Angelo kini yang berganti menatap penuh tak percaya kepada Sarmila. Bahkan tubuhnya menjadi kaku seperti kayu, sendi-sendinya mendadak tak bisa membuat tulang belulangnya bergerak, semua kata-kata dalam kamus yang berada di dalam otaknya seolah terhapus untuk beberapa saat. Yang ada hanya degup jantungnya saja yang tersisa, semakin kencang kala matanya menatap wajah Sarmila yang menunduk akibat melakukan perbuatan tak senonoh kepadanya.
“A--ayo pulang,” ucap wanita itu sambil melihat ke arah luar jendela.
Angelo seketika tersadarkan, tapi ada yang bangun akibat ulah gadis itu. Hasratnya kian naik semakin mendorongnya untuk segera meraih wajah Sarmila.
Kedua tangannya tanpa diperintah sudah meraih wajah ayu itu, dia mendekap sisi wajah Sarmila dan kini dengan beringasnya memangsa bibir penuh candu itu. Dia sudah menjadi pria dewasa yang butuh penuntasan segera mungkin.
Sarmila yang terkejut tak bersiap untuk keadaan apa pun juga. Matanya terbelalak begitu Angelo menyerangnya, melumat bibirnya rakus dan kasar, begitu terburu-buru saat menciumnya. Napasnya tertahan dan juga ditahan. Sarmila yang terkejut pun berusaha untuk membuat Angelo menghentikan aksinya, tapi dia kalah tenaga.
“Hmmmp … hhh.” Bahkan dia tak bisa berbicara sedikit pun karena terbungkam sempurna.
Merasakan reaksi perlawanan dari tangan Sarmila, Angelo pun memelankan temponya. Kali ini naluri pria sudah menguasainya. Perlahan dia diam, menempelkan bibirnya dengan bibir gadis itu tanpa melakukan apa pun lagi.
Dan tubuh gadis itu mulai menerimanya, sudah pasrah dengan perlakuan Angelo. Dia menutup matanya perlahan, dan mulai membuka mulutnya sendiri, pasrah untuk dijajah oleh Angelo. Sampai pria itu mulai perlahan menggigit bergantian bibir miliknya.
Angelo terus saja bergerilya, merasakan rasa manis dan menggoda di lidahnya itu. Dia benar-benar rakus untuk terus mencecap benda kenyal nan basah yang masih diam di tempatnya. Semakin lama semakin tergesa-gesa sampai dia kembali tak bisa bernapas.
Tangan gadis itu mendorong dadanya kuat-kuat tapi tak berhasil. Pikirannya sudah kosong, tak tahu harus bagaimana. Dadanya sesak tak mendapatkan asupan oksigen akibat area respirasinya diblokir
Angelo terus menyesap bibir Sarmila bergantian, sama sekali tak ada niatan untuk berhenti. Sarmila lemas, dia kehilangan tenaganya saat mendapatkan sensasi yang luar biasa tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tubuhnya meluruh seketika dengan tangan Angelo yang sudah menyangga pinggangnya dan entah kenapa dia yang terlena malah melingkarkan tangannya ke leher pria itu.
“Ah! Hah! Hah!” Seketika Sarmila bisa kembali bernapas begitu tautan bibir mereka terlepas.
Angelo masih mencoba meredam apa yang baru saja berkobar di dalam tubuhnya, begitu panas dan menghanyutkan sementara dirinya harus memblokade pemikiran gilanya itu.
Gadis itu terus menerus berusaha untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun seiring dengan respirasi yang terburu-buru.
Dua pasang mata itu kini saling terbuka, menatap satu sama lainnya. Memandangi wajah lawannya saat Sarmila mulai mengangkat wajahnya.
Wajahnya memanas ketika memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan. Katakan saja naluri dua orang dewasa yang sudah tak bisa dibendung akibat sudah lama tak mendapatkan penuntasan menguasai mereka berdua dan mereka tenggelam dalam kenikmatannya.
Sarmila masih bisa merasakan bibirnya yang dirasa kebas dan membengkak, matanya terus menerus menatap wajah Angelo yang juga memerah. Dia merasa malu sendiri, padahal tadi sudah mengeroyok Angelo soal kecupan yang tak sengaja itu tapi kini dia baru saja berciuman dengan ganas bersama pria itu.
“Maaf, aku … keterlaluan,” sesal Angelo sambil terus menatap wajah Sarmila intens.
Gadis itu diam seribu bahasa, tak tahu harus bagaimana menjawab ucapan pria itu sementara dirinya memikirkan bagaimana cara mencopot wajahnya sendiri karena berkelakuan seperti wanita liar begini.
“Are you okay?” Angelo kembali bertanya, dia bisa merasakan hawa panas dari hembusan napas kasar milik Sarmila.
“I--iya … enggak apa-apa,” cicit Sarmila menjawabnya sambil tak berani melihat wajah Angelo lagi.
Rasanya dia ingin memukuli kepalanya saja, memarahi tubuhnya yang bereaksi begitu.
Tatapannya terarah kepada tangannya yang masih melingkar di leher Angelo. Segera dia menggigit bibir bawahnya agar tak memekik karena ulahnya sendiri. Segera dia menarik tangannya sendiri dan Angelo yang terkejut dan menyadari bahwa tangannya sudah berada di balik kaus gadis itu dan semakin merasakan kulit halus milik Sarmila pun menarik tangannya kencang sampai terpentok.
Duk!
“Ouch!” Dia mengaduh kuat-kuat. Sarmila yang terkejut pun segera membenahi dirinya, menjauh dan membentangkan jarak mereka berdua.
‘Sialannn! Ini namanya beneran enggak boleh berduaan, yang ketiga setan. Bisa-bisanya aku malah begitu?!’ Batinnya menggerutu sendiri.
Angelo ikut diam, dia sedang kikuk dengan sikap mereka yang bak remaja ketahuan sedang mojok.
“A--ayo balik!” seru Sarmila mencoba menghilangkan ketegangan di antara mereka berdua.
“Ah, ya, ya, kita pulang.”
Bahkan Angelo ikut linglung, menstarter mobilnya sampai ketiga kalinya barulah mobilnya bisa menyala.
Mereka bahkan diam seribu bahasa sepanjang perjalanan.
Dalam benak Sarmila, dia ingin mengklarifikasi dengan apa yang sudah mereka lakukan, tapi semuanya runyam seketika dengan sikapnya. Dia yang memancing garong sampai akhirnya dia terlena sendiri.
Sedangkan dalam benak Angelo, dia ingin menanyakan soal status mereka dan ajakannya untuk berpacaran. Tapi semuanya ditelan dengan keadaan kikuk yang dialaminya.
Sampai gadis itu keluar dari mobil, mereka sama-sama menyunggingkan senyum kaku dan tak ada yang membuka suara satu sama lainnya.
Sarmila segera masuk ke dalam rumah dan Angelo segera melajukan mobilnya, ingin segera menuju sarang kediaman masing-masing dan memikirkan lagi apa yang baru saja mereka lakukan di dalam mobil itu.
“Wah sudah pulang ya?”
Suara Lina membuat Sarmila berjengit terkejut. “Eh, I, iya, iya Tan, udah balik nih.” Dia menyengir aneh.
Lina memperhatikan reaksi yang tak biasa dari Sarmila. “Kamu kenapa Mil? Sakit?” tanyanya, berusaha untuk menyentuh dahi keponakannya.
Tapi Sarmila memilih menghindar, “Enggak!” sentaknya spontan.
Lina terkejut mendengarnya, “ih kamu kenapa deh? Coba sini Tante liat mukanya.”
Sarmila semakin mundur, dia memikirkan ada bekas di bibir dan area wajahnya akibat berciuman dengan Angelo.
Segera dia menggeleng kuat-kuat dan memikirkan adegan panas tadi wajahnya kian memanas dan memerah seperti kepiting rebus. “Enggak kok Tan, enggak ada apa-apa.”
“Kok kamu merah gitu sih?” Lina semakin menambah pertanyaannya.
“Ah, ge--gerah Tan, Mila mandi dulu ya?”
Segera gadis itu mengambil seribu langkah kabur, menghindari Lina. Takut kalau dirinya malah terpergok akibat melakukan sesuatu. Buru-buru dia menaiki tangga dan menuju ke kamarnya, tak lupa mengunci pintunya.
Brak!
Dia menjatuhkan pantatnya ke atas kasur, terduduk lemas.
Kembali jarinya menyentuh bibirnya sendiri. Membayangkan apa yang mereka lakukan, semakin terbayang dan teringat semakin merasakan sensasi yang masih tertinggal. Bahkan jantungnya kembali berulah hanya karena memikirkan hal itu.
“Aaaa!!! Malunyaaa!” teriaknya sambil menghadapkan wajahnya ke bantal dan suaranya teredam begitu saja.
Dia berguling ke atas kasur, menggerak-gerakan kakinya kencang bergantian.
Semakin terbayang semakin sensasinya terasa kuat, dan semakin tersenyum malu-malu lah dirinya. Senyuman itu terbit begitu saja.
Tak berbeda jauh dengan Angelo yang terdiam di dalam mobilnya. Dia tak keluar dari mobilnya meskipun sudah di parkiran apartemen. Yang ada dirinya membayangkan bagaimana respon wanita itu saat dirinya mencium bibir gadis itu.
“Ah, godamn! Kenapa dahsyat begini,” makinya saat merasakan tubuhnya bereaksi.
Dia menyandarkan kepalanya, berusaha untuk memikirkan banyak hal. Menyesali apa yang seharusnya dia tanyakan kepada gadis itu.
“So stupid Angelo! She’s still not give the answer for you!” desisnya, merasa kesal sendiri.
Namun mengingat kejadian itu malah membuatnya terbayang-bayang dan terbius.
Ada yang harus dia tenangkan saat ini, yang terlanjur bereaksi saat dirinya mengingat hal yang baru saja terjadi padanya.
Segera dia keluar dari mobilnya. Mengunci mobilnya dan berjalan terburu-buru menuju unit miliknya. Dia harus mandi air dingin kalau begini ceritanya. Tak bisa dirinya menuntaskan hasratnya jika belum mendapatkan izin dari seseorang yang dia inginkan itu.
***
Sarmila masih tak bisa tidur, hanya bisa berguling-guling di atas kasurnya, berganti posisi berkali-kali sampai sudah berputar 360 derajat tapi tetap saja tubuhnya tak bisa diajak kompromi sama sekali.
Kantuk tak kunjung datang dan matanya masih setia terbuka.
“Gerahnya!” Dia mengipasi wajahnya sendiri.
Otaknya berkali-kali melakukan hal laknat, yaitu mengingat kejadian yang sudah berjam-jam berlalu.
Kembali dia menyentuh bibirnya, masih terasa hangat dan kebas. Namun, dia malah mengulas senyuman.
“Aih! Begooo deh kamu! Bisa-bisanya malah kesenangan karena dapat bibir Angelo!” serunya seorang diri, memaki tapi tak bisa menghilangkan sensasi yang selama ini dia pertanyakan.
Dia tak bisa marah, yang ada semakin hatinya menghangat. Sedahsyat itu kontak fisik dengan pria, sampai-sampai dia kini memikirkan perasaannya juga.
Dia kembali bergerak abstrak, menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Dia sudah meringkuk sambil tak bisa berhenti tersenyum.
“Apa ini jatuh cinta?” gumamnya.
Dadanya berdebar kencang, meskipun belum bisa membedakan sensasi antara perasaan suka dan cinta karena kontak fisik semata.
Dia tertidur dengan mimpi indahnya yang berkencan dengan pangeran berkuda, saling tersenyum dengan tatapan penuh cinta.
Dan Angelo berakhir merasakan dingin di malam hari untuk bisa meredakan hasratnya yang membakar. Dia harus melupakan kejadian itu, tak mau merasa hina hanya karena kontak fisik yang tak disengaja, meskipun dia menyukainya. Sayangnya yang dia lakukan memang berdampak buruk untuk malamnya, malam yang panjang dengan mimpi basah!