Meminta Untuk Melupakan

1426 Kata
Sarmila masih berkedip-kedip dengan bibir terbuka. Dia masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi saat ini. Rasanya ada sesuatu yang menakjubkan yang seharusnya dia rasakan bagaimana euforianya. Tapi yang terjadi malah jantungnya berdetak kencang seolah siap mendobrak kurungan rusuk yang mengekangnya. Angelo pun sedikit meringis, dia benar-benar nekad kali ini. Sesuatu yang tak biasanya dia lakukan sekarang malah dia aplikasikan padahal tadi dia hanya merasa gemas dengan Sarmila saja. Ingin rasanya dia mengumpat dan memaki ketololannya itu. Tapi sudah terjadi, bagaimana cara memundurkan waktu? Bahkan selama dirinya mempelajari ilmu sains, dia tak menemukan satu teori yang bisa membuat waktu mundur kembali. Holyshit. Tatapan mata Sarmila kosong, membuat Angelo semakin merasa tak enak hati. Dia benar-benar seolah tengah berada di alam lain setelah Angelo malah melakukan hal tergila padanya. Angelo melambaikan tangannya di wajah Sarmila, “Mil, are you okay?” tanyanya meringis. Sarmila berhasil mengumpulkan kesadarannya, begitu juga dengan tenaganya. Dia lantas menjerit dengan tangan terkepal memukuli Angelo. “Aaaa! Ngapain kamu?!” Buk! Buk! Buk! Gadis itu memukuli Angelo membabi buta, sama sekali tak memberikan kesempatan untuk Angelo membela diri. Angelo berusaha menghentikan amukan Sarmila, “sorry, sorry, aku …. aaa! Aaa!! ouch!” Pria itu mengaduh, tak menyangka pukulan Sarmila begitu kuat sampai terasa nyeri. “Dasar omes! Otakmesum!!!” teriak Sarmila yang wajahnya terasa sudah panas akibat memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya. Begitu memalukan baginya! “Aaaa! Stop it Mil, ouch!” Angelo masih tak bisa menghentikan pukulan Sarmila sama sekali. “Aaaaa!!! apa-apaan sih Om?! Ngapain nyosor-nyosor bibir aku?!” Sarmila menatap galak Angelo, dia benar-benar merasa kehilangan harga dirinya, dia melotot tajam dengan napas terengah-engah setelah sekuat tenaga memukuli Angelo dan pria itu sedikit merasa takut dengan tenaga ekstrem yang dimiliki oleh gadis di sebelahnya itu. “Tanggung jawab Om!!!” teriak Sarmila lagi, dia siap memukuli Angelo. Angelo terbelalak melihatnya, begitu panik karena tak siap jika harus merasakan tubuhnya babak belur. Entah dari mana kekuatan gadis itu. “Oke, oke, sorry, maaf untuk itu. Tapi … bisa kamu turunkan tanganmu dulu?” Angelo segera menyela, setidaknya agar Sarmila tak mengamuk padanya lagi. “Aku masih belum mau menjadi korban pembunuhan oke? Jadi … turunkan tanganmu, itu … menyakitkan Mil,” tuturnya jujur. Sarmila semakin menggebu-gebu, siap untuk menggeruduk Angelo lagi. Dia benar-benar kepalang malu bukan main saat ini. Dia hanya sedang mencari cara agar Angelo tak melihat ke arahnya. Benar-benar memalukan baginya. “Enggak bisa! Salah kamu sendiri nyosor-nyosor! Dasar buaya!” teriak Sarmila sambil bersiap mengayunkan kepalan tangannya. Grep! Angelo menangkapnya cepat, mencoba menahan tangan Sarmila. “Please … stop it, okey? I am so sorry.” Wajahnya memasang tampang menyesal sedalam-dalamnya. Dia benar-benar menyesal, tak tahu kalau dengan tak sengaja seperti itu dia malah melihat buto ijo. “Lepaskan enggak Om?!” Sarmila menatap garang. Angelo menggeleng cepat-cepat. Dia masih menahan tangan Sarmila meskipun wanita itu berusaha untuk melepaskan diri Sarmila meniup rambutnya yang terjuntai di dahi sampi terjulur ke bibirnya. Dia benar-benar masih belum memaafkan Angelo. “Mau aku pukulin atau aku teriakin p*******n nih?” ancamnya. Angelo semakin menggeleng, “no, please! Just, aku … enggak sengaja, oke? Maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun, asal kamu tidak memukuliku lagi, oke?” Dia berusaha mengulur waktu. Sarmila adalah Sarmila. Gadis itu masih belum puas membuat Angelo babak belur. “Ngapain cium-cium aku hah?” tanyanya galak. “Itu … karena kamu cerewet.” “Alasan! Bilang aja lagi naik kan? Makanya tiba-tiba nyosor?!” sentak Sarmila, membuat spekulasinya tersendiri. Angelo tak paham, kata ‘naik’ itu apa. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tahu kalau konotasi kalimat yang digunakan Sarmila akan berakibat buruk jika dirinya menjawab ya. “Alah bohong! Mau disunat lagi burungnya?!” Para pria akan kicep seketika kalau sudah kena ancaman begitu. Termasuk Angelo, wajahnya pucat pasi. “Mila, bukan begitu. Aduh, dengarkan aku dulu? Oke? Setelah itu baru kamu pukul aku sampai mati pun tidak apa-apa.” Dia berusaha mengulur waktu dengan jawaban yang membuat nyawanya siap dihilangkan. “Apa?!” Sarmila masih saja melotot. Hidungnya kembang kempis. “Aku hanya … katakan saja aku berusaha membuat kamu melupakan Gentala.” “Enggak nyambung! Kita enggak ngomongin Gentala dari tadi juga!” sembur Sarmila, mematahkan alasan tak masuk akal itu. “Aku serius!” Tatapan Angelo entah bagaimana terlihat begitu serius membuat Sarmila menahan napasnya. Dia sangat jarang melihat pria itu seserius saat ini. “Serius apanya? Kamu tadi tiba-tiba nyosor gitu?! Kamu nih cuma akal-akalan aja kan? Asal kamu tau aja ya, aku tuh single! Bukan cewek murah meriah yang bisa disosor-sosor kayak keong yang dicari bebek tau enggak?!” Sarmila masih tak terima dengan perlakuan Angelo. Angelo kelabakan. “Tidak, tidak! Aku tidak menganggap kamu seperti itu, oh God. I swear never think that you are so cheap. Kamu tidak bisa dibandingkan harganya, oke? Hanya … aku tiba-tiba saja ingin merasakannya. Ah, ya, baiklah, aku jujur. Aku memang memiliki hasrat tapi tidak dengan definisi mengecup bibir kamu itu sebagai pelampiasan nafsuku.” Sarmila semakin menahan napasnya sendiri. “Hanya … aku sedang berpikir kalau … sepertinya aku memang tak bisa menganggapmu teman dan juga aku ingin kamu membalas perasaanku saja, just that Mil,” imbuhnya. Sarmila semakin mencari letak keseriusan pria itu. Memang ada semuanya di iris biru kehijauan milik pria itu. Semuanya terlalu jujur. Napasnya semakin terhenti sedangkan dadanya berdebar hebat saat Angelo mengatakan soal perasaannya. “Tapi aku--” “Ayo jadi pacarku!” sentak Angelo tiba-tiba. Sarmila semakin terbelalak mendengarnya. Dia menatap wajah Angelo lamat-lamat, masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Angelo. Tangannya melemah dan Angelo melepaskannya sedangkan wanita itu masih tak menyadarinya. “Kamu sudah terlalu lama menunggu Gentala, sudah saatnya kamu memiliki pria yang bisa memahami kamu, Mila.” Perkataan itu entah kenapa mengenai hatinya. “Aku … sepertinya benar-benar mencintai kamu Mil. Aku mengatakan sejujur-jujurnya.” Sarmila masih diam, dia kehilangan banyak kata untuk menyangkalnya. “Setidaknya beri aku kesempatan.” “Tapi … itu mengemis, kamu enggak seharusnya merendahkan diri kamu.” Kini Sarmila semakin merasa kesal pada dirinya. Dia menyadari bahwa Angelo adalah pria yang baru kali ini banyak mengorbankan dirinya untuk seorang wanita yang bahkan entah sepenting apa keberadaannya. Tapi dia selalu ada. “Katakan saja begitu. Tapi aku hanya menginginkan kamu, will you?” Semakin bimbanglah Sarmila. “Orang bilang bahwa dengan terbiasa akan kehadirannya, kita akan mencintainya bukan? Aku ingin mencoba itu, meskipun kamu belum mencintaiku, tapi aku ingin mencobanya bersamamu.” Angelo kini beralih menyentuh tangan Sarmila lembut. Dia mengarahkan telapak tangan wanita itu ke dadanya sebelah kiri. Di mana jantungnya tak pernah berdetak biasa saat bersama Sarmila. “Apa selama ini kamu berharap aku membalas apa yang kamu perbuat untukku?” tanya Sarmila tercekat. Dia memikirkan kemungkinan bahwa semua yang sudah Angelo lakukan untuknya menginginkan sebuah bayaran. Angelo menggeleng. “Aku tulus melakukannya. Aku tak ingin melihatmu harus sedih karena kepergian pria yang bahkan dia tak memikirkanmu sama sekali.” Terasa menyakitkan saat menyadari bahwa memang Gentala sepertinya tak pernah menganggap kehadirannya. “Aku yang akan memastikan kamu bahagia saat bersamamu, Mila.” Sarmila diam, dia merasakan bagaimana detak jantung itu cepat dan dirasakan di telapak tangannya. Dia melihat Angelo, bohong jika dia tak tertarik sama sekali dengan wajah tampan itu. “Apa kamu enggak menyesal kalau nanti kita pisah?” tanyanya. Angelo tersenyum, menggelengkan kepalanya pasti. “Apa kamu … mau menunggu aku buat cinta kamu?” Angelo tersenyum dan mengangguk, “siap menunggu selama apa pun, aku tak masalah Mila.” Sarmila juga ikut merasakan hawa panas di sekitarnya. Semakin hangat dan dadanya ikut berdebar begitu melihat wajah Angelo. Entah karena hormon atau karena kondisi hatinya yang merasa sedang di atas awan karena Angelo begitu memujanya. “Will you be my girl?” Kembali Angelo bertanya. “Harus ya?” cicit Sarmila. “Ya, aku tak mau dianggap teman lagi. Aku kesal saat kamu bisa tersenyum kepada Oji-Oji itu, sungguh rasanya ingin memukuli dia sampai sekarat.” “Kamu cemburu?” Sarmila membulatkan matanya. Angelo memicing, “are you serious? Tidak ada pria yang mencintai wanita tak cemburu saat melihat wanita itu tersenyum kepada pria lain. Termasuk Gentala,” ketusnya. Sarmila terkekeh mendengarnya, merasa semakin terbang saat Angelo berkata begitu. “Jangan tertawa. Aku serius.” Seketika Sarmila merapatkan bibirnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi otaknya sudah tak sinkron begitu terlintas adegan mesra drama korea yang dia ingat. “Sudahlah, luapkan dulu. Beri aku jawabanmu. Ya atau ya?” tuntut Angelo. Tapi, Sarmila masih bungkam dan tiba-tiba saja wajahnya mendekat cepat. Cup! Dia mengecup bibir Angelo cepat dan segera memisahkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN