11. Romanticism 3.50

1548 Kata
Ruth memalingkan wajah. Menghindari tatapan Arka yang tampak intens menatapnya. Entah mengapa mendengar Arka memberi pujian untuknya, membuat suasana hati Ruth tambah membaik. Terasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. "Ruth." Ruth terlihat enggan menanggapi panggilan dari Arka. Pipinya yang mulai berwarna kemerah-merahan juga entah mengapa kian terasa panas. Arka mengikuti arah pandang Ruth. Yang dilihat oleh lelaki itu hanyalah bunga aster berwarna merah yang diberikan oleh Edwin. Bukan sebagai hadiah pernikahan, Edwin menghadiahkan bunga aster berwarna merah itu sebagai ganti memberi ucapan selamat karena Arka kini memiliki rumah baru. Rumah yang diberikan oleh sang papa sebagai hadiah pernikahan Arka dengan Ruth. "Ruth, bunganya masih kalah cantik sama kamu," ucap Arka. Ruth terperanjat mendengar ucapan Arka yang begitu tiba-tiba. "Ruth." Arka menepuk pundak perempuan itu. "Orang yang ngomong ada di sini loh. Di sebelah kanan kamu," ujar Arka. Ruth berdeham. "Aku males banget ngeliat kamu." Arka mengerutkan kening. "Kenapa? Ga mungkin 'kan karena aku kelewat ganteng?" Dalam sekejap, perasaan asing yang dirasakan oleh Ruth lenyap seketika. Arka, suaminya itu memang sangat ahli dalam merusak suasana. "Ruth ...," Arka beringsut mendekati Ruth. Menyadari pergerakan Arka, Ruth mendengus. Lalu menoleh menatap Arka. "Kamu ke sana lagi duduknya. Aku alergi deket-deketan sama orang narsis kayak kamu," ucap Ruth sembari mendorong pelan tubuh Arka. Alih-alih marah, Arka malah tertawa pelan. Tampaknya usaha Ruth sia-sia. Jarak Arka dengan Ruth tidak juga menjauh. Lelaki itu mengacak rambut Ruth dengan gemas. Tanpa diduga tiba-tiba saja Ruth berpindah posisi, ia duduk di pangkuan Arka. Arka terkesiap. Tangannya segera ia tempatkan di pinggang Ruth, menahannya agar tidak limbung "Kamu mau ngapain, Ruth?" Perempuan itu tersenyum. "Mau ngebuktiin kalau kamu suka sama aku atau suka banget sama aku." Arka dibuat tercengang olehnya. Namun tatkala Ruth menempelkan bibirnya pada bibir Arka, Arka benar-benar dibuat bungkam. Arka memejamkan mata ikut merasakan ciuman manis yang didapatnya dari Ruth. Tangan kiri lelaki itu yang semula berada di pinggang Ruth mulai bergerak menelusupkan ke dalam baju yang dikenakan Ruth. Sementara Ruth, perempuan itu melingkarkan tangannya ke belakang leher Arka dan membiarkan Arka mengakses tubuhnya lebih jauh lagi. Ruth tiba-tiba saja menjauhkan tubuh. Ia menempatkan kedua telapak tangannya ke pundak Arka. Menatap intens pada Arka. "Ar ... aku lupa. Aku lagi datang bulan." Arka tersenyum maklum. Fokusnya tiba-tiba teralihkan melihat penampilan Ruth yang kini tampak sedikit berantakan dengan dua kancing bagian atas baju yang dikenakannya telah terbuka. Lelaki itu menarik istrinya. Menyesap leher jenjang Ruth sesaat lalu membisikkan sesuatu dengan s*****l. "Sekarang kamu udah tahu 'kan jawabannya ... Sayang?" * "Kak Ruth, ini toplesnya aku simpan ke mana?" Ruth menoleh melirik Yumi. "Taruh di meja aja dulu. Nanti biar Kakak yang simpan." Yumi menaruh toples bertutup biru itu ke meja. Gadis itu kembali menatap ke arah kakak iparnya. "Omong-omong, Kak Ruth sakit?" Ruth nampak terperangah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Yumi. "Kakak sehat-sehat aja kok," jawab Ruth. "Kelihatan lagi sakit ya, Dek?" Yumi terdiam sejenak. Memperhatikan kakak iparnya dengan saksama sekali lagi. Kondisi tubuh Ruth tampak baik-baik saja. Tidak ada yang terluka. Wajah Ruth juga tidak kelihatan pucat sedikit pun. "Sebenernya enggak sih, Kak. Tapi aku liat leher Kak Ruth merah-merah begitu. Emang ga sakit, Kak? Sakit banget 'kan, Kak?" Yumi melangkah mendekati Ruth. Gadis itu ingin menyentuh bagian leher Ruth yang tampak berwarna kemerahan. Namun Ruth tiba-tiba saja mundur sembari menyentuh menutupi bagian leher yang dimaksud sang adik ipar, Yumi. Ruth terbatuk mendengar ucapan polos dari adik iparnya. Dalam hati ia terus mengumpati Arka karena telah meninggalkan jejak di sana. Pergerakan Yumi terhenti. Ia menatap Ruth dengan alis yang nampak menyatu. "Itu kenapa sih, Kak? Kok bisa sampe merah banget begitu? Kak Arka tau ga?" Jelaslah Arka tahu!! 'Kan Arka yang membuatnya. Ruth tersenyum kikuk pada Yumi. "Ini gapapa kok, Dek. Cuma semalam pas Kakak duduk di gazebo banyak nyamuk. Makanya ...." Yumi mengangguk beberapa kali. Obrolan mereka terhenti tatkala mama dan Arka datang menghampiri keduanya. Ruth buru-buru menggeraikan rambut dan menutupi bagian leher yang memiliki bercak kemerahan. "Rumahku bukan tempat penitipan anak. Kenapa Mama selalu nitipin bocah ini ke sini sih?" Mama menatap acuh tak acuh mendengar protes dari Arka. "Gapapa 'kan kalau Mama titipin Yumi sama kamu?" Ruth mengangguk cepat. "Gapapa, Ma. Aku malah senang karena ada temen ngobrol." Ia tersenyum. "Mama langsung berangkat sekarang?" "Iya, Papa udah nungguin dari tadi soalnya," jawab mama lalu menoleh menatap ke arah anak bungsunya. "Yu, kamu jangan bandel sama Kakakmu paham? Kamu mesti nurut sama apa yang dibilang sama Kakak ipar kamu juga." Yumi mengangguk sembari tersenyum penuh pada mama. "Siap, Ma." "Ma." "Kenapa lagi sih kamu, Ar? Mama ga butuh persetujuan kamu ya. Menantu kesayangan Mama aja udah ijinin. Jadi kamu diem aja. Ga usah ngomong." Arka menghela napas. Pasrah dengan kelakuan sang mama. "Makanya kamu kasih Mama cucu biar Mama ga kelayapan di negeri orang lagi." "Gimana mau kasih cucu kalau Mama titipin anak kecil di sini? Nanti kalau kedengeran— argh ...." Ruth tiba-tiba saja menginjak Arka, membuat lelaki itu meringis kesakitan. Ruth menyengir ke arah mama. "Maaf ya, Ma. Aku pinjam Arka dulu sebentar." Orang seperti Arka harus diberi pelajaran. Supaya cepat sadar diri. * "Arka, jangan. Nanti Yumi bangun." Ruth menghentikan pergerakan Arka yang hendak— "Ck. Bukan urusanku kalau Yumi bangun. Lagian siapa suruh nginep di rumah kita?" Puk. Ruth melempar bantal ke arah Arka. "Ga boleh begitu sama adik kesayangan aku. Emang kamu tega kalau Yumi tinggal sendirian di rumah? Ga khawatir kalau Yumi kenapa-napa?" Arka terdiam. Ruth tersenyum mengejek. "Tuh 'kan! Pasti khawatir." "Tapi ini gimana? Kita—" "Sst. Meja itu bisa kamu perbaiki besok. Sekarang udah tengah malam begini pasti suaranya bakalan nyaring banget. Kasian Yumi. Besok hari Senin, Yumi mesti bangun lebih awal. Ga enak juga sama tetangga." Arka pasrah. Lelaki itu meletak perkakasnya ke sudut kamar lalu merebahkan tubuh di kasur. Baru sebentar, Arka beranjak dari posisi tidurnya. Lelaki itu duduk di dekat Ruth yang tengah sibuk menulis sesuatu di laptop. Arka mengecup kening Ruth sesaat lalu tersenyum manis pada perempuan itu. Benar-benar gawat. Arka sepertinya candu terhadap Ruth. Jika tidak mengontrol diri, bisa-bisa Ruth berada dalam bahaya. "Nanti kalau udah selesai datang bulannya kasih tau aku ya," ucap Arka Ruth mengerutkan kening. "Lah? Ngapain? Kamu mau mandiin aku?" "Boleh sih kalau kamu mau." Arka menunjukkan cengirannya. "Jangan ngadi-ngadi." Ruth beranjak dari kasur. Menyimpan kembali laptopnya lalu merebahkan tubuh di kasur. Perempuan itu menarik selimut menutupi tubuh. "Sayang, aku lupa kasih tau kamu sesuatu," ujar Arka. Ruth membuka mata menatap Arka yang juga tengah menatapnya. "Restoran kita dapat tawaran kerja sama dari perusahaan XLD." "Serius, Ar?" Ruth terbelalak. Arka mengangguk. "Rencananya aku sama Edwin bakalan ketemu dulu sama manajer perusahaan itu." "Wah ... hebat banget ya." Arka tersenyum menanggapi. "Mereka juga ada nawarin aku buat dateng ke acara Cooking Day." "Kamu terima?" "Jelas dong ... aku tolak. Hehe." Ruth sudah biasa kok diusilin Arka begitu. Jadi Ruth hanya menanggapinya dengan tersenyum paksa. "Kenapa? 'Kan itu acara yang lagi booming banget sekarang." "Males aja. Takutnya juga ntar kalau ada perempuan yang lihat aku, malah jadi naksir lagi. Kasian kamunya jadi banyak saingan." "Bah!!" Ruth terperangah. "Kayak bisa aja kamu hidup tanpa aku." "Ya bisalah. Aku baru ga bisa hidup kalau ga ada oksigen." "Aih, yang bener?" Ruth tersenyum, beringsut mendekati Arka. "Nanti kalau aku menghilang dari peradaban kamunya malah kangen lagi." "Percaya diri banget kamu, Ruth. Orang ganteng kayak aku mana sempat ngegalau." Ruth beralih menindih tubuh Arka. Perempuan itu mengusap rahang suaminya dengan tatapan s*****l. "Kamu yakin ga bakalan kangen aku?" Arka menelan saliva. Meringis menoleh ke arah lain. Kenapa Ruth-nya mendadak liar begini sih? Tidak tahu apa Arka sedang dilema sekarang? "Ruth ...," Arka kembali menoleh menatap Ruth. Ruth mengecup bibir Arka sekilas. "Iya, Sayang?" Arka menghela napas, memejamkan mata. "Minggir. Aku mau tidur." "Oke." Ruth tersenyum. Segera ia beralih posisi dengan tidur di samping Arka. Perempuan itu melingkarkan tangannya ke perut Arka. "Selamat malam, Suaminya Ruth." Arka terkekeh. Ruth memang selalu bertindak diluar nalarnya. "Selamat malam juga, Istriku." * "Sayang, tolong anterin Yumi ke sekolahnya ya. Aku lupa hari ini musti berangkat awal karena harus ke luar kota dulu sebentar." Arka buru-buru memasukkan sepotong roti ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan cepat. "Arka, sarapan dulu. Aku udah masakin nasi goreng. Lagipun kita ga memegang prinsip sarapan ala budaya Eropa." "Gak sem—" Ruth tiba-tiba saja menyuapinya sesendok nasi. Arka nyaris tersedak jika saja Yumi tidak datang memberinya segelas air putih. "Aku harus pergi sekarang. Edwin dari tadi udah nungguin," ujar Arka. "Kunci mobilnya ada di meja ya, Sayang." "Terus kamu ke sananya gimana?" "Bareng Edwin." Arka menoleh melirik ke arah Yumi yang baru saja duduk di kursi meja makan. "Yu, tas kamu kebuka tuh," ucap Arka. Yumi melirik ke arah sang kakak sebentar. Lalu beralih memeriksa tas berwarna abu-abu yang diletakkan di kursi sebelah kanan. Selagi fokus Yumi teralihkan, lelaki itu mengecup pipi Ruth lalu mengusap surai rambut Ruth. Menyadari bahwa dirinya telah dibohongi, Yumi berdecak. "Kak— loh?" Yumi menatap Ruth dengan penuh tanda tanya yang mengisi pikirannya. Ruth yang tadinya biasa-biasa saja mengapa sekarang tampak begitu kegirangan. Tapi itu bukanlah hal yang harus dipusingkan Yumi saat ini. "Kak Arka udah pergi ya, Kak?" Ruth mengangguk. "Udah. Baru aja tadi perginya." Ia tersenyum pada Yumi. "Kalau udah selesai sarapan langsung panggil Kakak ya, Dek Yumi." Yumi mengangguk saja. Meski gelagat kakak iparnya itu kian tampak aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN