman belakang rumah. Ruth memejamkan mata. Menempatkan bantal sofa di atas perutnya Semoga saja ... semoga Arka masih ingat jalan pulang ke rumah. Kasihan kalau Ruth dibiarkan sendiri. Bisa-bisa mati kelaparan dia. Baru beberapa menit memejamkan mata, Ruth kembali membuka mata. Ia terduduk. Tangan Ruth bergerak meraih ponsel yang letaknya tepat di sebelah remot televisi. Ruth menatap kontak Arka di gawainya. Perempuan itu sebisa mungkin menahan keinginannya untuk menghubungi sang suami. Kenapa hatinya sangat sulit untuk diajak kerja sama sih? Setelah frustasi berkepanjangan, Ruth nekat menelepon sang suami. Ruth menggigit bagian bawah bibir. Entah mengapa mendengar nada tersambung panggilan membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. "Nomor yang anda tuju sedang sibuk, si—" Tut. Ruth mengakhiri panggilan tersebut dengan segera. Yang terdengar hanyalah suara dari pihak operator. Raut wajah perempuan itu tampak muram dengan bahu yang kian menurun. Ia menghela napas dalam-dalam. Mencoba menelepon suaminya, Arka untuk yang kedua kali. Jika panggilan kali ini pun tidak terjawab, Ruth memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi dan tidur lebih dahulu. Beberapa detik telah terlewat. Dengan sedikit harapan yang tersisa dalam dirinya, Ruth tampak setia menunggu jawaban dari seberang sana. Akhirnya, diangkat!! "Ada apa, Ruth?" Ruth bergeming. Panggilannya kali ini dijawab oleh Arka. Tapi entah mengapa tidak timbul perasaan bahagia sedikit pun pada perempuan itu. Mendengar nada suara Arka yang begitu tenang tampaknya Ruth telah khawatir dan menghabiskan waktu dengan sia-sia. "Ruth?" Interupsi dari Arka membuat lamunan perempuan itu buyar. Ruth berusaha sekeras mungkin untuk menyingkirkan pikiran-pikiran buruk tentang Arka. "Kamu lagi ada urusan, Ar?" tanya Ruth. Perempuan itu kembali menggigit bagian bawah bibir. Sementara tangannya tampak meremas bagian bawah baju dengan kuat-kuat. Hening. Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari seberang sana. Ruth tersenyum masam. Entah mengapa timbul sedikit perasaan tidak menyenangkan yang menyelimuti dirinya. "Kamu lagi sibuk ya, Ar?" Ruth kembali berujar. "Ya udah ... aku matiin ya. Selamat malam." Ruth buru-buru mengakhiri sambungan teleponnya dengan Arka. Perempuan itu mendesah berat. Menatap durasi panggilan yang hanya berlangsung satu menit tiga puluh sembilan detik. Ruth meletak gawainya ke sembarang tempat lalu menoleh melihat ke arah pintu. Ruth kembali merebahkan tubuhnya ke sofa. Ia berbaring menyamping di sana. Jadi begini rasanya patah hati? Ruth menertawai kebodohan dirinya karena telah jatuh cinta sendiri. Meski Ruth tidak pernah menjalin hubungan dengan para lelaki sebelumnya, bukan berarti Ruth tidak paham apa-apa. Baperan banget memang Ruth-nya. Ruth sangat memahami perasaannya. Ruth menyadari bahwa dirinya yang terbiasa dengan keberadaan Arka membuatnya selalu merasa nyaman. Arka yang selalu baik dan perhatian padanya. Walau terkadang Arka membuatnya jengkel, sangat sulit bagi Ruth untuk membenci Arka. Benda canggih milik Ruth itu kembali bergetar. Membuat Ruth membuka mata. Ia meraih benda canggih itu. Hanya untuk sekadar melihat layar. Itu panggilan masuk dari Arka, suami Ruth. Namun bukannya menjawab panggilan, Ruth memilih meletakkan kembali benda canggih itu ke meja. Ruth menghela napas lalu kembali memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN