Pergerakan Ruth terhenti tatkala hendak membuka pintu kabin mobil. Atensi perempuan itu sepenuhnya teralihkan pada seorang siswa yang sempat dilihatnya beberapa hari yang lalu.
Perempuan itu menoleh menatap Yumi, sang adik ipar yang ternyata juga tengah teralihkan atensinya.
Ruth berdeham. "Yumi, itu pacar kamu, 'kan?" tanya Ruth.
Yumi tampak terperanjat. Gadis itu diam sesaat lalu mengangguk lesu pada Ruth.
"Boleh Kakak tau kenapa dia lebih milih berangkat bareng cewek lain daripada sama kamu, Dek?"
Yumi menghela napas seraya menaikkan kedua bahu. "Aku juga ga tau, Kak. Aku ga tau kenapa Lukas selalu lebih mentingin Hira daripada aku." Yumi menoleh menatap Ruth. "Aku ngebosenin ya, Kak? Atau ... nyebelin?" lirih Yumi.
"Mana ada," sanggah Ruth dengan cepat. "Kamu sama sekali ga ngebosenin. Kamu juga ga nyebelin," ujar Ruth.
Yumi tersenyum hambar. "Mereka udah temenan dari kecil. Jadi aku harus maklum sama keakraban mereka."
Ruth menjatuhkan rahang usai mendengar ucapan Yumi. "Mana ada yang kayak begitu." Ia menatap Yumi prihatin. "Kakak kasih umpama ya, Dek. Bayangin aja ... andaikan Kakak punya temen cowok, tapi posisi Kakak kayak sekarang ini ... udah nikah sama Kakak kamu, tapi Kakak sendiri masih lebih mentingin temen cowok Kakak itu, menomor satukan cowok itu ... menurut kamu itu hal yang wajar? Itu hal yang pantas? Itu hal yang harus dimaklumi?"
Yumi tertegun mendengarnya. Tidak ada satupun sanggahan yang dapat dilontarkan oleh Yumi.
"Enggak, 'kan?"
Perlahan, gadis itu mengangguk.
"Cowok itu baik gak ke kamu?" tanya Ruth.
Yumi mengangguk. "Lukas baik kok ke aku."
"Iya ya ... baik." Ruth tersenyum sinis. "Cuma ga pernah berpikir dengan baik aja."
Yumi meringis. Ucapan Ruth benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.
"Dek, kamu tetap mau bertahan sama pacar kamu itu?"
Yumi terdiam sesaat. "Aku ga tau, Kak."
Ruth tersenyum padanya. "Serius, dia kalau ketemu Kak Karin pasti bakal dihujat habis-habisan." Perempuan itu tertawa pelan. "Cowok kayak gitu ga pantes buat kamu." Ia mengusap surai rambut Yumi. "Kamu berhak bahagia, Yumi. Kalau dia terus-terusan bikin hati kamu sakit, akhiri aja hubungan kalian. Jangan berpikir terlalu jauh, kalau memang dia jodohmu, mau kamu pindah ke Alaska sekalipun tetap bakalan ketemu juga. Begitu pun sebaliknya, kalau dia bukan jodoh kamu ... mau kamu berjuang sampai titik darah penghabisan dianya tetap ga akan berakhir di pelukan kamu."
Yumi tiba-tiba saja menabrakkan tubuhnya pada sang kakak ipar.
Ruth memeluk Yumi sembari menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. Tubuh Yumi bergetar hebat. Tampaknya Yumi telah memikul beban itu sendirian selama ini.
"Jangan membebani dirimu sendiri lagi, Dek."
*
"Laura!!"
Ruth melambaikan tangannya ke arah Utara. Melihat keberadaan temannya entah mengapa membuat ia kian senang.
Perempuan itu berlari ke arah Laura yang tampak mengernyit padanya.
"Bisa ga sih lo jangan lari-lari di tengah ramainya jalan begini? Ntar kalo lo kenapa-napa bisa habis gue sama suami lo."
Ruth menyengir mendengar wejangan dari Laura.
Laura berdecak. Tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu. "Ga usah cengar-cengir, Ruth. Di mata gue lo ga ada cantik-cantiknya sedikit pun. Dilihat pake mikroskop pun lo tetap buruk rupa."
Ruth tampak tak acuh dengan kalimat yang diucapkan Laura. Perempuan itu malah segera duduk di samping Laura lalu memakan soto pesanan sahabatnya.
Laura berdecih. "Arka ga ngasih makan lo sampe-sampe lo comot punya gue?"
Lagi, Ruth menunjukkan cengirannya. "Enak, Ra. Hehe."
"Iyalah enak. 'Kan tinggal makan doang. Yang bayar gue. Mana bisa ga enak?"
"Sekali-sekali, Ra ... baik ke temen," ujar Ruth. "Kenapa sih? Sensi amat kayaknya."
"Tadi Mama gue nelpon," ucap Laura.
Ruth yang tadinya fokus menikmati soto menoleh menatap Laura. "Tante mau ke sini lagi?"
Laura menggeleng. "Mama sibuk banget nyuruh gue nikah." Ia menatap sinis pada Ruth. "Ini gara-gara lo nih, Ruth."
Ruth merasa tak terima. Bagaimana itu bisa menjadi salahnya?
"Kalau aja lo ga buru-buru nikah sama Arka, gue bisa tetap santuy-santuy aja."
Ruth nyaris terbahak. "Ya itu nasib lo sih, Ra. Bukan urusan gue," ujarnya.
Laura tersenyum paksa pada Ruth. "Kalau aja lo bukan temen gue, Ruth."
Ruth tertawa pelan menanggapi ucapan Laura.
"Omong-omong, Ra ... lo ngapain di sini? Ga ke kantor?"
Laura memijit pelipisnya. "Percaya ga kalau gue bilang gue ditelantarin sama si bos?"
Ruth terdiam sejenak. Ia teringat akan sesuatu. Yumi juga pernah ditelantarin sama pacarnya, 'kan? Perempuan itu meringis mengingat hal miris itu.
"Kenapa bisa ditelantarin?" tanya Ruth.
"Istrinya nelpon." Laura menjawab seadanya.
Ruth terperanjat. Matanya terbuka lebar menatap Laura. "Jadi ... bos lo udah nikah?"
"Ya udahlah." Laura menautkan alis menatap Ruth. "Jangan bilang selama ini lo ngiranya bos gue masih muda, jomblo, dan rupawan?" terka Laura.
Ruth menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu mengangguk dengan ragu.
Laura menjatuhkan rahang. "Wah ... parah sih! Lo pasti ngira bos gue kayak yang di novel-novel. Iya, 'kan?"
Lagi, Ruth mengangguk.
Laura berdecih. "Pulang, Ruth. Malu banget gue punya temen kayak lo. Jadi kasian gue sama si Arka."
"Lo sih ga pernah cerita. Lo cuma keluhin tentang bos lo itu doang. Jadi salah paham 'kan guenya."
"Hilih! Alesan!" Laura menoleh melihat ke sekitarnya. "Lo ke sini bawa mobil 'kan, Ruth?"
Ruth mengangguk mengiyakannya. "Tadi abis nganterin Yumi—"
"Yumi?"
"Adiknya Arka. Adik ipar gue. Dia nginep di rumah selama beberapa hari karena Mama sama Papa lagi ada urusan."
Laura mengangguk beberapa kali. "Eh jadi Arkanya ke mana?"
"Ada urusan di luar kota. Berangkatnya sama Edwin."
"Edwin?" Laura mengernyit. Perempuan itu mengetuk jarinya ke meja berulang kali. Sementara ingatan Laura terus berusaha mengingat sesuatu ... suatu hal yang mungkin saja nyaris dilupakan olehnya. " Maksud lo ... Edwin Deano? Edwin yang songong itu?"
Ruth mengangguk cepat. "Lo belum pernah ketemu dia ya?" tanya Ruth.
Laura terdiam sesaat lalu mengangguk. "Dia datang ke acara nikahan kalian juga?"
"Iya. Dia datang juga. Mungkin karena waktu itu dianya lagi ada urusan jadi langsung pulang duluan. Makanya ga ketemu sama lo."
"Oh ... ya udahlah yuk. Anterin gue balik ke kantor."
"Gak ke kost-an dulu nih?"
"Biar gue dipecat dan hidup gue luntang-lantung?"
Ruth menyengir. "Ya udah. Ayo. Lo yang nyetir ya."
Laura mengacungkan ibu jarinya. "Sip."
Kedua perempuan itu beranjak dari sana seusai Laura membayar pesanannya.
Laura melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.
"Habis ini lo langsung balik, Ruth?"
Sembari memeriksa isi dompet, Ruth menoleh menatap Laura. "Kayaknya enggak dulu deh. Gue mesti belanja."
Laura melirik sesaat ke arah Ruth. "Sendirian ya?"
Ruth mengangguk. "Iya."
"Kapan-kapan coba deh lo ajak Arka. Gue yakin dia ga bakalan nolak," ucap Laura.
"Kok lo yakin dia ga bakalan nolak?"
Laura tertawa mendengar pertanyaan Ruth. "Dia 'kan suka sama lo."
"Suka?"
"Cuma orang bodoh yang ga tahu." Laura terkekeh. "Lagi pun keliatan banget tahu."
"Eh, iyakah?" Ruth menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa deh lo? Aneh banget."
Ruth menggeleng. "Aih, enggak."
"Wajar sih kalau lo kebingungan begitu. Lo nikah sama dia juga karena nilai IPK lo yang ga nyampe 3.70, 'kan ...." Laura kembali melirik ke arah Ruth "Lo suka ga sama Arka?
Ruth terdiam.
"Gue tebak ... lo pasti suka juga, 'kan?"
Ruth meringis.
Sementara Laura tertawa pelan. "Kita temenan bukan cuma lima tahun doang. Kita udah temenan dari SMP. Jadi wajar aja kalau gue nebaknya bener."
"Lo bener-bener luar biasa, Ra. Gue kok tiba-tiba jadi terharu ya karena punya temen kayak lo? Walaupun jomblo begini lo tetap sahabat terbaik gue."
Laura tertawa mendengarnya.
"Gimana kalau lo gue kenalin sama seseorang?"
Laura tersenyum malu-malu. "Boleh. Kalau lo maksa."
"Sama Edwin ... mau ya?"
"Ogah!!"