Mencuri Bibir

1597 Kata
Bab 65 -- Sarmila sedang berkonsentrasi dengan segala yang ada di sekelilingnya. Angelo masih belum membiarkannya pulang saat ini. Padahal tadi mereka mencicipi makanan dan juga menyaksikan presentasi yang memukau mata mereka berdua. “Jadi, maksudnya aku harus menyajikan menu ke mereka?” tanyanya kembali kepada instruktur yang berdiri di sampingnya. Pria yang menjadi instruktur itu pun mengangguk sambil tersenyum. “Hm … bebas kan? Enggak makanan yang kayak restoran-restoran gitu?” tanyanya kembali. Dan kembali pria itu mengangguk saja. Sementara Angelo menunggu di luar. Dia sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya yang semakin menumpuk tiap dua jamnya. Sekretaris yang secara langsung adalah milik Gentala dan sekarang berganti bekerja padanya malah menyamakan dia dengan Gentala. Masih dengan earphone bluetooth yang terpasang di kedua telinganya, Angelo terus saja mengomel kepada Martha, sekretarisnya. “Ayolah Martha, I am not Gentala, why you must give this shitwork all?” erangnya sudah kelelahan memeriksa laporan di tablet yang ada di pangkuannya. “.…” “Still. Oh, aku sedang berusaha menyalurkan bakat seseorang saat ini yang nantinya berpotensi besar mengembangkan bisnis Menhatten Sky ….” “Tidak, tidak, aku bukan membuang-buang uang. Lagi pula yang kupakai adalah uangku sendiri kenapa kamu malah meneramahiku sih? Aku tak bolos bekerja. CEO mana yang perlu izin sekretarisnya untuk keluar kantor?” Angelo mendengus kesal. Tak berhenti berbicara dengan rasa jenuh, kesal, dan pusing tujuh keliling. “Martha, sampaikan kepada bosmu itu, kalau aku bekerja dengan berat hati menggantikan dirinya karena permintaan Kakek, dia seharusnya berterima kasih padaku. Aku tak membuat Menhatten dalam masalah tapi bisnisku sendiri yang terbengkalai, harap kau sampaikan nanti. Sudah, aku akan menyelesaikan laporan semuanya hari ini jadi jangan menambah lagi atau kamu akan kugantikan dengan Schonney.” tik! Sengaja Angelo memutuskan panggilan itu. Dia segera masuk ke ruangan kembali, berbincang dengan kenalannya. Seorang pebisnis memiliki banyak relasi yang baik secara langsung ataupun tak langsung mereka akan melakukannya. *** Sarmila masih berkutat di dapur pinjaman itu. Dia masih melihat-lihat bahan-bahan yang ada di sana. Entah kenapa dia senang melihatnya, apa yang selalu dia tonton di televise baik itu kompetisi memasak ataupun sekadar tayangan film dan drama yang bertema masakan, dia sangat menyukainya. Apron putih sudah dipakainya dan juga lengan bajunya sudah terlipat. Dia berjongkok, mengambil satu wadah dan mulai menuju tempat penyimpanan bahan makanan mengambil semua bahan masakan yang dia butuhkan. Kentang, daging giling dan juga entah apa lagi. Dia benar-benar ingin membuat sesuatu yang aneh. Atas izin instruktur mengenai eksplore masakan apa yang dia ingin lakukan di sini. Angelo memperhatikannya dari luar. Tersenyum melihat bagaimana wanita itu ternyata bisa berkonsentrasi dan tak sedang bercanda. Ah, dia sampai tak bisa mengalihkan tatapannya sama sekali. Gadis itu sudah kehilangan segala gangguan yang biasa mengalihkan pusat perhatiannya. Tapi tidak dengan bagaimana fokusnya yang saat ini benar-benar teruji. Masih dengan pemikirannya, dia mengabaikan pria yang mengawasinya. Katakan saja dirinya memang terlalu senang sampai-sampai semua pikirannya hanya tertuju pada apa yang ingin dibuatnya. Satu jam. Satu jam dirinya sukses membuat dapur berantakan namun berhasil dengan makanannya. “Sudah Kak, aku selesai.” Wanita itu segera memberitahukannya kepada instruktur. Benar-benar dirinya sudah tak karuan dengan tepung di wajah dan juga celemek yang sudah berwarna-warni. “Silakan disajikan di meja ruang sebelah,” perintah pria dengan kemeja putih dan celana kain hitam itu. “Harus ya?” Kembali pria itu mengangguk. Sarmila pasrah, entah apa yang sedang direncanakan Angelo, dia sama sekali tak tahu. Yang dia tahu kalau dirinya hanya melakukan apa yang diperintahkan saja. Tak tahu kalau yang menunggunya di ruangan itu adalah Angelo dan juga beberapa pria yang terlihat lebih dewasa dan lebih tua umurnya. “Jadi ini yang ingin kamu rekomendasikan, Sir?” Salah satu darinya bertanya kepada Angelo. Angelo menatap Sarmila dan mengangguk, “ya, saya memang sudah melihat hasilnya. Dan saya rasa tak ada salahnya jika saya meminta bantuan kalian untuk mengembangkan potensi yang sebenarnya bukan?” “Baiklah, kita harus tahu dulu seberapa hebatnya wanita yang kamu perkenalkan ini.” Sarmila merasa bahwa orang-orang sedang membicarakan dirinya. Dia hanya tersenyum kikuk sambil membawa piring berisi masakan miliknya. Dia mendengus, seharusnya Angelo berbicara dulu kepadanya tiga hari sebelum hari ini, agar dirinya bisa mempersiapkan semuanya sebaik-baiknya. Bukan malah mendadak dan dia entah membuat makanan apa, dia sendiri tak tahu. “Aku kira kamu akan memasak masakan lokal, Mil,” ucap Angelo sambil melihat Sarmila yang meletakkan piring putih di tengah meja. Sarmila tersenyum semakin kikuk, merasa kalau semua mata kini tertuju padanya. “Apa yang kamu masak?” tanya pria dengan kumis atap jerami. Begitu Sarmila menyebutnya, karena memang kumisnya sudah terbaris menutupi bibirnya sendiri. Sarmila tersenyum meringis, “saya enggak tau menyebut makanan ini apa. Tapi mengikuti resepnya, punya nama Bitterballen.” Semua mata tertuju dengan bentuk bulat sederhana dengan saus cocolan. “Benarkah? Ini makanan Belanda bukan? Saya tidak tahu kamu akan membuat hal yang di luar apa yang biasa kamu masak,” sela pria lainnya. Sarmila mengangguk saja. “Hanya coba-coba, isntruktur di sana bilang saya bebas berkreasi. Saya memang tertarik dengan makanan Eropa Pak.” “Ah, begitu.” “Boleh kami cicipi?” Angelo menyela, dia ingin menyudahi basa-basi itu. Sarmila kembali mengangguk, menunggu. Dia sendiri seperti sedang berada di dalam perlombaan memasak. Tapi mana peserta lainnya? Nanti dia kegeeran jika menjadi juara satu-satunya kan? Ah, pemikirannya harus dia tepis jauh-jauh jika sudah begini. Sarmila masih menatap barisan yang duduk di sekeliling meja bundar itu melahap makanannya. “Euhm, sudah berapa kali kamu memasak ini?” tanya salah satunya. “Pertama kali Pak.” Mendengar jawaban Sarmila secara langsung, pasang mata mulai menatap satu sama lain, menyimpan makna yang berbeda penuh rasa terkejut dan kekagumannya tersendiri. “Enggak enak ya Pak?” Sarmila meringis, dia benar-benar salah tingkah. Hanya menyengir saja yang bisa dia tampilkan. “Tidak, tidak begitu. Justru kami kagum.” Pria tua lainnya pun menyela pertanyaan Sarmila. Sarmila berkedip tak percaya, dia bahkan sudah memikirkan ending yang tak bagus di dalam otaknya. “Ah, Bapak-bapak nih cuma lagi menghibur saya aja kan? Biar saya enggak malu-malu amat,” kilah Sarmila masih tak percaya. Angelo tersenyum mendengarnya. Dia pun berkata, “yang dikatakan mereka akan serius Mil. Dan perlu kamu tahu, kamu diminta melakukan ini karena saya yang merekomendasikan kamu kepada mereka untuk bisa bersekolah mengambil kelas akselerasi.” Sarmila semakin tak paham mendengarnya. Akselerasi pun dia tak tahu. Namun, pria di sisi Angelo mengangguk, membenarkan ucapan Angelo. “Kami serius menilai atas permintaan Angelo. Oleh karena itu sepertinya kamu harus mulai percaya diri saat ini, karena saya sendiri meminta kamu untuk menjalani program akselerasi ini. Enam bulan untuk kami bisa membantu kamu agar bisa mendalami teknik memasak dan penyajiannya. Food and beverage selalu dibutuhkan di mana pun. Sangat disayangkan jika bakat dan skill yang sudah kamu miliki hanya stuck tanpa kamu sadari.” Sarmla ternganga dibuatnya, dia memicing kepada Angelo. Angelo paham kalau Sarmila masih butuh penjelasan terlebih dahulu atas tindakannya yang terbilang maha dahsyat untuk menjadi sebuah alat keju jantung. Sedikit berbasa-basi dengan topik seputar makanan, setidaknya Sarmila bisa mendapatkan banyak hal dari cerita-cerita itu. “Coba kamu cicipi dulu,” pinta salah satunya ketika Sarmila masih diam saja dan kini sudah duduk di samping Angelo. Sarmila tersenyum enggan, dia menatap ngeri sendiri hasil makanannya. Bitterballen, spaghetti yang terbilang biasa saja dan juga satu yang aneh, roti panggang! Dia pun mencicipinya, berusaha mengunyah perlahan sambil ditunggui oleh bapak-bapak dewan juri yang sedari tadi mengomentari masakannya. Kekurangan dan kelebihannya. “Rasanya tak hancur bukan?” Sarmial mengangguk setuju. “Kekurangannya adalah teknik yang kamu pakai masih buta sehingga rasanya masih belum balance meskipun dari segi umum memang sudah dapat. Bagaimana kamu menyajikannya saja sudah seimbang, condiment yang menyertai masakan utama pun oke. Saya rasa kamu memiliki banyak pengetahuan yang diperoleh sendiri.” Sarmila masih diam saja. Angelo semakin tersenyum puas. Setidaknya, dia menjadi seseorang yang bisa diandalkan bagi gadis itu. Bukan sekadar teman, tapi dia ingin lebih dari itu. Ingin menjadi apa yang bisa menjadi landasan hidup Sarmila dan juga menjadi salah satu pegangan gadis itu agar tak jatuh dan bisa berlari semakin jauh. *** Sarmila masih diam saja selama di mobil. Dia memikirkan semuanya sendiri, tapi belum menemukan jawabannya. “Om,” panggilnya. Angelo menoleh, dia yang masih menyetir mobil hanya bisa menoleh saja sebagai responnya. “Apa yang lagi Om rencanakan?” “Tidak ada.” “Ish Om! Aku lagi serius nih!” Sarmila semakin sewot dengan reaksi kalem milik Angelo. Dia rasanya hanya ingin berada di sisi Angelo yang jahil dan juga ramah, tak seserius saat ini. Angelo menghela napasnya. Dia meminggirkan mobilnya di sisi jalan yang tak ramai, beberapa meter di depan mereka ada warung tenda. “Oke, aku juga serius sekarang..” Angelo menatap Sarmila dengan tubuhnya yang juga menghadap gadis itu. “Apa yang Om lakukan ini, ah, enggak. Apa yang kamu lakuin ini jauh dari sekadar menghibur aku,” tutur Sarmila tak nyaman. “Aku sedang tak menghibur kamu.” “Terus?” “Aku hanya ingin membuka jalan sedikit untuk kamu, membawa kamu bisa menikmati kehidupan kamu yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya.” “Rumit Om.” “Tidak rumit, anggap saja aku sebagai seorang mentor yang melihat potensi kamu selama ini. Aku orang yang bisa membawa kamu untuk mengasah bakat kamu. Bukankah kamu mau menjadi wanita karir dan juga memiliki yang namanya uang? Bukankah kamu ingin keliling dunia? Sekadar merasakan yang namanya pesawat terbang itu seperti apa?” Sarmila mengangguk polos. Itu memang impian sederhana yang tak mungkin bisa diraihnya. “Mila,” panggil Angelo. Cup! Mendadak matanya tak berkedip, napasnya tertahan begitu merasakan benda basah yang menempel di bibirnya cepat. Hanya sekilas. Angelo mencurinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN