13. Romanticism 3.50

1471 Kata
Arka menghela napas dengan begitu kuat. Ia menatap ke arah luar kaca mobil. Jalanan yang dilewatinya kini tidak lagi dihiasi dengan kerlap kerlip lampu, melainkan tampak begitu sepi. Arka beralih menyalakan ponselnya. Bibir lelaki itu tampak melengkung ke atas tatkala melihat foto Ruth sebagai wallpaper ponselnya. Buru-buru Arka menghubungi kontak nomor telepon Ruth. "Ruth." "Iya, Ar?" "Kamu makan malam duluan ya. Aku kayaknya masih lama nyampe rumah." "Aku baru aja selesai makan kok. 'Kan lagi ada Yumi di sini, kasian kalau Yumi telat makan. Dia masih dalam masa pertumbuhan." "Begitu? Ya udah. Kamu mau aku beliin sesuatu?" "Sebentar ya, Ar. Aku tanya Yumi dulu ...," Arka dapat mendengar sayup-sayup obrolan Ruth dengan Yumi. "Yumi bilang dia pengen dibeliin martabak." "Oke. Kamu?" "Eum ... samain kayak Yumi aja." "Kak Ruth!!" "Eh? Aku matiin ya, Ar. Kayaknya Yumi—" Tut. Panggilan yang tengah berlangsung itu mendadak terputus. Arka menatap layar ponselnya yang gelap tidak menampilkan apa-apa. Lelaki itu berdecak. "Belum selesai ngobrol tapi hp lo udah mati?" terka Edwin. Arka mendengus mendengar ujaran Edwin. "Masih lama ga ini?" "Kayaknya sih bakalan lama. Di depan biasanya suka macet," jawab Edwin. "Yang tadi itu mantan lo 'kan, Win?" Edwin menoleh. Ia mengangguk tak acuh. "Tolong ingetin jangan genit-genit sama suami orang," tegas Arka. "Dia bukan siapa-siapa gue lagi. Jadi bukan urusan gue," ucap Edwin. Arka berdecak. "Seenggaknya lo 'kan pernah berhubungan sama dia." Edwin tidak menyahut. Ia hanya diam mendengarkan. "Lain kali kalau ada yang tawarin kerja sama, cari tau dulu orangnya kayak gimana." * "Ar, kamu kenapa?" "Cuma capek aja, Ruth." Ruth menautkan alis menatap Arka. Perempuan itu memegang pundak Arka. Sejujurnya, Ruth tahu Arka hanya menjadikan capek sebagai alasannya saja. Kala tiba di rumah tadi, raut wajah Arka benar-benar tampak masam. Meski Arka tersenyum pun, Ruth menyadari bahwa suasana hatinya sedang buruk. Bahkan Yumi tampak bingung dengan kakaknya yang tiba-tiba menjadi pendiam. Gadis itu sampai bertanya pada Ruth ... apa mereka tengah bertengkar. Ruth tersenyum tipis. "Aku mau ke dapur sebentar. Kamu mau aku buatin sesuatu?" Arka terdiam sesaat lalu menggeleng "Kamu ga perlu buatin apapun," ujar Arka. "Eh, maksudku ... aku lagi ga pengen apa-apa." Ruth mengangguk mengiyakannya sembari melempar senyum ke arah Arka. Ia pun segera beranjak dari kamar menuju dapur. Arka hanya menatap bayang-bayang Ruth yang perlahan lenyap dari penglihatannya. Lelaki itu berbalik lalu membaringkan tubuhnya ke kasur. Arka benar-benar dibuat kesal mengingat kejadian siang tadi. Saat bertemu rekan kerja samanya yang ternyata perempuan itu merupakan mantan kekasih Edwin. Arka tidak habis pikir dengan kelakuan perempuan tersebut. Padahal— "Kak." Arka terduduk. Melihat ke arah pintu dimana Yumi tengah berdiri di sana. "Kenapa, Yu?" Yumi berjalan mendekati Arka. "Kakak lagi berantem sama kak Ruth ya?" Ia berbisik. "Aku sama sekali ga berniat ikut campur nih, Kak ... tapi andai Kakak memang lagi berantem sama Kak Ruth, jangan lama-lama ya marahannya. Aku ngerasa ga enak sama Kak Ruth. Oya, kalau bisa diomongin baik-baik ya, Kak. Aku permisi." Yumi beranjak keluar dari sana. Arka menghela napas. Kepalanya terasa mau pecah saking sakitnya. Pintu kamar yang tadinya telah tertutup rapat kini kembali terbuka. Ruth melangkah masuk, ikut duduk di kasur seraya memeluk Arka dari samping. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Ruth hanya sekadar memberi pelukan untuk suaminya. "Ruth ...." "Iya, Ar?" Ruth menoleh menatap Arka. Bibir Arka tampak melengkung ke atas. Lelaki itu membaringkan tubuh lalu membawa Ruth ke pelukannya. "Selamat malam, Ruth." "Selamat malam juga, Arka." * "Sayang, menurut kamu ada yang aneh ga sama Yumi?" Pergerakan Ruth terhenti. Niatnya ingin menuang secangkir teh menjadi urung mendengar pertanyaan yang diajukan Arka. Ia melirik ke arah Arka sebentar. "Enggak sih kayaknya. Kenapa, Ar?" Arka menggeleng tak yakin. "Ga tau kenapa ... aku ngerasa Yumi kayaknya lagi sembunyiin sesuatu dariku." "Nanti deh coba aku tanyain sama Yumi." Ruth berujar cepat. "Jadi nanti kamu 'kan yang anterin aku ke rumahnya Hira?" Alis Arka tampak bertaut usai mendengar pertanyaan yang diajukan Ruth. Paham dengan hal itu, Ruth kembali berujar. "Murid aku." Arka mengangguk paham. "Omong-omong, soal semalam ...," Ruth mendudukkan diri di sebelah Arka. Menanti apa yang akan dikatakan oleh suaminya. "Kamu masih ingat 'kan kerja sama yang aku bahas malam itu?" "Yang sama perusahaan kuliner itu, 'kan? XLD?" Arka mengangguk. "Rupanya yang nawarin kerja sama itu mantannya Edwin." Ruth terkesiap. "Mantan Edwin? Serius? Namanya siapa?" "Aku ga inget nama lengkapnya siapa. Tapi aku dengar Edwin manggil dia Sena." "Sena?!!" Ruth memekik. Ia terbelalak seraya mengatupkan mulut. "Beneran Sena? Kamu ga salah dengar, 'kan?" Arka mengangguk. "Kamu ... kenal?" "Kenal banget malah!" Arka terperanjat. "Kamu ada diapain aja sama dia?" Arka terdiam. Ck. Benar-benar menjengkelkan! Ruth sedikit menjauhkan dirinya dari Arka. "Kamu ... ga sampe berakhir berduaan sama dia, 'kan?" "Ya enggaklah!" Suara Arka terdengar begitu lantang. "Dia cuma godain aku doang." Jelas bahwa Ruth sangat tidak suka mendengar hal itu. "Ngegoda gimana? Dia ada pegang-pegang kamu? Atau mungkin dia—" Arka tidak pernah menyangka akan mendapat reaksi dari Ruth yang benar-benar diluar ekspektasinya. Lelaki itu tampak mengernyit kala Ruth tiba-tiba saja terdiam, tak lagi melanjutkan kalimatnya. Arka terdiam lama. Menunggu apa yang akan diucapkan oleh Ruth selanjutnya. Beberapa detik telah berlalu. Namun Ruth tampak tidak ingin juga menyelesaikan ucapannya. Arka berdeham. "Ada. Dia ada pegang-pegang aku." Ruth menjatuhkan rahang mendengar hal itu. "Dia terus-terusan pegang—" "Ga usah dilanjutin!" ketus Ruth. Perempuan itu mengalihkan atensi melihat ke arah lain. "Tapi, Sayang ... kamu ga penasaran dia ada pegang—" "Enggak!" tegas Ruth. "Aku sama sekali ga penasaran dan ga mau tahu soal itu," lanjut Ruth seraya beranjak dari kursi. "Sayang, kamu cemburu?" Pertanyaan yang dilontarkan Arka membuat pergerakan Ruth terhenti. Ruth menoleh melirik Arka sejenak. "Cemburu? Apa itu cemburu?" Arka tertawa lepas. Istrinya itu benar-benar .... Arka menahan Ruth yang hendak beranjak meninggalkannya sendirian di ruang makan. Hal itu mengakibatkan tubuh Ruth limbung hingga Arka menarik Ruth dan membuat Ruth terduduk di pangkuan Arka. Arka tersenyum tipis mendapati Ruth yang tampaknya begitu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. "Kamu bisa hati-hati ga sih nariknya? Aku hampir aja ambruk ke lantai." "Ya tapi enggak, 'kan?" Arka menunjukkan cengirannya. Membuat Ruth tambah kesal dengan kelakuan lelaki itu. Ruth berniat beranjak dari pangkuan Arka. Selain membuat Ruth tidak nyaman ... hal itu juga membuat debaran jantungnya benar-benar tidak mampu dikontrol. Namun Arka menahannya. Membuat Ruth tidak tahu harus melakukan apa lagi. Ruth kalah kuat. Arka mengecup bibir Ruth lalu tersenyum padanya. "Sayang, aku langsung menjauh pas tau dia begitu. Jadi dia sama sekali ga megang aku kok. Hehe." Ruth berdeham. Tatapannya nampak tidak fokus. "Bagus kalau begitu." "Tapi kenapa sih, Sayang?" "Sena itu ... pokoknya dia bukan orang baik. Kamu jangan deket-deket sama dia. Kalau bisa—" "Aku udah ngebatalin kerja sama itu kok," ujar Arka. Ruth mengangguk paham. "Kamu ga ngelampiasin ke Edwin 'kan karena kelakuan dia?" Arka terdiam sesaat. "Aku cuma nyuruh Edwin supaya kasih peringatan buat dia." "Ya ampun, Arka." Ruth menatapnya geram. "Kamu beneran temennya Edwin bukan sih?" "Aku sih nganggap dia temenku. Tapi dianya enggak." Arka menjawab seadanya. Membuat Ruth semakin pusing mendengarnya. "Arka, lepasin dulu dong. Aku mau—" "Enggak." Ruth menghela napas. Perempuan itu beralih memegang rahang Arka. Mempertipis jarak dengan Arka lalu mengecup bibir Arka. "Lepasin dulu ya. Serius ... ini aku haus banget." "Dengan senang hati, Ruth Sayang." Ruth beranjak dari sana lalu membuka pintu kulkas. Mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam benda pendingin ajaib itu. Ruth kembali duduk di sebelah Arka usai meneguk air mineral tersebut. "Sena itu mungkin bagian paling kelam dalam hidupnya Edwin." "Maksud kamu?" "Dulu pas mereka pacaran, Sena bener-bener kurang ajar. Kelakuannya itu minim akhlak banget. Dia ngebuat Edwin yang kayak kulkas dua pintu itu jatuh cinta ke dia. Terus pas mereka udah jadian, coba tebak apa yang dia lakuin?" "Edwin dicampakin?" Arka berujar ragu. Ruth menggeleng tegas. "Dia malah ngebuat Edwin ga bisa jauh dari dia. Tapi di satu sisi, dia terus nyakitin perasaan Edwin. Dia selingkuh secara terang-terangan. Bayangin coba ... Edwin rela dihukum tiap kali upacara cuma karena Sena yang ga pake atribut lengkap. Belum lagi dia terus meras duitnya Edwin. Kasian Edwin, udah jatuh ke hati yang salah ... jatuh miskin pula." Arka terdiam mendengarnya. Sungguh ia sangat tidak menyangka akan hal itu. Edwin selalu menutup diri. Lelaki itu bahkan tampak tidak membiarkan satu orang pun memasuki zona nyamannya. "Kamu bilang kalian temen pas SMA, 'kan? Tapi kok duluan Edwin yang lulus?" "Edwin kelewat pinter soalnya," ujar Ruth. "Nanti kamu minta maaf sama Edwin ya. Aku yakin, ini juga pasti berat banget buat dia." Arka mengangguk beberapa kali. "Berarti semalam suasana hati kamu buruk karena masalah ini?" "Iya." Arka terdiam sejenak. "Maaf ya karena semalam aku ngebuat kamu khawatir." Ruth tertawa. "Aku kira kamu kenapa-napa. Makanya aku khawatir banget. Kalau masalah ini mah ... bukan apa-apa. Sena kalau ketemu aku auto kicep dia." Arka mengutuk diri di dalam hati. Sia-sia ia gelisah semalaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN