Arka menatap layar ponselnya yang menampakkan kontak Ruth. Lagi, panggilan telepon dari Arka tidak juga dijawab.
Arka mengalihkan atensi, memandang ke seisi bangunan mewah yang juga dipenuhi oleh beberapa orang-orang terpandang. Bahkan Arka dapat melihat keberadaan beberapa selebritas di tempat tersebut.
Arka beralih menoleh ke arah Edwin yang tengah membersihkan garpunya dengan tisu. "Edwin, gue balik duluan," ucap Arka.
Edwin tampak sedikit terkesiap. Menatap Arka dengan tatapan penuh kesangsian. "Loh? Serius? Tapi ini masih—"
"Gak bisa." Arka menginterupsi. "Istri gue udah nungguin dari tadi," jelas Arka seraya mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menyodorkan lembaran uang kertas itu pada Edwin. "Nah, nanti tolong lo bayarin. Kalau ga cukup pake duit lo aja dulu. Besok gue ganti."
Arka beranjak dari kursi. Decitan kursinya membuat beberapa orang menoleh ke arah lelaki itu.
"Mau ke mana, Ka?"
Arka menoleh melirik ke arah seorang lelaki berkacamata yang duduk di sebelah kanan Edwin.
"Pulang. Gue ada urusan penting," ujar Arka seraya berjalan terburu-buru keluar restoran.
Teman-temannya Arka tiba-tiba saja mengajak bertemu.
Sejujurnya, Arka sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Waktu Arka terlalu berharga untuk acara kumpul-kumpul tidak jelas begitu, baginya.
Ingin menolak, tapi pertemuan yang sebelumnya juga sering ditolak.
Apalagi tadi salah seorang teman Arka sampai mendatanginya ke restoran. Memaksanya untuk menghadiri acara kumpul-kumpul itu. Sehingga Edwin yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan acara kumpul-kumpul tersebut pun ikut diseret oleh Arka.
Setelah Ruth memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Arka gelisah bukan main. Ruth ... sangat tidak seperti biasanya.
Arka sudah berusaha menelepon Ruth kembali beberapa kali, namun Ruth tidak juga menjawab telepon darinya.
Tiba-tiba saja Arka terperanjat. Lelaki itu memukul setir mobil. Ia baru ingat bahwa Ruth selalu menunggunya untuk makan malam.
Ck! Kenapa Arka bisa melupakan hal sepenting itu?
*
Arka memutar knop pintu dengan hati-hati. Lelaki itu tampak menjatuhkan rahangnya menyadari suatu hal.
Bagaimana bisa Ruth tidak mengunci pintu rumah malam-malam begini?
Arka berjalan memasuki rumah, menutup pintu lalu menguncinya.
Hal yang pertama kali menyita atensi Arka hanyalah Ruth. Ia mendesah berat sewaktu melihat Ruth yang tengah berbaring di sofa. Lelaki itu membungkuk menatap wajah Ruth yang tampak tenang. Arka memegang pipi Ruth.
Dingin. Pipi Ruth benar-benar terasa begitu dingin. Membuat Arka meringis karenanya.
Itu berarti Ruth sedari tadi menunggunya di luar. Dengan pintu rumah yang tidak terkunci membuatnya tambah yakin.
Ia beranjak dari sana. Arah pandang Arka mendadak terhenti pada satu titik.
Arka melirik ke arah Ruth yang masih terlelap sesaat lalu berjalan ke arah dapur. Lelaki itu berniat memanaskan kembali makanan yang sudah dingin.
Melihat makanan yang masih tertata rapi di meja makan, Arka yakin bahwa Ruth belum memakan sesuap nasi pun untuk makan malam.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, Arka kembali menghampiri Ruth yang juga tidak terbangun meski beberapa kali terdengar suara berisik yang ditimbulkan Arka tatkala dirinya tengah memanaskan makanan di dapur.
Itu artinya Ruth benar-benar kelelahan hingga ia tertidur dengan begitu lelap.
Arka dilema. Antara membangunkan Ruth untuk mengajaknya makan malam atau membiarkannya tetap terlelap lalu membawa Ruth masuk ke dalam kamar.
"Ruth, ayo makan dulu."
Arka tidak bisa membiarkan istrinya tertidur dengan perut kosong.
Arka memegangi lengan bagian atas Ruth. Menggoyangkannya dengan pelan.
"Ruth ...."
"Eumh ... Arka?"
Ruth mengerjap beberapa kali.
Arka tersenyum penuh. "Bangun dulu. Kamu pasti belum makan, 'kan?"
Arka menarik Ruth, membuat perempuannya itu terduduk. Sementara ia berdiri tepat di hadapan Ruth.
"Ayo, Ruth. Makanannya juga udah aku panasin barusan," ujar Arka.
Ruth mengangguk samar. Perempuan itu ikut beranjak mengikuti langkah Arka menuju dapur.
"Kamu duduk aja. Biar aku yang siapin nasinya kali ini," ucap Arka.
Ruth menurut. Sembari melihat apa yang tengah dilakukan sang suami, Ruth berusaha mengingat mengapa ia bisa tertidur di saat tengah menunggu Arka kembali.
Arka meletak sepiring nasi ke hadapan Ruth, lalu ia duduk di sebelah perempuan itu.
Arka menoleh menatap Ruth. "Pintunya kenapa ga dikunci, Ruth?" tanya Arka. "Padahal 'kan walaupun kamu ketiduran aku tetap bisa buka pintunya. 'Kan aku selalu bawa kunci duplikatnya."
Ruth meringis mendengar ujaran Arka.
Benar juga. Kenapa Ruth membiarkan pintunya tertutup tanpa dikunci?
Ruth kini sadar, mencemaskan Arka membuat otaknya yang berkualitas pas-pasan itu menjadi kian berkurang kualitasnya.
"Kamu udah pulang dari tadi, Ar? Maaf ya, aku ketiduran." Ruth mengalihkan pembicaraan seraya menatap ke arah lain seusai mengucapkan hal itu lalu fokus dengan makanannya.
Arka terdiam sejenak. "Kenapa minta maaf? Kamu ga ada salah apa-apa," ujar Arka.
"Tapi aku—"
"Harusnya aku yang minta maaf." Arka menginterupsi. "Aku minta maaf karena baru pulang jam segini tanpa ngabarin kamu dulu. Tadi teman aku tiba-tiba ngajak ketemu. Jadi ... maaf. Aku lupa ngabarin." Arka menggenggam kedua tangan Ruth, menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. "Maaf ya?"
Melihat betapa menggemaskan ekspresi Arka saat ini membuat Ruth tertawa.
Arka mengernyit menatap Ruth. "Kok malah ketawa, Ruth?"
"Jadi kamu maunya aku nangis? Gitu?"
Arka meringis. "Ya nggak gitu juga sih, Ruth ...."
"Ayo makan! Kasian cacing-cacing di perutku udah kelaperan." Ruth berucap antusias.
Arka terkekeh melihat kelakuan Ruth. Ruth itu benar-benar ....
"Tinggal bilang kamunya yang laper apa susahnya sih, Ruth?"
*
"Ar, ngantuk."
Arka sedikit tertegun mendengar keluhan Ruth. Atensinya segera terfokus pada Ruth yang berada di dekatnya.
"Ya ... kamu tinggal tidur." Arka melirik ke arah jam dinding. Masih jam 8 pagi. Tapi kenapa mendadak Ruth mengeluhkan rasa kantuknya. "Kamu begadang semalaman?"
Ruth menabrakkan tubuhnya pada Arka yang tadinya sibuk membalas pesan dari Edwin. Lelaki itu meletak kembali gawainya ke nakas lalu mendekap Ruth. Membawanya duduk di sofa.
"Kamu pasti begadang lagi 'kan semalam?" terka Arka.
Ruth mengangguk. "Semalam aku lagi ga bisa tidur, Ar."
"Kenapa?"
Ruth menjauhkan tubuh dari Arka, menatap lelaki itu dengan muram "Perut aku sakit banget."
"Kamu sakit?!!" Arka terbelalak. "Kenapa ga bangunin aku?"
"Cuma nyeri doang, Ar. Soalnya kemarin baru hari pertama."
Arka mengangguk paham. Rupanya, Ruth tengah mengalami nyeri perut akibat menstruasi.
"Sekarang masih sakit?" tanya Arka. Raut wajah lelaki itu jelas menampakkan kecemasan yang mendalam.
Ruth menggeleng. "Udah gapapa," jawabnya.
"Ya udah, kalau gitu kamu tidur aja. Toh hari ini kamu ga ada jadwal tutor dan bukan hari kelas memasak. Aku pun bisa ke restoran nanti-nanti."
Ruth menempatkan kepalanya di paha Arka. Perempuan itu tidur di pangkuan Arka. Diraihnya tangan Arka lalu ia asyik memainkan tangan suaminya.
Arka tampak mengulum senyum melihat tingkah Ruth.
Lelaki itu sudah tidak heran lagi. Istrinya jika sedang datang bulan pasti kelakuannya makin aneh-aneh saja. Arka sedikit bingung awalnya, karena selama tinggal bersama keluarganya ia hanya melihat kebiasaan si adik, Yumi yang mendadak hobi ngemil. Kapan pun dan dimana pun.
"Ar, kamu belum tahu 'kan ... kalau Edwin itu temen aku pas SMA dulu?"
"Serius? Tapi kok Edwin ga pernah ngomongin soal kamu ke aku? " Arka mengerutkan kening menatap Ruth.
"Kamu inget pas acara resepsi kita? Dia 'kan kayak kaget gitu pas ngeliat aku. Lebih-lebih lagi pas tahu kalau kamunya nikah sama aku," jelas Ruth.
"Iyakah?" Arka mengernyit. "Aku sama sekali ga inget."
Ruth tertawa pelan. "Edwin rupanya dari dulu ga berubah. Dingin banget kayak kulkas dua pintu."
Arka ikut tertawa. Memang benar apa yang dikatakan Ruth. "Kalian temenan? Tapi kok sekarang kayaknya ...."
Ruth yang tadinya tidur menyamping kini terlentang, menatap Arka "Bukan temen sih sebenernya. Tapi dulu Edwin itu saingan aku di kelas bahasa." Ruth terdiam sejenak. "Edwin sampe sekarang masih tetap ganteng aja ya. Jadi kasian ... kok bisa orang seganteng Edwin masih menjomblo?"
Arka nyaris terbahak mendengarnya. "Bisa-bisanya kamu ngatain Edwin di depan atasannya? Gitu-gitu dia kerjanya baik banget."
"Iya aku tau. Tau banget malah," ucap Ruth.
"Kok kita malah ngebahas Edwin ya? Kasian Edwinnya andaikan lagi makan malah batuk-batuk gara-gara kita omongin," ujar Arka.
Ruth tertawa.
Perempuan itu tiba-tiba saja duduk. Melepas ikatan rambutnya yang nyaris terlepas lalu mengikatnya kembali.
Arka meraih remot televisi yang terletak di meja. Lelaki itu menyalakan televisi. Mengganti saluran televisi beberapa kali guna mendapatkan tontonan yang menarik baginya. Namun yang dilihat oleh Arka sedari tadi hanyalah acara-acara televisi yang digemari oleh kaum ibu-ibu.
"Ar, kita bisa nonton film kalau kamu bosen ga tahu mau nonton apa di tv," ucap Ruth.
Arka menggeleng cepat. "Ga usah, Ruth," ujarnya.
Karena tidak ada tontonan yang menarik perhatiannya, Arka memilih untuk mematikan televisi dan meletak remot televisi kembali ke tempatnya.
"Ar."
"Iya?" Arka menoleh menatap Ruth.
Ruth menatap Arka dengan begitu intens. "Yumi bilang kamu ga suka sama cewek agresif ... bener?"
Arka menjatuhkan rahang lalu tertawa terpingkal-pingkal. "Yumi memang anaknya suka ngelantur begitu. Hobi banget dia ngejelekin kakaknya sendiri."
"Jadi ... itu bohong?"
Arka terdiam sebentar. "Sebenarnya bukan bohong sih. Soalnya apa yang dibilang Yumi ada benernya juga. Tapi hal itu ga berlaku sama orang yang aku suka."
"Oya? Jadi sekarang kamu sukanya sama siapa?"
"Cieee ... kepo." Arka tersenyum licik pada Ruth. "Menurut kamu siapa?"
Ruth berdecak. "Ya mana aku tau! Aku 'kan nanya karena ga tau."
"Ah, masa sih?"
Ruth membuang muka. Lelah menghadapi kejahilan sang suami.
"Ngapain liat-liat?!" ketus Ruth. "Naksir?"
"Emang udah naksir." Arka tersenyum menggoda. "Mana bisa aku ga naksir sama orang sejelek kamu pas lagi ngambek begini?"
Ruth berdecak, bersedekap d**a sembari mengalihkan atensi.
"Malesin banget ngomong sama orang yang minim akhlak."
"Iya, kamu juga."
Ruth benar-benar pusing. Ia memijat pelipisnya lalu menghela napas tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Arka tersenyum samar lalu mengusap surai rambut Ruth. "Di mataku ... kamu yang paling cantik, Ruth."